GENGS PERINGATAN, chap ini full HunHan.. n i do absolutely like write this pffft, so hope u enjoy!
-Let'sBurnThisGirl 2018-
.
.
.
Siangnya, aku keluar kelas lebih dulu dari siapun setelah dosenku. Aku akan akan makan siang dengan Sehun, dan aku tidak sabar. Tapi aku tidak menyangka akan menemukan Sehun berdiri di pintu dekat kelasku. Mungkin dia sempat membalas pesanku dengan ajakan jemputan, tapi aku belum memeriksa ponselku sejak tadi. Jadi, bisa saja aku melewatkan pesannya.
Aku menatap Sehun yang juga sedang menatapku. Manusia satu ini sangat indah padahal dia hanya berdiri dengan tangan di saku celananya. Namun aku tahu dia berdiri begitu saja bisa sangat menjual. Bahkan aku tidak heran ketika menemukan kerumunan gadis di tidak jauh dari Sehun dan sedang berbisik.
"Luhan," Panggilnya yang nyaris kubalas pelototan mata. Apa dia serius akan menggandengku di kampus? Maksudku menyapa.. bukan menggandeng. Sehun biasanya akan mengabaikanku ketika kami bertemu di kampus, seperti biasa. Lalu apa bedanya dengan hari ini?
"Professor Sehun." Aku menghampirinya dan untung saja otakku masih ingat bagaimana harusnya aku menyapa professorku.
Sehun menatapku atas bawah, yang mana tidak kupahami tujuannya apa. Pakaianku kurasa baik-baik saja. Walau, mungkin, Sehun tadi sempat melihatku di taman dengan dress tanpa lengan yang cukup provokatif, tapi aku sekarang aku sudah mengenakan kembali sweaterku. Tidak ada yang salah, kurasa.
"Mari, ikuti aku." Kata Sehun dengan suara dingin.
Sialan, Sehun si dingin sedang mode on.
Aku membenarkan letak tas tanganku dan mengangguk simpel. "Tentu,"
Kemudian dia berjalan terlebih dahulu sementara aku mengikuti langkah pelannya. Aku menggaruk hidungku dalam diam, mencoba menutupi seulas senyum. Punggung Sehun yang ada di hadapanku sangat menggugah selera. Layaknya pohon jati yang menjulang, aku ingin bergelantungan disana.
Kami masih berjalan dalam diam sampai keluar dari keramaian gedung fakultasku. Aku yang tidak betah diam, berucap, "Aku bisa menunjukkan tempat makan siang kita. Ikuti saja mobilku."
Rambut kecoklatan Sehun yang klimis bergerak ketika dia menoleh padaku. Dia masih berjalan dengan pelan. "Kau naik mobilku saja."
Aku tertawa kecil, menertawakan basa-basiku yang bersambut baik. Wajah Sehun sudah tidak kaku. "Baiklah!" Aku bahkan nyaris berjalan sambil meloncat-loncat saking senangnya.
Kami sampai di mobilnya yang berwarna hitam gagah. Aku membuka obrolan lagi ketika dia melepas jasnya dan memasang sabuk pengaman. "Kau tahu, sebenarnya siang ini aku berencana pergi ke salon. Tapi mau bagaimana lagi, kau kosongnya hanya siang ini. Sedangkan aku benar-benar harus bicara denganmu."
Sehun menatapku dan tidak kunjung menyalakan mobilnya. "Kuantar kau ke salon dulu jika kau mau."
"Kau serius?"
"Kenapa tidak?"
"Wah keren! Baiklah, akan kuhubungi salonku dulu!" Aku tersenyum lebar dan mencari ponselku di dalam tas. Yang mengejutkanku dan membuatku mendongak adalah ketika aku merasakan sebuah usapan di pipiku.
Sehun mengangkat tangan kirinya dan jemari kokoh itu sekarang sedang berada di sekitar rahang dan pipiku.
"Ada apa?" Aku bertanya dengan mataku berada di matanya yang menyiratkan sesuatu.
"Kupikir kemarin adalah terakhir kalinya aku akan melihatmu."
Aku menyeringai. "Itulah yang akan kita bicarakan. Tapi nanti, sekarang antar aku ke salon dulu. Aku sudah tidak sabar!"
