Pagi itu aku bangun kesiangan. Tapi tidak masalah. Kelasku baru akan dimulai 2 jam lagi.

Rena tentu saja sudah tidak ada di ranjang. Pasti dia sudah duduk di kursi kantornya. Sedangkan Kyungsoo, seingatku hari ini dia kuliah pagi. Aku bangun dan menyempatkan membuka beberapa notifikasi di ponsel. Ada beberapa pesan dari Rena, itu pesan semalam, saat aku tidur dan dia sedang di supermarket menanyakan apa yang kuinginkan karena dia akan berkunjung. Juga beberapa pesan lain dari teman mainku.

Lalu aku bangkit dan menata selimut sebentar sebelum masuk ke ruang cuci. Aku punya cucian baju dan harus segera kusentuh pekerjaan itu jika tidak ingin Kyungsoo mengomel. Untungnya aku punya mesin cuci, jadi segalanya mudah. Sambil menunggu cucian bersih dan kering, aku pergi ke dapur.

Kupikir aku akan sarapan dengan sereal, tapi ternyata Kyungsoo meninggalkan sebuah note di pintu kulkas, dia sudah membuatkanku sup dan lauk. Aku hanya perlu memanaskannya. Itu bagus, Kyungsoo bisa sangat baik padaku jika menyangkut soal makanan. Tapi tidak untuk masalah cucian dan kebersihan.

Aku memakan sarapanku yang sudah kuhangatkan di depan televisi. Menonton berita itu bagus. Aku suka menonton berita ketimbang talkshow pagi. Tapi jika bosan, aku lebih suka nonton kartun animasi ketimbang drama. Setelah sarapan dengan masakan Kyungsoo yang enak itu, aku mencuci piringku dengan telaten lalu mengambil cucianku.

"Kyungsoo pasti bangga padaku yang jadi anak baik." Gumamku geli sendiri dengan kenyataan bahwa Kyungsoo teramat berpengaruh terhadap pola kebersihanku. Padahal kami terhitung teman baru kenal.

Setelah selesai dengan cucian yang baru akan kusetrika entah kapan, aku mandi dan berangkat kuliah.

Aku selesai memarkirkan mobilku dan melirik jam tanganku. Masih ada sekitar setengah jam sebelum kelasku dimulai. Jadi aku memutuskan pergi ke ruang dosen terlebih dahulu. Aku harus memutari taman tengah untuk mencapai gedung dosen. Aku mengenali banyak wajah disana, tapi aku hanya menyapa singkat tanpa berhenti. Dan begitu sampai ruang dosen, aku menemukan dosen yang kucari sedang duduk di ruangannya yang pintunya terbuka lebar. "Ms. Baekhyun, selamat pagi." Ucapku setelah mengetuk pintu kacanya.

Ms. Baekhyun mendongak dari komputernya dan tersenyum cantik. "Luhan! Selamat pagi, masuklah."

Aku memasuki ruangannya yang berbau citrus. "Apa saya mengganggu?" Aku duduk dan melipat tanganku diatas mejanya.

Ms. Baekhyun menggeleng. Tatanan rambutnya digelung simple sedangkan aku bisa melihat bajunya adalah setelan dengan design renda hitam di bagian dada atas. Itu membangkitkan kesan rapi tapi anggun untuknya. "Tidak, Luhan. Tidak." Ucap Ms. Baekhyun santai.

Aku tersenyum singkat, "Jadi, saya sudah mengirimkan paper saya semalam lewat surel, Ms. Saya ingin berkonsultasi dengan anda terlebih dahulu mengenai itu."

"Oh, tentu. Aku sudah membacanya. Kau sangat aktif, Luhan. Materimu juga rapi, aku suka."

"Apa ada perlu yang kutambahi atau kuganti?"

