*1 month before Namjoon leave for South America*
Sial, tubuh Seokjin rasanya sangat remuk sekarang, setelah semalaman penuh bercinta secara bergiliran dengan seluruh pangerannya.
Sekarang ia hanya bisa menggulung diri bagaikan ulat diatas kasur mereka .
Membiarkan otot-ototnya beristirahat setelah semalaman digilir dengan sangat nikmatnya, namun tetap saja ia tidak akan pernah menyukai sensasi yang harus ia rasakan setelah bercinta.
Entah kemana ke -6 pemuda yang harus bertanggung jawab dengan keadaanya.
Setelah semalam ia dimandikan dengan keadaan setengah sadar, ia tidak lagi mengingat apapun yang terjadi.
Hanya ada sepotong memori yang ia ingat.
Seokjin merintih, mencengkeram leher Jimin, bibir mereka saling bergesekan, tetapi mata Seokjin yang berlinang cukup deras menjadi fokus perhatian Jimin, kemudan pemuda itu berusaha menenangkannya.
"Ssst, sayang, kau baik-baik saja. You're taking daddy so good, aren't you? "Suara Jimin menetes padanya layaknya madu yang panas, hangat dan lengket, dan Seokjin merasa amat tersiksa, meskipun ia tidak yakin mengapa atau untuk apa.
Namjoon bersenandung, membumbui ciuman di kaki Seokjin, saat ia menunggu Seokjin untuk menyesuaikan dengan ukuran penisnya. Tubuh kecokelatan Jimin terlihat sangat kontras terhadap paha Seokjin yang membuat Seokjin tampak sangat kecil, dengan banyaknya Seokjin harus melebarkan kakinya untuk mengakomodasi Namjoon di dalam dirinya.
" He's such a good boy," kata Jungkook, sambil terengah-engah, "Mengambil semua penis daddy-nya dengan baik." Luapan kenikmatan pasca-orgasme Jungkook masih belum surut, warna merah timbul di wajah, leher, dan tulang selangka pemuda itu, mengingatkan Seokjin bagaimana Jungkook telah menekannya ke kasur dengan amat keras kurang dari beberapa detik yang lalu.
Seokjin merintih.
Ia ingin lebih.
Tapi Namjoon terus saja menggodannya.
Namjoon menyeringai, menepuk paha Seokjin, meyakinkan, sebelumnya, dengan sedikit peringatan, menarik dirinya setengah jalan dan menusuk kembali ke dalam.
Sakit. Rasanya begitu enak. Seokjin merasa hangat, ringan, kecil, dan dimanjakan.
Rasa senangan muncul di perutnya kemudian turun kekemaluannya dan ia bisa merasakan penisnya kembali berdiri tegak, meskipun ia sudah keluar tiga kali malam ini. Sakit, tapi sakit yang enak sekali, dan Seokjin berjuang untuk tetap membuka matanya.
"Tolong," ia memohon, tapi ia tidak yakin untuk apa, "Tolong, tolong, tolong."
"Tolong apa, sayang," tanya Namjoon, geli, ketika ia mulai memperlambatkan gerakkannya.
"Tidak, tolong jangan berhenti," Seokjin memohon, dengan lemah mendorong pinggulnya untuk mempertemukan penis Namjoon dengan lubangnya yang terasa amat gatal.
Pemuda itu tersenyum, puas mendengar jawabannya, mempercepat gerakkanya lagi, dorongan kuat yang akan mendorong Seokjin naik ke kasur, jika bukan karena Hoseok memegang tubuhnya ke kasur.
Setiap dorongan membuat penis Seokjin berkedut dalam kombinasi rasa sakit dan kesenangan.
Jimin mencium air mata Seokjin, ada binar di matanya ketika ia menjilat bibirnya, membisikkan betapa indahnya Seokjin terlihat seperti ini, mata terbuka lebar dan ingin mengambil semua yang diberikan Bangtan padanya.
"Kau sangat kecil, sayang," Jimin mendengkur, "Kira-kira bila aku menekan perutmu, apakah aku bisa merasakan penis Namjoon bergerak di dalam mu. Aku yakin aku bisa, kau mau lihat? "
Seseorang mengisap tanda yang menyakitkan ke dada Seokjin, mengkhawatirkan kulit di antara gigi mereka yang Seokjin tahu akan menjadi biru gelap, memberikan tanda keposesifan yang akan timbul keesokan paginya.
Kombinasi kata-kata Jimin dan rasa sakit dari kiss-mark sudah cukup untuk mendorong Seokjin ke tepi lagi.
