Semenjak WINGS belum menjadi organisasi yang besar seperti sekarang, Kim Namjoon sudah memiliki reputasi.

Keluarga Kim bukanlah keluarga yang diperhitungkan sebelumnya namun kelahiran seorang dewa kematian mengubah itu semua. Di sebuah malam musim gugur yang dingin Kim Namjoon hadir didunia.

Ibunya harus mati untuk membiarkan ia lahir.

Pengasuhnya harus mati agar ia selalu sehat.

Pamannya harus mati agar ia tetap tangguh.

Gurunya harus mati agar ia menjadi yang terbaik.

Ayahnya harus mati agar ia mendapatkan segalanya.

Tidak ada yang bisa melawannya. Namun Kim Namjoon tetap memiliki kelemahan. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, ia bukan lah manusia bebas tetapi sebuah tubuh tanpa hati nurani.

Yang artinya Kim Namjoon tidaklah sempurna dan karena ketidak sempurnaanya ini ia mencari orang-orang yang sama dengannya.

Orang-orang yang tidak bisa merasa.

Orang-orang yang sama gilanya dengan dirinya.

Dewa kematian lainnya agar mereka juga merasakan apa yang Namjoon rasakan.

Ia memang jahat karena membiarkan orang lain menanggung beban yang harus ia rasakan.

Penderitaan hidup seperti apa yang harus ia jalani.

Sebelum akhirnya mereka menemukannya.

Sang penyelamat. The cure.

Begitu suci, begitu sempurna.

Malaikatnya yang membuatnya kembali merasakan apa itu kebaikan, seperti apa itu memiliki rasa belas kasih dan Namjoon mendambakannya. Mereka mendambakannya.

Bahkan hanya dengan melihat orang itu dan berada disatu ruangan yang sama dengan orang itu hatinya menjadi amat lega, seakan beban yang selama ini ia miliki terangkat.

Kemudian semua orang menginginkan malaikat mereka.

Tapi Namjoon sudah mengantisipasi itu semua.

Jadi Namjoon akan mengurung malaikat mereka, membuat malaikat itu hanya milik mereka dan dunia yang kejam ini tidak berhak untuk menghalanginya.

Mengisolasinya membuat malaikat itu kepunyaan mereka.

Tapi Namjoon lupa, bila malaikat tidak akan bisa hidup tanpa cahaya.

Entah sudah berapa lama Seokjin di ruangan ini, tapi rasanya Seokjin sudah berbulan-bulan disini.

Seokjin ditempatkan disebuah ruangan bawah tanah yang bahkan ia tidak tau ada. Ruangan itu seukuran kamarnya sendiri, bahkan seluruh perabotan dan tata letaknya dibuat semirip mungkin, tapi ada satu yang berbeda.

Kamar itu tidak memiliki jendela.

Membuatnya terjebak sendirian tanpa bisa melihat keluar.

Dan itu membuat Seokjin gila. Gelisah.

Seokjin selalu menyukai hangatnya matahari, aroma hujan, suara alam, dinginnya salju.

Tapi sekarang ia benar-benar terisolasi.

Hari-harinya bagaikan kaset rusak. Terus berulang tidak berubah sedikitpun.

Ia akan duduk sambil membaca buku diruangannya, setiap beberapa jam Yoongi atau Taehyung akan datang untuk membawakannya makan. Lalu malamnya secara bergiliran mereka tidur bersamanya, terkadang mereka hanya akan tidur sementara malam-malam lainya dihabiskan untuk memuaskan diri.

Tapi disaat Seokjin sudah benar-benar tertidur mereka akan menghilang, meninggalkan Seokjin sendirian di kamar yang sunyi itu.

Ini semua karena Namjoon yang mengamuk dalam artian sesungguhnya.

Previous week

Seokjin menenggelamkan kepalanya di punggung kokoh Jungkook, membiarkan tubuhnya dibawa kemanapun oleh pemuda itu.

