"Luhaaan."
Aku mengerjap. Perasaanku saja atau memang aku masih tidur sebentar? Rasanya seperti aku terbangun ketika kakiku tersandung sesuatu dalam mimpi. Itu dinamakan kejut tidur. Aku biasa mengalami itu, ketika aku tidur dalam posisi amburadul. Juga ketika otak serta syarafku yang lain tegang karena tugas.
Tapi rasanya aku tidak sedang dalam keadaan-keadaan itu. Aku tidur telentang dan tanpa ada guling yang menimpa kakiku. Syarafku juga baik-baik saja karena tugasku sudah kucicili teratur. Lalu apa?
"Luhaan, kau masih tidur? Aku disini, adikku sayang!"
Oh!
Rena!
Aku segera terduduk dan mengecek jam dindingku yang menciptakan sudut 145 derajat di jarum 10 dan 3. Kepalaku seketika pusing, tapi itu tidak menghentikanku meloncat turun dari ranjang dan berlari ke ruang tamu dimana sumber suara Rena tadi berasal. "Kau tidak lihat ini jam berapa?! Mau apa, Re-?" Teriakanku terputus begitu aku masuk ruang tamu.
Di kepalaku yang pusing, tadi aku membayangkan Rena yang seenak hati menjarah apartemenku. Aku harus memarahinya karena Kyungsoo tidak bisa diharapkan melakukan itu. Kyungsoo belum pernah bertemu Rena, jadi tentu saja gadis itu akan sungkan pada kakakku. Tapi…aku tidak sedikitpun membayangkan apa yang kulihat sekarang. Dengan Rena yang duduk selonjoran di sofa panjang dan Oh Sehun di sofa singleku.
"Ada apa sebenarnya disini?" Tanyaku menuntut.
Kenapa bisa ada Oh Sehun di ruang tamuku? Yang mana ini ruang tamu apartemenku, bukan ruang tamu orang tuaku -yang dulu sempat disinggahi Sehun -yang masih menjabat teman sekelompok Rena.
Ngomong-ngomong, Kyungsoo berdiri kaku di jauh sana, di ambang pintu goyang dapur.
"Luhan," Kata Rena. "apa kau masih saja berlari di rumah?"
Aku tidak menjawab. Aku malahan menatap Sehun yang juga menatapku. Entah kenapa, aku merasa ingin menunduk. Sehun dan tatapannya menusuk sekali. Dia Oh Sehun yang dingin, kaku dan tidak tersentuh. Bukan Sehun yang hahahihi denganku tadi.
Secara teknis, dia memang Sehun. Walau jaket kulit yang ia pakai sekarang sangat mencolok dan berbeda dengan pakaian formal yang melekat padanya di kampus tadi.
"Jangan kau lakukan itu lagi, dear." Rena menurunkan kakinya dan membuka bungkusan kresek di meja -yang sebenarnya aku penasaran apa isinya. Baunya harum, enak sekali. Seperti cake coklat yang punya lava coklat didalamnya. "Jika kau di rumah, masih ada baba yang akan menggendongmu saat jatuh terpeleset, jika disini.. Aku tidak yakin gadis seimut Kyungsoo temanmu itu akan mampu menggo-"
"Rena," Potongku. Aku memelototi Rena. "aku tidak gendut, jika itu yang ingin kau ucapkan secara tidak tersirat."
Rena menoleh dari bungkusannya, "Katakan itu pada bokongmu yang super berat dan dadamu yang tumpah ruah itu. Setidaknya kancingkan dulu kemejamu, Luhan. Aku bisa melihat belahan dadamu dengan sangat jelas."
Seketika, aku meremat kemejaku yang memang kancing atasnya sudah lepas, mungkin terlepas ketika aku tidur tadi. Aku menolak menunduk dan mengancingkan kemejaku tanpa melihat. Bahkan mungkin urat maluku sudah terputus oleh gunting yang kupakai memotong daging tadi karena setelah menutup dadaku yang sejak tadi tidak sengaja kuumbar, aku masih bisa menyugar dan merapikan rambutku yang terurai berantakan dan kuyakin mirip singa, dengan santai.
Sekali lagi, aku ingin meraungkan pada dunia bahwa aku adalah Luhan dewasa, bukan Luhan pemalu lagi.
"Jadi, apa sebenarnya maumu, Rena?" Aku melirik Sehun sebentar, "Dan Sehun, bukankah ini sudah terlalu larut untuk bertamu?"
Sehun dengan mempesonanya hanya menatapku intens.