"Gadis manis yang sedang hyper, eh?" Dia mengulas sebuah senyum yang baru pertama kali kulihat di hari ini.
Senyumnya sangat tampan.
Mungkin dia jelmaan malaikat.
-LINE BREAK-
Kami sampai di salon langgananku 20 menit kemudian. Di kurun waktu itu, aku berhasil membawa diriku sebaik mungkin dengan melontarkan beberapa celoteh tentang Kyungsoo dan Ms. Baekhyun. Menurutku hanya itu obrolan aman kami. Sehun kelihatan cukup aktif dengan tertawa dan ikut menggosipi Ms. Baekhyun yang katanya hobi menyalakan speaker musik dan bernyanyi keras-keras di ruangannya sampai membuat dosen lain menggerutu.
Aku tertawa dan meloncat keluar dari mobil Sehun. Dia mengekoriku ketika aku mendorong pintu kaca salon dan juga ketika aku berjalan ke resepsionist.
"Selamat siang." Sapa si perempuan rapi yang menjaga posnya.
"Selamat siang. Atas nama Luhan, please."
Aku melihat perempuan itu mengangguk dengan senyuman ramah dan menunduk pada layar monitornya. "Selamat datang kembali, nona Luhan." Katanya setelah selesai memastikan pesananku.
"Terimakasih." Kataku, lalu aku berbalik pada Sehun. "Ayo, aku hanya akan mencuci dan menata rambutku. Ini tidak akan lama."
Sehun mengangguk, "Apa yang biasa kau lakukan disini?"
"Banyak! Biasanya pijat, scrub, dan lain-lain. Kau juga bisa mendapat pelayanan jika mau." Aku menggiring Sehun untuk berjalan memasuki ruangan lain dimana disana kebanyakan berisi wanita. Beberapa sedang mendapatkan steam rambut.
"Bukankah biasanya wanita yang pergi ke salon?" Tanya Sehun.
Aku menggeleng dan tertawa. "Tidak tentu saja. Laki-laki juga pasti butuh pijatan, kau juga butuh pijatan jika lelah dengan pekerjaanmu, kan?" Aku pergi ke salah satu kursi di depan cermin yang kosong, yang mana disana aku disambut seorang laki-laki yang memang biasa menata rambutku. Namanya Jeonghan. Dan aku juga menepuk kursi di sebelahku yang kebetulan kosong pada Sehun. "Kau duduk sini saja."
Sehun yang awalnya akan menunggu di kursi tunggu di belakangku, merubah haluannya. "Aku akan ke tempat pijat daripada salon."
Aku meletakkan tasku di meja dan melihat Jeonghan yang terkikik. "Kau dengar itu? Dia belum tahu jika salonmu menyediakan perawatan kulit juga selain pijat." Kataku pada pria berambut panjang yang berdiri di belakangku sambil mencuci rambutku.
"Aku bisa memijatmu dan menghaluskan kulitmu disaat bersamaan, tuan." Ucap Jeonghan dengan suara lembutnya.
Aku melirik Sehun yang menatapku. "Tidak." Jawabnya singkat. Dasar apatis.
Aku menutup mataku ketika Jeonghan memijat kepalaku di sela kucuran air. "Lebih baik kita jangan mengganggu dia, dia bisa memelototimu dengan mata lasernya jika kau membuat moodnya buruk."
Aku mendengar Sehun mendengus keras. Siapa suruh sering sekali menatapku dengan mata dinginnya ketika kami papasan di kampus. Aku tidak ingin salah paham, tapi Sehun selalu saja membingungkan dengan sikap kakunya yang kadang berubah jadi gentle. Kadang dia berlaga seperti tidak kenal aku, kadang berlaga seperti aku adalah satu-satunya yang ia perhatikan. Selalu saja membuatku salah paham. Mungkin dia tidak suka padaku.
Tapi sekarang aku sudah tidak peduli itu.
Aku sudah memutuskan. Aku hanya ingin menikmati masa mudaku. Dan bebas menyukai Sehun tanpa memikirkan apapun lagi.