Semuanya berlalu begitu cepat, bagaimana orang-orang itu dengan mudahnya membunuh masyarakat sipil yang tidak bersalah, bagaimana Heesoo menembaki mereka satu persatu.

Bagaimana senapan itu bisa ada ditangannya.

Seokjin semakin menenggelamkan dirinya, ia sungguh takut. Ia tidak tau apa yang akan dihadapinya saat ia bertemu dengan Namjoon. Pemimpin mereka itu terlalu hangat kepadanya hingga ia lupa bahwa pemuda itu juga bisa membakarnya.

Tapi dari aura yang dikeluarkan Jungkook, ia tau ini tidak akan berakhir baik.

Ia diturunkan dari punggung Jungkook lalu pemuda itu membawanya dalam pelukan saat mereka sudah dimobil.

"Princess", Jungkook tiba-tiba memanggilnya. Seokjin mengangkat sedikit kepalanya dan berdeham menyahut.

"Aku mohon kau untuk berjanji untuk tidak menyerah kepada kami apapun yang terjadi", nadanya terdengar putus asa, membuat Seokjin tidak memiliki keberanian untuk mengatakan tidak, sehinga ia hanya mengangguk.

"Monster sudah mengetahui penyerangan sebelumnya dan.. mengenai kau yang ingin dilatih", Seokjin mengerutkan keningnya.

"Dia terlalu bahaya sekarang untuk bisa disebut Namjoon, bahkan kami harus menenangkannya terlebih dahulu,...sama seperti Jimin tapi lebih mengerikan", tubuh Seokjin bergetar bila mengingat Jimin, pemuda itu bagaikan bom berjalan yang tidak tau kapan akan meledak.

"Kami berusaha sebisa mungkin tidak ikut terpancing apa lagi bila Monster sudah mengusai Namjoon lebih dari seharusnya", mata Jungkook menerawang keluar jendela mobil mereka.

"Dan tugas mu, mencegah kami semua menjadi gila. Kau satu-satunya harapan kami, setidaknya sampai perang ini selesai, setelah itu kami akan mecari cara agar tidak selalu mengantungkan diri padamu" , Seokjin tidak ingin menimpali lebih lanjut disaat ia sendiri masih cukup resah untuk menghadapi Namjoon.

Sampai di mansion Jungkook langsung memerintahkannya pergi keruang kerja Namjoon, tanpa mengatakan apapun Seokjin menuruti perintah itu.

Saat melewati aula Seokjin dapat melihat orang-orang yang bukan bagian dari WINGS namun merupakan bagian dari aliansi mereka. Seokjin mengetahui beberapa dari mereka karena mereka adalah pelanggan madam.

Dengan langkah cepat Seokjin menaiki tangga, setiap kali kakinya bergerak mendekati pintu itu jantungnya berdetak dengan menggila, rasa panik menyergapi pikirannya. Ia mengepalkan tangannya yang bergetar, mengumpulkan keberanian untuk sekedar mengetuk pintu.

'Tok, tok, tok'

Tidak mendapatkan jawaban, Seokjin memberanikan diri membuka pintu itu secara perlahan tangannya mendorong kenop, memperlihatkan Namjoon yang berdiri tegap tubuhnya membelakangi Seokjin, sehingga ia tidak dapat melihat ekspresinya. Namun kemeja putih yang pemuda itu kenakan terlihat amat kusut, bahkan terlihat sobekan dilengannya.

Baru selangkah Seokjin masuk keruangan itu aroma amis mulai menguar menyengat kehidungnya, lengkap dengan cairan lengket berwarna merah yang sekarang menempel di sepatunya. Selain darah banyak pecahan kaca yang tersebar diseluruh lantai.

Meja kerja Namjoon yang biasanya amat tertata sekarang terlihat seperti baru saja dilempar keujung ruangan dengan keadaan rusak parah.

