Namjoon terdiam di ruanganya, menunggu.

Ia sungguh tidak percaya bahwa hari ini akan tiba, hari dimana mereka bebas

Sejujurnya, Namjoon tidak pernah benar-benar memikirkan hal ini. Ia bangun dengan Yoongi memasuki kamarnya dan meletakkan tangannya di bahunya.
"Joon, ayo keluar."

Ia tahu apa yang terjadi. Ini seharusnya terjadi cepat atau lambat. Ia lupa akan hal yang penting, tanpa ayahnya ia tidak memiliki alasan yang cukup untuk menahan mereka disini, di istana neraka ini.

Ia bangkit, membiarkan Yoongi memeluknya, sembari bersenandung. Ia mandi dan ketika Ia berjalan kembali ke kamarnya, seseorang telah meletakkan pakaiannya di tempat tidur untuknya. Namjoon berdandan dan mengenakan sepatu, tidak memedulikan orang-orang yang berdiri di dekat pintu. Ia melihat mereka, dan mereka semua, berpakaian hitam dari ujung rambut sampai ujung kaki, tidak mengatakan sepatah kata pun.

Namjoon berjalan keluar dari kamarnya, Jungkook terus terpaku padanya. Yoongi mengambil sisi kanannya. Hoseok berdiri hampir di depannya, sementara Taehyung berjalan di belakang Jungkook, menutupi punggungnya. Jimin memegang tangan kiri Namjoon dan berjalan bersamanya. Formasi berlian yang sempurna.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, semuanya terdiam. Semua orang berdiri dekat ke bawah tangga ketika rombongan Namjoon turun sebagai orang-orang pemimpin divisi OASIS termuda.

Ia berdiri lebih tegak, meluruskan bahunya agar tampak lebih besar daripada biasanya, masih beberapa langkah dari ujung tangga, dan para anggota itu berhenti berjalan untuk membuka ruang di sekitar mereka.

"Sungguh menyedihkan kita harus melakukannya seperti ini," Ia memulai ketika semua orang menatapnya, "tetapi seperti yang kalian ketahui, ayah aku meninggal." Ia mengambil napas dalam-dalam dan melihat sekeliling. "Aku yakin kita semua sudah bertemu, tetapi jika tidak, aku Kim Namjoon, Kim muda, satu-satunya pewaris, dan, saat ini, kepala semua perusahaan, perusahaan, dan bisnis Kim."

Ada keheningan yang menggema dan tidak ada yang benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Namjoon juga tidak tahu apa yang Ia ingin mereka lakukan, jadi, ia tidak lagi peduli, Ia melanjutkan.

"Untuk hari ini, kita mengucapkan selamat tinggal terakhir kita dan memberi hormat kepada ayahku. Besok pagi, aku akan mengambil alih segalanya." Ia menjeda lagi. "Ini Guard, Sunshine, dan Ace," katanya, tetapi tidak menunjuk mereka secara eksplisit. Saat ini, Namjoon hanya ingin kembali ke kamarnya. "Dua orang lain tim aku yang mungkin kalian tidak ketahui adalah V dan Jimin," lanjutnya, dan melihat sekeliling ruangan. "Setiap informasi tentang bisnis akan dibahas besok. Semoga hari kalian menyenangkan."

Namjoon mengakhiri pidatonya dan berbalik, hampir mematahkan jari Jimin dalam prosesnya, tetapi yang lain bahkan tidak tersentak ataupun bergerak sedikit. Yoongi tetap kembali waspada dan matanya menyortir semua orang ketika yang lain membawa Namjoon kembali ke kamarnya. Rumah itu dipenuhi dengan anggota, karena itu adalah momen yang sempurna untuk mencoba dan membunuh Namjoon, satu-satunya yang mungkin bisa memimpin keluarga Kim sekarang.

Ketika mereka mencapai ruangan, Taehyung masuk terlebih dahulu dan menutup semua tirai sebelum Namjoon merasa tubuhnya akhirnya menyerah, kakinya terasa lumpuh seketika. Jungkook mengangkatnya diam-diam dan membawanya ke tempat tidur, berbaring di sebelahnya sesudahnya. Namjoon segera meringkuk padanya.

"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa melakukannya," ia mengulangi bagaikan mantra ke dalam kemeja Jungkook, sementara Hoseok menyajikan jus jeruk, Taehyung dan Jimin datang untuk meringkuk di sekitarnya.

