Eh buat yg minta gue post agak panjang, maafin ya, ini gk bisa gue kabulin, karena ya gue lebih suka post dikit tapi sering. Cek aja deh story ini belum sebulan dari the born tapi udah sampe chap 9 aja. Yah, gue mohon kalian ngertiin fetish gue yg lebih suka punya chap banyak daripada words banyak.

For all of what you've done (review, favorite n follow), Im super happy with that. Im happy if u happy with my story.

So, pls enjoy!

-No, Professor!2018-

Kyungsoo melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Aku bisa mengerti itu.

"Luhan, apa aku tidak salah dengar?"

"Tidak, kubilang, kupikir tadi Sehun menciumku."

Aku dan Kyungsoo berpandangan sesaat.

"Tunggu, jadi yang sedang terlibat sesuatu dengannya itu bukan kakakmu, tapi kau?" Tanya Kyungsoo.

Aku menarik selimut Kyungsoo dan menyelimuti tubuhku sampai dada. Kami masih di atas ranjangnya. Sama-sama telentang, menatap langit-langit bersih milik Kyungsoo.

"Tidak, yang ini jawabannya juga tidak. Kami tidak telibat apapun, terlepas aku dulu pernah suka padanya." Dulu, sekarang tidak. Dan rencananya aku juga tidak akan suka dia.

Kyungsoo kelihatan biasa saja, kelihatan tidak kaget dengan fakta bahwa aku pernah suka Sehun. Tapi dia malah terlihat senang.

"Kenapa kau tersenyum?" Tanyaku.

Kyungsoo melirikku dan senyumnya semakin lebar. "Aku sudah dapat jawaban dari pertanyaanku, Luhan."

"Pertanyaan yang mana?"

"Soal kenapa Professor mengantarmu bukan malah membiarkanmu pulang sendirian. Awalnya kupikir itu tanggung jawab, tapi itu pembuktian. Dia suka padamu, itu sudah menjawab segalanya. Ku dungkung hubungan kalian jika berlanjut, kalian pasangan yang cocok. Dan akan jadi sangat sensasional se kampus."

"Tungu, tunggu. Kyungsoo, kau salah. Kami- maksudku aku dan dia, yang mana tidak akan ada kami, tidak akan punya hubungan lebih lanjut."

"Jika alasanmu karena dia bukan husband material, kau pasti benar-benar bercanda. Professor Sehun kelihatan seperti suami idaman. Kau, cewek yang selalu mengkoar-koar ingin menikah tanpa pacaran, sangat cocok dengan tipikal Professor Sehun yang serius. Bagaimana bisa aku baru sadar hal ini. Begitu dia suka padamu, kau bisa mewujudkan cita-citamu yang ingin jadi ibu rumah tangga."

Aku membuang muka, merasa tidak enak batin memikirkan ucapan Kyungsoo tentang menikah. Dengan Sehun.

"Luhan," Kyungsoo memanggilku, mungkin karena aku tidak menyahutinya. Aku menoleh padanya dengan mata setengah tertutup. "Aku jadi teringat, kau dulu sempat bilang tidak suka pada Sehun. Kau ingat itu?"

"Ya aku ingat, di meja makan, saat kau bingung mengerjakan tugasmu."

"Jadi, bagaimana? Apa kau bohong karena tidak mau membantu tugasku?"

Aku membuka mataku lebar dan menemukan wajah kecut Kyungsoo. Seketika itu, aku menangkup pipinya. "Oh, maafkan aku, Soo-ya, aku tidak punya maksud jahat. Tidak, tentu saja." Kyungsoo menatapku tidak berkedip. Jadi aku melanjutkan. "Aku memang pernah suka Sehun, tapi sekarang tidak. Aku tidak ingin suka lagi padanya walaupun kau dan seluruh dunia tahu bahwa aku pasti akan menyesal melewatkan pria sempurna macam dia, aku pun tahu itu. Tapi aku tetap tidak ingin dekat lagi dengannya. Maaf, kumohon jangan salah paham!"

Aku mendesah, tiba-tiba energiku tersedot habis. Kenapa rasanya obrolan tentang Oh Sehun saja berat sekali.

Kyungsoo tiba-tiba gentian menangkup pipiku. Aneh sekali rasanya, karena Kyungsoo jarang suka skinship. "Kau yakin, Han?"

Aku mengangguk yakin. Tidak ada yang perlu diragukan. Setampan dan semenggiurkan apapun Sehun yang sekarang, sama sekali tidak akan bisa mengubah pattern otakku yang sekarang. Kuharap.

