Mulutku terkatup dan aku masih diam menatap Sehun dan Ms. Baekhyun. Ya, itu Ms. Baekhyun yang sedang duduk di mobil Sehun. Di samping pria itu.
"Hai, Luhan!" Ms. Baekhyun berteriak dan melambai padaku.
Aku inginnya menggeleng dan balas meneriaki perempuan itu dengan brutal, tapi itu tentu saja tidak pantas. Jadi aku hanya diam tidak membalas, bahkan juga tidak bergerak.
"Luhan, ayo. Kita bisa terlambat." Ucap Sehun.
APA KATAMU, OH SEHUN?
Aku melempar pedang tajam lewat mataku. Mungkin harusnya aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi siapapun yang bisa menjemputku, agar aku tidak perlu semobil dengan duo dosen ini. Tapi aku malah mendekati mobil Sehun dan membuka pintu penumpang belakang. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan Sehun setelah ini. Dan juga… mungkin aku terlalu masokhis.
"Selamat pagi." Ucapku lambat. Nyaris menekan suaraku supaya kelihatan garang.
Sehun menyalakan mobil dan melirik lewat spion atas ketika aku sudah memasang sabuk pengaman. Aku inginnya memelototinya, tapi Ms. Baekhyun berbailk menghadapku dengan riang. "Luhan, tidak usah sungkan! Kata Prof Sehun, kau adalah temannya sejak umurmu 13 ya, yah walau aku tidak paham bagaimana bisa dengan rentang umur kalian, kalian bisa berteman dekat. Tapi yang penting… kau santai saja, sekarang anggap aku sebagai temanmu, bukan dosenmu, oke?"
Aku mengangguk dan Ms. Baekhyun berbalik menghadap depan lagi dengan santai.
Sekarang giliran urusanku dengan Sehun. aku memelototi Sehun dari spionnya. Dia melirikku.
TEMAN, HUH! APA SAJA YANG SUDAH KAU KATAKAN PADA BAEKHYUN, IDIOT! AKU BUKAN TEMANMU! AKU PACARMU!
Sehun lalu berdehem. "Jadi, Luhan, kita akan mengantar Ms. Baekhyun dulu ke perpustakaan dekat sungai sebelum kembali ke kampus. Kita masih punya cukup waktu sebelum kelasmu dimulai, kurasa."
Aku tidak menjawab karena rasanya ada lem yang merekatkan bibirku dan tenggerokanku memuat gumpalan entah apa, mungkin amarah. Yang memberi respon malahan Ms. Baekhyun.
"Terimakasih tumpangannya, Prof." Dia menyentuh lengan Sehun.
Dan saat itulah aku kehilangan kontrol dan menghentakkan kakiku keras. Sehun dan Ms. Baekhyun menoleh bersamaan.
"Ada semut." Kilahku singkat.
Lalu dosen-dosen itu kembali menghadap depan dengan Ms. Baehkyun yang tertawa dan Sehun yang diam-diam melirikku terus.
Aku membuang muka dan menatap jendela. Hatiku panas.
Sebenarnya itu tadi hanya sentuhan singkat. Tapi rasanya seperti aku baru saja memergoki pacarku selingkuh tepat di depan mataku. Itu menyesakkan dan aku tidak suka melihatnya. Tapi kelihatannya aku tidak punya suara sekarang.
Aku diam, seperti kehabisan tenaga dan mengamati jalanan yang kami lewati sampai kami tiba di depan perpustakaan yang dibicarakan Sehun tadi. Itu memang dekat dengan sungai dan gedung apartemenku, tapi aku tidak merasa aku mampu menerima kenyataan Ms. Baekhyun yang menumpang di mobil Sehun. Aku terus diam, bahkan ketika Ms. Baekhyun sudah pamit dan keluar.
Sehun berbalik dan menghadapku.
Aku masih tidak terbersit niatan untuk meladeninya setelah dia memanggil-manggil namaku berulang kali. Aku juga masih meyakini bahwa seharusnya Sehun menjemputku, bukannya membawa Ms. Baekhyun. Amarahku masih tinggi dan aku membiarkannya.
Lalu saat Sehun menggenggam tanganku, aku menoleh padanya. Mungkin ini saatnya aku harus memadamkan diri dan bicara pada Sehun. Aku ingat tujuanku nekat semobil dan terbakar amarah, karena aku ingin dengar pembelaan Sehun.
Jadi mari kita lihat apa yang jadi alasan Sehun. Itu harus masuk akal dan jika Sehun ingin minta maaf, dia harus bersujud dulu padaku.
"Luhan, kau harus tenang dan menguasai dirimu, oke? Ini pelajaran kedua kita."
Aku mengernyit dan menatap mata coklat tuanya. APA MAKSUDMU?!
Dan kelihatannya Sehun mengerti apa yang kusampaikan lewat tatapanku. "Kita harus merahasiakan hubungan kita dulu untuk sementara waktu. Kau harus jadi dewasa dengan sabar. Aku yakin kau bisa melewatinya, Luhan. Kau gadis pintar dan menakjubkan yang pernah kukenal. Mari kita buat dirimu jadi dewasa dulu. Kau mengerti, sayang?"
Jadi dewasa lalu akan jadi pacar yang membanggakan. Baiklah itu mulai meluluhkanku. Dan herannya, amarahku langsung reda. Dimana kemurkaan yang menginginkan Sehun bersujud? Menguap di atas sungai Amazon?
"Gadis manis, katakan sesuatu. Aku minta maaf jika mengagetkanmu, sungguh maafkan aku!"
Inilah permintaan maaf Sehun, aku harus memintanya bersujud dulu… tapi aku malah mengangguk kalem. Entah, aku mungkin barusan dimantrai.
"Aku akan jadi dewasa dengan cepat." Gumamku sambil menatap mata Sehun.
Sehun kelihatan tertegun dan dia melangkahi joknya dengan kaki panjangnya. "Aku cinta padamu, Luhan." Kemudian dia mencium keningku.
Dan aku melemas saat itu juga. Manis sekali perlakuannya.
Dan ketika dia melepaskan bibirnya dari keningku, aku menatap bibir tipis itu tidak rela.
"Sekarang, kita harus bergegas ke kampus." Sehun mengecup bibirku sekilas dan dia mumbuka pintu mobilnya. "Ayo, pindah ke sampingku." Katanya.
Aku tersenyum menyadari Sehun memang sangat gentle dan turun, lalu pindah ke jok samping yang sekali lagi pintunya juga dibukakan oleh pria itu.
Setelah segalanya beres dan sabuk pengaman sudah terpasang, kami melaju meninggalkan perpustakaan.
Dan aku melewatkan sosok Ms. Baekhyun yang sedari tadi belum masuk gedung tujuannya.
.
.
.
.
.
-TBC-
