Aku membuang muka.

Entah bagaimana reaksi Oh Sehun yang sedang berdiri bak patung di depan gedung dosen sana.

Ciuman Oh Sehun beberapa hari lalu, mengiang lagi. Aneh sekali rasanya ketika aku suka perasaan itu namun juga membencinya di saat yang bersamaan. Rasanya seperti Sehun mudah sekali membolak-balik perasaanku.

Aku mendesah dan menahan diri untuk tidak melirik pada gedung dosen. Jadi, untuk mengalihkan perhatianku, aku mencari ponselku dan segera menelfon Kyungsoo. Kupikir Sehun tidak mungkin berlama-lama disana. Dia pasti sekarang sudah pergi. Jadi, berhenti berharap Luhan!

"Kau dimana?" Tanyaku begitu kami tersambung.

"Kelas." Jawab Kyungsoo.

"Sedang ada kelas?"

"Ya, harusnya. Tapi Professor Oh tidak kunjung datang, ini tidak biasa."

Maksudnya Oh Sehun yang barusan bertatapan denganku? Aku menggeleng pelan, suntuk sekali harus direcoki oleh Sehun kapanpun. Tapi, hatiku sedikit bermasalah, karena aku juga deg-degan saat memikirkan Sehun. Konyol sekali.

"Sebentar lagi dia masuk."

"Darimana kau tahu?" Tanya Kyungsoo.

"Aku melihatnya di depan gedung dosen barusan." Terangku.

"Apa kalian barusaja-"

"Tidak!" Aku memotong dengan cepat.

"Luhan," Panggil Kyungso tiba-tiba.

"Apa?"

"Kau mau dengar saranku?"

Aku mengernyit. "Soal apa?"

"Dengar, kupikir kau harus meluruskan masalahmu dengan Professor Oh. Kalian sudah berteman sejak dulu, sangat menyedihkan jika sekarang kalian malah jadi seruwet ini."

Aku tergugu. Kyungsoo ada benarnya. Tapi... "Kau ingin membicarakan ini di dalam kelasmu? Apa dia masih belum sampai?"

"Tenang saja, aku duduk di pojokan, tidak akan ada yang dengar. Dan ya, dia belum sampai. Bagaimana menurutmu soal bicara pada Professor?"

"Tidak, aku sudah memutuskan tidak ingin berurusan dengannya lagi."

"Tapi kau suka dia."

"Sangat sebenarnya, tapi dia tidak mungkin."

"Tidak mungkin apa?"

"Dia tidak mungkin suka aku. Sangat tidak mungkin. Dia sangat rumit dan mustahil punya rasa padaku. Dan aku tidak mau menyukai seseorang yang mustahil untuk kudapatkan. Dengar Kyungsoo, kau temanku, aku hanya ingin kau tahu ini agar kau bisa mendukungku, oke? Akan kujelaskan dengan singkat karena Professormu itu bisa masuk kapan saja."

"Oke!" Dia berteriak dan aku tidak yakin benarkah Kyungsoo sepenasaran ini pada masalah ini.

"Aku berencana menikah seseorang yang suka aku," Mungkin ini memang saatnya untuk Kyungsoo tahu hal rumit yang sedang menggumpal di dalam otakku. Kyungso temanku yang cukup kusayangi. "bukan sebaliknya." Lanjutku.

"Apa?"

"Jadi yaah, soal cita-citaku jadi ibu rumah tangga, aku punya alasan yang menjijikkan soal itu. Aku yakin kau berbeda denganku, kau pasti wanita sederhana yang sangat penyayang sampai bisa punya cita-cita macam itu. Tapi aku tidak, ada sesuatu…" Aku menahan nafas sebentar, memikirkan hal ini membuatku jadi lemah. Makanya aku jarang dan nyaris membatasi diriku untuk memikirkan hal ini.

"Oh, Luhan... tenangah. Kau bisa cerita padaku kapan saja. Jangan menangis dulu sekarang, aku tidak ada disana untuk menelap ingusmu."

Lalu aku mendengus. "Aku tidak nangis, pendek! Siapa juga yang nangis. Kau yang tenang, ini masalah biasa kok. Oh iya, lalu soal Oh Sehun, kutekan lagi, dia adalah orang yang tidak mungkin suka aku. Sudah titik."

