Udara malam Seoul yang semakin dingin mendekati puncak musim salju, membuat Seokjin harus melapisi tubuhnya dengan banyak lapisan pakaian.

Atau menurut Jungkook ia lebih terlihat seperti buntalan bola, yang tentu membuat Seokjin merajuk seharian, sebelum akhirnya pemuda itu meminta maaf dengan membawakannya seloyang pizza sambil memijat tubuhnya semalaman. Whipped .

Seokjin memasukan tangannya ke dalam kantung coatnya yang sudah berisikan hot pack, ia benar-benar baru turun dari mobil selama 5 menit dan sekarang ia sudah hampir mati kedinginan.

Malam ini Namjoon akan pergi ke Amerika Selatan, ekspasi opium atau apapun itu selama 3 minggu penuh. Karena leader mereka itu kemungkinan akan sangat sulit dihubungi karena daerah yang terisolasi, maka Seokjin memutuskan untuk mengantarnya malam itu.

Tapi orang yang ia antar belum datang.

Sebenarnya tadi siang Namjoon masih memiliki pekerjaan di kantor dan mereka akan bertemu di ruang tunggu pukul 8 tepat. Tapi sudah 5 menit Seokjin menunggu di pintu keberangkatan, berharap bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Namjoon, namun pemuda itu belum muncul juga.

"Ayo Jinnie, kita tunggu di dalam saja" , ujar pemuda berkulit pucat yang sekarang menarik-narik coat nya.

Tentu saja ia kesini tidak sendirian karena ia tidak bisa lagi sendirian.

Menyerah, Seokjin hanya bisa mengangguk dan mengaitkan tangannya ke lengan Yoongi.

Ruang tunggu pesawat mereka tidak digabungkan dengan penumpang pesawat komersial lainnya.

Karena terlalu banyak resiko bila mereka pergi dengan pesawat komersial, jadi semenjak WINGS menjadi sangat menggurita , Namjoon dan kawan-kawan tidak lagi menggunakan pesawat komerisal, melainkan Jet pribadi.

Seokjin mengambil coklat panas sambil terus mengerucutkan bibir, kesal.

Tingkah Seokjin dimata Yoongi amatlah konyol sekaligus menggemaskan. Melihat bibir pink yang penuh itu mengerucut dengan pipi tembam yang mendukung serta rambut hitam Seokjin yang berantakan karena tidur di mobil, membuat Yoongi ingin sekali mengurung harta mereka yang paling berharga itu ke tempat jauh dari jangkauan semua orang.

'Brak!' , suara pintu terbuka dengan paksa membuat suara yang mengaget Yoongi dan Seokji, Yoongi yang tadinya duduk disalah satu sofa sekarang dengan sikap siap bertarungnya.

Namun saat di pintu itu menampilkan pemuda bertubuh tinggi dengan wajah panik penuh keringat karena sepertinya sangat terburu-buru, Yoongi kembali duduk di kursinya, melanjutkan kopinya.

Pemuda yang baru datang itu kemudian berlari untuk memeluk (menubruk) Seokjin, lengkap dengan permintaan maaf yang berentet.

"Baby ! Aku minta maaf, aku tidak tau kalau perjalanan kesini akan sangat pada, bila aku tau pasti aku akan datang lebih cepat, baby aku benar-benar minta maaf-" , Namjoon berbicara dengan amat cepat, membuat Seokjin yang tadinya kesal sekarang sudah melupakan kemarahannya dan mencium bibir Namjoon yang masih terus meracau.

Mereka berdua berciuman cukup lama, hingga tangan Namjoon menggunakan salah satu tangannya untuk memegang tengkuk Seokjin, memperdalam ciuman mereka.

"ehm" , Yoongi berdeham kencang membuat dua orang yang sedang asik bercumbu itu mengalihkan perhatian mereka.

"Perlu kuingatkan penerbanganmu akan berangkat 5 menit lagi Namjoon"

"Ugh", Namjoon mengerang kesal menjauhkan wajahnya dengan Seokjin yang sekarang menyentil pelan dahi Namjoon. "Lain kali datang lebih cepat idiot".

"Maaf baby" , Namjoon mengecup dahi Seokjin sebelum menghampiri Yoongi dan memberikan kecupan pelan dibibir Yoongi yang hanya mengerutkan hidungnya, bersikap tidak ingin padahal Namjoon yakin betul partnernya yang satu ini juga sama membutuhkan perhatian darinya.

"Aku minta maaf juga pada mu hyung, tolong jaga yang lain untukku, meskipun Jungkook yang akan mengambil alih selama aku pergi, tolong tetap awasi yang lain" , Ujar Namjoon berbisik ditelinga Yoongi, berharap Seokjin tidak mendengarnya, karena pemuda itu sedang sibuk menggerutu sendiri masih kesal karena Namjoon yang terlambat.

