.
.
.
.
Entah mengapa beberapa minggu belakangan ini Seokjin semakin merasakannya.
Perasaan tertekan, marah, sedih, yang terus menerus tanpa sebab.
Atau mungkin Seokjin tau penyebabnya, tapi ia tidak bisa mengungkapkan perasaan itu pada siapapun sehingga ia merasa makin tertekan.
Ia hanya tidak ingin malaikat penyelamatnya menganggap Seokjin sebagai boneka yang tidak tau rasa berterimakasih, padahal ia sudah diselamatkan. Jadi sebisa mungkin Seokjin mengeluarkan ekspresinya yang sesungguhnya saat mereka tidak ada dirumah
Seperti domino effect. Dimana ia merasa tertekan tapi ia tidak bisa mengatakannya sehingga ia makin tertekan.
Tanpa ia sadari sudah tinggal bersama enam pemuda itu selama satu tahun.
Satu tahun yang bagaikan surga sekaligus neraka.
Ia sudah cukup mengerti bagaimana bernegosiasi, bagaimana menghadapi musuh maupun aliansi mereka dalam sebuah rapat besar, meskipun ia masih dalam tahap menyesuaikan diri.
Bagaimana pun bila Monster dan Ace tidak ada maka seluruh komando akan dialihkan kepada Queen dan itu sudah berlaku semenjak ia diangkat menjadi anggota inti WINGS yang tidak lain Bangtan.
Tapi tetap saja untuk mendapatkan pelatihan fisik akan sulit dilakukan.
Kemarin Yoongi menemaninya latihan, meskipun hanya gerakan-gerakan dasar saja tapi setidaknya ia memiliki seuatu untuk mempertahan diri.
Awalnya yang lain amat ragu untuk melatih Seokjin karena mereka bahkan meminta izin pada leader mereka, tapi mengingat Namjoon yang sedang tidak bisa dihubungi sama sekali mereka memutuskan untuk membiarkan ini terjadi.
Tentu saja siapa mereka bisa menahan godaan besar yang selalu digunakan Seokjin untuk menadapatkan apa yang ia inginkan.
Hanya perlu sentuhan disana-sini, atau bahkan terkadang Seokjin hanya perlu sedikit lama mengeluarkan mata sedihnya maka keinginannya akan dikabulkan semudah jentikan jari.
Satu-satunya orang yang masih ragu untuk membantu Seokjin adalah Jungkook, pemuda itu amat berpedoman penuh dengan titah Namjoon, meski akhirnya berkat bantuan Jimin, mereka berdua memberikan malam yang amat memuaskan untuk Jungkook hingga pemuda itu akhirnya luluh.
Tapi sekarang Seokjin sedikit menyesal meminta permintaan itu, karena malam ini rasanya tubuh Seokjin baru saja dilindas oleh truk yang besar, tubuhnya sangat pegal. Bahkan malam pertama kali ia dan yang lainnya melakukan hal intim (Yang membuatnya tidak bisa duduk semiggu karena pantatnya bagikan di bara api) saja ia tidak sepegal ini.
Jadi sekarang ia memanggil Jungkook dan Jimin untuk cepat pulang kerumah. Namun ia mengurungkan niat, saat panggilan mereka tersambung.
Ia tau Yoongi akan sangat sibuk hari ini, karena akhir tahun semakin dekat yang berarti laporan akhir tahun makin dekat juga, begitu pula dengan Taehyung yang harus membahas agenda tahun depan mulai dari sekarang.
Hosoeok bukan pilihan , karena pemuda matahari itu sibuk 'membersihkan sampah' akhir tahun, sehingga yang terisisa hanyalah Jimin dan Jungkook.
Tapi Seokjin rasa mereka berdua juga cukup sibuk apa lagi posisi Jungkook yang menggantikan Namjoon dan Jimin yang harus kembali mengulang identitasnya sebagai rencana cadangan, karena insiden Seokjin ia hampir terkespos.
