Aku sedang terhuyung dan berusaha menjaga tubuhku berdiri tegak di pojokan lift, ketika liftnya berhenti. Kupikir aku sudah sampai di lantaiku, tapi ternyata angka 2 yang tertera di panel. Lempengan besi depan itu terbuka, dan aku tidak sempat mengendalikan diri untuk tidak mengumpat pelan ketika seorang pria lebih tua dariku masuk. Pakaiannya training, rambutnya basah, bau tubuhnya mint bercampur keringat maskulin, matanya tajam menatapku.
Oh tampan Sehun!
"Luhan," Panggilnya.
Aku memejamkan mata dan berusah fokus meyakinkan diri jika pria di depanku ini Sehun yang itu, yang itu loh, yang tampan sekali. Tapi mataku berkunang berkat alkohol yang melarutkan bola mataku. Sialan pada Jung Krystal yang tadi mencekokiku Absinthe. Aku sedikit ingat tadi main ke club bersama Chanyeol dan Krystal.
"Se- selamat malam.. Professor Oh." Aku terbata dengan susunan kalimatku sendiri. Setengah tidak yakin apa aku baru saja memanggilnya professor.
"Jam berapa ini? Kau baru pulang minum bersama temanmu?" Sehun mendekat. Aku menjauhinya dengan semakin merapatkan tubuhku ke pojok. Tapi Sehun malah menyelipkan tangan kokohnya ke pinggangku. Ia meremasnya sedikit. Aku tidak yakin apa itu benar-benar sedikit. Entahlah.
"Jam berapa ini? Kau baru ngegym di lantai 2?" Tanyaku, tidak menjawab pertanyaannya. Ya, di lantai dua gedung ini, kudengar ada ruang gym.
Aku berharap aku segera sadar dari telerku, tapi tubuhku semakin tidak karuan. Aku limbung dan Sehun sangat tidak membantu dengan tubuhnya yang menyanggaku. Posisi ini menamparku dengan kenyataan bahwa tubuh kami saling menempel dan Sehun seperti mengungkungku.
Ya Tuhan! Ini di pojokan lift! Dan hal ini benar-benar salah!
Salah karena aku berdesir dan semakin berdesir. Ini benar-benar salah.
Aku tahu otakku berpikir hal itu, tapi jika ia sadar. Sayangnya dia sedang tidak sadar, sedang tenggelam di lautan alkohol yang membuatku melayang, lupa diri.
Kepalaku semakin berputar dan aku menyandarkannya ke dada Sehun, karena bahunya terlalu tinggi untukku. Dan aku mulai bertanya-tanya, kenapa rasanya lift berjalan lambat? Dan kenapa tubuh Sehun semenggiurkan ini? Jersey depannya basah oleh keringat bekas olahraga, tapi aku malah menemukan diriku menggesekkan hidungku disana, menciumi keringat itu. Aku bisa mencium bau tubuhnya yang benar-benar khas pria. Aku bisa merasakan bidang dan liatnya dada Sehun dengan ujung hidungku.
Ahh, menggiurkan!
"Luhan, kita sampai di lantai 9. Aku ingin menggendongmu, tapi sialan, rokmu sangat pendek dan bokong besarmu sudah pasti akan terbuka. Jadi, jalanlah pelan-pelan, kutopang pinggang dan punggungmu."
Aku tidak begitu mendengarnya. Aku hanya ingin menyentuh dadanya lagi dengan hidungku. Tapi tangan Sehun meraba punggungku dengan gerakan erotis –menurutku- yang membuatku tersentak dan berjalan.
"Luhaan.." Sehun bergumam rendah. Aku mendongak dan samar-samar, aku tahu aku sudah berdiri di depan pintuku.
"Terimakasih, selamat malam, Professor…" Aku terhuyung dan melepaskan Oh Sehun.
Tapi Sehun malah maju, dan mencium bibirku.
-TBC-
Oho!
