"Kau yakin tentang ini?" Tanyaku dengan langkah ringan. Karena aku meninggalkan tasku yang penuh buku di mobil Sehun dan rambutku sudah tertata dengan baik sehingga membuatku mampu berjalan penuh gaya dengan dagu terangkat.

Sehun sedang mendorong troli yang penuh belanjaan sayur. Jika aku boleh menambahkan, Sehun dengan kemeja hitam dan celana bahan yang menunjukkan seberapa jenjang kakinya itu amatlah tampan dan keren ketika mendorong troli. Benar-benar pria idaman perempuan manapun. Rasanya bodoh sekali aku dulu sampai terpikir akan melewatkan pria gagah nan sempurna ini.

"Maksudmu tentang melupakan restoran pilihanmu dan makan siang di apartemenku?" Tanya Sehun. Dia menoleh padaku ketika kami sampai di deretan daging segar.

Benar, ini tentang makan siang kami.

Setelah kami keluar dari salon dengan kejadian memalukan yang membuat aku menggerutu pada seberapa tidak pengertiannya tawa Sehun yang tidak berhenti, Sehun masih saja mengerjaiku dengan mengatakan jika kita harus makan di apartemennya. Well aku masih berpikir itu adalah lelucon Sehun sampai dia benar-benar membawaku ke supermarket yang kami lewati. Dan disinilah kami.

"Kita bisa makan di restorant dan menghemat waktu. Kenapa harus repot-repot belanja dan masak?"

Aku melihat-lihat daging yang ada di rak dan mengambil satu pack daging ayam untuk kulihat lebih dekat. Sedangkan Sehun mengangkat daging sapi. "Karena kemarin aku belum sempat membawa makananmu ke apartemenku. Bagaimana dengan daging sapi? Kau bisa memasaknya?"

Wah rupanya Sehun masih marah soal ucapanku tempo hari. Pendendam juga dia.

"Jadi kau akan menyuruhku memasak di tempatmu? Jujur saja, apa kau marah padaku? Jika iya, sebenarnya kau marah karena apa?

"Kupikir kita akan membahas ini setelah makan." Kata Sehun dengan lirikan mata jahil yang ingin sekali kutimpuk dengan daging di tanganku.

"Tidak, kubilang tadi, kita akan membicarakan ini nanti. Jadi katakan padaku sekarang." Tuntutku. Tentu saja aku masih penasaran dengan mengapa Sehun marah tempo hari ketika aku membahas tentang sebuah ciuman yang kudapat di malam aku mabuk dan bertemu Sehun di lift.

Sehun meletakkan daging di tangannya dan menatapku tidak tertarik. Itu benar-benar sejenis tatapan tidak tertarik yang membuatku cukup rendah diri. "Aku tidak marah padamu."

Aku mengernyit. "Lalu kenapa kau pergi tanpa pamit? Apa kau tidak punya sopan santun?" Bahkan dia membanting pintu, seingatku.

Mulutku memang keterlaluan untuk ukuran mahasiswi yang sedang bicara dengan dosennya. Aku yang tidak punya sopan santun. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur keluar juga ucapanku.

Aku melirik Sehun dari ekor mataku, dia sedang menatapku, masih dengan tatapan datarnya. Lalu dia berucap, "Aku tidak marah padamu. Bagaimanapun inginnya aku, percayalah, aku tidak bisa marah padamu."

"Kenapa tidak?" Dan aku tidak percaya pada ucapannya. Dia marah padaku. Kyungsoo yang punya potensi apatis itu saja juga menyadari kemarahan Sehun padaku.

Mulut adalah sumbernya kebohongan. Aku mengenal hal itu dengan baik, tapi tidak dengan mata. Mata selalu jujur, sekalipun tidak tidak bisa berucap. Dan ketika aku berusaha menangkap mata Sehun dengan mataku, aku tahu ada sesuatu di diri Sehun yang ingin ia buka padaku namun tertahan sesuatu. Aku tidak yakin dengan asumsiku, tapi kupikir itu akan bagus jika ini adalah pertanda Sehun suka aku.

Sehun membuka bibir tipisnya, dan aku mengamati hal itu dengan seksama. "Karena kau akan selalu jadi gadis manis.. dan aku akan selalu menahan diri."

-LINE BREAK-

Jawaban Sehun yang menyebutku selalu jadi gadis manis itu membingungkanku. Aku tidak mengerti kenapa aku akan selalu jadi gadis manis sementara aku sudah dewasa sekarang. Aku sudah cukup umur, bahkan untuk hal dewasa yang ingin sekali kutapak.