Sesungguhnya Seokjin sedikit rindu menghabiskan waktu bersama-sama secara lengkap dengan yang lain, tetapi bagaimanapun Seokjin harus mengerti keadaan mereka.
Karena mereka bukan lah orang biasa yang hidupnya hanya disibukkan dengan tumpukan pekerjaan, tapi tiap detik keputusan yang mereka ambil akan berurusan langsung dengan nyawa.
Nyawa.
Sebuah anologi unik yang membuat seseorang dapat hidup. Konsep yang aneh sesungguhnya, tanpa benda yang bernama 'nyawa' ini hidup seseorang akan berakhir begitu saja.
Seokjin tidak akan pernah terbiasa dengan apapun yang para pemuda itu lakukan, setidaknya ia sudah lagi merasa bersalah bila ada nyawa yang harus melayang.
Seokjin tau bahwa Bangtan maupun WINGS tidak sembarangan membunuh orang, hanya mereka yang berhak mendapatkannya lah yang akan di 'habisi'. Ia tau dilihat dari sisi manapun mereka tetap tidak memiliki rasa manusiawi, tapi memangnya Seokjin siapa untuk memikirkan bagaimana sifat manusiawi itu. Ia bahkan bukan lagi manusia.
Mata Seokjin menangkap benda yang cukup menarik rasa penasarannya.
Saat ini Seokjin sedang berada di pusat perbelanjaan yang cukup besar dijantung kota Seoul, ia sudah izin kepada Jungkook untuk pergi tadi yang tentu saja ia harus didampingi.
Sekarang ia memiliki seorang pengawal pribadi, orang yang akan selalu berada di dekat Seokjin, kapan pun serta apapun kondisinya, orang yang akan mengorbankan nyawanya hanya untuk Seokjin.
Namanya Choi Heesoo, tapi Seokjin memanggilnya Hee-chan (hican) , hanya untuk mengurangi jarak yang ada, namun mereka berdua sudah cukup dekat sekarang.
Seorang wanita muda yang amat karismatik berdarah jepan-korea, matanya sipit namun amat tajam dengan tulang pipi yang tinggi serta rambut yang pendek terpotong rapi. Bila kau melihatnya kau bisa merasakan aura mengintimidasi yang ada. Tubuhnya amat proposional, posturnya seperti seorang petinju, meskipun wanita itu selalu menggunakan dasi dan jas, tapi Seokjin yakin dibalik jas itu ada otot-otot yang tidak bisa disembunyikan.
Entah Bangtan menemukan wanita ini dimana, yang jelas mereka mengatakan sesuatu tentang hutang dan keluarga. Yang pasti wanita ini orang yang akan menjadi asisten sekaligus body guard pribadi Seokjin.
"Hee-chan, kalau yang ini bagaimana ?", Seokjin menunjuk gantungan kunci keluaran terbaru dari merk terkenal, Heesoo mengerutkan keningnya.
"Maaf kan pendapat saya tuan kim tapi menurut saya lebih baik anda memberikan sesuatu yang lebih dalam maknanya bagi anda" , Sekarang Seokjin yang mengerutkan keningnya.
"yaaa tapi masalahnya aku tidak tau harus memberikan apa.." , Seokjin terdiam terus memikirkan benda apa yang pantas untuk ia beli. Minggu depan Namjoon pulang dan ia ingin memberikan hadiah yang berharga untuk mereka, tapi apa yang paling berharga emas dan berlian ?.
Seokjin menjadi berfikir dengan segala materi yang telah mereka berikan, seluruh uang yang merek keluarkan untuk Seokjin, curahan kasih sayang yang tidak ada habisnya dan apa yang Seokjin berikan pada mereka ? tidak ada.
Tiba-tiba rasa sedih itu muncul, perasaan tertahan yang Seokjin ingin keluarkan, hingga rasanya Seokjin ingin mengeluarkan makan siangnya.
Ia sungguh tidak berguna.
Seokjin dapat merasakan air mata yang menitik diujung matanya, sebelum air mata itu jatuh menyentuh pipinya ada tangan kasar yang dengan sigap menyeka air mata itu.