"Kulihat kau bertengkar dengan Kris di taman." Suara Sehun membuatku membuka mata perlahan, tapi kemudian aku menutup mata lagi saat tangan terampil Jeonghan membilas rambutku. Aku sudah mampu mencium bau rambutku yang memabukkan.
Aku tertawa ringan. "Bukan bertengkar... Mana mungkin aku mencari gara-gara dengan Professorku. Kami hanya bicara."
"Apa yang kalian bicarakan? Kris kelihatan frustasi saat berpapasan denganku."
Aku mengernyit. Benarkah Professor Wu marah? "Dia marah?" Mataku terbuka dan aku menatap Sehun yang duduk menghadapku dengan tumpuan siku untuk kepalanya. Aku menahan desir di dadaku yang merasa cantik di tatap seperti itu oleh pria tampan.
Jeonghan menyentuh leherku pelan dan aku menyadari bahwa dia sudah selesai mencuci rambutku. Sekarang waktunya mengeringkan dan menata rambutku.
"Jangan khawatir, dia memang tempramen. Kau bukan satu-satunya yang membuatku sering menemukannya uring-uringan."
"Syukurlah. Kupikir aku akan jadi budaknya. Kau tahu, dia tadi buru-buru kabur ketika aku akan mengajaknya bicara. Kelihatan seperti tidak suka padaku, padahal biasanya dia menyuruh-nyuruhku jadi sukarelawan mengumpulkan paper ke ruangannya."
"Dia memang suka memerintah. Jadi, apa yang kau bicarakan dengannya?" Tanya Sehun dengan nada lebih menuntut.
"Hanya soal nilaiku. Dia memberikan nilai yang tidak sinkron dengan yang diberikan scannernya, nah makanya aku protes. Tapi dia tidak menerima perdebatan katanya, jadi katakan saja kami tadi cuma ngobrol."
Aku melihat Sehun mengangguk puas dengan jawabanku.
"Hei," Panggilku.
"Apa?"
"Professor Wu sudah punya pacar?"
Aku melihat alis Sehun yang tebal itu mengerut. "Apa maksud pertanyaanmu?"
"Apa? Aku cuma ingin tahu apa dia sudah punya pacar atau belum." Aku mengendikkan bahu, merasa bahwa walau pertanyaanku sedikit kurang ajar jika menyangkut obrolan soal dosenku, tapi kupikir inilah obrolan lumrah bersama temanmu. Ditambah reaksi Sehun harusnya biasa saja. Harusnya sama biasanya seperti ketika dulu aku sering curhat padanya.
"Dia punya tunangan." Itu jawaban Sehun.
Aku tersenyum. "Ah, tentu saja pasti karena itu."
Kali ini Sehun mengernyit lagi padaku. "Apa?"
"Kau tahu, kurasa itulah alasan dia selalu labil. Di kelas, dia bisa jadi ramah dan penuh guyonan garing, tapi kadang dia juga bisa jadi menyebalkan seperti tadi pagi ketika merendahkan skorku. Ini semua pasti ada alasannya dengan pacarnya. Dia orang yang melankolis, mungkin bucin, aku sudah menebak itu sejak awal."
Mendengar jawabanku, dia tertawa. Tawanya kedengaran renyah dan wajahnya melembut, membuatnya jadi berlipat-lipat lebih tampan. Aku bahkan menemukan beberapa wanita yang sama sepertiku sedang mendapatkan perawatan rambut, melirik Sehun dengan wajah terpukau.
Oh, Sehun. Sudah berapa kali kau mempesona para wanita di hari ini? Dan aku jadi penasaran sudah berapa banyak gadis yang kau buat merona hanya dengan kehadiranmu setiap harinya.
"Darimana kau tahu kalau dia sudah bertunangan? Apa mereka baru-baru ini menggelarnya?" Tanyaku.
"Dia pernah cerita, karena kami sering minum bersama."
"Rambutmu sudah selesai, Luhan." Lalu Jeonghan menyela kami dan aku menoleh pada cermin di hadapanku. Aku menemukan seorang gadis dengan make up yang sudah hampir pudar, tapi tatanan rambutnya kelihatan segar. Rambutnya lurus tergerai dengan sedikit keriting mengeper di ujungnya. Saat aku tersenyum, gadis cantik di cermin itu juga tersenyum. Senyumku melebar dan aku menatap Jeonghan dengan terharu. "Indah sekali sampai aku tidak tahu apakah rambutku bisa lebih indah dari ini, Jeonghan. Terimakasih!"
