Namjoon baru kembali tadi malam tapi Seokjin baru melihatnya pagi ini, dia terlihat amat lelah. Kantung matanya amat tebal.

Mungkin tubuhnya tidak berlumuran darah seperti biasanya, tapi ia layaknya seorang jedral yang baru saja menghadapi kekalahan.

Pipi terlihat sangat tirus dengan rahangnya yang semakin menonjol, seakaan ia tidak pernah mendapatkan perawatan yang layak. Rambut pirangnya sekarang sudah berubah hitam, amat kusam di mata Seokjin.

Tadi saat ia bangun ia hanya sempat memeluk Namjoon sebentar sebelum yang lainnya mengajaknya pegi ke meja makan, untuk sarapan.

Mata Seokjin perlahan memindai seluruh meja makan.

Meja mereka berisikan 7 kursi dengan Jimin yang duduk di kursi paling ujung, kemudian disebelah kanannya ada Yoongi, Jungkook dan Namjoon sementara disebelah kirinya ada Hoseok, Taehyung dan Jin.

Entah mengapa udara yang menggantung diantara mereka amatlah canggung, padahal biasanya bila ada member yang baru saja pulang maka yang akan mereka lakukannya hanya lah cuddling seharian atau bila mereka memiliki tenaga lebih, sex adalah opsi terbaik.

Apa lagi Namjoon baru saja kembali setelah hampir satu bulan pergi jauh dari mereka.

Mereka seharusnya pagi ini melakukan morning sex atau apapun.

Bukan seperti ini.

Makan di ruang makan dengan selusin pasukan layaknya ingin berperang, karena entah bagaimana seluruh pengawal mereka ada di dalam rumah.

Bahkan heesoo yang biasanya hanya akan menemani Seokjin bila di panggil, pagi ini ia sudah ada disudut ruangan dengan wajah yang amat kaku.

Tapi yang lain mencoba sebaik mungkin berpura-pura bahwa semua baik-baik saja dengan Taehyung dan Jungkook yang terus membuat topik, Hoseok yang berusaha membuat lelucon bahkan Yoongi yang biasanya diam selama sarapan kali ini ikut mencoba 'menghangatkan' pagi mereka.

Dan Seokjin merasa muak.

Ia menyesal tidak bangun semalam untuk menyambut Namjoon, jadi ia ketinggalan berita ini.

Semalam ia tidak tau bahwa Namjoon pulang karena ia sudah terlalu lelah dengan latihan yang diberikan oleh Hoseok karena Yoongi masih dalam masa penyembuhan.

Tapi ia cukup kecewa karena yang lain tidak berusaha membangunkannya.

'TRINGGG!'

Suara sendok dan garpu yang Seokjin sengaja benturkan ke piring mereka membuat yang lain mengalihkan perhatian mereka.

Seokjin menahan emosi yang meluap di otaknya, dadanya naik turun menahan semua kekesalan yang ia rasakan.

"Kalian tau aku berhak mengetahui apa yang terjadi kan?", suaranya tidak keras namun cukup untuk didengar oleh semua orang dimeja makan.

Meja mereka menjadi hening sejenak sebelum Namjoon berdeham"Kau berhak tau, karena ini berhubungan denganmu Jin" , Namjoon hampir tidak pernah menyebut namanya dan itu membuat Seokjin sedikit khawatir "Sebenarnya aku berniat memberitahukan ini tidak dalam situasi ini, tapi kita sudah tidak ada waktu lagi"

Seokjin tidak yakin apa yang akan didengarnya, Seokjin rasa ini berhubungan dengan posisinya atau apapun itu.

Satu hal yang Seokjin tau, mereka masih bungkam dengan kejadian penyergapan beberapa hari lalu.

Mereka tidak ingin mengambil resiko bila Namjoon pulang dan harus mendengarkan berita buruk, kemungkinan besar pemuda itu langsung menurunkan pembunuh terbaiknya untuk membantai seluruh gang rendahan itu.

"mereka mulai menyadarinya", Namjoon berbicara tanpa berusaha melihat Soekjin, "ada pola yang berubah dari Bangtan dan WINGS secara signifikan"

"Bukankah itu hal yang wajar ? Mengingat posisiku sekarang memang mengubah dinamika kalian" , seokjin bertanya.

"Bukan itu masalahnya" , sahut Jimin, yang sedari tadi hanya diam diujung meja. "You're being their target now, mereka mulai menyadari bila Bangtan memiliki satu kelemahan dan itu adalah malaikat penyelamat mereka" , lanjut Jimin.

