Lalu weekday datang menggantikan weekend. Aku tidak ingin mengeluh, tapi rasanya tidak mungkin untuk tidak mengeluh ketika aku kini harus setengah berlari untuk mengejar Wu Kris, dosenku di kelas Listening. Ini masih pagi, kelas pertamaku yang mana itu adalah kelas Professor Kria, baru saja berakhir. Tapi aku tidak puas dengan nilai yang ia berikan, sehingga aku berencana konsultasi dengannya. Namun agaknya Professor Kris itu tipikal yang tidak mau diganggu ketika sudah membuat keputusan karena dia segera meninggalkan kelas begitu melihatku berdiri menatapnya serius.

"Professor Kris," Panggilku setengah berteriak. Koridor sedang ramai dan aku tidak ingin membuat kehebohan disini, tapi aku juga tidak ingin kehilangan kesempatan protes pada Professor Kris yang masih berjalan cepat dengan tablet dan tumpukan buku di tangan.

Aku tetap mengejarnya ketika dia menyeberangi taman tengah. Ini memang masih pagi, tapi aku mendesah kepanasan di sela lariku. Dengan jalan setengah lari ini tentu saja aku kegerahan, apalagi aku mengenakan sweater seperti sekarang. Lariku kupercepat karena aku sudah melihat gedung dosen. Bisa gawat dan gagal protesku jika Professor Kris sudah masuk dan mengunci diri di ruangannya. "Professor!" Panggilku sekali lagi.

Untungnya aku mampu menyalip si dosen super tinggi itu dan membuatnya berhenti ketika kami di ujung taman. Mungkin akhirnya dia kasihan padaku yang sudah ngos-ngosan. "Professorh.."

"Nona Luhan." Dia sudah sepenuhnya berhenti dan diam mengamatiku yang bertopang lutut kelelahan.

Aku menarik nafas sebentar sebelum menegakkan tubuh dengan kepercayaan diri di tumit heelsku. "Professor, soal nilaiku tadi. Ada yang ingin kutanyakan."

"Silahkan, tapi kuperingatkan, aku tidak terima perdebatan."

Aku mengangguk dan tersenyum. Walau dalam hati ingin sekali mengumpat. "Aku berhasil menjawab 100 persen dari soal tadi, tapi kenapa Professor mengumumkan jika nilaiku 80?"

"Aku tidak puas dengan bagian B milikmu."

"Kenapa tidak puas?" Tanyaku.

"Kubilang, aku tidak menerima perdebatan, nona Luhan." Katanya tanpa belas kasih.

"Oke, maaf kuralat, apa Professor tahu jika aku sudah mengerjakan part B bagian essayku?"

Dia mengangguk singkat.

Lhah lalu apa maunya pria dingin satu ini? Tambah bikin gerah saja!

"Jadi, Prof, mesin pengoreksi juga menunjukkan bahwa aku menjawabnya serta memberiku skor 100. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa dapat 80? Maafkan aku jika kau mendengarku seperti seorang gila nilai, tapi aku butuh nilai itu." Ungkapku setengah jengkel, walau nyatanya mulutku masih mengukir senyum kecil.

Professor Kris mendengarku dan dia menatapku sedemikian rupa. Oh jangan sampai dia membeciku setelah ini. Senyumku luntur seketika.

"Oh, Professor, aku minta maaf!" Aku menunduk dan menggigit bibirku. Keringatku mengalir di dahi dan punggung, aku bisa merasakannya.

Jadi incaran dosen bukanlah hal bagus, dan sebagai mahasiswa semester 1, harusnya aku menghindari ini. Entah bagaimana cara kerja otakku tadi sampai kebablasan.

"Nona Luhan," Panggilnya dan aku mendongak takut-takut, kehilangan kepercayaan diri di bawah mata tajamnya. "Kali ini kumaafkan."

Aku mengangguk dan tersenyum, lagi. "Terimakasih, Professor Kris. Aku keterlaluan tadi."

"Kuberi saran! Lain kali kerjakan essaymu lebih cermat agar bisa memuaskanku.. dan aku sangat tidak suka dibantah." Katanya sangat cepat, lalu dia pergi menuju gedung dosen.

Aku mendengus. Professor Kris itu sebenarnya sangat tampan. Wajahnya enak dilihat dengan proporsi hidung dan bibir menarik. Dia terlihat berkompeten di umurnya. Umurnya sekitar beberapa tahun diatas Professor Sehun. Tapi poin negatifnya adalah dia terlalu strict, kaku sekalii.

Aku membuang muka dan ingin sekali menangis. Jadi dewasa sangat tidak enak, lebih enak merengek pada mama agar dia membelikanku banyak kue.

Aku berjalan dengan lesu ke bench terdekat dan meletakkan tasku dengan tanpa gairah juga. Setelah duduk sendirian di bangku taman yang terbuat dari besi itu, aku melepas sweaterku dan merasa benar-benar tidak peduli pada tubuhku yang kini terbalut dress tanpa lengan yang sebenarnya sedikit tidak pantas untuk dipakai ke kampus.

Leherku banjir keringat bekas lariku tadi dan aku mengusapnya dengan punggung tangan kiri. Tepat saat itu, aku menoleh pada gedung dosen. Walau cukup dekat, tapi aku tidak yakin dengan yang kulihat. Apa di depan pintu besar gedung itu memang benar-benar Oh Sehun?

Yang berdiri bak patung itu, sedang menatapku … benarkah Professor Sehun?

-TBC-

HAI!

So, thanks buat yg ngasih dukungan, mans. Gue bahagia bat. Juga buat reader Jeon-ah, thanks buat keceriwisan lo di kolom review.

Gue up dobel ya kali ini: chap 12 n bonus part. Bonus part bakal gue post beberapa jam ke depan karena gue lagi ada keriweuhan sekarang.