*5 Years Before WINGS*

.

.

.

Namjoon dapat merasakan darah menetes perlahan dari hidungnya, tapi ia tidak bisa menghentikan pukulan yang terus menerus menghantam tubuhnya.

Tongkat kayu itu memukul punggung, dada dan kakinya secara terus menerus oleh 3 pria suruhan ayahnya. Bisa kayu-kayu itu patah mereka akan bergantian memukul wajahnya dengan tijuan keras.

Tinjuan menyakitkan itu memukulnya bertubi-tubi tanpa adanya rasa belas kasih. Barang setitik pun. Dan ia tidak boleh melawan sama sekali.

Tapi ia tidak bisa dengan mudahnya meminta agar siksaan yang ia terima untuk berhenti karena ia memang berhak mendapatkan ini.

Kemarin target yang sudah mereka cari selama berbulan-bulan dengan mudahnya terbunuh oleh organisasi lain.

Seharusnya mereka bisa menyiksa pria itu lebih lama karena dengan lancangnya kabur dari OASIS.

Tapi pria pecandu sabu itu lebih dulu mati oleh kompetitor lain yang juga di rugikan karena kasus ini. Tuan Kim marah besar dan merasa bahwa ia terlalu lembut terhadap Namjoon dan antek-anteknya.

Namun pria itu tetap menepati janjinya.

Untuk tidak menyentuh tim Namjoon sedikitpun sehingga Namjoon sendiri yang akan menerima seluruh tanggung jawab bila ada kesalahan terjadi dengan misi mereka.

Pemuda - pemuda yang sungguh tidak berguna, bagaikan kotoran yang terus saja menempel disepatunya. Tapi Tuan Kim tidak memiliki pilihan lainnya selain menerima ke-4 pemuda itu dibawah organisasinya karena itu adalah satu-satunya permohonan Namjoon.

Membentuk dan memiliki timnya sendiri tanpa adanya interfensi dari pihak lain.

Kim Namjoon adalah satu-satunya darah daging yang ia miliki jadi tentu saja ia mengabulkan permohonan itu.

Tuan Kim sudah 3 kali menikah namun dari seluruh istrinya, hanya ibu Namjoon yang bisa mengandung.

Lalu ia membunuh istrinya yang lain dan menjadikan Namjonn penerus tunggal 'Fold'.

'Fold' adalah sebuah kelompok kecil milik keluarga Kim, sebagai divisi assassination OASIS mereka adalah orang-orang yang mengejar buronan-buronan milik OASIS.

Terkadang mereka juga melayani rencana pembunuhan dari oknum-oknum yang memiliki niat pribadi diluar OASIS.

Tuan Kim tidak membutuhkan penerus lainnya karena Kim Namjoon benar-benar seorang penerus yang sempurna. Amat sangat Jenius, dengan kemampuan fisik yang jauh diatas rata - rata. Tetapi pemuda itu memiliki kelemahan dan ia akan melenyapkan kelemahan itu.

Saat pandangan Namjoon sudah benar-benar hampir menggelap, pemuda itu dapat mendengar suara tepukan pelan yang menandakan hukumannya telah usai. Diikuti dengan suara langkah kaki yang mendekati tubuh ringkihnya yang ia yakin sudah memiliki lebah di segala sisi.

Ia dapat melihat pantofel coklat kesayangan ayahnya amat dekat dengan wajahnya yang sudah menyentuh lantai. Pria itu berjongkok didekatnya, membuat wajah mencemooh.

"Son, you better rearrange your team, bahkan tugas se sederhana ini mereka tidak dapat menanganinya". Namjoon sangat benci bila pilihannya di pertanyakan. Ia sudah hidup cukup lama untuk bisa membuat keputusannya sendiri, tapi pria tua menjijikan yang harus ia sebut ayah ini selalu saja menganggu segala hal yang ia rencanakan.

Bila tatapan membunuh mungkin Tuan Kim sudah mati sejak dulu, tapi tidak, pria congkak itu malah tertawa bahagia saat melihat tatapan Namjoon.

"Kalian bisa membawanya kembali kekamar" , Ujar Tuan Kim menegakan tubuhnya sebelum keluar dari ruangan itu. Namjoon dapat merasakan tubuh lebamnya diangkat dengan kasar, ia mengerang pelan, menahan rasa sakit.