Tubuh Seokjin kembali bergetar memikirkan apa yang sudah Namjoon lakukan.

"Seumur hidup aku sudah mencarimu Jin, orang yang dapat membuatku merasa, membuat kami merasa" , suara Namjoon terdengar amat tenang, namun mengancam, otot tubuhnya menegang setiap kali ia berbicara.

"Sekarang kami menemukanmu semua orang mendadak ingin memilikimu" , Seokjin menggeleng pelan, wajahnya memerah karena rasa takut dan marah yang bercampur aduk, semua ini bukan kesalahannya.

"Aku menjadi buruan mereka karena kalian Kim Namjoon! , tidak pernah karena diriku!" , Namjoon membalikan tubuhnya, saat melihat mata itu Seokjin sadar bahwa itu bukan lah Namjoon melainkan Monster.

Dalam sekejap mata tubuh Seokjin sudah terangkat bagaikan sebuah benda.

"Aku tidak akan mengambil resiko lagi kali ini Jin" , Seokjin di bawa kebawah kebagian belakang Mansion dengan amat cepat oleh Namjoon. Air mata mulai menutupi pandangan Seokjin, ia ingin memberontak tapi otaknya berkata jangan.

Namjoon membawanya kesebuah ruangan bawah tanah yang bahkan Seokjin tidak pernah ketahui ada, membuka ruangan itu dengan kasar sebelum melempar tubuh ramping Seokjin dengan cukup kasar.

Menekan kan tubuh atletisnya, ke tubuh Seokjin kemudian mulai merobek pakaian Seokjin kenakan dengan amat kasar membuat Seokjin hanya bisa menutup matanya membiarkan Namjoon melakukan apapun yang ia inginkan.

Pemuda itu membalikan tubuh Seokjin sebelum membuatnya mengangkat pinggulnya tinggi, menampilkan pantat mulus Seokjin yang membuat Namjoon semakin terbakar amarah.

"Whata filthy slut we've got here..." , Seokjin dapat merasakan tangan kasar Namjoon mengelus pinggulnya.

"OH!" , suara tamparan memenuhi ruangan itu, tubuh Seokjin sedikit bergergetar karena tamparan di pipi pantatnya, ia menggigit bibirnya menahan suara yang ingin keluar, matanya terasa semakin basah.

Tapi tidak berhenti di situ. Namjoon terus menampar pantat Seokjin dengan telapak tangannya, berganti-ganti dari pipi kiri ke kanan. Seokjin tidak bisa menahan erangan dan ringisan yang tersumbat yang keluar dari tenggorokannya saat ia merasakan kenikmatan yang bercampur dengan rasa sakit yang terasa di pantatnya. Ketika itu mulai terasa seperti terlalu sakit untuk ia terima, Seokjin secara naluriah meraih lengannya untuk memblokir serangan tajam ke bagian belakangnya.

Namun, Namjoon lebih cepat, meraih lengannya dan menyeret Seokjin ke posisi tegak dengan menarik rambutnya. Seokjin mengeluarkan rengekan kesakitan di bagian lehernya, nafas pemudai itu di wajahnya membuat tubuhnya tegang dan panas.

Namjoon memukul telapak tangannya ke atas kemaluannya yang ereksi, membuat Seokjin tersentak kaget dan menjerit kesakitan.

"Kau pikir kau bisa melakukan apa pun yang kau mau, ya Jin? Kau sudah dihukum karena menjadi pasangan yang keras kepala, jangan membuatku lebih marah. Mengerti?" nada mengancam dalam suara Namjoon mengirimkan getaran kegembiraan sekaligus ketakutan melalui tubuh pemuda itu. Seokjin merengek, "Ya, Tuan." dengan nada tinggi sebelum dia didorong ke lantai, jatuh dengan kasar di tangan dan lututnya.