"...Dan siapa 'mereka'?"

Mereka saling melirik satu sama lain sebelum Namjoon angkat bicara.

"Jauh sebelum kau menjadi bagian Bangtan atau bahkan sebelum WINGS terbentuk, kami masih membutuhkan..." Namjoon terdiam sejenak memikirkan kata yang tepat untuk mendeskripsikan hal itu "..bantuan dari perserikatan yang lebih besar dan mereka bernama OASIS, dimana seluruh organisasi mafia berkumpul untuk saling 'membantu' satu sama lain. Jadi kami membangun hubungan dengan mereka, sebelum akhirnya pemimpin WINGS yang saat itu memimpin mati karena dikhianati oleh anggotanya sendiri", Namjoon mengatakannya dengan nada yang puas sementara yang lain mengangguk setuju.

"Jadi secara mendadak kami mengeluarkan diri dengan sesudah menyelesaikan utang kami tentunya, berubah ke sistem yang baru dan mereka menjadi amat- entah lah , cemburu dan mulai memburu kami sejak itu"

"Kalau ini sudah lama terjadi bukankah ini hal yang biasa ?"

Jungkook menghembuskan nafas keras. "Karena yang terjadi sekarang bukanlah hal yang biasa", jawab Jungkook. "perserikatan itu mulai mengumpulkan pengikut sebanyakan mungkin untuk menghancurkan WINGS, mereka menganggap kami sudah terlalu besar dan itu membuat mereka takut bahwa suatu hari nanti kami bisa menguasai dunia bawah secara keseluruhan."

"Padahal itu bukanlah tujuan kami", lanjut Taehyung "itu tidak pernah menjadi tujuan WINGS maupun Bangtan"

Seokjin meneguk pelan jus jeruknya sambil mengangguk pelan, mulai mengerti apa yang terjadi.

"Kalau begitu apa yang bisa kita lakukan ?"

Yoongi mendecak pelan , "Mencegah ini semua, menaikan pertahanan dan memperbanyak aliansi, semudah itu", Dari sebrang tempat Yoongi duduk Hoseok melemparkan tatapan tajam pada pemuda pucat itu "Kau tau ini tidak akan pernah semudah itu", desis nya pelan, Yoongi hanya mengangkat bahu pelan, mengabaikannya.

"Hari ini kami berencana untuk mulai melakukan pendekatan kepada aliansi terdekat kami sebelum yang lainnya terpengaruh, selain itu mengantisipasi bila perang memang dibutuhkan", Namjoon memotong sebelum pembahasan mereka menjadi lebih memanas. "Jadi, kami semua akan berpencar hari ini".

"Then what am i supposed to do ?"

"Jin !" , Dengan nada keras Namjoon membentaknya "Taukah kau betapa takutnya kami dengan semua ini! Kau adalah kunci dari kehidupan kami dan aku tidak akan bisa hidup dengan tenang bila sesuatu terjadi dengan mu ataupun siapapun yang menjadi bagian Bangtan, setidaknya mereka-" , Tangan Namjoon menunjuk yang lain "-Mereka bisa menjaga diri mereka sendiri sementara kau, kau adalah malaikat paling rapuh yang kumiliki, aku mohon tolong setidaknya lakukan ini, demi aku"

Seokjin mematung , sebagian dari dirinya ingin membantah itu. Ia bukan lagi sebuah boneka, ia adalah seorang manusia bebas yang bisa hidup seperti apapun yang ia mau. Tapi entah mengapa tubuhnya hanya terdiam dan menuruti perintah Namjoon.

"Kim Namjoon" , nada kasar keluar dari mulut Yoongi, seolah mengingatkan bahwa apa yang Namjoon lakukan sudah melewati batas. "Kau tau benar apa yang aku katakan adalah benar Kim Yoongi", nadanya yang mengancam membuat emosi Yoongi ikut-ikutan terpancing.

Jungkook yang sadar dengan situasi yang semakin memanas kemudian bangkit dari duduknya, memanfaatkan posisinya yang berada di tengah keduanya untuk memegang bahu mereka. "Hyung, kumohon jaga emosi kalian" Ia berusaha menengahi "Yoongi-hyung apa yang Namjoon-hyung katakan adalah benar apalagi Jin masih belum benar-benar bisa menjaga dirinya sendiri apa lagi Namjoon-hyung adalah pemimpin kita setidaknya jangan langsung menghakimi , begitu pula dengan Namjoon-hyung, hyung harusnya sadar bahwa kita adalah tim, kita harus bekerja sama dan Jinnie bukan lagi seorang boneka yang harus diatur oleh tuannya"

'Hyung' ,Sebutan itu. Jarang sekali Jungkook gunakan bila bukan dalam keadaan yang amat genting, sebutan yang berarti ia amat menghormati orang itu, membuat yang lain menjadi merasa bersalah karena kata itu harus digunakan.

