Jimin mengusap wajahnya perlahan, beharap itu sedikit 'membenarkan' keadaan dirinya yang bisa dibilang amat berantakan. Kedua kepal tangannya terasa membengkak, hampir mati rasa, kakinya bergetar hebat menahan tubuh lelahnya, bila biasanya Jimin merupakan orang yang paling mampu memalsukan emosinya, maka kali ini tidak.

Kim Jimin yang terkenal akan pembawaanya yang elegan dan berwibawa, sekarang tidak lebih dari pembunuh haus darah. Tapi memang ia tidak akan pernah bisa melepaskan dahaganya, karena itu satu-satunya cara untuk meredakan rasa sakit itu.

Rasa sakit yang membuat dirinya ingin sekali mengambil senapan dan menembakkannya ke dirinya sendiri. Sakit sekali rasanya.

Dari kejauhan Jimin dapat melihat salah seorang dari kelompok yang sekarang sedang ia lumpuhkan, berusaha bangkit berdiri, menyelamatkan diri dari salah satu malaikat kematian Bangtan.

Bila orang itu masih ada, mungkin ia akan membiarkan hati nuraninya mengambil alih dan membiarkan pemuda itu merangkakkan untuk kabur.

Tapi sayangnya hati nurani itu sudah hilang.

Jadi ia mengambil sebilah pisau yang masih tersisa di kantungnya celananya, lalu melemparkannya dengan cepat dan akurat, tepat di kepala pemuda itu, membuat tubuh itu benar-benar terdiam dengan bau amis yang semakin menyengat.

Dengan itu tubuh Jimin terjatuh ke tanah, mengambil nafas panjang

"ARGHHHHHhhhhh...!"

sebelum berteriak sekeras yang ia bisa.

Suaranya memantul keseluruh dinding basement, terdengar amat putus asa, penuh dengan rasa penuh pengharapan.

Orang lain mungkin tidak dapat melihat ekspresinya karena topeng yang ia kenakan, namun dibalik topeng itu air mata telah menetes dengan amat derasnya.

Bahunya bergetar.

Jimin tidak habis pikir bahwa Seokjin benar- benar tiada, untuk selamanya.

Mereka bahkan baru menjaga malaikat mereka selama satu tahun belakangan dan mereka sudah merusaknya.

Sungguh, Jimin amat kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga salah satu malaikatt yang sudah dengan baik hati dikirimkan para dewa kepada mereka, kepada jiwa mereka yang bahkan sudah lama rusak.

Sejujurnya ia masih tidak percaya itu, hatinya menolak mengakui bahwa Jin sudah mati, tapi otaknya terus-terusan menyatakan fakta bahwa Seokjin sudah menghilang.

Mereka sendiri yang menemukan mayatnya.

Jimin bahkan hampir tidak dapat mengenali malaikat mereka, bila bukan karena tato yang masih tampak dikulit Seokjin.

Belum lagi serangkaian autopsi yang dilakukan oleh Jungkook dan Hoseok, yang tentu saja menyatakan fakta bahwa itu memang mayat Seokjin.

Namun Jimin, namun mereka sampai kapanpun tidak akan pernah bisa menerima kenyataan itu, tidak satu tahun lagi, tidak sepuluh tahun lagi, tidak selamanya.

Jimin dapat merasakan getaran pelan dari saku belakangnya, dengan cepat ia berusaha mengelap tangannya yang berlumuran darah . Ia dengan tangan yang masih mati rasa berusaha mengambil ponselnya.

Ia dapat melihat nama Taehyung terpampang jelas, perlahan ia mengangkat pangilan itu.

"Halo ?", ujarnya dengan suara yang parau. Taehyung dengan jelas mengabaikan itu.

"Jimin, segera pulang, Jungkook memajukan acaranya besok pagi", perintah Taehyung.

"Maksudmu ?"