Jujur saja, aku juga ingin menyentuh hal-hal berbau dewasa selain alkohol yang memang sudah kucicip sejak aku 18. Aku ingin punya pacar dan melakukan hal-hal intim pasangan roman, hanya saja, aku selalu takut punya pacar. Saking takutnya, aku dulu sempat kepikiran tidak ingin menikah saja. Jauh-jauh dari hubungan serius bersama pria manapun. Kupikir aku tidak butuh suami ketika aku punya banyak teman pria yang akan melindungi dan menghiburku… tapi itu bukan pikiran yang realistis. Aku tidak mungkin tidak akan punya suami. Rena pasti tidak akan setuju dan dia akan melakukan segala cara untuk membuatku menikah, maka tekadku untuk punya suami yang cinta mati padaku menjadi prioritas. Aku akan menikah, walau hal itu masih menakutiku.

Dan jawaban Sehun barusan masih sangat membingungkan untukku. Aku sudah dewasa dan kepikiran menikah sekarang, aku tidak mungkin jadi gadis manis selamanya. Aku akan jadi wanita yang sudah tidak gadis ketika aku menikah. Dan tentu saja aku tidak akan jadi manis lagi. Aku akan jadi cantik dan anggun, serta sempurna.

"Hey, Sehun." Aku mengangkat kepalaku dari panci berisi saus yang sedang kuaduk dan menoleh pada Sehun yang sedang menggoreng ayam disampingku. "Apa maksudmu dengan kau menahan diri tadi?"

"Ya menahan diri... menahan diri untuk menjadikanmu budakku."

Aku menganga dan menghentikkan tanganku yang sedang mengaduk sedari tadi. "Apa kau bilang?!" Sehun pasti sedang bercanda. Kulihat ia membalik ayamnya dan aku segera mengecilkan api komporku dan mengambil alih penggorengan Sehun. "Ini gosong, tahu!" Raungku sambil meniriskan dua potong ayam yang tadinya digoreng Sehun dan sekarang berwarna coklat tua nyaris hitam.

Kelihatannya kemampuan memasak Sehun dibawah rata-rata. Masa menggoreng ayam saja tidak bisa.

Sehun mundur dan berdiri tepat di belakangku. Aku merasakan tubuh depan Sehun menempel pada tubuhku. O-ow ini tidak bagus. Jantungku mulai berdentak tidak karuan dan aku mendengus kasar sebelum memasukkan beberapa potong ayam lagi ke minyak panas.

Aku menahan diri untuk tidak merasakan betapa liat otot dada hasil ngegym Sehun dengan punggungku yang lumayan sensitif.

"Kau mau jadi budakku, Luhan?" Aku merasakan bulu leherku meremang mendengar Sehun mengucapkan namaku dengan nada lambat. Dan bagaimana bisa aku membayangkan sesuatu yang menggairahkan ketika Sehun menyandingkan namaku dan kata budak dalam satu kalimat. Sialan sekali, otakku sangat kotor!

"Tidak mau tentu saja. Aku terlalu pintar untuk jadi pembantu dapur yang harus selalu kau mintai makanan." Kataku sambil melirik tangan Sehun yang sekarang mulai menggerayangi pinggangku yang berbalut apron berwarna pastel milik entah siapa, mungkin budak Sehun…

...maksudku pelayan Sehun.

"Kau memang gadis yang pintar, dan kau tahu betul makna budak yang kumaksud." Sehun berucap dengan tangannya yang sekarang benar-benar meremat apron dan sweaterku.

Oh Tuhan, aku ingin sekali pingsan!

"Tidak! Aku tidak tahu dan berhenti menggangguku, aduk sausnya jika kau memang kurang kerjaan. Pastikan itu matang kali ini, bukan gosong!" Aku menyikut perut Sehun dan dia melepaskanku sambil terkekeh.

Untung saja aku lepas dari serigala itu!

Aku diam-diam mendesah lega ketika dia kini berdiri di sampingku sambil mengaduk saus untuk ayam yang tadi sudah kuolah dan tinggal menunggu matang.

Jadi, ketika di supermarket tadi, aku lebih memilih memasukkan ayam yang ada di tanganku. Aku bilang aku sedang ingin makan ayam, yang mana itu hanya alasan untukku menghindari daging sapi yang aku tidak tahu cara mengolahnya. Aku belum belajar tentang itu. Dan dapur yang serba warna abu ini benar-benar milik Sehun. Aku tidak percaya ini adalah saat dimana aku berkunjung ke rumah seorang pria, pria tampan yang keren jika aku boleh menambahkan.

"Kali ini tidak akan gosong," Kata Sehun dengan suaranya yang husky. Aku menoleh dan menyipit pada Sehun. Separuh tidak percaya. Sehun juga menoleh padaku dan dia tersenyum hangat. "Aku jamin."

Dan aku merasakan jantungku yang sempat rileks itu kini berkontraksi lagi ketika melihat senyun menawannya.

Bagaimana bisa ada manusia setampan ini?

-TBC-

JANGAN tanya kenapa gue update cepet wkwk. Gue sayang kalian, wahai para pembaca setia, itu yg harus kalian tau!