Sehun mencium bibirku?

Seketika, aku tersadar. Mabukku hilang.

"Sehun?" Aku merapal namanya. Bibirnya masih melumat bibirku.

Sebentar! Ini bukan fatamorgana dari mabukku? Benarkah yang sedang terpejam dan melumat ini adalah Oh Sehun?

Aku mengangkat tanganku untuk mengusap pipinya, dan benar ini memang Sehun. Tulang pipinya yang tinggi!

"Luhan," Sehun melepaskan bibirku dan kepalanya menjauh sedikit demi sedikit. matanya yang biasa tajam itu entah kenapa menyendu. "Ingat ini."

Apa?

Aku harus ingat pada apa?

Aku tidak bisa berpikir.

-LINE BREAK-

Lalu entah bagaimana prosesnya, aku merasa segalanya jadi cepat, aku sudah berada di kamar Kyungsoo. Telentang setengah terpejam.

"Luhan, apa kau paham bagaimana kagetnya aku menemukan Professor Sehun di depan pintu kita, dan parahnya kau juga disana dengan wajah sayu dan dandanan hancur?"

"Kyungsoo-ya…"

"Bahkan kurasa yang ini lebih parah dari kemarin malam. Apa kau paham bagaimana kagetnya aku menemukan Professor Sehun dan wanita kantoran yang mengaku kakakmu berdiri bersandingan di pintu kita kemarin?"

"Kyungsoo-ya…" Kyungsoo semakin cerewet saja.

"Tentu saja kau tidak paham."

Aku membuka mataku dan menatap langit-langit kamar Kyungsoo. Wajah Oh Sehun ada di sana membayang. Dengan kesenduan di tarikan otot wajahnya. Apa Sehun benar-benar baru saja menciumku di depan pintu? Rasanya aneh, nyaris mustahil. Pertanyaan 'kenapa' mengiang. Kenapa dia menciumku? Jika itu pria lain, maksudku yang menciumku adalah pria lain, yang bukan Sehun, aku tidak akan bertanya-tanya mengapa. Mereka hanya nafsu. Aku sepenuhnya akan paham dan maklum.

Tapi Sehun?

Nafsu? Padaku?

Tidak mungkin!

"Luhan?" Kyungsoo yang berbaring di sebelahku, menusuk pipiku dengan jarinya. Meminta perhatian. "Apa kau masih mabuk?" Tanyanya.

"Tidak." Setelah dicium Sehun, otakku tidak melayang oleh alkohol lagi, tapi mabukku yang melayang, melayang pergi. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi.

"Kau yakin?"

"Ya." Sahutku.

"Kalau begitu, apa kau keberatan menjawab pertanyaanku?"

Aku menoleh pada pertanyaan roomateku itu. Mungkin ini saatnya membuka kartu pada Kyungsoo setelah menunda-nudanya sejak kemarin. "Kyungsoo, apa menurutmu Sehun itu.." …bernafsu padaku? Kuyakin Kyungsoo akan melotot dan mengataiku masih mabuk jika aku benar-benar mengatakannya.

"Kepalaku puyeeeng," Akhirnya aku meraung sebentar. "Baiklah, Kyungsoo sayang. Karena kau malam ini sangat cerewet dan dari kemarin terus menerus ingin tahu soal Professormu itu, aku-"

Kyungsoo menggeleng cepat dan berhasil memotong ucapanku. "Bukan tentang Professor Oh saja. Kita teman yang hidup bersama, setidaknya aku ingin lebih kenal kau, Luhan."

Benar, Kyungsoo teramat benar. Ini jadi mengingatkanku bahwa sebenarnya aku juga tidak terlalu mengenal Kyungsoo. Yang kutahu tentangnya hanya hal-hal remeh seperti dia suka memasak dan benci kotor. Tambahan, dia juga tidak suka pria agresif, macam Park Chanyeol. Ah, Kyungsoo dulu juga pernah cerita tentang anak tunggal. Lalu, tidak ada lagi. Anehnya, walau aku tidak begitu mengenal Kyungsoo, aku bisa sangat yakin jika Kyungsoo cocok denganku.

"Baiklah, kita perlu menyusun jadwal kita lagi nanti untuk agenda pendekatan diri, Soo-ya, ingatkan aku tentang itu." Seperti kata Sehun selepas ciuman, ingat ini. Oh, oh, lupakan Sehun sejenak, Luhan, tolong! "Sekarang, soal Oh Sehun, professormu itu. Dia itu memang teman Rena, yang mana Rena itu memang wanita yang kemarin dan tadi pagi menumpang di sini. Oh iya, kau tahu, lain kali jika Rena datang kemari lagi, jangan sungkan padanya. Dia easy going, tapi katakan langsung di depan wajahnya jika kau tidak nyaman pada yang ia bawa, dia bisa jadi sedikit keterlaluan sok akrab."

Kyungsoo mengangguk mengerti.

"Lalu apa lagi?" Tanyaku. "Soal apa lagi yang mau kau tanyakan?"