"Pemakaman-" Jimin dapat mendengar suara tercekat Taehyung, sebelum pemuda itu melanjutkan ucapannya "-Pemakannya diadakan besok pagi"

Jimin mematung sejenak mendengar itu.

"IS HE CRAZY ?!"

"-Jimin kumohon, there's no time for argue, aku minta kau untuk segera pulang", dengan itu Taehyung mematikan panggilannya, tidak membiarkan Jimin membalas.

Jimin terpaku menatap layar ponselnya tidak percaya.

Jungkook memang sudah gila karena terlalu sering bergaul dengan Namjoon yang memang sudah tidak waras sejak awal. Entah dari mana pemuda itu mendapatkan kepercayaan diri bahwa mereka dengan mudahnya mengadakan pemakaman untuk malaikat mereka.

Mengubur tubuh sempurna itu agar mereka tidak bisa melihatnya lagi.

Jimin mengumpulkan segala kekuatannya untuk kembali bangkit berdiri, kemudian ia menelpon anggota WINGS yang lain untuk membereskan semua kekacauan yang sudah ia buat, sebelum dengan tertatih keluar dari basement itu.

Sudah satu jam setelah acara pemakaman Seokjin, tapi Yoongi masih merasa bahwa ini semua adalah mimpi buruk dan ia hanya butuh seseorang untuk membangunkannya karena ia sudah tidak tahan.

Ini mimpi buruk yang paling mengerikan yang pernah ia rasakan.

Ia sudah berkali-kali menampar pipinya sendiri, tapi rasa sakit itu masih ada dan ia tidak juga terbangun.

Yoongi tau yang lainnya sekarang berusaha menahan diri mereka untuk pergi dan mencari pelampiasan untuk rasa sakit yang mereka rasakan, namun Yoongi tidak bisa.

Ia terus saja mondar-mandir ke seluruh bangunan mansion yang masih bersisa, tubuhnya tidak bisa diam barang seditik pun.

Minggu depan mereka sepenuhnya akan pindah ke gedung yang baru dan akan tinggal disana, jadi tidak akan ada lagi tempat yang bernama rumah, itu untuk menghindari pengetahuan musuh tentang keberadaan mereka. Namjoon tidak lagi ingin mereka berada di satu tempat dalam waktu yang lama, jadi mereka akan tinggal secara nomaden.

Sudah tidak akan ada lagi liburan atau bahkan makan siang bersama, apa lagi Yoochun dan Joonsu sampai saat ini belum di temukan, Namjoon akan terus menaikan pertahannya hingga kedua kotoran itu berhasil ia kuliti.

Yoongi berjalan perlahan memasuki kamar yang waktu itu pernah Seokjin tinggali dilantai atas, saat Jimin pertama kali lepas kendali dihadapan malaikat mereka.

Yoongi mendorong pelan pintu mahoni itu, ia dapat melihat kamar Seokjin yang bagaikan tidak disentuh karena masih sangat rapi, bagaikan tidak tersentuh.

Matanya memindai seluruh ruangan, sebelum ia melihat dipojokan kamar itu, meja kerja Seokjin terlihat sedikit berantakan.

Yoongi menyatukan kedua alisnya.

Seokjin sudah lama sekali tidak menggunakan kamar ini dan tidak ada satupun pelayan yang berani memasuki ruangan ini, jadi ada kemungkinan Seokjin yang melakukannya.

Yoongi berjalan mendekat kearah meja itu.

Ia dapat melihat kumpulan kertas berwarna-warni, pensil warna, spidol dan krayon yang berserakan disekitar meja, belum lagi bau lem yang menyengat serta beberapa kertas foto. Ia berusaha menyingkirkan tumpukan kertas itu dan memukan sebuah buku, yang sepertinya Seokjin buat sendiri.

Scrapbook buatan Seokjin.

Sampul buku itu tidak dihias berlebihan, berwarna coklat karton dengan gambar 7 stikman yang digambar asal-asalan namun tetap rapi dengan 7 warna yang berbeda pula menggunakan crayon. Bertuliskan 'Everything i wanted'.

