"Baiklah, itu sudah matang. Matikan kompornya, Sehun." Kataku setelah aku mencicipi saus yang sedang diaduk Sehun dengan pelan.
"Oke." Sehun mematikan kompornya sesuai instruksiku dan kemudian berdiri diam tidak tahu harus apa.
Aku mengabaikannya dengan mengangkat mangkuk berisi sayuran segar yang sudah kucuci dan ayam yang baru saja kugoreng. Lalu aku mengguyur ayamnya dengan saus hitam yang sudah matang. Saus hitam dari kecap yang manis dan sedikit kutambahi asam ini harusnya sangat enak di makan dengan ayam dan nasi panas. Aku baru belajar memasak ini sebulan lalu. Dan sudah melakukan 3 kali percobaan yang semuanya memuaskan lidah Kyungsoo. Itu bagus, teramat bagus. Karena sebenarnya Kyungsoo itu critical sekali dan juga pemilih. Jadi, aku tidak ragu dan lumayan percaya diri ingin menunjukkannya pada Sehun.
"Yes! Sudah matang semua. Saatnya makan!" Aku berseru senang pada Sehun yang juga sedang tersenyum ramah. Kuulurkan mangkuk berisi lauk di tanganku ke tangan Sehun. "Aku akan mengambilkan nasi untuk kita. Kau tunggu saja di meja makan dengan tenang, oke?"
Aku melihat Sehun mengangguk santai dan mulai beranjak ke meja makan yang tidak jauh dari pantry. Dapur Sehun dan dapur apartemenku tidak memiliki tatanan yang berbeda. Meja makannya sama-sama terletak di dekat pantry. Yang beda hanya warna perabotan dan bentuk meja makannya saja. Meja makan milik Sehun adalah meja makan minimalis yang hanya muat dua orang.
Yang mana sebenarnya aku malah membayangkan dinner dengan cahaya-cahaya lilin di atas meja itu, serta Sehun dan aku duduk berseberangan dan saling menatap dengan romantis. Tapi kelihatannya itu hanya ada dalam imajinasiku.
Sehun sudah duduk di kursi dengan peralatan makan lengkap di depannya, dan dia menoleh padaku kemudian. Aku tersentak dan terburu-buru meraih dua mangkuk nasi yang sudah di ambilkan Sehun dari rak. Aku memunggungi Sehun ketika aku mengambil nasi dari rice cooker.
"Aku suka melihatmu masak di dapurku." Aku mendengar Sehun berucap, rasanya aku tahu pria tampan itu sekarang sedang menatap punggungku walau aku tidak menoleh. Sialnya membayangkan hal itu membuatku grogi. Aku merona tanpa bisa di tahan dan dalam hati aku juga mengiyakan bahwa aku juga suka masak di tempat Sehun.
"Aku juga suka masak disini. Peralatanmu cukup lengkap untuk ukuran pria dewasa yang menggoreng ayam saja tidak bisa." Candaku. Entah darimana nyaliku sampai mampu melempar lelucon ketika pipiku merona parah dan jantungku berdegup kencang.
Ketika aku sudah selesai dengan dua mangkuk penuh nasi, aku berbalik dan berjalan ke meja makan, aku menahan rona di wajahku dan semoga itu berhasil. Mata elang Sehun mengikuti gerakanku dan bibirnya menampilkan sebuah senyum menawan. Aku jatuh cinta!
Oh Tuhan, semoga pipiku tidak merona lagi.
"Mungkin kau memang harus sering-sering memasak untukku."
Aku duduk di seberang Sehun dan menyadari kursi makan Sehun lebih empuk dari kursi makanku. Mungkin Sehun memang benar sering makan di luar dan kursi ini jarang digunakan. "Jika kau memaksa, baiklah." Ucapku sambil mengerling padanya dan menyalurkan mangkuk nasi miliknya.
Lalu kami meraih sumpit kami bersamaan, tanpa diduga. Sontak hal itu membuatku tertawa dan Sehun terkekeh. Kami jodoh, semoga saja! Aku berdoa dalam hati dan sudah kegirangan dengan hal remeh semacam ini.