"Joon, semuanya akan baik-baik saja," kata Hoseok sambil melewati gelas itu, Namjoon menolaknya, tapi Jungkook mengambilnya dan membuat ketua mereka mengambilnya untuk meminumnya.

Namjoon duduk, kaki bersilang seperti anak kecil, memegang gelasnya dengan kedua tangan. Ia mendongak dan melihat Yoongi berdiri di dekat pintu. Ia harus melakukannya. Sekarang atau tidak pernah. Ia mengambil napas paling dalam yang pernah Ia ambil sebelum berbicara.

"Kau bebas," katanya, menatap Yoongi. "Kalian semua. Kau tidak perlu berada di sini jika tidak mau. Aku bukan ayahku, dan aku tidak akan memaksamu untuk tinggal di sini. Aku akan memastikan kalian semua bisa pergi ke mana pun kalian inginkan . "

Namjoon melihat sekelilingnya dan melihat senjata Jimin di sudut ruangan. Jika Ia merasa cukup takut untuk membawa senjatanya ke kamar, bagaimana Namjoon akan melindungi orang-orang ini di luar rumah ini?

"Kau punya pesawat, kan?" Suara Taehyung membawanya kembali kekenyataan. Ia merasakan air mata jatuh di wajahnya. Taehyung akan pergi. Ia mengangguk.

"Kita tidak bisa membawa Jimin ke luar negeri tanpa pesawat pribadi. Secara teknis Ia sudah mati." Taehyung tersenyum pada leluconnya sendiri dan mengangkat bahu. Yoongi memeluk bahu Namjoon, berdiri di depannya dan bergoyang hanya untuk melodi di benaknya.

"Joon," panggilnya dan Namjoon mengusapkan kepalanya ke pundak Yoongi, karena jika ini adalah pelukan terakhir mereka, lebih baik ini menjadi pelukan yang baik. "Tidak ada yang ke mana-mana, Joon." Yoongi mendorongnya dengan ringan.

"Ya, Joon. Kami sudah di sini selama ini. Mungkin juga tinggal di sini sekarang karena kau adalah orang paling berpengaruh di OASIS." Hoseok menyeringai, dan Taehyung memberinya dua jempol, senyumnya yang kotak mencerahkan suasana ruangan yang suram.

"Mereka akan mencoba membunuhmu," Namjoon menjelaskan, tetapi Yoongi hanya mengangkat bahu dan berbaring di atas Jungkook, memeluk bocah itu dan tersenyum ketika yang termuda mulai mengelus rambutnya.

"Mereka bisa mencoba," jawab Jungkook, dan Jimin bersiul. "Kurasa kita bisa memberi mereka uang yang banyak, bukankah begitu, baby?" Ia bertanya, dan Hoseok tersenyum.

*Last Night*

Namjoon paling membenci dengan orang yang dengan berani-beraninya merendahkan Tim yang ia bentuk. Karena ke-5 orang tersebut bukan lagi 5 orang biasa, melainkan memainkan peran penting dalam hidupnya, sehingga mendengar mereka direndahkan membuat emosi Namjoon tidak tertahan.

Tadi siang Taehyung dan Jimin menjalankan misi mereka untuk memburu dan membunuh kelompok-kelompok kecil yang tidak dapat membayar mereka pada OASIS. Namun Divisi research salah memberikan data pada mereka sehingga Taehyung dan Jimin kembali digiring ke Mansion Kim setelah dicurigai sebagai penghianat karena memburu anggota rahasia OASIS.

Yang tentu saja membuat Tuan Kim amat murka, Namjoon yang baru saja kembali dari rapat besar dengan petinggi OASIS harus segera kembali ke Mansion Kim sebelum kedua anggota timnya tertembak peluru yang tidak segan-segan akan dilancarkan tuan kim.

Hari sudah mau mendekati jam makan malam yang artinya mension hampir sepi, sehingga semua orang dapat mendengar suara Tuan Kim yang menggema di seluruh lorong.

"Namjoon," panggilnya, dan Yoongi untuk membiarkan leader-nya lewat, mereka berdua masih lelah dengan segala perdebatan dengan pimpinan OASIS dan sekarang ini yang harus mereka hadapi. "Apakah kau ingin memberitahuku mengapa dua anak buah mu melakukan kesalahan fatal dengan memburu anggota rahasia OASIS?"

Namjoon melongo dan menatap mereka. Mereka pasti punya alasan, jadi untuk saat ini ia hanya perlu mengeluarkan mereka dari ruangan untuk menemukan apa pun yang terjadi.

