Hidup Jungkook selalu dikontrol dengan kata kesempurnaan karena itulah yang semua orang katakan padanya.
Seorang penerus sempurna untuk WINGS , kerajaan raksasa milik keluarga Kim.
Ia tidak akan pernah ingat masa lalunya sebelum bertemu dengan Kim Namjoon karena Kim Namjoon adalah awal mulanya kehidupanya, Kim Namjoon lah penyelamatnya.
Dan dirinya adalah kesempurnaan yang diciptakan oleh Namjoon.
Sudah 2 minggu penuh mereka membahas strategi perang kedepannya tapi mereka masih belum menemukan titik terang.
Jungkook sedang bersama Taehyung di Headquater mereka, berjaga-jaga bila terjadi serangan mendadak di kantor pusat, pemimpin mereka yang masih dalam keadaan yang amat berbahaya pergi bersama Jimin mengurus persenjataan.
Berdasarkan informasi dari mata-mata Yoongi penyerangan kali ini dipimpin oleh Yoochun, seorang pemasok senjata terbesar yang ada di korea. Yang menjadi masalah adalah Yoochun tidak pernah tergabung dalam organisasi apapun sehingga melihat pria itu bergabung dengan OASIS membuat mereka bingung.
Yoongi sebisa mungkin mencari segala informasi untuk memenangi perang ini, demi mereka semua.
Sementara Hoseok mengumpulkan semua orang untuk membantu mereka memenangkan perang ini.
Namun misteri yang paling besar adalah.
Mengapa OASIS menyerang WINGS ?
Apa motivasi mereka ?
Bila dilihat dari sisi profit tidak ada keuntungan apapun yang OASIS akan dapatkan bila menang ataupun kalah.
Jadi bisa dipastikan ada suatu tujuan tersendiri dan itu yang masih hingga sekarang belum bisa dipastikan, dan hal itu membuat mereka semua semakin gusar.
Belum lagi malaikat mereka harus tersembunyi beberapa meter dibawah tanah dengan penjagaan ketat, membuat Jungkook semakin tidak bisa berfikir jernih. Tapi bila mengingat penyerangan kemarin membuat Jungkook merasa memang itu adalah keputusan terbaik untuk mengurung Seokjin.
Suara dering telfon memecah keheningan salah satu ruang rapat besar yang ada di gedung pencakar langit mereka, Jungkook mengerutkan dahinya, panggilan itu berasal dari ponselnya dan ponsel Taehyung.
Taehyung yang duduk disebelahnya pun sama bingungnya.
Disaat-saat genting seperti ini jarang sekali masuk panggilan terlebih ke ponsel pribadi mereka dimana nomor itu hanya tersambung pada anggota Bangtan.
Mereka berdua mengangkat panggilan itu secara bersamaan.
Panggilan itu berasal dari nomor tidak dikenal.
"AH ! kalian semua sudah dengan amat rendah hati menerima panggilan ku", ujar suara disebrang sana "Aku hanya ingin memberitahu kalian, menyimpan seorang malaikat sendirian tanpa pengawalan adalah kesalahan yang amat besar" , dan panggilan itu terputus begitu saja.
Tubuh Jungkook membeku, namun suara panik Yoongi dari sebrang panggilan menyadarkannya.
"KIM JUNGKOOK, RUMAH, SEKARANG!"
Dan bagaikan mesin yang sudah diprogram, tubuh Jungkook dengan spontan bergerak untuk pergi dan pulang kerumah secepatnya.
Yang ada dipikirannya hanya Seokjin. Pikirannya bagaikan memiliki alarm dimana Seokjin sedang terancam dan ia harus segera menyelamatkan malaikat mereka, jadi ia menginjak pedal gas sedalam yang ia bisa.
Sebenarnya itu membuatnya berfikir, mengapa Seokjin begitu penting bagi dirinya, bagi mereka.
Setiap kali Seokjin jauh dari sentuhannya ia akan dibuat khawatir berlebihan, bila Seokjin terluka barang sedikit saja tubuhnya seakan ingin meledak dan bila Seokjin ada didekatnya otaknya akan menjadi amat waras bagaikan Seokjin yang memegang tali kesadaran itu.
Apakah yang lain juga merasakan apa yang ia rasakan, Jungkook tidak begitu yakin namun perasaan ini membuat Jungkook bertanya-tanya apa yang membuat Seokjin amat berbeda.
Dari sekian banyak manusia, kenapa harus Seokjin.
Seokjin memang mahluk paling indah yang Jungkook pernah lihat namun bila hanya sekedar fisik yang menjadi ukuran seharusnya mereka sudah membuang Seokjin berbulan-bulan lalu, tapi faktanya mereka tidak melakukan itu.
Lagi, Bangtan terdiri dari enam pribadi yang amat berbeda dengan tingkat ketertarikan yang berbeda pula, perlu Jungkook akui bahwa Bangtan amat sulit untuk didekati, bila bukan karena Namjoon ia tidak menjadi bagian dari Bangtan.
Tapi mereka sudah berjuang bersama terlalu lama untuk mempertanyakan kesetiaan mereka terhadap satu sama lain, perjalanan hidup mereka sudah terlalu jauh untuk ditelisik kembali apa yang membuat mereka semua menjadi satu.
Tidak dengan Seokjin.
Setahun belakangan ia memperhatikan Seokjin ia masih belum bisa memastikan apa itu, hal yang membuat Seokjin amat berbeda dan mengapa dirinya sangat mendambakan malaikat itu.
Jungkook jadi mengingat saat ia pertama kali ia lepas kendali didepan Seokjin.
Namjoon memberinya tugas yang sebenarnya terbilang mudah.