Visinya menjadi pucat saat ia datang, kenikmatan melelehkan tulang punggungnya dan menusuk ujung jarinya.
Ia merasakannya, terlalu peka, dan ia bisa merasakan segalanya saat Namjoon terus menusuk ke dalam Seokjin, cengkeramannya di paha dan pinggang Seokjin kuat dan tak henti-hentinya, bahkan saat Seokjin menggeliat di bawahnya.
Seokjin terengah-engah, meskipun ia tidak melakukan apa-apa selain berbaring di sana sepanjang malam, Jimin melakukan semua pekerjaan kasar.
Seokjin kelelahan, letih, tetapi ia tidak bisa menemukan setitik keinginan dalam dirinya sendiri memberikan tanda berhenti.
Rasanya begitu enak. Rasanya terlalu enak. Seokjin terikat pada mereka semua, sekarang. Ia bisa merasakan kesenangan di benaknya, dan rasanya mereka seperti miliknya sendiri.
Ia ada di surga.
"keluarlah dengan cepat," ujar Yoongi, suaranya kabur dari kejauhan dalam keadaan Seokjin yang bingung, "Jimin masih harus menidurinya, dan napasnya agak terlalu cepat. Aku tidak ingin ia pingsan. "
Jimin tersenyum, kembali ke jangkauan Seokjin lagi. Ada sesuatu yang gelap dan lapar dalam sentuhan Jimin, saat ia menangkup pipi Seokjin. Cengkeramannya terasa kuat dan dominan, saat ia membuat Seokjin menghadap padanya.
" You think you can take another cock, baby?", Jimin membungkuk, membelai ibu jarinya ke pipi Seokjin untuk menyeka air mata, "Kita bisa berhenti setelah ini, jika kau mau?"
Dengan panik Seokjin menggelengkan kepalanya namun gerakanya disela oleh suara erangan keras yang ia hasilkan ketika Namjoon berulang kali mengenai prostatnya yang dilecehkan. Pikiran untuk berhenti sangat terdengar amat menjijikkan.
Ia tidak ingin ini berakhir. Mereka menidurinya dengan sangat baik, Seokjin tidak pernah berfikir bahwa mustahil bercinta dengan ke 6 enam pemuda itu akan se-enak ini.
Seokjin tidak bisa merasakan kakinya. Perut, penis, dan pantatnya terasa seperti terbuat dari rasa nikmat yang tidak ada habsinya, tidak ada alasan lain selain merasakan percikan kesenangan dan rasa sakit yang gila dan memuaskan.
"Tidak?" Jimin bertanya, menyeringai, "Seokjinie ingin mengambil penis daddy? Kau sudah memiliki lima, sayang, jangan serakah. "
"N-noo," rengek Seokjin, terengah-engah ketika dorongan Namjoon melambat, Namjoon bersenandung, puas, saat ia keluar di dalam pantat Seokjin. Pria yang lebih kecil merasa dirinya menjadi hangat dan bahagia, ketika Namjoon membumbui ciuman dan pujian di paha Seokjin.
"Tolong, daddy? Kumohon? "Seokjin merengek, tidak yakin apakah ia bahkan melihat ke arah yang benar," Wan, want your cock "
Seseorang menggerakanya, mengangkatnya. Seokjin bisa merasakan sperma Namjoon menetes keluar dari pantatnya, ia terlalu lemah untuk menggerakkan anggota tubuhnya untuk protes jadi ia merengek, membiarkan pangeran-pangerannya tahu betapa ia tidak menyukai perasaan itu.
"Ssst, Kau akan mendapatkan lebih banyak, sayang, jangan khawatir," sebuah suara terdengar, geli.
Dan dengan gusar, Seokjin mendapati dirinya mengangkangi pinggang Jimin, penis keras Pemuda itu di bawahnya. Tangan Seokjin terentang di dada Jimin yang berotot dan Seokjin cukup yakin ia meneteskan air liur.
"Kau ingin penis daddy, kan?" Jimin bertanya, merendahkan, menyeringai ketika Seokjin mengangguk.
"Berusahalah untuk itu, Seokjinie."
Pemuda-pemuda sialan.
Setelah semalaman penuh melayani mereka, ini yang ia dapat kan.
NO MORNING KISS ?
Baiklah ini sudah bukan pagi karena matahari sudah melewati kepala, jadi mungkin wake-up kiss ?
Seokjin ingin berdemo setelah ini.
Ia pantas diberikan penghargaan untuk jasa yang sudah memuaskan mereka. Menyebalkan.
