Aku masih menggaruk rambutku ketika Kyungsoo menyerbu masuk ke dapur.

"Ada apa?" Tanyanya ketika menemukanku menekuri mangkuk bekas Sehun.

Aku mengangkat wajahku, "Ada apa?" Tanyaku balik. Otakku serasa terbolak-balik.

Kyungsoo mendudukkan dirinya di kursi seberangku yang memang selalu ia duduki. Pandangannya melembut dan aku membalasnya dengan pandangan biasa saja. "Wajah Professor Sehun sangat kaku, dia tidak menjawab sapaanku dan dia membanting pintu. Kupikir dia marah. Apa aku salah?"

Mungkin sebenarnya yang salah adalah aku.

"Kau tidak salah," Kataku. "Yang salah dirinya sendiri."

"Apa maksudmu?"

"Tentu saja yang salah dia, kau pikir mau apa dia kesini sepagi ini jika bukan ingin menghadapi mood pagiku, yang masih seperti telur orak-arik. Aku belum mandi, plus dia pasti jijik makan masakan perempuan yang membersihkan diri saja belum."

Kyungsoo mengernyit, kelihatan kesulitan mencerna omongan ngelanturku.

Aku menggeleng tidak mau tahu. "Pokoknya dia sudah salah datang kesini. Aneh sekali dia, kemarin datang malam-malam, sekarang datang pagi-pagi. Dia pikir apartemen kita apaan?"

"Sebentar, kurasa yang aneh itu kau, Han. Kenapa kau jadi uring-uringan padahal baru beberapa menit lalu baik-baik saja. Professor Oh juga tidak kelihatan keberatan makan padahal disebelahnya, kau masih bau dan belum mandi. Apa kalian bertengkar?"

Aku memilih untuk tidak menjawab dan lebih memilih menunduk pada pahaku yang hanya terbalut hotpants pendek. Tunggu, apa pahaku dari tadi memang sebegitu terbukanya sejak Sehun duduk disebelahku?

Duh Luhan, Luhan.

"Luhan, sekarang aku yakin jika kau dan Professor Sehun lebih dari sekedar teman. Semalam kalian berciuman. Pagi ini dia datang ingin melihatmu. Tapi kalian malah berakhir bertengkar."

"Kyungsoo, bahkan rasanya mustahil sekali ketika Sehun menciumku semalam. Memang aku harus bereaksi bagaimana lagi selain menganggapnya tidak terjadi? Itu bisa menghancurkan pertemanan kami. Kau pikir aku akan dengan mudahnya menanyakan padanya apa dia melakukan itu karena bernafsu padaku, huh? Tentu saja tidak, jadi sebenarnya yang salah itu Sehun sendiri. Jadi, jangan sebut Sehun lagi mulai sekarang, dia yang buat salah tapi dia yang marah-marah. Pertemanan kami sudah berakhir mulai hari ini. Kau dengar aku, Soo? Jangan sebut Sehun lagi di depanku." Cerocosku.

"Luhan, aku tidak mengerti."

Bahkan aku sendiri juga tidak mengerti!

-LINE BREAK-

Memang siapa yang mengerti racauanku pagi itu?

Tidak ada, walau aku nyaris seharian berendam di kamar mandiku dengan air dingin, serta memikirkan kembali kejadian akhir-akhir ini, aku tidak menemukan titik terang.

Aku masih tidak mengerti banyak hal. Yang pertama kenapa Oh Sehun menciumku. Jika kupikirkan, satu-satunya kemungkinan adalah Sehun hanya ingin menggodaku karena dia tidak mungkin bernafsu padaku. Dia pasti hanya ingin main-main, layaknya Sehun yang dulu selain baik, juga sering menggodaku. Mungkin dia pikir guyonan anak-anak tidak akan mempan lagi, makanya dia mencoba yang sedikit lebih dewasa, seperti menciumku di bibir.

Tapi kemudian kemungkinan ini terpatahkan dengan kelakuan Sehun di meja makan. Sehun yang itu, kelihatan seperti tidak suka aku menamai ciumannya sebagai sebuah uji coba.

Hal ini mengantarkanku pada pertanyaan kedua, tentang kenapa dia tidak suka? Jika ini karena dia tidak setuju dengan asumsiku, ini mengantarkanku pada pertanyaan ketiga, tentang lalu bagaimana jawabannya yang benar?

Dan kemudian ketika aku memikirkan sebuah kemungkinan jawabannya, aku akan menemukan pertanyaan lanjutan yang juga akan membuka pertanyaan lainnya. Begitu terus. Poinnya aku masih belum menemukan jawaban yang memuaskan dan valid.

Jawaban valid itu hanya bisa kudapat dari Sehun sendiri. Sayangnya, aku terlalu takut bertemu Sehun lagi. Dia sangat menyeramkan saat di meja makan tempo hari. Aku ingat bahunya kaku dan aku takut ketika dia mengeraskan rahang seolah menahan diri untuk manampar mulutku yang bicara lancang tentangnya. Selain itu aku juga berharap semoga ini akan jadi titik balik yang menyadarkanku bahwa aku harus benar-benar berhenti menyukai Sehun lagi.

Ya, yang ini bagus. Aku mendesah dan menyeruput kopiku sebelum melanjutkan membaca buku penunjang kuliahku. Bagaimanapun juga, aku masih perlu belajar. Kesandarkan punggungku pada kursi belajar dan kemudian aku menyisihkan pemikiran tentang Oh Sehun si dosen dan tenggelam pada bacaan tekstualku.

-TBC-

YEAH PAGI PAGI UP

Soal bonus part, i already made up my mind.

Thanks for your feedback, really love it!

Tungguin chap depan ya, karena gue bakal up dobelhh.