Dengan segera Yoongi keluar dari kamar itu menuju ruang kumpul mereka.

Di ruang kumpul itu, tempat biasa mereka biasa menemani Seokjin menonton film, tapi sekarang ruangan itu tidak lebih dari ruangan sunyi.

Namjoon duduk di single sofa dengan wajah yang tidak dapat diartikan, disebelahnya ada Jungkook, Jimin dan Taehyung yang saling memeluk satu sama lain, saling menyalurkan kekuatan, lalu dikarpet bawah, Hoseok yang melipat tubuhnya dengan kepala yang tenggelam ke lutut.

Mereka semua hanya bisa terdiam mencerna hal yang baru saja mereka lalukan. Hal terberat yang pernah mereka lakukan.

"Aku menemukan sesuatu", Yoongi mengangkat tinggi scrapbook itu, mencoba menarik perhatian mereka, yang untungnya berhasil, karena sekarang ke 5 pemuda itu mengalihkan pandangan mereka pada Yoongi.

"Buku ini sepertinya buatan Seokjin dan aku tidak yakin ingin membaca ini sendirian" , Yoongi memposisikan dirinya untuk duduk dikarpet menaruh buku itu dibawah agar mereka semua bisa melihatnya.

Setelah Yoongi yakin ia mendapatkan perhatian mereka semua, ia membuka lembar pertama.

Mereka disambut dengan foto mereka ber-7, Yoongi ingat itu malam setelah mereka kembali dari bar, foto pertama mereka. Sepertinya Seokjin berencana menuliskan sesuatu karena, ia memberikan space, namun entah mengapa ia belum melakukannya.

Begitu juga dengan lembar-lembar berikutnya, penuh dengan hiasan dan foto mereka, entah itu mereka dengan Seokjin, atau sendiri atau dengan member yang lain, yang pasti Seokjin terlihat ingin menjelaskan masing-masing foto itu namuna ia tidak sempat melakukannya.

Sebelum akhirnya halaman terakhir, satu-satunya halaman yang memiliki tulisan.

Yoongi ingin muntah rasanya membaca kalimat per kalimat dari tulisan itu, suhu tubuhnya terasa menurun.

Karena rasanya seperti Seokjin masih ada dengan mereka, disini.

Tersenyum malu sambil menyerahkan scrapbook itu.

Tertawa keras atau merajuk karena mereka akan terus-terusan memujinya.

Yoongi dapat merasakan air matanya menetes deras.

Karena Seokjinnya benar-benar sudah tidak ada.

.

.

.

.

'Teruntuk, ke enam pemuda yang aku cintai.

Halo semuanya, Seokjin disini :D, kalau kalian berhasil membaca pesan ini berarti akhirnya aku berhasil mengumpulkan keberanian diri untuk menyerahkan sampah ini kepada kalian semua.

Jadi selamat untukku karena berhasil memberikannya ^^.

Pertama-tama aku ingin mengucapkan Happy Anniversary kita yang pertama, aku tau kalian sibuk :( jadi mungkin kalian tidak akan mengingatnya, lagi pula kita memang tidak memiliki tanggal tetap. Tapi bagaimanapun aku akan melaksanakannya karena bagiku itu, ini adalah hal yang patut dirayakan, karena ini sebagai sebuah pengingat bahwa kalian telah menyelamatkanku dari rasa tersiksa yang selama ini ku hadapi.

Ada begitu banyak hal yang ingin aku ucapkan di hari jadi kita yang pertama ini, tapi mungkin surat ini akan menjadi terlalu panjang, jadi mungkin lebih baik aku menyingkatnya karena aku sudah menjelaskannya di foto-foto yang ada didepan.