Dari kejauhan dengan mata yang sudah setengah menutup Namjoon bersumpah akan mendapatkan balas dendamnya.

Hoseok dan Yoongi segera memapah tubuh ringkih Namjoon selembut mungkin menuju ranjang sesaat para penjagal itu datang menyeret tubuh Namjoon bagaikan seorang kriminal. Mereka kemudian membaringkan tubuh Namjoon agar pemuda itu bisa beistirahat.

Di sudut ruangan Jungkook dan Jimin menahan emosi mereka dengan tangan yang terkepal erat menahan emosi. Yoongi dapat melihat mata besar Jungkook yang mulai berkaca-kaca, namun tetap saja pemuda itu berusaha menahan luapan perasaanya dengan terus menundukkan kepala tidak berani untuk melihat keadaan Namjoon.

Untuk Namjoon dan untuk dirinya sendiri.

"Aku akan mencarikan es dan obat" , ujar Jimin tiba-tiba yang kemudian dengan cepat pergi dari ruangan itu karena tidak tahan dengan keadaan yang harus mereka hadapi.

"Kook, you know , you can seat beside Namjoon" , Hoseok berujar pelan kepada yang paling muda diantara mereka. Jungkook mengangkat disedikit kepalanya dengan suara yang parau ia berucap " This is all my fault, aku seharusnya lebih cepat melapor-"

"Shh, shh , shh"

"none of this is our fault, not you , not me , not even Namjoon" , Yoongi medekati pria kecil itu perlahan "It's nearly impossible to catch that motherfucker and we all knew that" , Ya mereka tau dengan status seorang buronan yang memang dikejar oleh banyak orang, sangat besar kemungkinan pria bangsat itu lolos dari mereka dan mati terlebih dahulu.

Namun sayangnya pemuda yang bahkan menghabiskan sebagian besar hidupnya dipelatihan yang keras layaknya budak itu amat sangat bersalah melihat kakak yang paling ia sayangi harus terluka seperti ini.

Demi mereka.

Demi mempertahankan mereka tetap bersama.

Tapi mereka tidak akan bisa dipisahkan karena mereka kuat bersama.

Yoongi mengecup pelan pipi basah Jungkook dan membawa pemuda itu kepundaknya, memeluk pemuda itu dengan erat membiarkan ia menangis, melumpahkan seluruh perasaanya.

"kau temani Namjoonie, aku dan membantu Jimin mencari obat atau bila kami beruntug seorang dokter agar besok Namjoon bisa ikut kejadwal latihan kita yang biasa, sementara Hoseok akan berjaga di depan" , Yoongi berkata sambil mengelus pelan helaian halus rambut hitam Jungkook.

Jungkook hanya bisa mengangguk setuju dan mengangkat kepalanya dari bahu Yoongi.

"aku sepertinya pernah menyelundupkan first aid box di bawah tempat tidur, berharap belum ada yang menemukan benda itu. Tolong bersihkan lukanya dengan obat merah", Lanjut Yoongi yang kembali hanya dibalas dengan anggukan oleh Jungkook.

Seteleh Hoseok mengecup pelan dahinya, Yoongi dan Hoseok keluar kamar untuk melakukan tugas mereka masing-masing.

Jungkook kemudian mendudukan tubuhnya di samping tubuh pingsan Namjoon yang masih mengucurkan darah di bagian lengan. Dengan kemeja biru yang tadi pagi ia kenakan dengan amat rapi sekarang sudah terkoyak.

Melihat tetesan darah itu dengan seger Jungkook merobek bagian bawah Hoodienya untuk mengikat luka itu agar darahnya setidaknya tertekan dan berhenti terus keluar.

Ia melakukan itu dengan bibir bawah terus digigit menahan rasa miris dengan segala luka segar yang tertanam di tubuh atletis Namjoon.

Jungkook selalu percaya dengan apa yang Namjoon katakan, ia akan selalu percaya dengan apa yang Namjoon lakukan memiliki arti lebih untuk mereka kedepannya. Kim Namjoon adalah orang yang sudah membuatnya berada di posisi ini.