"Di telfon, kau terdengar suntuk sekali, jadi aku kesini ingin menghiburmu. Lihat, kemarilah, aku membelikanmu cake." Rena melanjutkan membuka bungkusannya yang ternyata berisi box kue. Dia mengeluarkan kue sedang berwarna coklat muda yang… ya Tuhan, itu dilapisi caramel!
"Ini sudah terlalu malam untuk desert penuh gula, idiot." Kataku.
Aku berpikir akan mendengar Rena tertawa, tapi malah Sehun yang tertawa. Tawanya terdengar riang dan wajahnya tidak terlihat kaku lagi. Oh Sehun yang ini!
"Tapi kenapa aku melihat liur di sudut bibirmu, Han?" Tanyanya geli.
"Tidak mungkin ada yang seperti itu." Elakku, walau sebenarnya aku tidak yakin dengan ucapanku sendiri. Memang siapa yang tidak akan ngiler jika disuguhi cake super menggoda itu? Mungkin itu memang penuh kalori dan bisa membuat berat badanku naik, tapi siapa peduli!
Aku tidak peduli gendut! Asal ngilerku berkurang.
"Sayang, duduklah, ayo makan kuemu. Ini akan membuat moodmu naik lagi." Rena menepuk sofa disebelahnya dan menatapku seolah aku ini anaknya yang belum bisa jalan dan makan sendiri. "Oh iya, Kyungsoo, ayo kesini, cake ini juga untukmu."
"Tidak, unnie, terimakasih. Aku akan ke kamarku, maaf tidak bisa menemanimu."
Aku duduk disamping Rena dan memangku kuenya hati-hati. "Soo-ya, jangan sungkan pada Rena, sini kau. Aku tahu kau juga pasti tergoda menyendok kue caramel yang berisi lava coklat ini."
"Kau mengakui bahwa tadi kau memang keluar liur." Celetuk Sehun yang tidak kuanggap ada.
Aku menoleh pada Kyungsoo yang berjalan mundur. "Tidak, aku akan ke kamar. Selamat malam, Rena-unnie…dan Professor Sehun." Katanya, lalu segera menghilang di belokan tembok.
Oh, iya. Konyolnya aku, Kyungsoo pasti tidak nyaman seruangan dengan Professornya di jam segini. Kyungsoo adalah pemalu, bagaimanapun juga. Dia bahkan lebih suka diam menekuri sidik jarinya ketimbang berkenalan dengan teman sekelas orientasi dulu.
"Oh, tentu saja, Kyungsoo pasti malu." Gumam Rena sejalan denganku, sementara aku memilih menyendok pinggiran caramel kuenya dengan hati-hati. "Ah!" Aku menoleh pada Rena saat dia berseru. "Aku tadi juga beli bir! Ayo minum bersama, untuk merayakan pertemuan kita lagi setelah 5 tahun!"
Aku mengernyit, "Apa di toko roti juga jual bir?"
"Memang ada?" Tanya Rena.
"Re," Aku menyendok besar kue sebentar sebelum melanjutkan ucapanku. "Maksud pertanyaanku adalah dari mana kau dapat se kantung bir itu ketika kau baru saja dari toko kue? Aku tidak percaya kau lebih tua dariku kalau soal sarkasme saja kau masih buta."
Kepala berambut hitam Rena mengangguk-angguk.
"Aku tidak yakin kau paham," Kataku curiga.
"Katamu itu sarkasme, lalu untuk apa aku memahami hal itu."
"Itu memang sarkasme."
"Dan sarkasme sama sekali tidak baik, kau harus belajar bahwa dunia ini indah, sayangku. Jangan melempar sarkasme lagi, sejujurnya kau menyakiti hatiku."
Oke, Rena adalah kakak yang buruk!
Dia sama sekali tidak pernah sejalan denganku. Ini bukan kali pertama, dia selalu saja seperti…memang berbeda dariku. Terlepas dari kami suka main bersama, Rena tidak punya hal lain lagi yang sama denganku. Kami berbeda hampir di segala hal. Ketika Rena sangat baik hati membagi miliknya denganku, aku akan sibuk menyembunyikan milikku agar tidak harus berbagi dengannya. Ketika Rena sangat perhatian dengan ayah dan ibu, aku akan sibuk mengenyahkan perhatian ayah dan ibu padaku. Pun ketika rasanya dunia memusuhi, Rena akan tetap berlapang dada, sementara aku akan sibuk menjauhinya.
Rena sangat dewasa dan aku benci mengakui bahwa sebenarnya aku sangat bergantung padanya, juga aku menyayanginya.
