Sorenya, selepas kelasku hari ini selesai, aku pergi ke perpus kampus yang buka sampai jam sepuluh malam. Sepanjang jalan memutari gedung fakultas menuju gedung perpus, aku kembali memikirkan Sehun yang terlihat dingin dan tidak tersentuh tadi.
Sebenarnya, Sehun adalah satu-satunya teman laki-laki Rena yang pernah diajak ke rumah. Mereka mengerjakan laporan kampus bersama di ruang tamu saat aku baru pulang les. Sehun mengenalkan dirinya dengan ramah padaku dan aku langsung jatuh cinta pada matanya yang berubah jadi sabit ketika tersenyum. Sejak saat itu, aku sering menempeli Sehun dan berkunjung ke rumahnya yang ternyata satu kompleks namun beda blok denganku. Rena tidak pernah membawa Sehun ke rumah lagi, tapi itu tidak menghentikanku mendekati Sehun. Dibanyak waktu, aku beralasan ingin diajari PR. Sehun yang walau dari luar terlihat dingin dan kaku, nyatanya selalu menyambutku dengan senyuman.
Tapi kemudian keluargaku harus pindah karena ayah ditugaskan di kota lain. Selain itu, Rena sudah lulus kuliah, begitu juga dengan Sehun (yang mana sudah lulus lebih awal dengan cumlaude). Rena mendapatkan pekerjaan di kota baru itu dengan gelar sarjananya. Segalanya terdengar membahagiakan.
Kecuali di bagian aku tidak bisa lagi bertemu wajah tampan nan cerah Sehun yang selalu dewasa menghadapi anak ingusan sepertiku.
"Entahlah!" Aku meraung seperti orang gila ditengah kerumunan parkiran yang memang bersebalahan dekat perpustakaan.
Beberapa menoleh padaku dan ada satu yang aku kenali bernama Krystal dengan girls squadnya di mobil kerennya mengagetkanku dengan klakson. "Kau baik, Luhan?" Godanya. Kroninya hanya menertawaiku.
Aku tertawa seadanya menutupi perasaan malu. "Tidak, Krys. Aku akan ke perpus, btw."
"Kau butuh main lebih banyak kalau begitu, sayang." Iya, dan Krystal juga salah satu teman mainku.
"Besok. Dan hanya orang gila budak dunia yang main tanpa peduli kewajiban, sayang." Sahutku.
"Kau tidak sedang menyindirku kan?"
"Kau merasa? Byeee, guys." Aku tertawa dan berlari pergi ketika Krystal menekan klakson berisiknya berulang kali.
Aku dan Krystal, juga Wonwoo dan beberapa anak lain memang suka pergi bersama. Kami punya semacam radar tak kasat mata yang mempertemukan kami padahal kata 'janjian' tidak terucap.
Well, aku harus sabar dulu. Jika aku bisa menyelesaikan laporan Ms. Baekhyun hari ini, besok aku bisa main dengan tenang.
Aku menunjukkan e-cardku pada barcode gate kampus dan secepat kilat masuk ke deretan loker. Mengambil laptop, ponsel dan earphone, aku segera mengunci lokerku setelahnya.
Dibagian pertama sebelum menemukan deretan tinggi rak buku dan meja-meja panjang perpus, ada serambi dimana disana terdapat jajaran loker kecil untuk pengunjung perpus, dan aku cukup patuh untuk meletakkan tasku disana dan tidak membawanya masuk seperti yang diselinapkan anak lain.
Hanya saja…kali ini aku menyelinapkan sebatang coklat ke outer denimku. Coklat pemberian Johny tadi yang kuyakin akan sangat enak jika kumakan sambil membaca buku referensi pemeras otak. Semoga tidak ketahuan.
Rencana brilian!
Jadi sebelum aku mengambil tempat duduk yang nyaris penuh, aku mengambil buku refensi dahulu. Aku melenggang begitu saja tanpa membaca kalatog karena aku sudah hafal dimana letak buku yang sedang kucari. Dua hari lalu, aku sudah melewati bagian melelahkan mencari buku itu.
Bukunya tidak kubawa ke pulang karena itu benar-benar tebal. Bisa betulan jadi nerd aku jika menentengnya kemana-mana. Walaupun nyatanya buku itu paling kubutuhkan untuk laporanku.
Dan begitu aku sudah menemukan buku super tebal itu, aku memeluknya bersama dengan laptopku dan kubawa masuk ruang jurnal. Disini, penyejuk ruangan lebih terasa menyegarkan, terlebih disini lebih sepi. Aku nyaris mengerang keenakan ketika menemukan kursi dan duduk di sudut dibawah AC nan sepi.
-LINE BREAK-
Aku tahu aku sudah lama duduk dan membaca sambil mengetik disini. Terhitung dua jam. Punggung dan bokongku pegal. Sedangkan laptopku sudah menampilkan laporanku yang sudah jadi.