Jeonghan menyisir poniku dengan senyuman lebar. "Sebuah kehormatan bagiku bisa menata rambutmu, tuan puteri. Pesta sudah menanti!" Lalu Jeonghan meletakkan sisirnya ke meja setelah selesai.
Aku berdiri dan memberinya sebuah pelukan singkat. "Aku akan kembali untuk mengecat rambutku. Sampai jumpa lagi!"
Tangan Jeonghan merangkulku dan aku segera melepaskan diri. Aku meraih tasku dan melambai sambil berjalan mundur. Sehun tanpa kata berjalan mengiringiku.
Aku merasakan bahuku bersentuhan dengan lengan Sehun. Jujur saja, hal ini membuatku nyaris ingin mengubur diri ke dasar bumi sakin deg-degannya.
"Hmm," Aku berdehem membersihkan tenggorokan sekaligus otakku yang mulai tidak lurus. "Tempat makan yang rencanaku mau kudatangi ada di arah berlawanan dari salon ini. Mungkin kita harus cari yang paling dekat saja. Waktu siangmu sudah terpotong banyak hanya untuk menungguku." Kataku.
Aku sedang berjalan menuju pintu kaca salon ketika petugas yang tadi menerima penasanku, memanggil. "Nona Luhan, tagihannya." Ucapnya.
Dan seketika itu juga aku menepuk dahiku keras-keras. Bodoh sekali aku melupakan bagian bayar membayar. Sehun yang ada di sampingku tertawa.
Aku merasakan pipiku terbakar dan malu luar biasa, tapi entah mungkin aku terlalu aneh atau bagaimana, aku malah tertawa keras. "Maafkan aku, aku lupa!" Aku berlari menghampiri meja tinggi resepsionist dan dua wanita yang berjaga disana, hanya tersenyum maklum. Ini benar-benar konyol, Luhan! "Aku lupa jika harus membayar, ya Tuhan! Biasanya kan aku selalu ngacir ke mobil setelah selesai."
"Bukan masalah besar, nona. Anda sudah biasa kemari dan termasuk pelanggan tetap. Jikalau anda ingin melakukan tagihan di akhir, kami juga menyediakan sistem tersebut. Bagaimana menurut anda?"
Aku menggeleng. Tawaku masih mengudara walau rasa maluku juga masih meraja. Rasanya seperti hampir saja kau diteriaki dengan julukan pencuri. "Tidak, aku akan bayar sekarang!"
Aku mendengar Sehun berucap, "Lucu sekali kau, gadis manis."
Aku menatapnya tajam. "Tidak, ini konyol, bukan lucu lagi. Sehun, berhenti tertawa! Ak-aku hanya selalu kemari bareng Rena dan dia selalu jadi satu-satunya yang membayar. Aku terbiasa langsung ke mobil ketika selesai, jadi ini hanya karena refleks, oke? Hanya karena kebiasan, ya kebiasaan. Jangan beritahu siapapun soal ini!"
Sehun menghentikan tawanya dan menatapku serius. "Apakah ini isyarat agar aku mengeluarkan dompetku untukmu?" Tanyanya.
"Tidak, jangan keluarkan dompetm-!" Aku nyaris menganggapnya serius ketika kilatan jahil di mata Sehun membuatku menganga. "Sialan, kau mengerjaiku! BERHENTI TERTAWA!" Seruku ketika Sehun menertawakanku lagi.
Aku cemberut sambil mengeluarkan dompetku dari tas dengan kasar. Perasaanku sekarang adalah perpaduan antara merasa idiot karena mempermalukan diriku sendiri di depan gebetan dan juga senang karena mampu membuat gebetanku tertawa bahagia.
Sungguh, perasaan yang semacam ini sangatlah membingungkan dan menyenangkan disaat yang bersamaan. Satu hal yang pasti adalah aku tidak merasa rugi membiarkan diriku suka lagi pada Sehun.
Ya, semoga.
-TBC-