"tentu Joon, ini bukan pertama kalinya kau pergi"

"Tapi ini pertama kalinya untuk princess kita"

"You knew that he's not a doll anymore, we can't keep him locked forever"

"But he's ours! dan kau tau bila dia pergi tidak hanya aku, kita semua akan gila" , Namjoon mendesis ditelinga Yoongi, yang membuat pemuda lebih tua merasa tertantang namun dia ingat ini bukan saat untuk berdebat.

"You better go now" , Yoongi mendorong dada Namjoon, Namjoon sekali lagi mencium bibir Yoongi kemudian memeluk erat tubuh hangat Seokjin, menghirup aroma manis yang menguar dari tubuh pemuda itu, berharap bau itu akan terus bertahan di otaknya untuk 3 minggu kedepan.

"see you guys in 3 weeks" , Namjoon keluar dari ruang tunggu yang memang bersebelahan dengan landasan penerbangan dan langsung masuk kepesawatnya, sambil melambaikan tangannya.

Seokjin tau bawah perang itu semakin dekat, dengan bagaimana ke-5 (karena absennya Namjoon) , semakin protektif kepada dirinya.

Seokjin merasa, ia harus melakukan sesuatu.

Ia harus melatih dirinya sendiri.

Tapi ternyata untuk bisa melatih dirinya, ia harus bisa membisa membujuk salah satu dari lima pemuda itu.

Dan sejauh ini tidak ada satupun dari mereka yang mau membantunya berlatih bela diri, meski itu hanya untuk melindungi dirinya sendiri.

Yang belum ia coba hanya Hoseok dan Yoongi , tapi ia tidak yakin kalau hoseok mau membantunya, mengingat betapa ia menganggap Seokjin bagaikan gelas kaca meskipun Hoseok adalah assasin, bukan berarti pemuda itu mau mengarjarkannya sedikit dasar-dasar bela diri. Hatinya terlalu lembut untuk Seokjin.

Jadi harapan terakhirnya adalah Yoongi.

Pemuda pucat itu mungkin bisa membantunya, jadi saat mereka hanya sedang berdua di kamar mereka, ia kemudian duduk dipangkuan Yoongi.

"Yoongi, maukah kau-"

"tidak", pemuda itu memotong bahkan sebelum Seokjin mengatakan apa yang ingin ia minta.

"Aku sudah dengar dari yang lain, jadi jawabannya tidak Kim Seokjin"

"Ta-ta-tapi"

"Tidak akan selalu tidak baby, kami cukup kompeten untuk menjaga mu"

"Aku hanya ingin melindungi diri ku sendiri"

"Maaf angel, tetap tidak bisa", Seokjin mengerutkan hidungnya kesal, ia mencoba memikirkan cara agar ia bisa tetap melatih dirinya sendiri.

"Oppa~~", Seokjin berujar di telinga Yoongi, masih duduk dipangkuannya. Yoongi yang mendengar itu langsung menegang.

"Don't play with me Jin"

"but, Jinnie wanna play with his oppa", Seokjin menggigit bibirnya dan menatap Yoongi dengan mata sepolos mungkin, yang membuat darah ditubuh Yoongi mendidih.

Yoongi kemudian mencium Seokjin dengan dalam , entah sejak kapan pakian mereka satu persatu mulai tanggal, tanpa menyisakan apapun.

"Oppa ..."

"Sst, biarkan aku membantumu." Ciuman ditekan ke sisi lututnya. Penis Seokjin benar-benar keras sekarang, dan gairahnya tumbuh ketika Yoongi semakin rendah. Ia tenggelam dengan akurasi yang tepat, menanamkan ciuman di paha jenjangnya yang bersih.

Semakin tinggi ciumannya, Yoongi menjadi lebih kasar.

Yoongi menggigit pahanya dengan keras, cukup keras untuk meninggalkan bekas yang akan tumbuh menjadi memar dalam semalam. Ia meninggalkan jejaknya di daging pahanya, membubuhi ciuman minta maaf di atas karya seninya sebelum membuntuti ciuman menggoda nan ringan pada kulit sensitif di lipatan antara kakinya.

Seokjin tidak bisa berhenti menggeliat, tetapi tangan Yoongi menekan pinggulnya.

Yoongi mulai bergerak lebih intens sekarang, bangkit, bergerak dekat ke tempat Seokjin paling ingin mulutnya sentuh. Ia mendekat di atas ujung kemaluannya, begitu dekat sehingga Seokjin bisa merasakan napasnya didaging sensitifnya, sebelum ia pindah ke sisi lain, memberikan kaki kanannya perlakuan yang sama.