"Jungkook benar. Kita seharusnya lebih menyatu agar masalah ini segera terselesaikan", Taehyung menimpali. Namjoon mengatupkan rahangnya sambil memejamkan matanya sejenak "Jin boleh pergi asalkan ia tidak boleh sedetikpun meninggalkan pengawalnya dan ia harus sudah dirumah sebelum pukul 4 tepat, tidak ada lagi tawar menawar" , ujarnya.

"Great!", Taehyung menepuk tangannya sekali "ada baiknya kita mulai bekerja sekarang", Yang lain mengangguk setuju sebelum bangkit dari kursi mereka untuk mencium Seokjin dan pergi dari ruangan itu.

Namjoon mengecupnya cukup lama sebelum mencium dahi Seokjin berusaha menyampaikan rasa bersalahnya. "I'll see you at diner" , Seokjin menggumam setuju, mendongkakan kepalanya untuk menatap Namjoon "Don't be late".

"I won't"

Hari entah mengapa berjalan sangat lambat bagi Seokjin.

Jadi, Ia, Heesoo beserta 2 pengawal lainnya memutuskan untuk pergi ke toko pernak-pernik. Seokjin masih memikirkan hadiah yang bagus yang bisa ia berikan untuk pangerannya. Kemudian mereka makan siang di restoran dekat toko itu sebelum akhirnya menuju toko buku untuk membeli kertas dan alat kantor lainnya.

"Apakah anda sudah memutuskan hadiah untuk Tuan Kim, Tuan Kim ?", ujar Heesoo yang tiba-tiba berada disisinya.

"Yep, setelah aku pikir-pikir tidak ada benda yang lebih berharga dari buatan ku sendiri, jadi aku aku ingin membuat scrapbook", Seokjin menimbang-nimbang kertas yang akan dibelinya, tersenyum senang, "Karena mereka sudah menjagaku dengan sangat baik dan aku merasa bahwa tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan mereka" , lanjut Seokjin, membuat Heesoo sedikit tertegun.

"Saya mengerti" , kata Heesoo tersenyum perlahan, "Anda benar-benar menyayangi mereka , tuan ? - Ah , maaf saya bukan bermaksud tidak sopan tetapi meskipun kehidupan yang harus anda jalani seperti ini, anda terlihat amat menikmatinya" , Seokjin mengerutkan dahinya mendengar pernyataan itu.

" Biarkan aku memberitahumu sebuah rahasia" Seokjin bercanda ringan, memberi isyarat agar Heesoo mendekatinya wanita itu tampak tertarik, mendekatkan dirinya kepada Seokjin ketika keduanya sangat dekat Jin dia berbisik "Aku benar-benar jatuh cinta mereka" .

Dan Heesoo merasakan senyum mengambil alih wajahnya, seperti halnya Seokjin, keduanya kemudian mulai berbincang di toko buku dan melanjutkan pembelian. Mereka sudah pergi ke kasir ketika ponselnya berdering. Muncul nama "Jungkook"

Seokjin segera menjawab panggilan itu.

"Halo kookie, aku akan pulang", namun suara Jungkook terdengar amat putus asa terdengar dari ujung sambungan.

"Where are you ?", dari nadanya Seokjin tau ia tidak boleh menyangkal.

"Di toko buku..." , lalu sambungan itu terputus dan kekacauan terjadi, beberapa detik kemudian orang-orang mulai berlarian dengan suara teriaka dimana-mana, secara bersamaan masuk beberapa pria dengan wajah tertutup memasuki toko.

Para pengawal bergegas mencoba menghadang, sementara Heesoo yang memang amat terlatih kemudian dengan sigap menarik lengan Seokjin menyeretnya ke rak dan membuatnya berjongkok dibelakangnya.

"Tetap di sana dengan kepala di bawah" ,katanya, menarik senjatanya sendiri dari mantelnya "segera pergi setelah aku memberimu aba-aba", Wanita itu langsung berbalik dan mulai menyerang pria bersenjata yang mendekati mereka.

