Hari itu sebenarnya bukan hari yang cerah. Biasa saja. Tapi aku menemukan diriku menyukai setiap detiknya. Aku makan siang dengan Sehun dan menyelesaikan segala permasalan dengan baik, teramat baik. Bahkan bisakah aku bersorak karena akhirnya aku punya pacar?

Pacar pertamaku sangat tampan dan sempurna, seperti pangeran. Namanya Oh Sehun. Walau jika aku mau berpikir lagi, aku akan menyadari bahwa pacarku adalah seorang apatis. Dan itu sedikit buruk, membuatnya tidak sempurna. Namun segalanya hanya berwarna bunga di mataku untuk saat ini.

.

.

.

Aku tidak bisa berhenti tersenyum sambil mengetik laporan tugasku. Hatiku senang, plus perutku sudah kenyang, jadi aku mengerjakan tugasku dengan lancar.

Saat Sehun baru keluar dari kamar mandi, aku mendongak padanya dengan rona bunga yang kusembunyikan, karena itu bisa membuatku kelihatan konyol.

"Kau sedang mengerjakan tugas?" Sehun bertanya sambil duduk melesakkan diri ke sebelahku.

"Ya aku mengetik laporan, dan apa kau baru saja mandi?"

Sehun mendesah sebentar. "Tubuhku harus di tenangkan dengan air dingin."

"Apa maksudnya itu?"

Sehun menatapku dan menggeleng. "Urusan orang dewasa. Anak kecil belum boleh tahu."

Aku membuang muka. Bagaimana dia bisa mengatakan itu setelah menciumku? "Sudah kubilang aku dewasa, Sehun! Apa kau sangat bebal sampai tidak menyadari hal itu?"

"Akan kuajari kau jadi dewasa pelan-pelan, sayang."

Ohoo sayang!

Disayang Oh Sehun?

Semoga aku tidak merona.

"Kau imut sekali, Luhan!" Sehun mencolek bahuku sambil terkekeh.

"Kau mesum sekali," Aku menggerutu. "Apa kau serius mengajariku jadi dewasa? Kau pikir aku percaya jika menjadi dewasa adalah berciuman dengan cowok?!"

"Kau percaya kok, buktinya kau tadi tidak menolak… malah minta lagi sampai membuatku panas dingin."

"Ohh- jadi, itu alasannya kau kabur ke kamar mandi setelah ciuman denganku?!" Aku berseru dan Sehun kelihatan seperti kecolongan.

"Kali ini, aku tidak tahu harus merasa bersyukur atau tidak punya gadis manis pintar sepertimu." Desah Sehun.

Dan aku menganggap itu sebagai pujian. Jadi aku tersenyum riang sambil kembali pada laptopku yang sempat kulupakan. "Aku akan pulang setelah ini. Kau ada acara jam berapa? Ini sudah lewat jam makan siang loh."

"Sebenarnya aku berbohong soal itu." Giliran Sehun yang membuang muka ketika aku menoleh padanya terkejut.

"Jadi kau sebenarnya luang hari ini, tapi kau malah mengerjaiku, begitu?"

"Kurang lebih." Sehun masih menolak menatapku. "Aku cuma tidak sabar ketika kau bilang ada yang mau dibicarakan."

Aku mendesah dan meletakkan laptopku di meja. Manis sekali kau, Sehun. "Dan sebenarnya aku berniat bohong padamu, kupikir aku akan pergi siap-siap ke salon dulu sebelum makan malam denganmu. Kau ingat kan, kemarin kita makan bersama, tapi dandananku sama sekali tidak mengesankan. Tapi kau dengan jahatnya -walau benar sih, malah menuduhku bercanda… jadi yaah..." Akuku.

Lalu tubuhku tiba-tiba saja dipeluk dari samping. Hangat dan aman sekali rasanya. "Luhaaan, kau manis sekali!"

Aku menolehkan kepalaku dan menemukan bibir Sehun dekat sekali. Aku mengecup bibir Sehun cepat. "Kau juga, Sehun!"

.

.

.

.

Jadi, pacaran dengan Sehun itu pada dasarnya menyenangkan. Dia sangat romantis dengan menelfonku setiap saat. Kemarin, setelah makan dan haha hihi di ruang TV Sehun, aku masih menjadi parasit di apartemen pria itu dengan numpang mandi dan makan malam disana, walau secara teknis aku yang memasak. Lalu nyaris jam Sembilan, Sehun mengantarku naik. Sebenarnya aku merengek dan mengatakan aku bisa tinggal dengannya lebih lama karena aku sudah biasa pulang malam dan Kyungsoo akan mengerti. Tapi Sehun malah menjitakku dan mengatakan mulai sekarang aku tidak boleh pulang malam lagi.

Aku menurut akhirnya.

Aku masuk ke apartemenku dan disambut wajah garang Kyungsoo. Aku lupa mengabarinya jika aku makan malam di luar. Tapi kemudian wajahnya berubah kegirangan ketika aku menceritakan yang terjadi hari itu padanya. Kami menghabiskan malam itu dengan cerita perempuan, juga diselingi telfon Sehun di tengah malam, yang mana membuat Kyungsoo cekikikan tidak biasa di sampingku.

Keesokan harinya, pagi buta Sehun sudah menelfonku lagi. Dia berkata akan mengantarku kuliah. Ketika aku bertanya apa jadwal kami sama, mengingat hari ini aku punya kelas agak siang, dia bilang dia oke walau harus bolak-balik.

Aku merona dan tidak bisa tidak melempar ciuman jauh di telfon. Sehun kedengaran teratawa dan begitulah bagaimana aku berakhir berlari menyeberangi lobby gedung apartemen.

Sehun barusan menelfon jika dia sudah di bawah.

Ketika aku keluar, aku melihat mobil hitam gagah Sehun sudah menanti. Tapi aku kehilangan senyumku saat itu juga.

Kaca hitam kemudinya turun, menampilkan Sehun yang berambut klimis disana, sedang melempar senyum kecil padaku. Tapi disampingnya, aku melihat seorang perempuan.

Aku menutup rapat mulutku dan enggan melangkah mendekati mobil Sehun.

Bukankah seharusnya Sehun hanya menjemputku?!

-TBC-