Ms. Baekhyun menatap monitornya untuk beberapa saat. "Sejauh ini tidak, segalanya padat dan referensi cukup lengkap. Akan kuterima ini sebagai finalmu, ini sudah memuaskanku." Kemudian dia kembali menatapku dengan senyuman di wajahnya. "Luhan, kau cantik dan pintar, sudah punya pacar?" godanya.

"Belum," Kataku singkat. "Aku berencana langsung menikah."

Tercekat adalah respon dosenku itu. "Menikah? Tapi kau masih sangat muda."

Aku hanya tersenyum. Otakku terisi beberapa alasan, tapi aku akan menyimpannya sendiri. "Tentu saja tidak sekarang, Miss. Kalau begitu, terimakasih. Aku ada kelas sebentar lagi. Selamat pagi." Aku undur diri dan Ms. Baekhyun tersenyum mempersilahkan.

Saat keluar dari ruangannya, aku menengok koridor yang sepi dan terbersit pikiran mencari ruangan Sehun. Oh Tuhan, aku penasaran apa Sehun hari ini juga masih tampannya seperti semalam. Tapi kemudian, aku nyaris menampar diriku sendiri.

Sadarkan dirimu, Luhan!

Tidak ada Oh Sehun!

-LINE BREAK-

Kelasku berakhir dengan cepat hari ini. Aku sedang menuju ke kantin setelah pesan Kyungsoo. Dia mengatakan akan menunggu kelasku selesai di kantin, katanya ingin pulang bersama. Aku mengiyakan dan bergegas ke kantin ketika kelasku selesai.

"Kau yakin bawa mobil sendiri nanti, Han?"

Aku mendongak dari ponselku dan menoleh pada Park Chanyeol yang berjalan bersamaku. Dia pria tampan yang bertubuh bongsor. Punya proporsi wajah ideal dan telinganya lucu. "Yap, aku kan juga ingin pamer jika punya mobil keren." Kataku yang dibalas kekehan keras oleh teman mainku itu.

"Mobilmu memang keren, tapi lebih kerenan mobilku, cantik. Dan pasti mobilku akan sepi sekali jika tidak ada kau."

Aku ikutan terkekeh dan kami berpapasan dengan pria tinggi berambut coklat klimis. Oh Sehun, dengan buku di tangan. Setampan kemarin, jika aku boleh menambahi. Aku tidak menyapanya karena dia terlihat kaku. Dia menatapku sebenarnya, tapi tarikan wajahnya seperti dia tidak mengenalku.

Aku bertanya-tanya apa memang harus seperti ini jika kami bertemu di kampus? Saling tidak kenal.

Ketika dia melewatiku, aku menahan nafas. Tapi nafasku tercuri sedikit. Aku mencium cologne mint yang oh Tuhan… itu menggoda sekali.

Aku menggeleng berusaha mengenyahkan pikiran tidak benar yang melintas di otakku.

"Chan, temanku menunggu di kantin, ayo ikut aku. Kukenalkan kau pada dia." Kataku pada Chanyeol. Dengan pikiran masih mencoba menghapus Oh Sehun. Bodoh sekali kau Luhan jika sampai membangkitkan kembali perasaan lamamu pada pria itu. Dia sudah berlalu.

"Siapa dia?" Tanya Chanyeol.

"Kau akan tahu. Aku tidak yakin kalian akan akrab, tapi dia sangat imut. Kau pasti suka."

Chanyeol mengangguk riang. "Boleh, boleh. Aku suka yang imut dan cantik, sepertimu."

"Aku memang cantik, aku tahu itu, Park Chanyeol."

-LINE BREAK-

Aku terkikik sementara Do Kyungsoo mendesah di jok penumpangku.

"Luhan, kau ini benar-benar."

Aku menarik nafas dan meredam kikikanku yang pasti sudah mirip keledai. Konyol sekali, Luhan. "Maaf, maaf. Habisnya kupikir kau itu tipenya Chanyeol. Dia juga periang, cocok melengkapimu yang kelabu."

