Saat sudah sampai di kamarku, aku segera membuat panggilan. Setelah tersambung, aku berteriak. "Rena!"
"Luhan! Ada apa, sayang?!" Tanyanya panik dengan teriakanku.
Aku menarik nafas dan merasa gagal menenangkan diri. "Idiot!" Makiku.
Rena kedengaran mendesah lega, mungkin karena menyadari panggilanku ini bukan sejenis panggilan darurat seperti yang ia duga sebelumnya. "Ohh, iya aku tahu kau idiot."
Wah si idiot ini.
"Re, kenapa kau tidak bilang kalau Sehun juga tinggal di apartemen yang sama denganku?!"
"Apa? Sehun? Sehun siapa?"
"Temanmu kuliah dulu! Yang jadi dosen di kampusku. Kenapa kau terus menyembunyikan fakta Sehun ada di sekitarku sih! Soal dia jadi dosenku! Sekarang jadi tetanggaku! Idiot kau!"
"Ohh Sehun yang itu, dia tinggal satu gedung denganmu? Wah, beruntung kau!"
Aku meraung keras dan membating bantalku. "Beruntung dari mana?"
"Sebentar, ini Sehun yang dulu sering kau ekori kan?"
"Iya! Iya, Re!"
"Nah jelas kau beruntung sayangku! Kau bisa minta bantuan dia lagi jika tugasmu sulit. Dia si jenius, honey, apa kau lupa?"
"Tidak butuh! Aku sekarang cewek mandiri tahu! Jadi kau juga tidak tahu soal ini?"
"Soal apa? Soal kalian, sekali lagi, tinggal di lingkungan yang sama? Kenapa juga aku harus tahu sebelumnya, konyol?"
"Kau kan yang mencarikanku apartemen ini!"
"Ngawur! Aku hanya tahu itu bekas tempat teman kerjaku."
"Duh Rena!"
"Apa lagi, sayang? Hari ini kuliahmu berat ya? Kau kedengaran suntuk sekali."
Aku diam sejenak. "Tidak, ya sudah, kutelfon lagi nanti. Aku belum mandi dan makan."
"Memang kau dari mana? Main sama Krystal temanmu?"
"Tidak, aku dari perpus."
"Sepertinya kau memang sedang stress dengan tugas. Jangan memaksakan diri seperti biasa, mumpung kau tinggal di luar, seringlah main juga. Aku akan sedih jika adikku dari dulu sampai sekarang masih kurang pergaulan."
"Tidak usah kau ingatkan, aku juga akan main sepuasku! Bye, salam untuk ayah dan ibu." Lalu aku menutup panggilan kami setelah balasan singkat kakakku.
Kenapa juga aku harus kepikiran Sehun lagi!
Aku membenarkan letak tasku yang tadi ku lempar asal ke ranjang. Aku mulai berpikir apa malam ini keluar saja ya?
Tidak, tidak. Malam ini aku akan tidur lebih awal saja. Punggungku pegal dan Kyungsoo akan mengomel jika aku keluar lagi padahal kemarin sudah main.
Oh, Kyungsoo.
Aku harap kau segera pulang. Aku ingin coklatku.
-LINE BREAK-
Kemudian ketika aku selesai mandi dan sedang memakai krim wajah, Kyungsoo yang berteriak dari dapur, segera kukejar.
"Kau belanja apa saja? Coklatku tidak lupa kan?" Tanyaku beruntun.
Kyungsoo hanya mempersilahkanku membongkar tas belanjanya ketika dia minum air dingin di depan kulkas. "Han, dimana kau taruh pemanggang daging?"
Aku menunjuk rak disamping kulkas. "Seingatku disana."
"Tidak ada."
"Coba disana." Kemudian aku menunjuk rak bawah. Dan benar, pemanggang yang sedang diburu Kyungsoo ada disana. "Harusnya kau yang lebih tahu. Ini markasmu, 'kan?"
"Ini memang markasku. Tapi kan kau sering mengacaukannya dengan membuat apalah percobaan asalmu. Dan aku beli daging banyak tadi."
Aku menemukan daging yang dibicarakan Kyungsoo dan mengangkatnya tinggi-tinggi, "Yeah kita pestaaaaa! Akan ku pesankan pizza."
"Bagus. Sementara kau menelfon pizzanya, aku akan menyiapkan pemanggang."
-LINE BREAK-
Daging sapi matang yang sudah nyaris habis dan bau bir bercampur pizza yang membumbung di udara membuatku mendesah. Kyungsoo sedang mengiris kiwi di pantry.
Aku tiba-tiba saja ingat pada editan laporanku. Aku mengambil laptopku dan duduk lagi di meja makan yang piringnya sudah kusisihkan. Perut kenyang membuatku ringan hati mengedit.
Aku selesai 100% saat Kyungsoo datang dengan piring berisi potongan kiwi dan apel. "Soo, laporanku untuk Ms. Baekhyun yang super ribet dan menyita waktu ini sudah selesaiii. Milikmu apa kabar?"
Kyungsoo tidak langsung menjawab, malah menegak bir kalengannya. "Buruk. Aku kesulitan menemukan beberapa referensi."
Aku menatapnya prihatin dan menggarpu kiwi segar irisannya sebentar. "Kau sudah cari di perpus?"
"Sudah."
"Jurnal online?"
"Sudah, tapi tidak memuaskan."