"Aku akan menanganinya di atas, Ayah," Namjoon mencoba, tetapi Tuan Kim hanya mendecakan lidahnya. Namjoon merasa Yoongi bergerak lebih dari yang sebenarnya ia lihat, jadi ketika ada tubuh lain yang dekat dengannya, ia tidak terkejut. "Aku yakin mereka menyesal."

Tuan Kim mengangkat tangannya dengan sangat tenang dan menunjuk ke arah Taehyung, menggelengkan jarinya beberapa kali. "Kau tahu, Namjoon-ah ... Bocah ini ada di sini." Tatapannya hampir membakar Taehyung. "Jika kau tidak merawatnya dengan benar ... ia akan berakhir dengan peluru menembus kepalanya." Ia membuat pistol jari dan 'menembak' Taehyung, matanya tidak pernah meninggalkannya. Ia kemudian mulai melihat Jimin dan menyeringai. "Tapi yang ini ... yang ini penuh semangat." Tuan Kim berdiri, dan kedua pemuda itu terus menatap tanah. "Namun sama menyusahkannya dengan yang lain."

Tuan Kim berjalan dekat dengan Namjoon dan Yoongi tanpa sadar menabrak bahunya ketika mereka mendengar pintu depan terbuka, dua langkah cepat datang ke arah mereka. Hoseok dan Jungkook memasuki ruangan dan dengan cepat menjatuhkan kepala mereka, berjalan untuk berdiri di sisi Namjoon.

"Namjoon-ah, apa yang aku ajarkan padamu? Kau harus aman, bukan adil." Tuan Kim menghela nafas. "kau bisa melakukan apapun dengan kelompok sirkusmu tapi aku tidak akan membantumu bila kalian terjebak masalah, aku tidak akan menyelamatkan kalian atas apapun, bahkan bila peluru itu menancap dikepalamu," kata Tuan Kim. "Aku akan membiarkanmu mati."

Namjoon dapat merasakan rahangnya mengeras menahan emosi yang ingin ia keluarkan pada pria yang ia sebut ayah didepannya ini. Dengan isyarat tangan cepat ia meminta Yoongi dan yang lainnya pergi dari ruangan itu, Yoongi yang mengerti dengan segera menyeret Jimin dan Taehyung yang babak belur.

Tuan Kim menghela nafas keras kemudian berjalan pergi menuju ruang makan, Namjoon mengekori ayahnya dari belakang, karena setiap makan malam ia di paksa untuk duduk dan membiarkan ayahnya memarahinya.

Mereka berdua makan dalam keheningan dengan Namjoon duduk diujung meja dan Tuan Kim diujung lainnya, hanya ada suara dentingan antara alat makan dengan piring yang ia gunakan. Tuan Kim menggoyang-goyangkan wine yang ada digelasnya sebelum disesap perlahan.

"Aku mungkin tidak dapat melihat masa depan bukan berarti aku tidak dapat memprediksinya", ujar tuan kim memulai kalimatnya, ia hanya diam menggunyah perlahan dagingnya "Cepat atau lambat kau akan menyadari bila dunia bukan hal yang dapat kau harapkan kemudian kelompok sirkusmu akan sadar bila kau berubah"

"Aku bukan kau", ujar Namjoon dingin, tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya pada Tuan Kim. Tuan Kim terkekeh mencemooh "Kau mungkin bukan aku tapi kau akan tetap berubah Kim Namjoon, melampaui diriku, dunia ini kejam Namjoon-ah dan kau akan merasakannya ketika kau pergi dan menghadapinya sendiri, kau pikir tanpaku, tim sirkusmu itu akan bertahan dengan mu ? pikirkan lagi"

Tidak ada bentakan, tidak ada siksaan, hanya sebuah peringatan, peringatan yang seharusnya Namjoon dengarkan, namun otaknya terlalu penuh dengan aksi balas dendam membuatnya tidak mengindahkan peringatan itu.

Malam itu juga Tuan Kim meninggal karena serangan mendadakan yang pria itu dapatkan saat pria itu pergi kekonfrensi, setelah makan malam dengan Namjon.

Tidak, bukan Namjoon yang melakukan itu, tapi divisi lain yang merencanakan pembunuhan Tuan Kim. Dan Namjoon dalam pertama kalinya merasakan dirinya bisa bernafas bebas.

Semenjak hari itu Fold runtuh dan meninggalkan OASIS. Sebelum akhirnya Namjoon dan kawan-kawan membangun sebuah organisasi baru yang bernama WINGS.

Dan sejak itu kisah WINGS dimulai.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Lanjut baca gaes.