Hanya tinggal editing, dan aku siap meminta revisi lebih awal pada dosenku, kan deadlinenya masih seminggu lagi.
"Well done, babe." Eluku pada diriku sendiri sambil mengeluarkan coklatku diam-diam.
Aku menoleh dan merasa sepinya pojokan ini bisa mengantarkanku merasakan manis pahit coklat. Uh. Nice!
Setelah membuka bungkus dan menggigit besar, aku tidak sabar menunggunya lumer di mulutku dan sungguh…begitu aku merasakan kelembutan cocoanya, aku merasakan semangatku mengedit laporan kembali.
Aku mengambil gigitan besar lain dan siap menyembunyikan lagi batangan itu saat seseorang tiba-tiba saja berdiri menjulang di samping kursi empukku. Aku tersentak dan membanting punggungku ke sandaran kursi. "Oh Tuhan!"
Tanganku yang menggenggam cokkat masih mengudara. Aku merasakan mulutku menganga tanpa sadar saat melihat Oh Sehun tepat menatapku dengan dingin.
Menjijikkan!
Aku jijik entah pada apa setelah melihat Sehun yang dulu sangat jadi favoritku sekarang terlihat seperti tidak mengenalku. Disisi lain, aku juga merasakan luapan kelegaan karena Sehun tidak membangkitkan perasaan lamaku.
Aku masih remaja labil.
Katakan aku idiot karena merasa bahagia saat awal semester mengetahui bahwa Sehun si dosen muda dan super tampan nan gagah itu tidak jadi dosenku. Aku memang pernah mengenal dan suka pada Sehun, tapi sekarang berbeda. Banyak yang terjadi.
"Apakah sopan memamerkan coklat di mulutmu pada orang yang lebih tua, nona muda?" Tanya Sehun dengan suara serak yang serta merta membuatku kembali ke masa kini.
Aku dengan sadar, kali ini, menutup mulutku yang penuh coklat dan memulai kembali nafasku yang sempat kutahan. "Maafkan aku, professor. Aku tidak akan membawa makanan lagi ke dalam perpus." Kataku setelah menelan coklatku.
Aku tidak menyesal. Tuhan tahu itu.
Dan Sehun kelihatannya juga tahu itu karena dia mengernyit dalam. Alisnya yang tebal mulai bertaut. "Luhan." Ucapnya cepat.
Aku menunduk dan tertawa pelan. "Ya, aku Luhan. Mulai ingat padaku?"
Kemudian Sehun mengambil kursi disebelahku yang membuatku kembali tertawa. "Kenapa kau tertawa?" Tanyanya.
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia memang lupa padaku. Well, aku mungkin memang bukan anak paling pintar dan paling cantik yang pernah ia kenal sehingga ia tidak perlu repot-repot mengingatku yang dulu selalu curhat dan minta tolong padanya.
"Tidak, prof. Maaf." Gumamku di sela tawa.
Aku menoleh saat Sehun tidak bersuara. Sehun dengan matanya yang asli tajam, menatapku yang masih cengengesan. Oh Luhan, lupakah kau pada sopan santun pada dosenmu?
Ya, aku lupa. Dan rasanya tidak mau bersopan santun pada Sehun yang familiar sekali untukku. Juga matanya yang ya Tuhan sangat mempesona itu.
"Profess-"
"Panggil aku Sehun, Luhan. Aku bukan dosenmu."
"Secara teknis, kau dosenku di kampus ini, walau Ms. Baekhyun yang mengampu mata kuliah itu di kelasku." Dan dulu aku amat bersyukur ketika tahu aku mendapatkan Baekhyun alih-alih Sehun si most wanted.
"Baiklah, anggap saja seperti itu. Tapi sekarang aku Sehun. Teman kakakmu." Sehun mengulurkan tangannya untuk mengelus pipiku.
Aku terhenyak. Ini memang Sehun!
Yang selalu ramah padaku dulu.
Tapi kemudian aku menepisnya. "Ini di kampus. Kau tidak takut ada yang menggosipimu…Sehun?"
Ya, Oh Sehun. Sehun yang baru saja keluar dari mulutku.
"Disini sepi." Katanya cepat. Lalu apa yang akan kau lakukan padaku jika ini sepi?! Raungku dalam hati. "Aku juga tidak keberatan jika itu kau." Tambahnya dengan senyuman yang pertama kali kulihat setelah sekian lama.
Senyuman bulan sabit itu memang benar milik Sehun seorang.
Kendalikan dirimu Luhan!
Aku terkekeh dengan jemarinya yang masih mengelus pipi kiriku. "Ya, kau pasti tidak keberatan. Jikalau itu juga dengan Ms. Baekhyun, atau dosen wanita yang lain, atau mungkin mahasiswi lain." Kataku sambil menoleh seolah aku lebih suka menatap monitor laptopku.
