Dan segalanya jadi sangat menyenangkan sebenarnya, saat Sehun benar-benar sudah duduk di sebelahku dengan sumpit di jemari kokohnya. Pemandangan tidak biasa di apartmeneku dimana kali ini tidak hanya ada aku dan Kyungsoo, tapi juga seorang pria panas.

Aku berusaha keras menahan senyumku. Jadi sebegini mendebarkannya sarapan dengan Sehun. Aku tidak pernah makan bersama Sehun, bahkan ketika dulu umurku 13, juga tidak. Kami hanya terbiasa jajan dan belajar bersama, hitung curhatanku yang tidak ada habisnya juga. Intinya Sehun yang sarapan disebelahku adalah baru. Jantungku berdetak keras dan semoga itu tidak cukup keras sampai Sehun mampu mendengarnya.

"Han, aku tahu risottomu enak." Sehun berkata mengagetkanku.

Apa yang kulewatkan dengan lamunan?

Aku menoleh padanya yang sedang menatapku. "Ya, Sehun?"

"Tapi makanmu pelan saja." Katanya. Dan hal mengejutkan selanjutnya adalah Sehun meraih tisu dan mengelap bibirku. Aku menahan nafas dan menahan mataku yang terbelalak.

"Uhuk!" Aku mendengar Kyungsoo yang duduk berseberangan denganku, terbatuk.

Itu mengakhiri sesi kagetku dan membuatku menepis tangan Sehun dan segera membuang muka. Aku melempar pandang pada Kyungsoo. "Makan makananmu dengan tenang, please." Kataku. Entah itu bisa diartikan aku yang salah tingkah atau tidak suka pada interupsi atas perlakuan manis Sehun. Poinnya adalah aku sekarang serasa ingin mengubur diri di bawah peti mati.

Aku tidak mendengar Sehun yang bereaksi, tapi aku melihat Kyungsoo membereskan piringnya. Jangan bilang…

"Aku akan makan dengan tenang di ruang TV. Permisi, Professor." Lalu dia lari terbirit melewati pintu goyang dapur. Aku tidak sempat menahannya. Dia menghhilang begitu saja, meninggalkanku bersama Sehun.

Kabur lagi perempuan pemalu satu ini.

Walau dalam hati gugup, aku menyempatkan sebuah tawa kecil. "Kyungsoo sangat lucu, bukan? Ngomong-ngomong, apa kau menikmati sarapanmu?"

Sehun mengangguk. "Sangat lezat. Kuharap kau masih punya beberapa agar bisa kubawa pulang."

Aku ikut mengangguk saja. "Ya, setelah ini akan kusiapkan. Memangnya kau tidak biasa membuat sarapanmu sendiri?"

"Aku tidak bisa masak," Kata Sehun. "Aku selalu makan di luar."

"Selalu?" Tanyaku tidak percaya. Ngomong-ngomong, makananku sudah selesai, tapi aku enggan berdiri lebih dulu. Sehun dengan cara makan tenang sangat sayang untuk tidak dilihat.

Namun nampaknya mangkuk Sehun juga mulai kosong. Dia meletakkan sumpitnya dan menghadap sepenuhnya padaku. Semoga aku tidak kelihatan lusuh dengan dandanan belum mandiku. "Kebanyakan, tapi kadang ibuku juga meninggalkan beberapa makanan jadi di kulkas."

"Wah beruntungnya…aku ingat kue buatan ibumu enak sekali. Apalagi masakannya. Bagaimana kabar ibumu?"

"Kesehatannya menurun. Tapi aku yakin pada sesuatu." Sehun menatapku serius, tapi wajahnya juga kelihatan santai.

"Apa?"

"Ibuku pasti merindukan keramahanmu, Luhan. Mau mengunjungi ibuku?"

"Apa?" Aku tidak yakin harus bereaksi seperti apa. Tapi aku sudah dewasa loh sekarang, masa Sehun mengajakku bertemu orang tuanya? Ini terdengar seperti…

"Aku bisa mengantarmu. Rumahku masih selalu terbuka untukmu, gadis manis."

Oke, otakku bermasalah. Tidak, mungkin syarafku yang bermasalah. Karena aku malah menggeleng ketika aku memikirkan untuk mengangguk.

"Kenapa tidak?" Tanya Sehun yang melihtaku menggeleng tanda penolakan pada ajakannya.

Aku sendiri tidak tahu jawaban pertanyaan itu. Itu rumit untuk dijelaskan dan aku merasa tidak ingin membahas itu sekarang. Tidak sekarang, ketika kehidupanku yang sekarang rasanya sangat nyaman dan sudah tertata. Bahkan sekalipun aku menjelaskannya secara gamblang pada Sehun, aku tidak yakin dia akan mengerti. Dia Sehun. Oh Sehun yang orang kenal super cuek dan apatis. Walau aku mengenalnya dengan berbeda. Sehun bukanlah pribadi yang seperti itu. Dia hanya kaku tapi sangat perhatian.

Namun, Sehun yang itu, masih belum cukup.

"Kau tahu, Sehun, dulu aku pernah suka padamu." Ungkapku.

Pupil Sehun melebar dan dia tersentak dalam duduknya.

Aku tersenyum sekilas, mungkin juga merona. "Dulu aku suka sekali menempelimu karena aku suka padamu. Kau sangat tampan dan pintar, siapa yang tidak akan suka kau." Malu sekali rasanya mengakui ini, tapi aku tidak bisa memikirkan hal lain selain ini untuk jawaban pertanyaannya tadi.

Sehun masih diam menatapku. Kupikir itu isyarat untukku melanjutkan, jadi aku membuka mulutku lagi.

"Sekarang kau juga masih tampan, semakin keren lagi." Pipiku bersemu. Aku tahu itu. Tapi aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan dengan itu. Rasanya mendebarkan hanya dengan terus bertatapan dengan pria yang baru saja kusanjung itu.

Lalu kami bertatapan dalam diam.

"Luhan,"

"Apa?"

Sehun kelihatan tenang walau aku bisa melihat bahunya menjadi kaku. "Kenapa sejak tadi kau mengatakan 'dulu'? Apa ini berarti kau sekarang kau tidak suka aku lagi?"

Aku mengangguk pelan. "Tidak. Aku tidak lagi suka kau. Bahkan soal yang semalam, itu tidak berarti apapun untukku." Dustaku. "Yang jadi pertanyaanku adalah, kenapa kau melakukan itu, Hun? Kau jelas tidak mabuk sepertiku. Apa ini hanya karena kau ingin mencobaku?"

Sehun yang menciumku semalam pasti bukan Sehun yang kukenal, dia pasti hanya ingin main-main saja denganku. Sejujurnya itu mampu membuatku patah hati, tapi kesimpulan itu membuatku tenang. Karena ketika aku sakit hati pada Sehun, aku pasti akan memupuskan segala bunga bermekaranku untuk Sehun yang perlahan mulai merebak.

Sehun tidak menjawab. Dia bungkam dan aku tidak mengerti kenapa dia berdiri dan meninggalkanku sendirian di meja makan. Kudengar Kyungsoo berbicara sesuatu, mungkin dengan Sehun. Tapi Sehun kedengaran seperti tidak menjawab, lalu suara bantingan pintu yang terdengar.

Aku menggaruk rambutku dan tergugu seorang diri kali ini.

-TBC-

YAGUSTI, gue telat update. Ggr lagi gemes main WarungChain (kalian maen gem ini juga gak? gilak ini game indo bagus bat)