"Ya, kau sudah bicara soal itu entah berapa kali. Tapi bagaimana bisa dia tidak mungkin suka kau? Dia mungkin saja kok."

Benarkah Sehun mungkin suatu saat nanti akan suka aku?

Aku tiba-tiba terbersit hal gila. "HA! Betul juga, dia mungkin saja suatu saat nanti akan suka aku, Soo-ya! Siapa sih yang tidak akan suka aku? Terlebih aku suka dia, tidak masalah aku mau nikah sama siapa nanti. Hanya, pikirkan, masa iya aku akan melewatkan pria se-hot dosenmu itu? Tidak akan!" Aku tertawa penuh kelegaan dan rasanya keringatku yang tadi banjir di leher dan punggung bekas lari, sudah surut terkena angin semilir yang entah dari mana.

"Luhan," Kyungsoo memanggilku. "Ternyata kau permepuan hipokrit. Bukankah kau baru saja bilang tidak, dan sekarang kau kedengaran seperti maniak."

Tawaku semakin keras.

Ini hanya perwujudan dari rasa lega ketika aku menemukan solusi untuk gumpalan masalah yang berasal dari Oh Sehun. Ternyata jawabannya sangat mudah!

"Oke, kumatikan oke? Aku harus menghubungi Sehun."

"Tunggu!" Cegah Kyungsoo.

"Apa?"

"Apa ini artinya kau menyetujui saranku untuk bicara dengannya?"

"Ya,"

"Kenapa?"

"Karena itu ide brilian! Kirimi aku nomornya!" Lalu aku mematikan sambungan dengan Kyungsoo. Pesan Kyungsoo berisi nomor Professor Oh datang selang beberapa detik.

Aku mengetik pesan untuk Sehun.

[Sehun, aku Luhan. Kita perlu bicara.]

-LINE BREAK-

Balasan dari Sehun pada pesanku tidaklah lama. Ini membuatku terkejut sampai duduk tergagap di taman. Kupikir akan butuh waktu lama, mengingat Sehun sedang di perjalan menuju kelas Kyungsoo. Atau mungkin ini hanya persepsi sepihakku saja?

[Ada apa?]

Begitu balasan Sehun. Pesannya singkat dan membuatku sedikit nostalgic dengan masa lalu. Ketika aku masih kecil dan sangat dekat dengan Sehun. Dia selalu ramah, bahkan di dalam pesan pun, dia selalu tersenyum dengan emoticon. Sehun sangatlah manis dan tipeku sekali. Tapi sekarang Sehun kelihatan sangat susah dijangkau.

[Apa kau mau makan malam bersamaku? Ada yang ingin kukatakan padamu.]

[Tidak bisa, tapi siang ini aku kosong.]

Apa? Siang ini?

Aku tidak siap jika harus ketemu Sehun siang ini! Aku perlu siap-siap ke salon dulu.

[Aku ada kelas siang] Maka terpaksa aku harus berbohong. Tentu saja aku tidak mungkin makan dengan Sehun lagi dalam keadaan compang-camping seperti tempo hari. Kali ini aku akan mengerahkan segala usahaku untuk membuat Sehun terkesan padaku. Aku Cuma ingin lihat bagaimana reaksi orang yang kusuka dengan dandanan superku.

[Kau bercanda?]

Itu balasannya pada kebohonganku.

Lhah, apa maksudnya? Apa dia tahu aku bohong? Tidak mungkin, memang dia tahu dari mana? Apa mungkin dari Kyungsoo, tapi tidak mungkin. Sepertinya pilihanku untuk berbohong pada Sehun buruk juga. Kalau aku ketahuan bohong, dia bisa marah lagi.

[Ya, aku bercanda ehehe. Baiklah ayo nanti makan siang sama-sama.]

Yah, bohong memang tidak bagus.

Aku tidak menunggu balasan Sehun, jadi aku segera memasukkan ponselku ke dalam tas dan segera memakai lagi sweaterku. Beberapa menit lagi kelasku selanjutnya di mulai.

-TBC-

LUHAN UDAH LULUH, the fluff is gonna cooome. Btw, sorry im late.