-LINE BREAK-

Keesokan paginya, itu weekend. Aku menyukai weekend lebih dari apapun. Aku bangun pagi dan sudah berada dalam balutan apron. Weekend adalah saatnya untuk mencoba resep-resep masakan enak. Walau rasanya aku belum bisa membuat makanan enak untuk suami masa depanku. Tapi aku tidak patah semangat menyusuri buku resep dan bolak-balik konter serta kompor. Pasti adakalanya nanti tanganku terlatih membuat masakan enak.

Tapi kemudian, bel di pagi ini membuatku menghentikan lantunan lagu yang sedang kuikuti dari speaker. "Kyungsoo! Kau memesan sesuatu? Buka pintunya, komporku sedang menyala!" Teriakku pada Kyungsoo yang sedang bersih-bersih ruang tamu.

Kyungsoo tidak menjawab, tapi aku mendengar langkah kakinya menuju pintu. Lalu dia memekik mengagetkan. "Luhan! Ada Professor Sehun didepan!" Katanya dengan suara keras yang mengalahkan speaker.

Siapa dia bilang?

Sehun?

Pria tampan yang menciumku semalam?

"Kau yakin?!"

"Ya, segera kesini!"

Aku mematung tiba-tiba. Jantungku berdegup kencang sekali dan walau aku suka perasaan meletup itu, aku tidak bisa menahan diri mengernyit.

"Luhan! Aku dengar aku?" Kyungsoo kembali berteriak dan membuat otakku kembali fokus.

Aku menggeleng-geleng sebentar, "Ya, aku dengar! Tapi tidak bisa, Soo. Risotoku tidak bisa kutinggal! Kembali saja bersih-bersih. Abaikan Sehun!"

"Kau gila?! Dia Professor!"

Aku mengaduk risotoku yang ada di panci dengan tenang. Namun pikiranku kalut. Aku rasanya tidak sanggup berhadapan dengan Sehun yang semalam menempelkan bibirnya diatas bibirku. Sangat sangat tidak sanggup. "Bodo amat mau dia professor atau presiden sekalipun!" Seruku.

Kuharap Kyungsoo mengerti maksudku, namun sebaliknya, aku malah mendengar bunyi-bunyi seperti pintu terbuka. Aku menghela nafas dan cemberut ketika tubuh Sehun yang tinggi dan ideal itu malah sekarang ada seberangku. Menatapku dari balik meja makan. Aku pura-pura tidak sadar dan memilih menunduk pada panci mengepulku.

Sialan Kyungsoo, gadis itu pasti sudah kabur ke kamarnya.

"Luhan.." Aku mendengar suara husky itu, dan aku mendongak. Kali ini aku pura-pura kaget. Tidak mungkin lagi menghindari Sehun.

"Ah! Hai Sehun. Sejak kapan kau disini?"

Sehun tersenyum tampan. Dan literally, itu benar-benar tampan. Dia mengenakan kemeja berlengan pendek berwarna biru langit yang sangat pas dengan kulit seputih porselennya. Sedangkan rambutnya yang berwarna coklat itu disisir rapi kebelakang dengan kilauan gel. Tampan dan rapi sekali Sehun di jam pagi ini.

Tentu saja, apalagi yang kau harapkan dari dosen most wanted ini? Pakaian acak-acakan dan dandanan belum mandimu, Luhan?

"Apa yang kau mau sepagi ini dariku, Sehun? Aku bahkan belum mandi, maaf." Kataku sambil berusaha sibuk memindai buku resep, lalu memasukkan beberapa rempah terakhir untuk melengkapi risotto a la Luhan. Sangat tidak siap mental untuk menghadapi pria tampan satu ini.

"Sudah kubilang aku akan berkunjung lagi, bukan?"

Oh, iya, aku ingat itu, di malam dia datang kesini pertama kali bersama Rena. "Tentu. Tapi sepagi ini?" Tanyaku masih enggan menatap matanya, dan sekali lagi aku berusaha sibuk dengan membereskan telenan serta remah dari bahan-bahan risotto diatas pantry.

"Sebenarnya aku berencana mengajakmu makan pagi di luar. Tapi kelihatannya tidak."

Akhirnya aku mematikan komporku dan menatapnya, mau tidak mau, aku tersenyum ketika tatapan mataku terjatuh pada mata tajam Sehun yang pagi ini kelihatan sparkling. "Sarapanlah disini."

Sehun menarik bibirnya dan aku buru-buru menunduk.

Aku melewatkan sebuah seringai tampan.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-