Apalagi bila mereka malah sibuk dengan pekerjaan mereka hari ini, Seokjin akan benar-benar melakukan protes.
Sudah lama rasanya mereka tidak menghabiskan waktu bersama. Hanya mereka ber-7.
Bibir Seokjin mulai mengerucut kesal, sebelum akhirnya Taehyung masuk kekamar mereka denagn wajah yang terlihat berseri serta tubuh yang sudah bersih dengan pakaiannya yang memang selalu formal.
"Sudah bangun baby", Seokjin yang masih kesal karena tidak mendapatkan ciuman awal bangun yang ia pantas dapatkan, membuang wajahnya dengan bibir yang masih mengerucut sebal.
"Hey, apa salah ku ?" , mata Seokjin melebar tidak percaya mendengar pertanyaan Taehyung.
"Kau bertanya salah mu ? setelah meninggalkanku sendirian di kasur besar ini ? Kalian benar-benar menyebalkan!" , Taehyung tersenyum geli, medekati tempat tidur mereka yang membuat Seokjin menyembunyikan kepalanya di balik selimut.
"Maafkan kami okay ? Namjoon membuat kami harus membereskan banyak hal karena jadwal dadakan yang ia buat hari ini", ujar Taehyung sembari mengelus rambut Seokjin yang tidak tertutup sempurna oleh selimut.
Seokjin yang mendegar itu hanya terdiam karena masih ada rasa kesal di hatinya, semakin jengkel karena tebakannya benar, keenam pemuda itu masih saja sibuk dengan pekerjaan mereka.
Tanpa ia sadari Taehyung mengakat tubuh telanjangnya lengkap dengan selimut yang masih membungkus dirinya, yang membuat Seokjin menjerit pelan, sedikit terkejut. Taehyung amat gemar mengangkat tubuhnya bagaikan sebuah benda.
Kemudian pemuda itu menurunkannya di kamar mandi, menarik selimut yang membungkusnya sebelum kembali mengakatnya menuju jacuzzi yang sudah pemuda itu siapkan, lengkap dengan bathbom aroma buah yang menguar diseluruh ruangan.
Seokjin dapat merasakan otot-otot tubuhnya yang menegang menjadi amat rileks berkat air hangat yang menyelimuti dirinya.
Ia membiarkan Taehyung memandikannya, menggosok tubuhnya dan membersihkan rambutnya dengan tangan terampil yang pemuda itu miliki. Memijat pelan kepala, leher, hingga punggungnya.
Ah, Seokjin selalu suka after-care yang ia dapatkan setelah sex, apalagi yang diberikan Taehyung dan Yoongi, dua orang itu yang terbaik dalam memanjakan dirinya.
"Kami bangun lebih pagi karena Namjoon ingin kami membersihkan jadwal untuk seminggu kedepan, jadi ada sedikit kekacauan untuk itu", ujar Taehyung, tangan tetap dengan konsisten memjiat tubuh Seokjin.
Seokjin mengangguk pelan, memberikan tanda kalau ia mendengarkan.
"Jadi seminggu ini kita akan pergi ke bahama, kesalah satu pulau yang kami miliki, Namjoon bilang kita kurang memiliki quality time bersama", Seokjin yang dari tadi memejamkan matanya, sekarang terbuka lebar sangat bersemangat.
"Really?" , Taehyung terkekeh melihat reaksi Seokjin.
"Ia sayangku"
"Yeay!", seru Seokjin bersemangat membuat Taehyung meragukan usia Seokjin yang lebih tua dari mereka semua, bila tingkah Seokjin masih terlihat seperti anak-anak.
"Kapan kita pergi Taetae ?"
"Lusa paling lambat, bila Jungkook dan Hoseok berhasil mengundur jadwal mereka, tapi mereka tetap mengusahakan agar kita bisa pergi malam ini"
Tak berapa lama suara ketukan terdengar dari luar.
'Dok, Dok'
"Taehyung kita jadi pergi malam ini, jadi selesaikan mandi kalian, kita bersiap", Suara Hoseok, membuat mata Seokjin berbinar semakin intens dengan senyuman bahagia tidak meninggalkan wajah pemuda itu.
"I LOVE YOU HOSEOK-IE !", Teriak Seokjin dari dalam kamar mandi yang dibalas Hoseok dengan tawa pelan.
"I LOVE YOU TOO BABY"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ye
Fold III nya nnt dl y bcs i hv no inspiration :(
Jadi kyknya chap depat masih hal-hal gaje
I miss Seokjin in this story :(
C U :)