"Soal kakakmu."

"Rena?"

"Ya."

Aku terkekeh sedikit, Kyungsoo mungkin sudah merasakan aura agresif Rena. "Kenapa dengan Rena? Dia terlalu agresif?"

Kyungsoo membuang muka. "Kakakmu kelihatan seperti orang baik, bagaimanapun."

"Tapiii?"

Kyungsoo menatapku hati-hati. "Apa dia dan professor Oh terlibat sesuatu?"

"Sesuatu seperti? Pacaran maksudmu? Tidak, tidak, mereka tidak pernah pacaran, dan tidak pernah benar-benar dekat. Kata Sehun, mereka cuma teman. Rena bahkan juga mengakui hal itu. Kenapa kau bisa berpikir begitu, ngomong-ngomong?"

"Kakakmu terlihat seperti tipe Professor Oh." Jawab Kyungsoo.

"Apa maksudmu?"

"Kau tahulah, prof orangnya kaku, kupikir tipenya itu wanita berkomitmen dan kantoran seperti kakakmu."

Aku ikutan mengangguk, entah bagaimana, aku juga setuju dengan Kyungsoo. "Bisa jadi sih, tapi….Rena dan Sehun tidak pernah dekat. Jadi, begini, dulu ada masa dimana Sehun jadi teman kuliah sarjana Rena. Saat itu aku si bocah yang suka mengintili pria tampan dan pintar, dan Sehun sangat-sangat masuk dan ikonik untuk itu. Aku merengekinya dan dia tidak keberatan jadi teman adik temannya, pokoknya itulah, makanya aku bisa kenal Sehun. Lalu, aku sekeluarga pindah selepas kelulusan Rena, dan kami pindah lagi kesini beberapa bulan lalu. Sekitar lima tahun berlalu, Rena bertemu lagi dengan Sehun, kemarin. Mereka ketemu di supermarket seberang, makanya mereka nekat bertamu kesini malam-malam karena ingin pesta. Daaan, poinnya adalah, Sehun cerita padaku jika dia tidak pernah menghubungi Rena sebelumnya, jadi mungkin Sehun tidak tertarik pada Rena, mungkin. Kalau Rena entaah, aku belum bicara lagi dengannya sejak semalam."

Setelah mendengar ceritaku, Kyungsoo diam sejenak. Kemudian mengangguk, lagi. "Baiklah, aku mengerti sekarang. Tapi…apa ini berarti bahwa sebelum kemarin, kau sudah pernah bertemu Professor Sehun?"

"Ya, beberapa hari lalu di kampus." Di koridor dengan tatapan dingin atau di perpus dengan hahahihi, silahkan pilih. "Awalnya aku baru dengar dia dosen di kampus kita saat ospek terakhir. Kau ingat saat aku telfonan dengan Rena dan rokmu kena susu coklat. Lalu kebetulan beberapa hari lalu kami ketemu lagi setelah sekian lama."

"Ya, aku ingat saat itu, tentang nyaris kena hukum senior yang sekarang jadi teman mainmu."

"Untung saja Minho tidak jadi menghukummu, sayang. Lalu? Ini sudah semua yang ingin kau tahu tentangku?"

Kyungsoo melirik jam dinding Pororonya, "Sementara ini saja, kapan-kapan kita lanjut lagi. Ini sudah jam 2, walau sebenarnya aku masih shock jam 12 kau pulang diantar Professor Sehun. Kusingkat untuk sekarang, Professor Sehun teman kakakmu, dan baru saja, dia merasa bertanggung jawab pada adik temannya, yang juga temannya, sedang mabuk. Sekarang mabukmu sudah hilang betul? Mau kuambilkan air dulu?"

Aku menatap Kyungsoo, perempuan ini punya wajah imut. Pipinya sedikit chubby dan matanya tajam, namun lucuu. Aku menangkup pipi Kyungsoo, dan tiba-tiba teringat pada tulang pipi Sehun yang tinggi. Random sekali pikiranku. "Aku sudah sadar, sepenuhnya. Tapi mungkin tadi aku mabuk, Soo-ya. Kupikir tadi….saat di depan pintu, sebelum Sehun menekan bel kita, kupikir- kupikir dia menciumku." Ungkapku akhirnya.

Kyungsoo langsung bereaksi. Dia terduduk dan melotot dengan mata belonya. Wajahnya mengatakan seolah dia sedang menatap gelombang tsunami.

Tapi aku lebih penasaran pada sesuatu.

Bagaimana besok- atau kapan itu, jika aku berhadapan lagi dengan Sehun?

Dengan bibir Oh Sehun?

-TBC-

INI satu Agustus!

CHAP ini agak sedikit ngebosenin gak?

Spoiler dikit aja, di beberapa chap depan gue bakal bikin smth new yg penuh fluff.

Gue juga udah hampir selesai nulis bagian bonusnya.

So, jangan lupa masukin ini ke fav n foll story lo