"Luhan," Sehun memanggilku dan aku meliriknya. "Makanmu pelan saja, pipimu sudah tertimbun coklat caramel semua." Katanya dengan tatapan yang entah bagaimana maksudnya- aku bingung mengartikan.
Dan aku juga baru sadar sudah memakan kue dengan rakus sampai bersisa separuh. "Aku butuh banyak gula, kadar gulaku turun akhir-akhir ini." Kataku tanpa berpikir.
"Kau sakit atau sesuatu?" Tanya Rena sambil menyeruput bir kalengannya.
"Tidak, Re. Aku masih sehat. Jadi darimana kau dapat bir-bir ini?"
"Supermarket seberang, kulkas disebelah rak kue. Disitulah aku ketemu Sehun, yang kau bilang juga tinggal disini."
"Kau memberitahu Rena jika kita tinggal satu gedung?" Tanya Sehun sambil menyilangkan kaki.
Aku mengangguk. "Rena kakakku, kan. Awalnya kupikir dia yang mendalangi hal ini, ternyata dia sama sekali tidak tahu. Sebenarnya kupikir Rena sangat kurang kerjaan jika ingin mengawasiku lewat kau. Kau tahu, aku baru tahu jika kau dosen di sana saat aku orientasi hari terakhir. Saat itu Rena bilang akan menyuruhmu mengawasiku. Dia benar-benar manusia usil karena selalu punya mata atasku, jadi yah.. seperti itu lah."
"Manusia usil itu ada disini, Luhan. Dia kakakmu." Sahut Rena sambil mengelap pipiku yang memang belepotan dengan tisu.
Aku melirik Sehun yang tersenyum seadanya dan melanjutkan memakan rotiku. "Aku sudah minum bir tadi, tapi kalian mau kue ini?" Tanyaku basa-basi.
Sehun menggeleng dan Rena juga ikutan menggeleng. "Aku tidak makan diatas jam 7." Kata Rena yang kubalas rotasi mata. "Kemeja kantorku bisa menyempit jika aku tidak diet teratur." Tambahnya.
"Terserah kau, Re. Terserah. Pastikan saja kau tidak terlalu kerempeng jadi masih ada pria yang mau denganmu."
Rena tertawa dan mengelus rambutku, seolah di rambutku ada serangngganya dan dia berusaha menenangkanku. Kelakuan Rena memang selalu seabsurd itu. "Makan saja rotimu, sayang."
"Aku hanya ingin menghargaimu yang sudah membeli ini."
"Bagus! Inilah adikku yang manis!" Rena menegak birnya dengan semangat.
Aku mulai bertanya dalam hati, apa kegunaan Sehun ada disini sekarang? Pria itu hanya diam dan kelihatan sekali tidak tertarik ikutan mengobrol bersama kami, tapi aneh sekali rasanya jika aku mengusirnya dengan alasan dia tidak masuk obrolan. Bagaimanapun, Oh Sehun masih orang yang lebih tua dariku, juga dosenku di kampus.
"Jadi, karena sepertinya pestanya tidak jadi, kalian mau apa lagi? Aku yakin kalian punya sesuatu untuk diobrolkan, atau jika tidak, kalian pasti besok ada jadwal kerja yang kalian hadiri."
"Kau tidak sedang mengusirku, 'kan, Han?" Tanya Rena.
Aku mengendikkan bahu. "Entahlah. Setidaknya kalian harusnya punya sesuatu untuk dibicarakan. Kalian sudah lama tidak ketemu, harusnya banyak yang kalian tanyakan satu sama lain."
"Luhaan," Sehun bergumam, mungkin berusaha mengingatkanku jika dia sudah pernah menyebut tentang ketidak dekatannya dengan kakakku tadi.
"Kami tidak sedekat yang kau pikir Luhan. Kami pun sudah menanyakan hal-hal yang semestinya dan seperlunya, tadi saat belanja." Ucapan itu meluncur ringan dari bibir berlipstik merah Rena.
"Kau mengakui bahwa kalian tidak dekat?" Tanyaku tidak percaya. Rena walau seorang pekerja kantoran yang harusnya kaku, dia adalah entitas nyata keramah tamahan yang ada di bumi. Manusia paling ramah dan supel di muka bumi. Tidak mungkin rasanya mendengar dia mengakui bahwa dia tidak dekat dengan seseorang.
Rena mengendikkan bahu padaku dan mengerling pada Sehun. "Kau jauh-jauh-sangat jauh lebih dekat dengan Sehun, Luhan. Kau pasti kenal sekali dengan Sehun yang kaku dan sangat kaku pada orang asing. Iya, tidak?"