Seokjin sangat frustrasi hingga ia hampir menangis.

"Oppa!" Yoongi tidak sabar, tapi Seokjin tahu bahwa ia juga bisa membuatnya marah.

Dan semakin cepat kesabarannya hilang, semakin cepat Seokjin memiliki Penis di dalam dirinya. "Oppa tolong cepat, aku ingin kau di dalam diriku sekarang—"

"Sabar," hanya itu ujar Yoongi, mendorong bagian belakang pahanya ke dadanya. Seokjin memegang mereka untuknya, menyebarkannya selebar yang ia bisa dalam posisi ini, membuka untuk Yoongi.

Sebuah jari menekan lubangnya dengan lembut.

"Oppa, bolehkahh-hh , Ughhh-"

Kata-kata itu baru saja keluar dari mulutnya sebelum lidah Yoongi menjilati lebar di pinggiran lubangnya.

Itu membuat Seokjin terkejut dan ia tersentak liar sebelum terdiam. Dari posisi ini ia tidak bisa benar-benar melihat Yoongi tanpa menjulurkan lehernya, tetapi ia bisa merasakannya. Sentakan lidahnya di pinggiran lubangnya, menggoda tetapi tidak pernah mendorong sampai—

Seokjin mendesis saat Yoong menegakan lidahnya, akhirnya mendorongnya ke dalam dirinya. Tentu saja, itu tidak mencapai sejauh jari-jarinya, apalagi penisnya, itu tidak cukup tebal tetapi masih terasa begitu enak.

Seokjin membisikkan nama Yoongi seperti doa sebelum, kata itu berubah menjadi oppa. Yoongi memakannya dengan penuh semangat, bergantian antara menyelipkan lidahnya ke dinding dan menggali sedalam mungkin, dan Seokjin begitu terangsang, ia ingin berteriak. Ia bahkan tidak peduli betapa tampannya dan berantakan ia sekarang, ia hanya ingin lebih.

Yoongi menarik diri, dan ada klik tutup botol dan kemudian jari akhirnya meluncur ke dalam dirinya.

Lidah Yoongi masuk lagi, menekan tinggi sementara jarinya mencapai dalam, bergoyang-goyang dan membukanya. Yang kedua segera masuk dalam dengan cairan lube yang cukup banyak, mengguntingnya dengan lembut sementara iamenarik lidahnya keluar untuk mengisap di sekitar tepi lubang Seokjin.

Seokjin melirik Yoongi yang terlihat amat sabar, perlahan membuka dirinya, meskipun ia tau Yoongi sudah tidak tahan lagi.

Seokjin meredam tangisannya, memaksa dirinya untuk tenang ketika yoongi menenggelamkan jari ketiganya. Ia menyerah pada jilatan Yoongi pada saat ini, tiga jari didalam, mencari prostat Seokjin.

Ketika Seokjin tidak menunjukkan perlawanan, ia menusukkan jari-jarinya lebih keras dan lebih cepat sebelum membungkuk untuk mengambil kepala kemaluannya ke dalam mulutnya dan itu terlalu—

Seokjin datang dengan teriakan oppa di bibirnya, mengejar mulut dan jari Yoongi pada saat bersamaan. Yoongi menarik tangnya sebelum Seokjin keluar, sehingga ia bisa melihat lelehan sperma Seokjin, Yoongi menyeringai.

"You're so good, Seokjin-ah," ujar Yoongi, "So good for oppa."

Ia terus menusukkan jarinya pada Seokjian yang sekarang sudah mulai melelehkan airmata karena terlalu sensitif.

Yoongi mengambil waktu dengan menarik kondom, menyebarkan pelumas pada dirinya sendiri, dan Seokjin tidak bergerak, masih menahan dirinya terbuka untuknya.

Yoongi menindih di atasnya, mensejajarkan dirinya di tepi lubangnya, dan kemudian melihat ke bawah ke mata Seokjin. "Mohon untuk itu."

"Apa?"

"Mohon." Yoongi menjilat bibirnya. "Untuk oppa."

"Oppa, fuck me" Seokjin menendang pantat Yoongi dengan punggung tumitnya. "Cepatlah."

"Minta dengan baik."

"Please"

"Apakah itu yang terbaik yang bisa kau lakukan?" Ia menggelengkan kepalanya. "aku kira kau tidak menginginkan ini sama sekali."

Seokjin bisa menangis keras saat ini. "Tolong oppa," katanya, nada putus asa benar-benar mewarnai nadanya dan iatahu itu tidak akan lama sebelum iakeras lagi. Seokjin mencoba memikirkan setiap baris dirty talk yang pernah madam ajarkan padanya. " "Please, I've been waiting for oppa's cock for so long, please fuck me already, I can't bear it I need you inside me now, oppa please—"

kemudian Yoongi mendorong masuk

Ini adalah salah satu bagian favorit Seokjin; Yoongi selalu mendorong perlahan dan Seokjin bisa merasakannya dengan penuh dan lebar, benda panjang itu tenggelam ke dalam dirinya dan membelahnya terbuka.

