Gue uph!
First, i wanna say that this is my last day on my holiday. So, fyi, RL will be dominating my mind, but dont worry, i'll try effortfully to stay on our schedule.
Aaaand...
Ini nih chapter yg kemaren gue bilang penuh emosi! ENJOY!
.
.
.
.
.
.
.
Demi Tuhan!
Aku penasaran pada reaksi Sehun.
Dan ya, aku adalah idiot. Mungkin juga perempuan tidak tahu malu yang gamblang sekali speak up pada gebetannya.
Setelah pengakuanku itu, Sehun masih setia menatapku. Namun sekarang tatapannya sudah tidak terkejut. Dia hanya menatapku. Entah apa yang ia pikirkan, aku tidak bisa mengira-ngiranya. Tapi sekali lagi, aku penasaran!
Sehun kan susah ditebak. Kompleks, sehingga kau akan mampu membayangkan dia sedang jadi apatis padahal otaknya sedang mengurai segala macam eksistensi di muka bumi.
Aku tersenyum miring pada pikiranku yang mulai melantur. Ngomong-ngomong, Sehun masih diam menatapku. Jadi aku melempar kerlingan padanya. "Jangan bengong, Sehun. Lanjutkan makanmu!"
"Kau tidak ingin aku membalas pernyataan cintamu?"
"Kata siapa aku menyatakan cinta!" Aku terkekeh, menutupi rasa maluku yang mungkin tadi sempat tertelan bumi.
Sehun tidak tersenyum sama sekali. Wajahnya serius dan dia meletakkan sumpitnya. "Luhan," Pria tampan itu memanggilku dengan bibir terbuka sedikit. Itu cukup untuk mengintimidasiku dan membuatku mengernyit. Apalagi ketika dia sekarang sedang menyingsingkan lengan kemeja hitamnya. Aku sedang dalam mode khawatir, tapi keidiotanku malah mendorong bola mataku untuk merekam baik-baik otot lengan Sehun yang padat yang dibalut kulit putih pucatnya, serta aku nyaris tidak bisa bernafas ketika melihat pembuluh vena yang tajam itu menonjol di punggung tangan Sehun. "Kemana matamu melihat, gadis manis?"
Aku tersentak dan mendongak pada mata Sehun. Gawat! Otakku mulai liar tak terkendali. Tapi untung saja, otakku masih diberkahi kadar oksigen yang cukup jadi masih mampu sadar kembali dengan cepat. "Kenapa kau masih menyebutku 'gadis manis'? Aku sudah dewasa sekarang, wahai pria dewasa yang juga kusebut pria dewasa."
Itu lelucon kecil untuk memecah atmosfer kaku kami yang memang tercipta sejak ucapan konyolku tadi. Tapi Sehun sama sekali tidak tersentuh. Dia mengamatiku lama. Aku terserang kram perut mendadak.
"Oke, itu bercanda, Sehun. Ayo hentikan 'bahu diam' ini dan melanjutkan makan kita. Kenapa acara makan kita selalu tidak berjalan lancar sih." Ucapku sambil menjilat bibir bawahku.
Sehun melihatnya. Dia menatap bibirku kali ini dan Sehun tergerak memecah keheningannya. Dia berdiri dari duduknya dan memutari meja sampai tepat berdiri di sisi kanan kursiku. "Kau selalu jadi gadis manis, sudah kukatakan itu tadi, Luhan. Tapi jika kau berkeras ingin jadi dewasa, akan kutunjukkan caranya jadi dewasa. Pertama-tama, terimalah ciuman dari pria dewasa yang juga suka padamu ini…"
Lalu Sehun menunduk dan bibirnya menyentuh bibirku.
Oke...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku menatap Sehun yang sedang terpejam dan memakan bibirku.