Padahal sebenarnya, aku lebih suka menatap wajah tampan yang detik ini sedang ramah itu, beda dengan Sehun yang dingin tadi.
"Tidak. Yang dulu sering menggangguku dengan senyuman cerahnya adalah Luhan. Itu kau, makanya aku tidak keberatan." Katanya serius.
Dalam hati aku bertanya seserius itukah ucapannya. "Maafkan aku yang dulu sering merewelimu."
"Jangan sungkan padaku, gadis manis." Panggilnya lembut. Mengingatkanku pada panggilan yang dulu sempat tersemat padaku.
Aku tidak bisa menahan tawaku. "Kau terdengar seperti Sehun yang itu."
"Aku memang Sehun yang itu. Sebenarnya kenapa kau terus tertawa? Aku jadi ingat kau yang dulu juga sering senyum."
Aku nyaris tidak bisa mengendalikan diriku ketika dia terus tersenyum dan mengusap pipiku. Sehun dulu sering mengusap pipiku. Katanya dulu aku punya lemak bayi disana. Dan kurasa wajahku sekarang sudah terbebas dari itu, tapi kenapa Sehun masih kelihatan terhibur saat mengusapnya?
Aku mendengus pelan dan menampar diriku sendiri dalam mental.
Sehun masih menatapku.
"Tapi kau tidak mengenaliku saat kita pertama ketemu setelah sekian lama." Kataku.
"Kapankah itu, Luhan?" Tanyanya penasaran.
Apa dia betulan lupa atau hanya mempermainkanku?
"Tadi. Didepan kelasku dengan Ms. Baek."
Saat Sehun yang sedari tadi tersenyum berubah menjadi Sehun yang tertawa, aku memilih mengamati struktur wajahnya yang tidak banyak berubah. Tetap bertulang pipi tinggi.
"Percayalah, itu bukan yang pertama. Aku sudah melihatmu sebelumnya."
Aku mengernyit ketika dia melepaskan jemari kokohnya dari wajahku. Tapi wajah cerianya tidak luntur. "Lalu? Atau kau sebelumnya sudah bertemu Rena dan melihatku?"
"Sebelum bertemu Rena, aku akan janjian duluan denganmu."
"Kenapa?"
"Aku tidak berteman dekat dengan Rena. Dari dulu dia hanya kebetulan teman kelompokku." Katanya dengan suara yang sudah tidak serak.
"Lalu bagaimana denganku? Apa aku juga kebetulan?"
"Ya."
"Well, oke, Sehun. Tapi kenapa Rena kedengaran seperti dekat denganmu?"
"Bagaimana bisa?"
"Hey itu pertanyaanku! Bagaimana bisa?"
Sehun tertawa lagi sebelum menjawab. "Bukankah Rena memang terdengar dekat dengan semua orang? Dia orang yang supel."
Aku mengangguk membenarkan. "Aku juga orang yang sok akrab. Termasuk padamu dulu, ya 'kan?"
Sehun menggeleng. "Bukan, kau gadis manis perengek nomor satu yang untungnya menggemaskan dan pintar."
Aku tergugu mendengar kata menggemaskan darinya.
"Kau sedang mengerjakan laporan mata kuliahku?" Tanya Sehun sambil melirik laptopku.
"Mata kuliah Ms. Baekhyun." Ralatku.
"Mata kuliah kami sama. Apa kau tidak tahu itu, Han? Baekhyun dan aku sedang membicarakan itu tadi."
Aku hanya mengangguk dan mematikan laptopku.
"Tidak butuh bantuanku menyusunnya? Bagaimanapun, aku professor."
Aku tertawa. "Tidak butuh bantuanmu, tuan pamer professor."
Sehun ikut tertawa. "Yakin tidak mau kuberi bantuan cuma-cuma? Kau dulu sering minta bantuanku mengerjakan PR 'kan?"
"Tidak perlu khawatir, Sehun. Aku sudah selesai, tinggal editing saja."
"Baiklah," Katanya. "Ngomong-ngomong, mana coklatmu tadi?"
Aku mengulurkan coklatku tanpa ragu. "Kau akan menyita barang terlarang ini?" Candaku.
"Ini pemberian temanmu." Anehnya, Sehun menyimpan coklat itu.
"Wah…darimana kau tahu Johny memberikannya padaku?"
"Aku melihatnya tadi."
Aku hanya mengangguk dan mulai beberes. "Betul juga, kau tadi ada di sekitar sana."
"Mau kemana, Han?" Tanyanya saat melihatku berdiri.
"Pulang. Tugasku sudah selesai. Mau apalagi disini? Mengobrol denganmu sampai mulutku berbusa?" Kemudian aku tertawa.