"Taehyung mungkin mengatakan bahwa tangisan malaikat terlihat indah, tapi aku tetap tidak suka bila malaikat kami yang harus menangis" , dihadapannya sudah ada Yoongi yang tersenyum pelan.
"Rapat mu ?"
"Jungkook yang mengambil alih" , Yoongi memberikan sapu tangan kepada Seokjin, "Lagi pula aku dengar dari cuitan burung pagi ini, mereka berkata bahwa ada pangeran yang sedikit kesepian hari ini ?", ujar Yoongi dengan nada menggoda.
Sontak wajah Seokjin yang memang memerah karena menangis serta udara yang dingin, semakin memerah.
"Hee-chan!", Seokjin menggerutu, dengan cukup menggemaskan dimata Yoongi, pipinya merah merona, bibir merah yang penuh itu mengerucut kesal. Yoongi tertawa pelan, sungguh, bahkan hanya dengan melihat Seokjin hatinya terasa amat-sangat lega.
"Maaf tuan Kim, tuan Kim meminta saya untuk selalu melaporkan keadaan anda", Heesoo memberikan pembelaan diri, Seokjin mengendus sebal, masih merajuk.
"Heesoo-ssi kau bisa pergi sekarang"
"Terimakasih tuan Kim", Wanita itu membungkukan tubuhnya 90 derajat sebelum pergi dari tempat itu.
Yoongi dengan segera mengandeng tangan Seokjin erat, yang membuat Seokjin tidak bisa melepaskan gengaman itu. Yoongi kemudian menatap dalam pemuda manis itu.
"jin-ah, mau makan ramen ?"
Seokjin yang merasa kalah dengan pasrah hanya bisa mengangguk sebelum tubuhnya ditarik oleh Yoongi.
Berbincang dengan Yoongi akan selalu mudah, karena pemuda itu selalu memiliki topik yang Seokjin sukai dan membiarkan Seokjin berbicara tentang apapun.
Matanya akan menatap Seokjin penuh makna seakan-akan bila ia mengalihkan pandangannya sedetik saja maka Seokjin akan menghilang. Meskipun begitu Yoongi tau ada sesuatu yang menganggu malaikatnya dan ia tidak suka itu.
"Baby, kau tau kau bisa mengatakan apapun pada kami kan ? no secrets, remember?" , Yoongi memberikan Seokjin senyuman penuh perhatian, membuat Seokjin sedikit tertawa.
"Kau mulai terdengar seperti Namjoon", Yoongi ikut-ikutan tertawa bersama Seokjin, mengingat leader mereka yang amat menaruh seluruh perhatiannya pada Seokjin.
Seokjin kemudian menatap dengan rasa penasaran pada Yoongi "Yoongi-ah kenapa kalian di Bangtan ?", Yoongi terlihat sedikit bingung dengan pertanyaan Seokjin.
"Itu... cerita akan amat panjang"
"Kalau begitu aku ganti pertanyannya" , Seokjin membalas tatap Yoongi "Kenapa kau ada di Bangtan ?".
Yoongi mendecakan bibirnya, tenggorokannya seakan bergerak seakan menelan sesuatu yang amat sulit ditelan. Terlihat amat ragu, membuat Seokjin amat bersalah menanyakan itu.
"Entah setiap kali menanyakan tentang pendapat mereka mengenaimu mereka selalu mengatakan bahwa hal terpenting dari 'GUARD' Bangtan adalah masa lalunya, jadi, aku cukup penasaran, tapi bila kau tidak ingin memberitahukannya pada ku itu tidak apa-apa sungguh-
"Sebenarnya aku tidak keberatan membicarakan hal ini pada siapa pun, hanya saja, dunia belum siap untuk menghadapi cerita ini ?" , Mengangkat sebelah alisnya seolah menantang Seokjin membuat Seokjin semakin penasaran.