Bangtan yang baru saja meluncurkan prodak terbaru di perusahaan obat mereka terlibat masalah.
Perusahaan itu baru berjalan sekitar beberapa bulan karena masih dalam percobaan dan ternyata mereka berhasil menciptakan terobosan baru didunia farmasi, tapi yang dunia tidak tau adalah obat-obatan itu memiliki dosis narkoba.
Meskipun dosisnya rendah, namun bila digunakan secara terus menerus akan menimbulkan kecanduan yang tentunya akan menguntungkan WINGS.
Masalahnya sekarang adalah obat terbaru mereka ternyata amat digemari masyarakat karena dianggap lebih efektif namun kecurigaan masyarakat mulai muncul terhadap kandungan obat itu.
Namjoon meminta (memerintahkan) nya untuk segera membereskan masalah itu, dengan menjatuhkan satu persatu seluruh bukti yang ada serta menjauhkan media untuk mengendus skandal mereka.
Dan Jungkook yang masih amat lelah dengan misi sebelumnya tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik, ia malah memperburuk keadaan.
Jungkook yang dalam keadaan tidak optimal memiliki tingkat kesabaran yang amat tipis jadi bukannya melakukan negosiasi dengan salah satu stasiun Tv ia membunuh petinggi mereka. Yang tentu saja kabar ini tersebar keseluruh media massa lainnya yang membuat Namjoon terpaksa turun tangan.
Entah bagaimana ketua mereka menyelesaikan masalah itu, yang jelas kemudian Jungkook mendapatkan hukuman, tubuh babak belur.
Dari yang Seokjin dengar bahwa saat Namjoon memberikan hukuman bukannya meminta pengampunan Jungkook malah memberontak yang membuat pemuda itu mendapat hukuman yang lebih berat dari yang seharusnya diberikan.
Malam itu juga Seokjin membawa Jungkook yang amat berantakan kekamar pribadinya, kemudian malaikat itu mengobatinya.
Di malam musim panas itu Seokjin dengan telaten mengobati lukanya, perlahan berusaha agar Jungkook tidak merasa sakit.
"Apa yang terjadi, Kook -ah?" Seokjin bertanya dengan lembut, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
"Bukan apa-apa. Aku- aku baik-baik saja." Jungkook menggertakkan giginya, dengan tegas menyangkal kenyataan.
"Kau tidak harus memberitahuku jika itu tidak nyaman untukmu. Tapi, aku di sini jika kau ingin berbicara."
"Ini bukan masalah besar. Aku bisa menanganinya. Aku bukan anak kecil.", Jungkook mendesis pada Seokjin, Seokjin yang bukannya merasa takut melainkan kesal kemudian menekan luka pemuda itu, membuat Jungkook meringis kesakitan.
Seokjin yang merasa iba kembali membersihkan luka itu dengan perlahan, sebelum kembali menlanjutkan ucapannya.
"Tidak kah kau lelah dengan semua ini ?" , Jungkook hanya bisa terdiam.
"aku tidak boleh lelah" , Seokjin tersenyum tipis mendengar itu.
"aku tau orang-orang menyebutmu sempurna, tapi terkadang bukanlah hal yang salah bila kau ingin menjadi manusia Kau tidak harus berpura-pura. Tidak ada yang salah dengan menangis. Menangis bukan berarti kau lemah. Dibutuhkan kekuatan untuk mengakui perasaanmu. Biarkan saja."
Malam itu kali pertama Jungkook menangis setelah sekian tahun ia tidak pernah menangis dan membiarkan dirinya menjadi.
Dirinya.
Ia begitu bersyukur bisa menunjukkan sisi terlemahnya kepada Seokjin, seorang malaikat yang dikirimkan para dewa untuk mereka.
Semenjak itu ia berjanji untuk selalu menunjukkan dirinya yang sesungguhnya pada Seokjin, bukan mesin yang harus sempurna setiap saat.
Jungkook kemudian teringat malam-malam dimana mimpi terburuk menghampiri dirinya dan tubuhnya langsung membawa dirinya kepelukan Seokjin yang hangat.
Membiarkan malaikat itu memeluknya dengan sangat erat.
Membisikan nanyian lullaby di telinganya.
Atau terkadang Seokjin akan membicarakan dirinya yang juga tidak dapat mengingat masa lalunya sebelum menjadi boneka dengan baik, bahkan Seokjin tidak dapat mengingat satupun anggota keluarganya.
Sama seperti Jungkook.
Kemudian ikatan batin mereka menjadi sangat erat yang membuat mereka saling terbuka satu sama lain, membatu sama lain pergi dari mimpi buruk yang selalu menghantui mereka.
Hal yang paling ia ingat adalah seokjin meskipun tidak dapat mengingat masa lalunya, setidaknya ia bisa membayangkan masa depannya bersama mereka.
Bersama Bangtan.
Dan itu cukup membuat Jungkook merasa amat bahagia.
Sekarang ia mengerti mengapa Seokjin begitu spesial.
Sesampainya ia dipekarangan rumah mereka, asap hitam sudah membumbung tinggi, membuatnya menekan pedal gas semakin dalam, menerobos taman yang terbakar untuk mencapai ruangan tempat Seokjin dikurung.
Dan bagaikan bom atom jatuh ditempat itu.
Ruangan itu sudah hancur, tidak bersisa.
Mansion besar mereka juga sudah terbakar dengan api yang menyala-nyala.
Jungkook tidak dapat bernafas saat ia melihat itu.
Pikiranya diselimuti kelabu.
Cintanya tidak terlihat, malaikat yang mereka kurung diruangan itu sudah tidak ada.
Saat itulah ia sadar.
Seokjin menghilang.
Untuk selamanya.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
.
.