Kyungsoo tidak menjawab. Aku tertawa sebentar sambil tetap fokus mengemudi.

Aku jadi teringat kembali pada pertemuan Do Kyungsoo dan Park Chanyeol tadi. Mereka sangat manis sebenarnya. Chanyeol dengan riangnya menyapa Kyungsoo yang duduk di pojokan kantin. Kyungsoo hanya diam, menunggu aku menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tentang kenapa aku membawa pria jangkung itu. Tapi, aku lebih memilih menyeruput jus Kyungsoo dan membiarkan perempuan dan laki-laki itu bercakap dengan aliran sungai yang tersendat-sendat.

Mereka berakhir menggelikan. Kyungsoo yang pemalu itu nyaris membalik meja karena tingkah agresif Chanyeol yang memang kadang jadi menyebalkan.

"Chanyeol tidak buruk. Dia cuma… apa ya namanya, sejenis tantrum, semacam itu. Dia pria baik dan menyenangkan. Jangan terburu-buru menjauhinya, Soo. Lagipula dia tampan, 'kan?" Aku membuka suara ketika kami sampai di basement apartement.

Aku keluar mobil dan berlari ke lift, Kyungsoo berjalan dengan tenang di belakang.

"Kelihatan seperti playboy dimataku." Kata Kyungsoo yang kubalas delikan.

"Percayalah, dia tidak. Playboy tidak akan punya sikap semanis Chanyeol."

"Kenapa kau ngotot mendekatkanku dengannya sih, Han? Ada apa? Kau sedang taruhan dengan seseorang atau apa?" Kami keluar lift di lantai kami. Kyungsoo menekan passcode sementara aku berjingkrak-jingkrak membayangkan akan segera mandi dan main. "Luhan, tenanglah. Aku tahu kau senang karena habis ini main, tapi kumohon bersikaplah normal." Tambah Kyungsoo.

Aku mengapit lengan perempuan imut itu dan menggeretnya masuk. "Aku hanya lega tugasku untuk laporan Ms. Baekhyun sudah benar-benar selesai! Dan lupakan tentang Chanyeol kalau kau benar-benar berpikir tidak cocok dengan dia."

"Luhaaan, kau ini benar-benar ya." Kyungsoo melepaskan tautanku ketika kami tiba di depan pintu kamar masing-masing. Dia meremat buku di pelukannya. "Ngomong-ngomong, soal yang semalam…"

Aku mengangkat alis. "Semalam?"

"Soal professor Sehun dan kakakmu."

Seketika, aku mengangkat tanganku tinggi. Aku ingin melupakan Sehun sejenak. Kumohon, jangan Oh Sehun lagi. "Kuceritakan padamu kapan-kapan saja. Aku mau siap-siap pergi."

Kyungsoo kelihatan akan buka suara, tapi aku keburu kabur.

Ketika aku di dalam kamar mandi kamarku, aku menunjuk tembok dekat bathub. "Fokus, Luhan! Tidak ada Oh Sehun, jangan deg degan lagi karena pria itu! Lupakan tulang pipi tingginya! Lupakan senyuman bulan sabitnya! Lup- Fokus, Luhaaan! Cepat mandi dan nikamti malam ini."

-TBC-

OKE, gue update cepet eh, karena sebenarnya gue abis dapet traktiran dari cowok lucu nonton MI Fallout (itu bagus bat sumpah, gue recomend buat lo yg suka sama film action yang humornya luar biasah, plus film ini juga muat sweetness, malah promo gue wkwk)

Di chap kemaren ada yg nanya soal konflik, jawabannya: konfliknya sebenarnya udah muncul dengan sangat lembuuut dari chap 3. Terus ada juga yg nebak soal alasan Luhan gamau lagi suka Sehun, ini well...good really good question. Itulah konflik besar dari story ini.

Tapi sorry ya jawabannya kagak bisa gue jawab disini sekarang. Stay tune aja deh. Siap-siap aja buat baca chap 7 depan:)