"Setelah mendapatkan didikan dari Hoseok-ie mungkin cerita mu bukan masalah besar", senyuman geli timbul di wajah Yoongi, tau benar bila Seokjin di latih dengan rutin yang sama dengan mereka saat pertama kali masuk dalam WINGS.
"Jadi itu semua dimulai dari, sejujurnya aku tidak tau dengan tepat kapan, tapi dulu aku merupakan sebuah barang rusak dari keluarga Min", Yoongi memulai ceritanya dengan wajah mengingat-ingat.
"Dulu aku merupakan garis keturunan ke-3 dari keluarga besar Min, aku memiliki 2 orang kakak yang amat bisa dibilang brilian dibidang mereka, keluarga yang sempurna mereka bilang pada faktanya mereka melupakan sayap patah yang ada di keluarga Min. Min Yoongi yang tidak mampu melakukan apapun karena bahkan pada usia 7 tahun aku belum lancar berjalan dan berbicara lebih lama lagi, aku memang pintar tapi tubuhku dulu tidak bisa banyak bergerak entah apa yang terjadi aku juga kurang ingat mengapa, seorang bangsawan yang hanya menjadi aib."
"Lalu aku akhirnya dijual dipelelangan anak pada usia 9 dan itu tidak berakhir indah, atau setidaknya aku tidak bagiku, karena aku memang pada saat itu tidak bisa banyak bergerak, karena itu hampir tidak ada yang mau membeliku, sebelum akhirnya tuan muda dari keluarga Kim membeli ku", Yoongi kemudian tertawa miris bila mengingat itu.
"Saat itu aku masih belum banyak bergerak bahkan berbicara tapi aku ingat dengan jelas, Kim Namjoon muda, amat sangat naive, meminta seorang teman sebagai hadiah untuk ulang tahunnya yang ke 8, tentu saja ayahnya sangat tidak setuju saat itu karena aku benar-benar dalam keadaan seperti boneka rusak"
"Tapi Kim Namjoon muda tetaplah orang yang keras kepala, sehingga ia membeliku dan mengajarkanku bagaimana untuk berjalan dan berbicara dengan lancar dengan timbal balik aku mengajarinya pelajaran yang ada tidak ada disekolah, karena meski pergerakanku amat lambat tapi aku bisa membaca dan berhitung dengan amat cepat. Hingga setelah 3 minggu tinggal dirumah keluarga Kim diam-diam mereka membuangku dari Namjoon dan berharap Namjoon membeli boneka yang lebih berguna, itu berlangsung hinggal 4 kali, namun sekali lagi tuan muda kim yang satu itu amat keras kepala jadi setiap kali aku dibuang ke pelelangan ia akan selalu di beli kembali, sebelum akhirnya tuan besar Kim menyerah"
"kemudian entah apa yang terjadi pada saat aku 15 tahun penyakit itu tiba-tiba menghilang begitu saja, lalu aku berlatih sama kerasnya bersama Namjoon untuk meneruskan kerajaan KIm yang tentu saja kau tau sendiri akhir ceritanya bahwa sekarang Kim tiada yang ada hanyalah WINGS", Yoongi menyelesaikan ceritanya dengan meneguk teh nya yang sudah mulai dingin karena cuaca yang ada.
"Lebih baik kita pulang sekarang baby, sepertinya akan ada badai salju malam ini" , Seokjin masih terdiam duduk di kursinya, mencoba mencerna cerita Yoongi.
"Aku masih tidak mengerti, kenapa Namjoon melakukan itu ?" , Seokjin menatap Yoongi dari duduknya dengan waja kebingungan "kau-kau hanyalah sebuah seseorang penyakitan yang bahkan tidak bisa bergerak" , Seokjin menjelaskan. Alih-alih merasa tersinggung, Yoongi menglurkan tangan hangatnya untuk Seokjin gengam dan menatap dalam mata Seokjin.
"Karena ia percaya bahwa hanya kita yang dapat melakukannya dan aku pun juga percaya itu, karena itu tolong selalu percaya pada kami JIn"
Yoongi merasa seharusnya ia langsung membawa Seokjin pulang tadi dan memesan makanan dirumah, karena ada beberapa orang menghampiri mereka direstoran dan mengatakan bahwa mereka perlu berbicara dengan Monster tapi ia sangat seulit dihubungi.