Posisi dimana ia bisa makan dengan enak, tidur di tempat yang nyaman dan Hangat serta memakai segala barang yang bahkan harganya terkadang amat sangat dipertanyakan.

Ia amat bersyukur pada siapapun yang mengatur jalan hidupnya, untuk membiarkan Namjoon memilihnya dan memungutnya dari aspal yang dingin dan bau itu.

Melepaskannya dari rasa kelaparan yang berkepanjangan serta tubuhnya yang sudah bagaikan bangkai dengan tidak ada lagi harapan.

Merawatnya, menawarkannya sejuta kesempatan yang tidak akan pernah ia miliki, mempertemukannya dengan orang-orang hebat lainnya.

Sungguh Jungkook rela menghabiskan sisa hidupnya dengan berlatih amat keras dan mengabdikan hidupnya untuk Namjoon.

Tapi bila Namjoon ahris selalu terluka bila ia harus melakukan itu, dilubuk hatinya ia ingin Namjoon juga membiarkan mereka merasakan apa yang ia rasakan.

Bukannya menerima beban itu sendirian.

Mereka seharusnya menjadi sebuah tim yang menanggung segalanya bersama bukannya bagaikan anak itik yang harus selalu di lindungi.

Jungkook sudah duduk diruangan itu selama 2 jam sambil terus berfikir. Yoongi dan Jimin belum juga kembali. Pasti suruhan Tuan Kim membuat mereka amat sulit mendapatkan pertolongan untuk Namjoon, tetapi Hoseok setiap 15 menit sekali memeriksanya dan Namjoon memastikan mereka baik-baik saja.

Selama jangka waktu itu pula ia berusaha membersihkan luka-luka Namjoon dengan air yang ada di wastafel dan obat merah seadanya. Beruntung Yoongi sempat menyelunduhkan kotak pertolongan pertama itu, karena luka Namjoon lebih parah dari biasanya.

Apa yang dipikirkan si tua Kim itu saat memberikan hukuman hanya karena target mereka mati terlebih dahulu.

Itu membuat Jungkook semakin benci dengan orang tua itu. Kalau bukan karena Namjoon sudah sejak lama Jungkook meracuni pria tua itu.

Beberapa saat kemudian Jimin dan Yoongi datang dengan seorang dokter yang berkata ia hanya bisa berada diruangan itu selama 20 menit yang tentu saja disambut anggukan cepat oleh Jungkook dan membiarkan dokter itu menganalisa situasi yang ada.

Dengan cepat wanita muda itu menginstruksikan apa saja yang perlu mereka lakukan untuk mengatasi lebam yang ada disekejur tubuh Namjoon, sebelum dengan segera wanita itu pergi dengan amat tergesa.

Semalaman penuh mereka bergantian berjaga dan merawat Namjoon, hingga sejam sebelum jadwal latihan mereka yang pertama di mulai Namjoon sudah siuman dengan amat yang mulai perlahan terbuka.

Yoongi mendesah lega, Hoseok tersenyum cerah, sementara Jimin dan Jungkook berharap Tuan Kim membiarkan Namjoon untuk tidak ikut jadwal mereka hari ini.

Karena setiap pagi mereka harus lari keliling mansion sebanyak 20 kali dan mereka tidak yakin Namjoon dapat melakukan itu dengan keadaan yang seperti ini.

Jungkook kira saat terbangun Namjoon akan meringis kesakitan namun hal pertama yang Namjoon lakukan saat membuka matanya adalah merentangkan tangannya meminta pelukan kepada mereka yang tentu saja ke -4 pemuda lainnya turuti.

Menikmati kehangatan tubuh mereka yang menjadi satu dalam pelukan besar itu.

Jungkook dapat merasakn beban yang semalaman ada dipundaknya terangkat sedikit. membiarkan tubuhnya rileks dan damai.

Jungkook mengangkat sedikit kepalanya membuat yang lain mengalihkan pandangan mereka pada Jungkook.

Dengan wajah amat serius Jungkook berkata

"we will get our revenge and i promise"

.

.

.

.

.

.

Hi , karena dukungan yang gua dapatkan gua akhirnya memberanikan diri untuk publish lagi, sorry guys gua emng alay bgt :)

Sorry abal at least i tried.

Tbc