Sehun mengikutiku berdiri. Tubuhnya yang tinggi beriringan dengan tubuh rinkihku. Aku jadi takut jika ditubruk olehnya.
Untuk apa juga Sehun menubrukmu, Luhan? Sadarlah!
"Memang kau tidak mau mengobrol lebih lama?" Tanyanya.
"Sebenarnya, aku lebih suka pulang dan melanjutkan lagi memakan coklatku yang sekarang ada di tanganmu. Kau beneran berniat menyita itu sepertinya."
"Coklat ini buruk."
"Bagaimana bisa? Apa itu kadaluarsa? Sialan si Johny memberiku coklat tidak mutu." Omelku.
Sehun hanya diam dan menungguku membuka loker. "Kau pulang naik apa?"
"Taksi."
"Kalau begitu kuantar kau pulang. Kau masih tinggal di rumahmu yang dulu?"
"Oke, aku numpang ya dan tidak. Keluargaku sudah menjual rumah itu dan beli lagi di dekat kantor ayahku. Kau masih tinggal di rumah yang hampir setiap hari kubuat gaduh itu?"
Aku sudah selesai mengemasi barangku ke dalam tas dan kami keluar gedung perpus dan menuju parkiran dosen yang ada di area khusus.
"Keluargaku iya, tapi aku sekarang di apartemenku sendiri. Dekat sungai."
Aku tertegun. "Jangan bilang di sebelah apartemenmu ada restoran China-nya."
"Sebenarnya iya. Ada apa?"
"Sehun! Itu juga apartemenku. Kau di lantai berapa?"
Sehun kelihatan kaget. "Kau tinggal sendiri sekarang? Lantai berapa?"
"Aku lantai 9. Kau?"
"7. Kau tinggal sendirian?" Tanyanya lagi, lebih menuntut.
Aku masuk ke mobil putih Sehun saat pria itu membukakan pintu untukku.
Gila! Sehun sekarang jadi tambah keren!
Wajah tampannya didukung mobil tampan! Ditambah dia juga sudah mapan, duh Oh Sehun!
"Tidak. Aku bersama temanku. Dia ada di kelasmu."
Sehun menutup pintuku dan memutari mobilnya cepat. "Laki-laki? Perempuan? Siapa namanya?" Tanyanya saat sudah duduk di balik kemudi.
"Perempuan bernama Kyungsoo, matanya belo. Kau tahu dia di kelasmu? Anaknya pintar kok, kau pasti tahu."
Sehun mengangguk dan menyalakan mobilnya. "Oh ya, aku tahu dia."
"Kyungsoo itu kalo di luar pendiam. Kalau di rumah sih, dia cerewet sekali. Suka mengataiku jorok cuma karena cucian. Mengomentari ini itu dan sukaaaa sekali mengomeliku saat aku makan diatas sofa."
Sehun tertawa. "Jangan makan disana, Luhan. Makan saja diatas sofaku, aku tidak keberatan."
Aku tertawa dan mengeluarkan ponselku yang berbunyi nyaring. "Ini dia cewek itu!" Seruku. "Hola, Soo?" Sapaku pada ponsel di telinga.
"Luhan, kau masih di perpus? Kenapa kunci mobilmu di rumah?"
"Satu-satu, cerewet." Candaku yang diberi senyuman oleh Sehun. "Aku sudah hampir sampai dan tadi aku berangkat bersama Wonwoo." Kataku.
"Oh bagus deh. Yasudah, aku sedang di supermarket. Mau titip sesuatu?"
"Belikan aku coklat!" Aku memelototi Sehun dan tiba-tiba dibalas kekehan oleh pria itu.
"Ya, akan kubelikan. Santai saja tidak perlu teriak, kau maniak."
"Oke, kututup, Soo-ya."
"Yaa,"
"Kita sudah sampai." Kata Sehun. "Nomormu masih sama seperti yang dulu?"
"Ya. Kalau begitu, terimakasih tumpanganmu, Sehun. Aku naik duluan."
Saat Sehun akan menyela, aku buru-buru keluar mobil.
Aku melangkah cepat di sepanjang basement dan segera masuk lift kosong dan tidak menoleh pada Sehun lagi.
Di dalam lift sendirian, aku mulai mendesah. Sejujurnya terlalu lama tertawa riang bersama Sehun sangat amat menyenangkan. Tapi…aku tidak mau suka pada Sehun lagi.
-TBC-
Mulai dari sini, Sehun bakal sering muncul. Doi bakal mulai mengacau anak rusa gue.
Jadi, pastiin kalian masukin ini ke library, ngefav and ngefoll yaa. Kalo udah, nice!
Reviewan kalian gue baca semua, dan terima kasih ya, itu berarti bat.