"Kembalilah ke posisi sebelum aku yang membuatmu" Namjoon melontarkan kata-kata melalui gigi yang terkatup, mata cokelatnya menyala dengan intens.

Seokjin dengan tergesa kembali ke posisi semula,Ia meleparkan kakinya untuk ia tunjukan pada Tuannya. Penisnya menggantung di antara pahanya, basah dan keras. Namjoon memperhatikan ereksinya dan terkekeh ringan, mengambil penis Seokjin ke tangannya dan membelainya dengan kasar.

"Kau tidak seharusnya menikmati hukumanmu princess." Paha Seokjin tegang sejenak dan ia mengeluarkan merengek yang menghanyutkan. "Jangan khawatir sayang, Tuan akan menjagamu dengan baik sekarang." Pemuda yang lebih muda menggerakkan tangannya untuk membelai pantat Seokjin yang memerah itu, menyebarkannya terbuka dan meneteskan liur ke lubangnya.

Seokjin mengeluarkan erangan keras, mendorong pantatnya kembali , meminta lebih. "Biarkan dirimu terbuka untukku princess, aku akan bercinta dengan lubang kecil ini." Seokjin merengek dengan nada serak, menggoyangkan pinggulnya sebagai antisipasi saat dia meraih kembali untuk menahan diri agar tetap terbuka.

Jari-jari yang basah dan lengket mendorong masuk ke dalam lubang Seokjin, memompa dengan kasar. Pemuda yang lebih tua itu meraung senang ketika satu persatu jari itu menekan kasar keprostatnya yang membengkak, mengeluarkan nada memohon dan erangan yang menggila.

Seolah-olah waktu berhenti ketika kepala jam gemuk Namjoon menusuk lubang Seokjin hingga mengerang "fuck ~" ketika pria yang lebih tua mendorong penisnya ke dalam lebih jauh, lubangnya menelan penis panas itu inci demi inci.

Namjoon menggoda kemaluannya masuk dan keluar, mengayunkan pinggulnya dengan terampil.

Seokjin merengek frustrasi ketika dia berusaha mendorong pinggulnya ke belakang, hanya untuk dihentikan oleh tangan yang memegang pinggangnya dengan erat. "Jika, kau ingin semua penis besarku ada di dalam dirimu, sayang ... kau harus memohon."

Persetan dengan rasa takut, siraman rasa panas memenuhi tubuh Seokjin saat mendengar kata-kata itu dan dia merengek sedih.

Inilah yang ia inginkan, dibuat untuk dimohon, untuk dimiliki oleh seseorang.

"tolong Tuan! aku akan melakukan apa saja, Tolong isi aku dengan penis anda, tolong Tuan!" Namjoon mengeluarkan erangan puas sebelum meraih rambutnya lagi dan dengan ganas mendorongnya sampai ke ujung penisnya.

Rasa takut itu sudah menghilang digantikan dengan nafsu, Matanya menyilang dan mulutnya berubah menjadi bentuk 'O' saat dia mengeluarkan teriakan keras penuh ekstasi.

Namjoon menyuruhnya membungkuk, tangannya mencengkeram rambut Seokjin sehingga leher pria yang lebih tua itu terentang ke belakang.

Penisnyamenerobos begitu nikmat sehingga Seokjin tidak tahu apa yang harus dilakukandengan tangannya, mereka hanya memukul-mukul udara saat ia mendengus danmengerang karena intensitaskenikmatan.

Namjoon menggerakkan satu tangan ke bawah ke leher pria yang lebih tua itu, untuk sementara memotong pasokan udaranya. Pikiran Seokjin menjadi kabur ketika seluruh tubuhnya mulai bergetar, dia sangat dekat sehingga dia bisa merasakannya. Tekanan terus-menerus terhadap prostatnya membuatnya menjadi kegilaan, tubuh gemetar lebih keras dan mulut terbuka dalam erangan diam.