Jujur saja, aku tidak terkejut ketika dia menciumku. Tapi aku merasa seperti aku sedang melamun. Rasanya aku tidak sedang mabuk, tapi kenapa Sehun menciumku. Kupikir, Sehun menciumku tempo hari itu hanya ingin menggodaku yang sedang mabuk, karena yaah kan mungkin saja Sehun masih terbawa stereotype bahwa aku adalah gadis kecil 13 yang baru saja ketahuan minum alkohol.
Tapi yang ini jelas beda. Beda dalam hal apapun. Ini kali kedua, plus kami sama-sama sadar, kupikir. Atau mungkin tidak.. mungkin sekarang gantian Sehun yang sedang mabuk.
Hanya saja, ucapan Sehun mengiang lagi. Dia bilang dia juga suka padaku. Apa aku boleh terkejut sekarang?
Lalu ya, aku terkejut. Dengan lambat. Jantungku bertalu secara tiba-tiba dan aku menjauhkan kepalaku dari pria tampan yang langsung membuka mata itu. Kini bibir kami berjarak. Perutku kram lagi rasanya.
"Tunggu! Biarkan aku meluruskannya, jadi kau juga suka padaku?!" Aku bertanya dan tentu saja hal ini membuat deruan nafasku membentur wajah Sehun karena dia masih sedekat udara dari depan wajahku. Nafasku pasti bau daging ayam, dan itu pasti menjengkelkan ketika kau menciumnya dari jarak dekat, jadi kali ini aku memundurkan tubuhku.
Masalahnya adalah Sehun menahanku. Tangan kokohnya yang tadi sempat kupelototi, sekarang sedang menahan punggungku melalui ketiak. Jarak kami tidak jadi terkikis. Wajah kami masih sama-sama berdekatan. Ini intim sekali.
Dan aku tidak menyangka akan seintim ini lagi dengan Sehun setelah kejadian di lift dan ciuman di depan pintu.
"Semua orang suka padamu. Begitu juga denganku, Luhan. Tidak ada alasan untuk aku tidak suka padamu. Aku sudah menghabiskan beberapa tahun menunggumu, jadi kuharap ini lah saat yang benar-benar tepat untukmu kembali padaku. Jangan mundur lagi."
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Apakah ini nyata?!
Rasanya baru tadi pagi aku mendeklarasikan diri menyerahkan diriku pada perasaan sukaku pada Sehun dan rasanya juga baru kemarin kami ketemu lagi setelah sekian lama. Tapi hari ini dia sudah bilang dia suka padaku saja.. aku rasa mungkin aku sudah mati sekarang. Dan masuk surga. Dan bertemu malaikat pengabul permohonan yang wajahnya mirip Sehun.
Aku menaikkan alisku penasaran, dan alisku semakin naik ketika aku tidak menemukan satu bukti bahwa yang terjadi sekarang ini nyata. Yang wajahnya dekat sekali dan nafasnya menderu-deru panas di depanku ini nyata, serta yang baru saja dia ucapkan ini nyata.
"Kau yakin suka padaku?" Nafasku membentur wajah Sehun lagi, malunya…
"Aku suka padamu, Luhan…dan akan kuulangi lagi nanti sampai kau puas mendengarnya. Sekarang… bisakah aku menciummu lagi? Kau manis sekali, aku sudah tidak bisa sabar!"
Alisku mulai turun karena mulai yakin ini semua nyata. Tapi bibirku malah tiba-tiba terasa kering.
Aku menggeleng.
Tangan Sehun naik ke leherku. Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi itu mampu membuat gairahku naik. "Aku tidak boleh menciummu lagi?"
Aku menggeleng lagi, tapi kali ini sebuah senyum miring kuulas. "Aku yang akan menciummu sekarang, karena tadi aku tidak fokus merasakan bibirmu, Sehun. So, let me."
Sehun tertawa.
Kali ini aku mampu melihat keindahan senyuman itu dari dekat. Dan ini membuat Sehun dan aku berciuman lagi… dengan penuh roman yang selalu kuimpikan untuk ciuman-ciumanku.
Aku benar-benar jatuh cinta.
-TBC-