Ketika mobil diparkir di depan toko buku, Jungkookdengan cepat melompat keluar dari mobil, tempat itu sudah ramai tapi polisi sudahmengisolasi tempat it, dia segera melewati kerumunan yang dibatasi oleh garis polisi serta beberapa anggota WINGS.

"Dimana dia ?", Jungkook bertanya saat salah seorang anggota mendekat.

"Dibelakang, Ace" , Anggota itu berusaha mengikuti langkah Jungkook yang amat terburu-buru "Kejadiannya sangat cepat , mereka datang, menembaki wargi sipil sebelum akhirnya dilumpuhkan", ujarnya berupaya menjelaskan.

"Monster will be very mad", desis Jungkook pelan.

Jungkook dapat melihat toko buku yang sudah hancur berantakan, dengan kertas-kertas berhamburan dan banyak lampu yang pecah dan serpihannya tersebar diseluruh lantai. Mereka berjalan ke tempat yang tampaknya adalahruang keamanan, melewati satu set penjaga, Jungkook akhirnya menemukan Heesoo.

Wanita itu terlihat amat berantakan. Dengan bibir yang sedikit robek dan bengkak dibawah matanya, tangannya memar kemungkinan tertusuk. Jungkook menjadi sedikit khawatir, karena Heesoo bukan lah wanita sembarangan, dia adalah hewan peliharaan Namjoon, tapi para pengecut ini berhasil melukainya.

"apa yang terjadi ?" , dia bertanya sesaat setelah mendekat kearah Heesoo, wanita itu menatapnya lekat.

"15 orang bersenjata menyerbu toko dan -.."

"Aku sudah mendapatkan laporannya yang ingin aku ketahui adalah kenapa kau dengan berani-beraninya menghapi mereka semua!" , Heesoo terlihat ragu sebelum akhirnya berkata.

"Maaf Tuan Kim, tetapi saya tidak melakukan semuanya sendiri, Tuan Kim mendapatkan senjata..", Heesoo memulai namun ucapannya dipotong dengan tangan Jungkook.

"Kita bicarakan ini nanti" , ujar pemuda itu mendekat dengan cara yang menakutkan, membuat Heesoo tutup mulut "Di mana dia?"

"Di belakang tuan" , Jungkook mengangguk mengerti kemudian segera berjalan mengikuti Heesoo.

Sesaat setelah ia masuk keruangan itu hatinya menjadi lebih tenang, ia dapat melihatnya, Jin , duduk dengan wajah ketakutan berusaha menenangkan diri, meskipun begitu ia tetap yang paling indah.

Jungkook kemudian mendekat, menarik ponselnya untuk menelfon Namjoon. Pemuda itu tidak mengatakan apapun kepada Seokjin, hanya berdiri dan memberikan ponselnya kepada Seokjin yang mengerti maksud pemuda, menjawab panggilan itu sesaat setelah terhubung.

"aku tidak apa-apa" , Jawab Seokjin takut-takut, dia sepertinya mendengar pernyataan lain dan akhirnya berbicara lagi " Tidak...Ya...Mereka menjagaku dengan baik...Aku tau...Bye", kemudian Seokjin memandang Jungkook dan memberikan ponsel itu kembali, Jungkook mengerti maksud Seokjin, kemudian mendekatkan ponsel itu ketelinganya.

"Kami akan pergi dalam lima menit" , ujar pemuda itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Seokjin "Bye" , ia menutup panggilannya sebelum memanggil Heesoo.

"kita akan pergi dalam limat menit, tolong persiapkan semuanya", perintah Jungkook yang selanjutnya menggendong tubuh Seokjin di punggungnya.

"Baik tuan"

Yoochun berjalan ke barak, berjalan cepat dan sangat khawatir. Ia tidak menyangka bahwa peliharaan WINGS itu adalah senjata pertahanan, orang-orang yang ia bayar untuk menyerang titik lemah Monster telah ditembak jatuh oleh hanya satu anak, dan ia tidak bisa mempercayainya.

Ia menuruni tangga dengan kesal, memasuki ruangan terkunci dan dijaga oleh penjaga. Ia mulai berjalan, menyapa beberapa anggota dan akhirnya mencapai bagian belakang ruangan tempat seorang tokoh duduk menonton berita. Ia berdiri di sana menunggu sosok itu untuk membiarkannya mendekat dan akhirnya dengan anggukan ia mendekat.

"Pak, kami punya masalah."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc.

Hope you guys like it ^^

Thankyou yang udh baca dan udh review