"Konsultasi dengan dosenmu?"
"Aku sudah terpikir hal itu, bahkan aku sudah menghubungi beliau. Tapi tidak bisa, sibuk."
"Siapa yang sibuk?"
"Dosenku."
Oh Sehun sibuk? "Dosenmu Professor Oh Sehun, 'kan?"
"Iya, dia sibuk. Kau tahulah dia tidak hanya jadi Professor di kampus kita, dia juga punya kelas di kampus sebelah."
Dan tiba-tiba terpikirkan sesuatu. "Soo, mau kubantu?"
Kyungsoo meletakkan kalengnya dan menatapku dengan mata belonya yang dilihat darimanapun sangat menggemaskan. "Kelas kita memang punya tugas laporan yang sama, tapi kasus kita beda, Luhaen. Kau tidak ingat?"
"Ingat, tentu saja."
"Lalu?"
"Kau pasti bingung karena kau tidak tahu, dia kan tinggal di lantai bawah. Tinggal ganggu dia sampai dia menyerah dan memberimu bimbingan."
Kyungsoo dengan mata belo yang lebar terkaget adalah Kyungsoo dengan tingat kadar menggemaskan paling wahid. Aku tidak tahan dan menyuapi mulut menganganya dengan potongan apel.
"Professor Sehun tinggal di gedung apartemen ini?"
"Ya, lantai tujuh."
Kyungsoo akhirnya mengunyah apel suapanku dengan penuh pemikiran. "Kau yakin, Han? Darimana kau tahu?"
"Sebenarnya dia teman Rena."
"Dan bagaimana bisa teman kakakmu ini bersedia membantuku? Kau tidak benar-benar terpikir menyuruhku menyatroni rumahnya dan merengek disana, 'kan?"
"Kenapa tidak?" Tanyaku penasaran. Itu kan bukan sebuah pelanggaran. Benar, 'kan?
Kemudian Kyungsoo pindah duduk di sampingku. Rok selututnya naik ketika dia memilih duduk bersila, tapi dia kelihatan tidak peduli sedikitpun. Toh kupikir, siapa lagi yang akan melihat paha cewek pendiam nan pemalu itu selain aku sekarang. "Itu ide buruk. Kenapa tidak kau saja yang membantuku? Kau bilang tadi mau membantuku."
Ah, perasaanku mulai tidak enak. "Tidak, aku tidak suka Sehun. Jadi aku tidak bisa membantumu. Apapun yang ada di otakmu sekarang, tidak."
"Sehun yaa… Kalian terdengar dekat."
"Ma-mana bisa?" Aku membernarkan letak dudukku yang serasa melorot.
Dekat dengan Sehun adalah Luhan yang dulu. Yang buta akan segala hal, termasuk laki-laki. Sedangkan yang ditatapi intens oleh Kyungsoo sekarang adalah Luhan yang akan menjauh dari masalah.
Dan apa aku sudah menggaris bawahi jika Sehun itu masalah? Ya, masalah.
"Kyungsoo, itu masalahmu. Kau harus bisa menemukan solusinya. Jangan ikutkan aku jika menyangkut Sehun, aku cuma akan memberimu informasi." Tambahku sambil kembali menghadap laptopku. Aku membuka e-mail dan menuliskan alamat Baekhyun dalam kotak pesan, lalu mencantumkan attachment laporanku.
Kyungsoo mengamatiku dalam diam. Mungkin otaknya sedang mengkalkulasi gagasan agar aku setuju membantunya dengan Sehun.
"Apa Professor Sehun tidak suka padamu?" Akhirnya Kyungsoo buka suara. Tepat ketika aku sudah mengirim e-mailku. Aku menutup laptopku sebelum menghadap cewek belo yang kini sedang mengunyah.
"Kubilang, aku tidak suka dia. Mana kutahu dia suka aku atau tidak."
"Serius tidak tahu? Kau kan Luhan miss pembaca keadaan yang disukai banyak orang."
"Tapi Sehun susah ditebak, kau pasti tahu sendiri dia bagaimana. Dia adalah satu-satunya pria dengan otak kompleks cewek."
Kyungsoo mengangguk. Sepertinya dia sepaham kali ini.
Aku menumpuk piringku dan berdiri. Merasa bahwa pembicaraan ini sudah selsai. "Malam ini aku tidur duluan." Kataku sambil mencuci piring.
Kemudian aku kembali ke meja makan untuk meraih laptopku dan menyempatkan diri mencubit pipi gembil Kyungsoo. "Night, night."
"Luhan," Panggil Kyungsoo.
Aku tidak berhenti melangkah. Sudah tahu apa yang akan dia katakan, pasti tentang…
"Apa kau menyuruhku mencuci pemanggang ini sendirian?"
cucian lagi. Hal yang selalu jadi omelan Kyungsoo untukku.
"Ya." Sahutku.
"Luhaaan," Kyungsoo meraung, "Setidaknya bantu aku membuang box pizza!" Teriaknya.
Aku sudah di dalam kamar dan melepas sandalku. Aku meletakkan laptop ke meja belajar dan segera masuk ke dalam selimut. Kemudian secepat itu aku jatuh tertidur.
-LINE BREAK-
FYI, NOW 00.27. Idk what actually am i doing.
Next chap i'll bring Sehun back, and also, i'll bring smth(spoiler: relate with hotluhanuhuk)
Thanks for your appreciation, i really appreciate it.