Yoongi sudah mengatakan bahwa Monster sedang dalam keadaan tidak aktif dan digantikan oleh Ace, tapi mereka tetap memaksa Yoongi sebagai anggota inti WINGS untuk membantu mereka yang tentunya ia tolak, karena sesuai protokol mereka, segala sesuatu harus melalui ketua yang sedang aktif saat itu, serta Yoongi berusaha menjauhkan Seokjin dari situasi yang kurang menguntungkan.
Jadi ia segera membawa Jin pergi dari tempat itu, hingga kemudian sekarang ia merasakan dirinya kurang sadar apa yang telah terjadi.
Sesuatu yang membuat kepalanya dan Seokjin saling memukul dan Yoongi meluncur kemudian menabrak kaca di pintu lain dengan sisi kepalanya. Dan sekarang, entah bagaimana, Seokjin memanggilnya dan dia harus menjawab.
"Kumohon Yoongi", Seokjin memanggil namanya penuh dengan isakan, membuat Yoongi semakin maksakan diri untuk membuka mata. "Oh, terimakasih yoongi, ku mohon tetap sadar untuk ku, Itu dia, lihat aku, Yoongi. Itu dia, lihataku." Dia mengangguk ringan dan merasakan rasa sakit dari kepalanya kebagian bawah tulang punggungnya. "Can you move Yoongi ?", Yoongi mengangguk lagi dan menarik sabuk pengamannya terbuka. Baru kemudian dia melihat lengan Seokjin, lengan Seokjin yang terluka.
Dia melihat sekeliling dan mulai membuka sabuk pengaman Seokjin juga, sudah mengaitkan lengan di pinggang lainnya dan menyeretnya lebih dekat. Dia mendengar seseorang berteriak, "Kami hanya ingin bicara, Guard!" dan ia melihat merah. Keparat itu membanting mobil mereka? Hari terakhir yang menyenangkan di Bumi, Yoongi rasa.
"Yoongi, dengarkan aku!" Desis Seokjin dan Yoongi berhenti bergerak. Ia bernapas masuk dan keluar beberapa kali, wajahnya mengerut kesakitan. "Panggil yang lain dan buka pintu, kita akan bicara."
Yoongi ingin protes tetapi melihat ke depan mobil untuk mengambil teleponnya dan matanya melihat dengan supir mereka, setengah dari kepalanya terbuka, darah mengalir keluar.
Pria itu punya keluarga, baru saja punya anak perempuan. Dan sekarang dia sudah mati. Yoongi semakin marah. Ponselnya tidak terlihat dan Seokjin mendesis lagi.
"Buka saja pintunya."
"Tidak, aku maupun kau tidak akan berbicara dengan para berandalan itu, kau tidak boleh melakukan itu !"
"THEN WHAT THE HELL WE SHOULD DO ?!"
"Seokjin aku minta kau untuk tenang, situasi ini dapat kita lalui hanya dengan pikiran yang tenang" , Yoongi dapat melihat raut panik Seokjin semakin memudar , saat ia yakin tubuhnya sudah bisa digerakan ia kemudian perlahan membuka pintu mobil.
Dia melangkah keluar dan menunjuk ke salah satu pria yang bergerak. Mereka berhenti dan Seokjin turun dari mobil juga.
"Queen dan Guard . Adegan yang bagus sekali." Pria itu mungkin mengatur semua yang dikatakan, bersandar di mobilnya sendiri. "Di mana Ace mu, Queen?"
Seokjin sedikit terkejut karena mereka mengetahui peran Seokjin di Bangtan, karena bahkan belum tentu semua aliansi WINGS mengetahui itu, tapi berandalan kecil ini mengetahui itu.