Bahkan dengan kondom iabisa merasakan setiap gerakan Yoongi didalamnya, napasnya terengah, matanya bergetar menutup. Jika iabisa tetap seperti ini, tetap dipenuhi selamanya, iaakan melakukannya.

Yoongi mengerang, merasakan Seokjin, "Fuck, fuck, fuck, fuck. Tight."

Seokjin mengerat di sekelilingnya. "Hanya untukmu, oppa."

"Sial, sial - Seokjin, bisakah aku bergerak?"

Iamengangguk, membiarkan kakinya jatuh ke samping saat iaberpegangan pada bahu Yoongi.

Yoongi mulai mendorongnya dengan lambat, dengan ritme yang perlahan namun membuat Seokjin gila, hingga melupakan tujuan awalnya.

Seokjin terlihat sangat cantik seperti ini, wajahnya berkerut senang, kepala terlempar ke belakang saat ia mulai menjadi sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam.

Yoongi menampar kulit Seokjin, dan Seokjin berteriak rendah pada setiap dorongan, kekuatan Yoongi mendorongnya lebih dalam kekasur.

Yoongi memiringkan pinggulnya, satu tangan menyeimbangkannya di tempat tidur di samping wajah Seokjin ketika iamencari prostatnya. Tidak terlalu lama; mereka mengenal tubuh satu sama lain dengan sangat baik setelah terlalu sering bercinta. Yoongi dapat memainkannya seperti piano, memutarnya dengan sangat baik, memisahkannya dan menyatukannya kembali.

Iamenemukannya dengan cepat, dan Seokjin sulit lagi, mengerang keras ketika sarafnya ditumbuk dengan amat tepat."Persetan, Yoongi, oppa—" iamenelan ludah. "Ayo, oppa, lebih keras." Iasangat sensitif setelah orgasme pertamanya, itu sedikit menyakitkan tapi itu hanya membuat semuanya jauh lebih sensitif. Ia sangat sadar akan setiap gerakan dan ia menyukainya.

Yoongi dekat dengan orgasme sendiri, tusukannya menjadi sedikit lebih dalam, tetapi mereka hanya menambah kecepatan saat ia memukul pantat Seokjin, erangan bercampur dengan udara. Tamparan kulit mereka akan sangat keras, tetapi Seokjin fokus pada mengerat di sekeliling Yoongi, menariknya ke bawah untuk ciuman saat ia memenuhi setiap dorongannya.

"Ayo, oppa," bisiknya ke telinga Yoongi. "Cum please?" Ia melupakan semua hal ketika Yoongi bergerak ke bawah untuk menggigit bahunya, keras, dan dengan beberapa dorongan lagi ia datang dengan erangan yang amat sexy di telinga Seokjin.

Untuk sesaat,ada keheningan.

Suara napas mereka yang berat memenuhi ruangan, sebelum akhirnya Yoongi duduk.

Ia belum menarik dirinya keluar, masih jauh di dalam lubang Seokjin melainkan ia merintih keras, itu terlalu enak untuknya, ia tidak bisa, air mata tumpah dari sudut matanya saat ia mengerang dengan orgasme keduanya. Yoongi mencium air matanya, memberitahunya betapa hebatnya ia untuk oppa, dan Seokjin tersenyum.

"Oppa bagus juga untukku," katanya, membungkuk untuk menciumnya sebelum otot-ototnya mengerang sebagai protes.

Yoongi terkekeh karenanya. "Kau lebih baik berhenti memanggilku oppa," katanya, "kecuali kau siap untuk ronde berikutnya."

"No, I'm tired"

Kemudian yoongi mengambil lap untuk membersihkan segala cairan yang ada ditubuh Soekjin, sebelum pergi kekamar mandi untuk memberishkan diri, sebelum kembali kepelukan Seokjin kepalanya bersandar di dadanya.

Seokjin menekankan ciuman lembut ke dahinya.

"Yoongi-ah, biarkan aku berlatih dengan mu ?"

"We will talk about this tomorrow, ok?"

Dengan itu mereka jatuh kealam mimpi.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Sorry dengan anuan yang kurang mantap, at least i tried :(

jadi untuk chapter ini gua harap kalian bisa puas dengan kecatatan yg ada.

btw chapter 7 udh bener ya :3

kalau ada yg perlu gua benerin blng aja wkwk

Luv you guys 3

Don't forget to stay healthy and hope you guys have a nice day ^^