Dunia Seokjin berubah putih saat dia keluar tidak tersentuh, jeritan merobek paru-parunya saat Namjoon melepaskan tenggorokannya. Listrik mengalir melalui nadinya dari kepala menuju kaki, matanya berputar. Pahanya tertutup dan kakinya roboh di bawahnya karena kekuatan orgasme. Namjoon mengangkatnya ke atas dengan rambutnya dan secara kasar menusuknya melalui orgasme, tubuh lelaki yang lebih tua tersentak dari stimulasi berlebihan. "To-tolong! Tolong berhenti ~ A-aku tidak bisa!" Seokjin merintih, suara bergetar dari kekuatan dorongan Namjoon.

Ia sudah bisa merasakan penisnya membangun orgasme lainnya dan dia tidak tahu bila ia akan mampu mengatasinya.

"Jika kau pikir kau bisa keluar tanpa izin, maka kau bisa keluar sebanyak yang kau mau, princess."

Namjoon menggeram mengancam ke telinga Seokjin, terengah-engah karena dia tidak memperlambat dorongan kerasnya. Namjoon mengengamkan tangannya membungkus kemaluan Seokjin yang terus keluar, menggosok ujung dan frenulumnya yang sensitif. Memainkan tangannya yang lain dengan puting bengkak Seokjin, pria yang lebih tua mengeluarkan tangisan kesakitan dari semua stimulasi berlebihan.

Seokjin bergidik dan lubangnya mengepal erat di sekitar penis yang memenuhinya dengan sangat baik.

Tidak lama, sebelum Seokjin merasakan orgasme lain mengalir melalui dirinya. Ini sangat intens sehingga menyakitkan, itu akan membunuhnya, dia bisa merasakannya, dia sangat dekat. Kombinasi dari suara basah, yang dibuat lubangnya, tamparan kulit dan terhadap kulit, dan dengkuran dan rintihan liar Namjoon membuat Seokjin jatuh ke tepian.

Tubuhnya terkunci lagi, intensitas orgmasme membuatnya gila. Penisnya menyemburkan keluar cairan putih, menumpahkan seluruhnya ke perut dan tangan Namjoon. Seluruh tubuhnya bergetar saat dia orgasme, ia hanya mampu mengeluarkan rengekan bernafas dan isak tangis kesenangan. Namjoon mendorongnya beberapa kali sebelum mengeluarkan cairannya.

Dia mengeluarkan rengekan lembut dari mulutnya ketika Namjoon menarik keluar dari lubangnya yang terasa sakit. "Berlutut princess." Perintah si dominan, suaranya kental dengan nafsu. Seokjin bergidik sekali lagi, jatuh berlutut di depan pria yang lebih muda.

Pria yang lebih tua membuka bibirnya, menjulurkan lidahnya untuk mengundang yang dominan ke dalam mulutnya. Mata merahnya mencapai pria yang lebih muda dan Seokjin hampir mengerang ketika matanya bertemu penis basah Namjoon, panjang dan tebal dengan kepala yang berdenyut-denyut.

Pria yang lebih muda menyeringai ketika Seokjin menjilat bibirnya yang bengkak tanpa sadar. "Ya, kau ingin ini Tuan di mulut princessmu bukan?" Yang patuh hanya merengek putus asa, menjulurkan lidahnya lebih jauh dan menggeliat di tempatnya berlutut.

Dia membuat Seokjin menelan penisnya dengan kasar, sedikit tersedak pria yang lebih muda. Pipi Seokjin merona di sekitar penis tebal yang ada dimulutnya, mata mengibarkan rasa panas, Rasa penis Namjoon di antara bibirnya membuatnya gila, ia tidak pernah selapar ini dalam waktu yang lama. Pria yang lebih muda masih berpakaian lengkap, menambah rasa malu bagi Seokjin.