"Rumah." Seokjin menjawab dengan sopan ketika Yoongi mendesis pada gerakan kecil dari salah satu pria lainnya. "Kami tidak menghadapi tekanan dengan baik, apakah kau keberatan menyuruh orang-orangmu untuk mundur sedikit lagi?", ujar Seokjin.
Yoongi benci melihat Seokjin bernegosiasi. Seokjin tidak perlu bernegosiasi. Semuanya adalah hak Seokjin. Dia mencengkeram senjatanya lebih erat.
Dalam keadaan terdesak ini tidak mungkin Yoongi akan berbicara satu patah kata pun, ia sudah pernah diperingati oleh Namjoon tentang ini, bahwa Seokjin boleh mengambil alih bila Ace dan Monster tidak ada dan itu akan selalu berlaku.
"Queen, kami hanya ingin bicara." Pria itu tersenyum. Yoongi belum pernah melihat keparat ini sepanjang hidupnya.
"Silakan lakukan." Seokjin tersenyum. "Sepertinya, kau mendapatkan perhatian penuhku."
Keheningan terpotong oleh deru mesin yang mendekat, sangat cepat. Detik berikutnya tembakan kering, keras dan mengerikan memotong langit dan orang yang dekat dengan yang jatuh komando jatuh. Yoongi cepat untuk menembak yang lebih dekat dengan mereka dan menarik Seokjin kembali ke belakang mobil.
Dan setelah itu semuanya bagaikan adegan yang buram di mata Seokjin, dengan Jungkook yang tiba-tiba datang menembakan senjata besarnya, Hoseok yang meloncat turun dari motornya mulai melumpuhkan satu persatu orang yang mencoba kabur dari tempat itu.
Beberapa menit kemudian, Yoongi kembali berlari sampai dia berjongkok di belakang mobil yang menabrak mobilnya sendiri. Dia melihat sekeliling dan melihat Jungkook dengan 10 penjaga bersamanya, menghalangi jalan. Taehyung berjalan keluar dari asap, darah di sisi wajahnya, menyeret tubuh hanya untuk bersenang-senang melihat ke mata orang-orang yang hidup menunggu dan menembaknya.
Yoongi berdiri saat itu, hanya dua orang yang tersisa, yang disebut bos dan salah satu anak buahnya. Mereka membidik Yoongi dan tembakan keras memotong langit lagi. Taehyung bertepuk tangan dan tertawa.
Pria itu terlihat ketakutan. Yoongi juga akan begitu bila ada ia menjadi orang yang berani-beraninya melukai Seokjin.
"Terakhir kali anak lelakimu menunjuk sesuatu padaku, Aku membuatnya tertidur. Apakah kau menginginkan itu?"
Pria itu bergetar di tempat. Yoongi membenci keparat ini. Suka memerintah, kasar dan kurang ajar. Mereka berpikir hanya karena mereka mendapat satu juta dollar dan beberapa senjata yang bersinar mereka adalah sesuatu. Mereka bukan apa-apa. Mereka kurang dari kotoran yang ada di bawah sepatu Yoongi.
Mereka bahkan tidak layak bernafas dengan udara yang sama yang dihirup Seokjin.
Baru kemudian sekarang keparat ini berdiri di depannya gemetaran seperti bambu dan berani menyakiti Seokjin.
Yoongi bergerak cepat, memegang lengannya sendiri, membuat permukaan yang aman untuk membanting sikunya ke tulang rusuk pria itu. Dia mendorong air dari pria itu ketika dia jatuh ke tanah, tetapi Yoongi menariknya kembali ke kakinya.
"Hyung!" Jungkook memanggil dari belakang mobil dan orang-orang di sekitarnya dan Yoongi menatapnya. "Apakah kau sudah selesai? Aku seharusnya membawamu pulang."
"yeah, biarkan Hoseok yang mengurusnya" , karena yoongi dapat merasakan kepalanya semakin sakit.
"Hoseok-hyung , Yoongi-hyung bilang kau akan membereskan ini?" , Jungkook bertanya sambal membantu memapah tubuh Yoongi.