"Iyasih, tapi kau orang paling sok akrab, Re. Masa dengan Sehun saja kau tidak bergutik?"
"Luhan, aku tahu kau memang ceplas-ceplos, tapi aku tidak sadar jika kau suka sekali membicarakan seseorang seperti orang itu tidak sedang mendengarmu. Oh Sehun masih disini, kalau kau lupa. Maafkan adikku, Sehun." Aku menatap Rena iritasi ketika ia selesai berucap.
Sehun melempar senyum padaku, yang mana membuatku ikutan tersenyum, sedikit. "Luhan sangat lucu, tidak ada yang perlu dimaafkan, Rena."
"Ya, aku memang lucu." Kataku dengan dagu terangkat. "Ngomong-ngomong, kueku sudah habis. Aku ingin tidur sekarang. Kuanggap kau menginap, Re."
"Itu isyarat untukku. Baiklah, aku pulang dulu Luhan." Sehun berdiri dari duduknya. Aku turut berdiri dan melambai ringan padanya.
"Ya, Sehun. Selamat malam. Terimakasih sudah berkunjung, walau kunjunganmu sangat amat larut dan mengagetkan."
Sehun tersenyum dengan mata bulan sabitnya. Aku nyaris mengerang dan menahannya agar tidak pergi ketika itu. "Kuharap pintumu masih akan terbuka untukku lain waktu." Ucapnya dengan senyum tidak luntur termakan waktu.
Aku tergugu sesaat membayangkan dia akan berkunjung lagi.
"Selamat malam, Luhan, Rena." Sehun beucap dari pintuku dan aku buru-buru menguncinya.
"Duuuuh!" Raungku begitu aku masuk ke ruang tamu lagi. "Rena! Apasih maksudmu mengajak Sehun kesini malam-malam begini?!" Aku berteriak pada Rena yang menutup matanya sambil kembali selonjoran di sofa.
"Luhaaaaaaaan, kau tahu apa yang dikatakan Sehun saat aku bilang jika aku ingin membelikanmu coklat kesukaanmu saat di market tadi? Dia bilang kau sudah terlalu banyak makan coklat batangan hari ini. Dia menyuruhku membelikanmu kue lava coklat, dia bilang dia dulu sering membelikanmu itu. Aku bertanya bagaimana bisa dia tahu tentang coklatnya? Dia mengatakan tentang penyitaan perpus atau apapun itu, aku tidak pahaaaam. Tapi aku jadi ingat dulu kau sempat suka padanya, apa sekarang kau masih suka pada Sehuuun? Kalian akan jadi pasangan paling serasi. Kalian sama-sama pintar dan sangat cocok-"
"Rena," Potongku sambil mengucek mata. "Kau mabuk, kau tidak tahu apa yang kau ucapkan. Jadi berhenti dan ayo kubopong ke kamarku."
"Luhaaaaaan, Sehu-"
"Lupakan Sehun! Aku ngantuk!"
Dan akhirnya Rena bungkam dengan mata benar-benar tertutup. Aku berakhir setengah menyeret perempuan teler itu berbaring di ranjangku. Aku mendesah lelah dan menahan kantuk serta kenyangnya perut, pakaian kantor Rena harus diganti, stockingnya harus dilepas dan aku harus mengelap wajahnya.
Begitu aku selesai dengan segalanya dan handuk basah bekas lap untuk wajah Rena, aku berbaring di sebelah Rena. Mataku memberat, tapi sebelum aku benar-benar menutup mata, pintuku berderit. Kepala hitam Kyungsoo menyembul disana, membuatku meraung keras, sekeras getokan panci.
"Kyungsoo! Besok! Aku tahu kau ingin bicara soal Sehun, tapi besok! Besok!"
Kepala Kyungsoo kelihatan mengangguk. "Baik, Luhan. Selamat malam."
Oh Tuhan, bisakah aku tidur dengan nyenyak sekarang?
-TBC-
WOYE, gue balik dengan si hotty.
Terimakasih sekali lagi buat apresiasi kalian, gengs. Reviewan kalian gue baca semua ko. Ada yg bilang bahwa crta ini ringan, hooh betol emang ringan bat dan sengaja gue buat ringan bat. Jadi story ini kedepannya bakal punya alur yg begini ya. Mungkin kalian ada yg pengen nyumbang ide, silahkan, gue mah hayu aja.
Real life agak hectic, jadi maaf kalo updatenya kagak pasti dan muncul di jam berapapun. Padahal gue libur, eh ternyata bsk harus ke diknas ngurusin apalah. Doain gue masih kuat mata buat ngetik.