Jimin, kau adalah orang yang paling berkharisma yang pernah ku kenal, kumohon jangan pernah berfikir sebaliknya, jangan pernah berfikir bahwa orang-orang lebih menyukaimu yang bersembunyi itu, karena kau jauh lebih hebat dari mereka, jadi jangan takut untuk menunjukkan dirimu sendiri, bila mereka tidak mau menerimanya, aku, kami akan selalu menerima siapapun dirimu.

Hoseok, kau adalah seseorang yang selalu bersinar dan akan selalu begitu, kuharap kedepannya kau tidak kehilangan sinar itu, sinar itu lah yang membuat Hoseok yang kukenal tetap Hoseok, jangan pernah menyerah untuk itu karena tanpa ada dirimu kalian tidak akan bisa menjadi sebesar ini, meskipun aku tidak melihat itu, namun aku tau itu.

Taehyung, segala ketakutan yang kau hadapi adalah hal yang wajar jadi jangan ragu untuk menceritakan ketakukanmu padaku, karena aku akan selalu ada disini, aku tidak pernah meninggalkanmu, jadi tolong ceritakan segala keraguanmu padaku, karena aku akan selalu ada untukmu.

Yoongi, segala luka yang kau terima bukan kesalahanmu, oleh karena itu jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, ini semua bukan kesalahanmu, kau sudah cukup berjuang Yoongi, kau juga manusia yang dapat merasakan rasa sakit, kau boleh beristirahat kapanpun kau inginkan dan kau tidak boleh menyalahkan dirimu untuk itu karena kau sudah berkerja keras.

Namjoon, Kim Namjoon, Leader, kau memang seorang pemimpin namun bukan berarti kau tidak boleh mengalami kegagalan, karena disitulah tugas kami, untuk selalu bersamamu di keadaan apapun, karena kami adalah sayapmu, aku adalah sayapmu, kau bukan lagi bayangan, kau adalah dirimu, jadi jangan lagi merasa kau disini sendirian, kami akan selalu bersamamu.

Jungkook, pasangan termuda kami, namun meskipun begitu aku tau kau memiliki pemikiran-pemiikiran yang luar biasa yang melampaui orang-orang diatas usiamu, ingatlah yang membuat kau dan mereka berbeda hanya mereka lahir lebih dulu darimu, namun bukan berarti mereka memiliki kemampuan yang sama dengan mu karena kau jauh lebih bersinar dari mereka , jadi aku harap kau jangan melupakan itu, jangan lagi pernah meragukan dirimu karena kau adalah yang termuda.

Yang terakhir, ku sungguh-sungguh amat berterimakasih karena kalian telah menyelamatkan diriku, aku berterimakasih karena kalian telah memilihku untuk bergabung bersama kalian, seminggu setelah buku ini kuberikan akan ada paket bunga yang sangaaaatttt banyak, kuharap kalian jangan kaget, akan ada satu bunga palsu yang kuselipkan, tolong ingat bahwa cinta ku bertahan hingga bunga yang satu itu layu.

Salam Hangat, Kim Seokjin, yang mencintai kalian 3

.

.

P.S : tunggu surat-surat menyebalkan selanjutnya karena benar kata hii-chan menulis surat memang menyenangkan.

P.S.S: Bisakah kita menetapkan tanggal yang anniversary ? :(

P.S.S.S : Tolong setelah kalian membaca buku ini kita makan daging yang banyyaakkkkk.'

.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Guys bad news , tadinya gua mau expand lebih jauh lagi plotnya, but this semester i took full sks.

Jadi sorry guys,cerita ini berakhir disini.

Kalau ada waktu kosong gua mungkin bisa bikin side story, coment aja kalau kalian emng mau, tp bukan main plot, flashback mungkin..?

Nanti semester break gua lanjut lagi. Itu kalau kalian emng mau lanjut :v.

Dan.. saat balik nnt, gua udh nyiapin cerita Namjin juga dengan tema yg fresh, i kinda bored bikin cerita yg baku kyk gini, so stay tune :)

Love you all 3