"Lima menit !"Hoseok menjawab balik dan meraih dagu lelaki lain untuk membuatnya menatap matanya. Hoseok tersenyum dan mendekat, bibir hampir menyentuh telinga yang lain.
"Apakah kau tahu mengapa mereka memanggilku Sunshine?" Dia berbisik dan mengunci lengan pria itu di bawah lengannya sendiri. Yang lain tidak mengatakan apa-apa. Hoseok menggigitnya di bagian paling bawah tenggorokannya. Pria itu mengerang dan Hoseok hanya menekan lebih keras, darah sudah menutupi mulutnya.
Dia menarik kembali dan membersihkan tidak pernah tahu di mana orang-orang ini berada. Dia tidak ingin sakit. Seokjin tidak akan pernah memaafkannya. "Ketika aku bertanya padamu, kau menjawab." Pria itu pucat, lengan aman di bawah Hoseok sendiri. "Apakah kau tahu mengapa mereka memanggilku Sunshine?"
Pria itu menggelengkan kepalanya. Hoseok tersenyum lagi sebelum berbisik:
"Karena aku adalah hal yang paling membutakan sebelum kau bisa melihat apapun." Dia tersenyum dan menjatuhkan pria itu, masih memegang lengannya. Dia melihat ke mata yang lain sebelum memutar lengannya dan menginjaknya.
Suara keras memekakkan teling dengan jeritan yang mengikuti. Hoseok memutar lengannya ke arah lain dan menginjaknya lagi. Tulang memotong kulit dan membuka luka di lengan lain saat Hoseok tanpa ampun memegang pergelangan tangannya. Napas terakhir datang saat Hoseok mematahkan pergelangan tangan pria itu.
Orang yang disebut boss itu di lantai tidak bergerak, terlalu banyak kejutan untuk melakukan apa pun. Hoseok berjongkok di sampingnya dan membelai wajahnya dengan ringan, mendorong rambutnya ke belakang.
"Ssst, ssst, tidak apa-apa, sudah berakhir sekarang." Ia berbisik pelan sambil duduk di dekat pria itu. "Aku tidak membunuhmu." Pria itu hanya berkedip. Hoseok Tersenyum. "Aku bukan Monster."
Dia ingin orang ini memohon kematian. Memohon agar itu berakhir. Untuk menemukan tempat yang tepat yaitu di bawah kaki Hoseok dan sadar bahwa ia jauh lebih rendah daripada Seokjin.
Dia bernapas masuk dan keluar, membiarkan udara menghantam wajah yang lain. Bibir mereka hampir bersentuhan.
"Aku membiarkan kau di sini. Karena kauadalah pembawa pesan, oke?" Hoseok menarik kembali. "Kau hidup danmemberi tahu orang-orang apa yang terjadi, oke?"
Dia berdiri dan melihat ke bawah. "Aku bukanmonster." Dia berkata lagi. "Tapi aku tahu iblis itu sendiri. Jikaaku jadi kau, aku akan lari. Sembunyikan. Lenyap." Dia bergerak."Karena begitu Monster menemukanmu, kau akan memintaTuhan untuk membawamu." Dia berjongkok dan berbisik, "dan aku akan memastikan tidak ada yang mendengarmu berteriak."
Yoongi benar-benar merasa ingin meledak, ia melihat sendiri Seokjin yang terluka tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Ia rasanya ingin membunuh dirinya sendiri sekarang juga karena berhasil membuat harta paling berharga mereka terluka.
Sekarang ia mengerti mengapa Namjoon dan Jimin amat sangat menjaga Seokjin.
Karena Seokjin memang seberharga itu.
Ia tidak pernah setuju dengan cara mereka yang berusaha memenjarakan Seokjin di istana mewah ini, tapi pikirannya begitu kacau saat melihat Seokjin terluka dan ia rasanya ingin menyembunyikan Seokjin dari dunia.
Jadi setelah ia mendapatkan jahitan dikepalanya karena benturan yang ia alami cukup keras rupanya, ia segera pulang ke Mansion. Meskipun Taehyung dan Jimin mengatakan bahwa Seokjin baik-baik saja. Ia harus melihat.