Aku melanjutkan gerakan sumpitku dan mengambil sepotong ayam di mangkuk besar, untuk kemudian kuletakkan di mangkuk kecilku dan kucicip pelan-pelan. Rasanya sempurna seperti bayanganku.
Aku tersenyum semakin lebar, dan ketika Sehun mengambil bagiannya, aku tersenyum lebih lebar lagi. Sehun pasti sekarang bisa mencicipi kemampuan masakku yang tentu saja lebih enak dari yang pernah ia coba dulu, karena usahaku untuk ini lebih besar.
Tempo hari saat memasak risotto, aku hanya asal masak saja -kan aku tidak tahu jika yang memakan masakanku saat itu bukan hanya aku dan Kyungsoo- dan kali ini Sehun harus bisa mengapresiasi hasil latihanku jadi istri idaman selama ini. Terlebih kali ini aku masak dengan keadaan sudah mandi dan rambutku sudah cantik. Yahh.. walau itu tentu saja tidak ada kaitannya dengan rasa masakanku.
"Rupanya kau tidak hanya pintar di buku, kau jago masak juga, gadis manis. Katakan padaku, apa cita-citamu?" Sehun mengucapkan kata demi kata dengan sebuah senyuman hangat. Aku ikut tersenyum karena merasa bangga pada diriku sendiri.
Aku mengunyah makanku sebentar sebelum menjawab Sehun. "Setelah mendengar pujianmu, mungkin aku akan jadi chef. Bagaimana menurutmu?"
"Jadi chef pribadiku saja mau tidak?"
Mendengar respon Sehun, aku tidak bisa menahan senyum gilaku. "Kau tahu, aku sudah biasa makan bersama banyak orang. Rena, Kyungsoo, teman-temanku.. tapi ternyata makan bersamamu lebih asyik." Ucapku jujur. Ini sedikit memalukan sebenarnya, tapi memang benar adanya ketika aku suka sekali makan bersama Sehun. Dia seperti… selalu punya cara untuk membuatku tersipu.
"Apa karena aku tampan?" Tanya Sehun dengan nada jahil di suaranya.
Oho, dia narsis juga.
"Ya, karena kau pria tampan dan keren dan juga terus-terusan memujiku. Aku suka itu."
"Kau suka dipuji?" Sehun menyuap makanannya dengan gaya pria tampan, yang aku tidak yakin apakah gaya makan pria tampan itu benar-benar eksis.
Aku menunduk dan menatap makananku yang sudah nyaris habis. Aku tidak sadar kapan tumpukan nasi dan potongan besar ayam itu masuk ke mulutku. Mungkin aku memang ditakdirkan terlalu rakus, atau mungkin saja aku terlalu fokus pada obrolan manisku dengan pria tampan di depanku ini. "Perempuan mana yang tidak suka dipuji? Kami suka dipuji walau mungkin saja pujian itu cuma omong kosong. Perempuan tetap suka yang namanya pujian." Ucapku.
Sehun menjawabku dengan cepat setelahnya. "Oke, mulai sekarang aku akan lebih sering memujimu."
Aku tergugu, kemudian mendesah dan mendongak menatap Sehun yang sedang menunduk pada mangkuk ayamnya. "Sehun, kau membuatku suka padamu lagi. Aku tidak percaya kau semagis ini." Lirihku.
Aku meyakini lirihanku teramat lirih, tapi Sehun mendongak dengan cepat begitu aku selesai dengan kalimatku. Aku melihat matanya menyiratkan sebuah keterkejutan, dan aku mungkin adalah orang idiot yang memecahkan suasana menyenangkan kami tadi.
Sehun mendengarnya, pengakuanku.
Kali ini bagaimana responnya? Aku penasaran.
.
.
.
-TBC-
YAHA, gimana dengan chap ini, guys?
Spoiler dikit; chap depan bakal menguras emosi!