"Brengsek, princessyang begitu patuhuntukku! Suka penis besar ini di mulutmuhm?" Namjoon menarik dengan nada gelap, bernafsu, menusuk jauh ke dalam mulut pria itu. Seokjinhanya bisa mengerang sebagai balasan, dengan baik menerima penis di tenggorokannya. Dia tersedak sedikitmenyebabkan air liur menggelembung di sekitar bibirnya yang montok, merintih.

Pria yang lebih muda mengambil kepala Seokjin ke tangannya dan mendorongnya lebih jauh ke bawah kemaluannya sampai hidungnya menyentuh kancing celana kulitnya. Seokjin memejamkan matanya hingga tertutup sempurna saat oksigennya terputus, berjuang untuk bernapas melalui hidungnya sementara mulutnya penuh dengan penis, Namjoon menampar pipi Seokjin dengan kasar, "Sial, lihat aku, princess." Dia memerintah dengan suara kasar.

Seokjinmembuka matanya sebaik mungkin, dengan mata yang -olah ada sesuatu yang masuk ke dalam Namjoonketika dia melakukan kontak mata dengan Seokjin.

Ketenangannya yang biasa ia miliki pecah ketika dia dengan gemetar berteriak "Persetan!" dan mulai mendorong pinggulnya dengan panik.

Dia memegang kepala Seokjin, bolanya yang berat menampar dagu pria yang lebih tua itu, jejak air liur yang ceroboh merayapi bolanya. Suara sex yang kotor dan vulgar memenuhi ruangan, Seokjin yang nyaring, parau tersedak dan tamparan basah, tamparan bola Namjoon ke wajah yang lebih tua.

"Brengsek! Aku akan datang!" teriak Namjoon, menjauhkan mulut Seokjin dari kemaluannya. Pria yang lebih tua itu terengah-engah, menarik napas dengan keras saat dia mendapatkan kembali oksigennya. Namjoon membelai kemaluannya, meraih pergelangan tangan Seokjin dengan tangannya yang bebas dan membawanya ke bola-bola yang terisi penuh. "Buka mulut mu princess, biar aku keluar seluruh wajah cantik itu." Namjoon berbicara dengan nada tegang, tergesa-gesa.

Seokjin menurut, tangan masih bermain-main dengan bola yang berat, terlalu jauh untuk berpikir tentang apa pun kecuali mencicipi cairan pria yang lebih muda.

Erangan yang hampir menyakitkan yang meninggalkan Namjoon ketika ia mencapai pembebasannya mengirimkan sensasi panas ke penis Seokjin. Dia merasakan tembakan hangat pertama meluncur ke bawah tenggorokannya. Tembakan demi tembakan mendarat di seluruh wajah, tenggorokan, dan dada Seokjin dan dia mengeluarkan erangan keras.

Namjoon mengerang dengan tenggorokannya melalui orgasme yang kuat, lutut sedikit menekuk saat ia meremas kepala kemaluannya yang berdenyut, mengosongkan bolanya ke seluruh pria yang lebihtua di bawahnya. Ketika bibir montok Seokjin menghisap kepala sensitif Namjoon, pria yang lebih muda bergetar dari stimulasi berlebihan. Dia melihat pria yang lebih tua menggosok jari-jarinya dengan cairan yang melapisi wajahnya dan mengisapnya ke dalam mulutnya dengan menggoda.

"Brengsek ..." Namjoon merasakan kemaluannya bergerak sebagai respons ketika dia melihat bahwa Seokjin telah keluar sekali lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"I'm sorry Jin"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc gengs.

Gua berterimakasih kalian udah baca cerita abal ini, serta yang review jadi Thankyou semua ^^.

Btw yang nanya Wattpad gua ada kok, cerita ini juga ada disana , uname gua AnastasyaH23, jadi bagi kalian yang mau comment bisa disana hehe :v

Jaga kesehatan gengs semua. Semoga hari kalian menyenangkan ❤️

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Selamat anda mencapai akhir ini?
Spoiler !

Cerita ini akan berakhir :)