Dia menerobos masuk ke kamar Seokjin dan menemukanyang lain berdiri di sekitar tempat tidur Seokjin saat ini sedang mengerti dengan keadaan yang ada yang lain satu persatu mengecup kepala Soekjin kemudian keluar dari kamar itu.
"Yoongi, duduklah disampingku, tolong", Bagaikan tersihir, Yoongi duduk disampingSeokjin yang masih terbaring dengan tangan di gips.
"sungguh yang tadi lumayan seru juga, ternyata seperti ini rasanya hidup seperti kalian", ujar Seokjin, mencoba mencairkan suasana. Tubuh Yoongi rasanya menjadi amat kaku, nafasnya tercekat oleh perasaan bersalah.
"Seokjin, baby, kau-kau , tidak seharusnya kau berada di posisi ini, di keadaan ini, aku- Seharusnya aku melindungimu lebih baik lagi"
"Tidak ada yang bisa melindungiku sebaik dirimu Yoongi, malah seharusnya aku yang tenang dalam keadaan itu, pada faktanya kau menenangkan ku, jadi dilihat dari point manapun ini bukan salah mu", Mendengar suara lembut Seokjin membuat Yoongi semakin merasa bersalah.
Yoongi mencengkram erat selimut yang ada di sisi tubuh Seokjin.
Seokjin menghela nafas sekali, dua kali, tiga kali dan Yoongi melihat air mata pertama bergulir di wajahnya.
Yoongi tau apa yang ada dipikiran malaikatnya, ia mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak tidak tidak tidak." Dia mengulangi sambil memanjat tempat tidur untuk berbaring oleh Seokjin. "Kau baik-baik saja,princess . Kau baik-baik saja, sayang" Dia menyeka air matanya tetapi Jin hanya menangis lebih keras.
Dia cegukan dan menyembunyikan wajahnya di dada Yoongi. Sejujurnya, Yoongi juga merasa ingin menangis.
"Kau tidak tahu betapa menyeramkannya itu ..." Seokjin mencoba menarik napas, tetapi itu hanya keluar karena suara yang lebih tersedak, seperti paru-parunya yang tidak bisa menangani semua udara yang dia butuhkan, "betapa menakutkannya itu ... ketika aku melihatmu ... kau berlumuran darah, Yoongichi ", dia menangkup wajah Yoongi dengan tangannya yang bebas," kau berlumuran darah dan tidak menjawab, Yoongi! " Rengekan pecah di tenggorokannya dan Seokjin menjatuhkan kepalanya ke arah Yoongi sekali lagi. "Kau tidak menjawab, Yoongi!".
Yoongi tidak tahan lagi, dia menarik Seokjin ke arahnyadengan hati-hati berusaha untuk tidak menggerakkan lengan Seokjin yang terluka. Dia merasakan air matanya sendiri.
"Aku minta maaf, princess. Aku sangat menyesal." Dia balas berbisik. Dia juga sangat takut.
Seokjin mengendus dan sepertinya mengingat sesuatu, membuatnya menangis lagi
"Andai saja aku lebih kuat, sehingga aku bisa melindungimu, bukannya digiring oleh Taehyung pergi lebih dulu dari tempat itu"
"Ya Tuhan, tidak, hyung. Kau melakukan hal yang benar." Yoongi meyakinkannya dan tersenyum, sekali lagi membersihkan wajah Seokjin. "Jika kau ada di sana, baby, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Aku hanya ingat melihat lenganmu dalam posisi terluka dan merasa sangat marah. Seharusnya aku melindungimu lebih baik, jinnie"
"Jangan pernah lakukan itu lagi", Seokjin berkata sambil memasang raut paling seriusnya yang membuat Yoongi menahan tawa, karena wajah malaikat Seokjin amat tidak cocok dengan keadaan serius"Aku sungguh tidak akan bisa hidup tanpa kalian semua"
"I promise my Queen."
.
.
.
.
.
yep, long ass chapter.
