"Luhan, idiot kau!" Kyungsoo berbisik dengan pelototan mata.

"Aku tidak idiot, pendek. Aku jenius. Dan ini perpus, diamlah." Aku menahan tawa sambil membisiki perempuan berkacamata yang duduk di sampingku.

Kami ada di perpus sekarang. Melewatkan jam makan siang dan mendekam disini sampai sore-sore begini. Buku-buku bertumpuk di depan kami dan Kyungsoo kelihatan tertarik sekali meraih satu buku tebal dan menggeplakkannya padaku.

"Jenius macam apa yang tidak mengerti kata-kata 'aku tidak mau dikenalkan dengan cowok manapun lagi'!"

"Kalem…" Dan hanya itu yang terpikir olehku.

"Ini bukan solidaritas, kau tahu!"

Aku mengernyit dan menutup buku di depanku yang tadi kubaca salah satu babnya. "Solidaritas? Apa maksudmu?"

"Kau paham betul maksudku. Kau sekarang punya pacar, dan sekarang ngotot sekali ingin aku juga punya. Itu jelas bukan solidaritas. Itu pemaksaan ketika aku sudah bilang tidak mau. Apalagi sejak kali terakhir dengan cowok jerapah berkuping Yoda." Terang Kyungsoo panjang lebar. Kyungsoo itu cerewet, sesungguhnya. Jangan tertipu dengan potensi keapatisannya yang biasanya pendiam.

"Ohh, tentang itu." Aku mengangguk dan tertawa kecil. Teringat tentang Kyungsoo dan si agresif Chanyeol yang benar-benar berkebalikan.

Aku mendongak dan melihat seorang laki-laki setengah baya yang menjabat sebagai penjaga perpus mengeja namaku lamat-lamat dengan tampang garang di dekat rak nun jauh disana. Oke, mungkin aku terlalu berisik barusan. Aku menggumamkan kata maaf tanpa suara padanya.

Well, aku sudah biasa ke perpus dan kenal dengan hampir keseluruhan penjaga perpus kampus. Dan yang barusan memelototiku itu namanya Mr. Blake, pria bule yang berkulit kecoklatan dan tampan. Walau masih tampan Oh Sehun.

"Soo-ya, Mr. Blake mulai marah, mungkin kita harus berhenti berbisik."

"Luhan-ah, mungkin kita harus pergi. Kita sudah terlalu lama disini!" Kyungsoo memelototiku.

"Tidak!" Aku menggeleng ribut. "Jongin dan Chanyeol akan datang sebentar lagi."

"Makanya ayo pergi!" Kyungsoo menoyor kepalaku dan aku membalasnya dengan cepat. Tapi, kemudian Mr. Blake yang tadinya berdiri dari jauh dari kami, kini sudah leih dekat dan mengetuk mejaku.

"Luhan! Kau harus berhenti membuat keributan atau aku dengan terpaksa harus mengeluarkanmu dari perpusku." Kata Mr. Blake dengan suara beraksennya.

Aku menatapnya dengan senyum main-main. "Ayee, tega sekali mengusirku, sir."

"Mau bagaimana lagi, kau berisik dan bisa mengganggu yang lain."

Aku melunturkan senyumku dan meringis. "Baiklah, aku mengerti. Kami akan diam."

Mr. Blake mengangguk dan berlalu pergi.

Kemudian aku meraih ponselku yang tertindih buku, "Dimana duo rusuh itu, lama sekali." Tapi ketika aku menyalakan layarnya, aku bukannya mendapat pesan dari salah satu pria itu, malahan menemukan beberapa panggilan tidak terjawab dari 'MyHottie', Oh Sehun.

O-ow apa yang sudah kulewatkan! Aku mengetik pesan untuk Sehun, kukatakan padanya aku di perpus dari tadi dan tidak melihat panggilannya.

"Soo-ya, aku melewatkan panggilan Sehun!" Aku memekik, tapi kemudian gelagapan dengan cepat. Pekikan untungnya tidak terlalu nyaring. Tidak ada yang menoleh pada kami selain gadis yang duduk dua bangku di kananku, itu pun dia hanya melongok sekilas dan kembali lagi pada laptopnya. Selain itu, Mr. Blake sepertinya juga tidak memergoki.

"Lalu?"

Aku menoleh pada Kyungsoo dengan tatapan tidak percaya. "Lalu aku harus cari tempat untuk menelfonnya sekarang, bodoh."

"Kau tidak bisa meninggalkanku, Luhan. Teman-temanmu akan segera sampai dan aku tidak mau menghadapi mereka sendirian." Kyungsoo meraih sebuah buku dan membukanya perlahan. Aku melirik tangannya yang separuh bergetar. Sial, sepertinya aku memang tidak bisa meninggalkan gadis pemalu ini.

Tapi aku tergiur sekali menelfon dan mendengar suara serak Sehun.

"Oke, baiklah. Tapi kau tidak boleh protes jika nanti aku pulang ke tempat Sehun."

"Memang sejak kapan aku protes soal kebiasaan mainmu?"

"Jangan bercanda, kau selalu mengomel jika aku pulang malam. Selalu." Aku mencibir sambil mengecek ponselku berkala, Sehun masih belum membalas pesanku. Dimana si tampan itu? Apa dia sedang ada kelas sore?

"Itu tandanya aku peduli padamu, Luhan. Tapi Professor Oh adalah pengecualian. Kau boleh main sepuasnya dengan dia."

Aku mengernyit pada Kyungsoo yang berusaha menunduk pada bukunya, walau aku tahu dia sedang gelisah. Terlihat dari kepalanya yang sesekali mendongak ke pintu perpus. Oh Tuhan, aku tahu Kyungsoo memang pemalu, tapi aku tidak percaya bahwa dia sebegini takutnya berkenalan dengan orang asing. "Kyungsoo-ya, tenanglah."

"Aku sepenuhnya terkendali." Ucap Kyungsoo singkat. Tapi kepalanya celingukan lagi-lagi.

Aku memutar bola mataku dan mendengus. "Terserah, lagian kau yakin aku bisa main sepuasnya dengan Sehun? Sehun itu pria hot yang pasti menginginkan sesuatu dari cewek loh. Kau bilang aku harus menghindari pria dengan 'obsesi'nya itu…"

Kyungsoo meninggalkan bukunya dan menatapku dengan mata belonya yang terhalang kacamata. "Professor Sehun sudah dewasa, kalian terpaut angka 7, Luhan. Dia pasti akan menjagamu."

Kali ini giliran aku yang menunduk pada buku di bawah lipatan tanganku. "Ya, hari ini aku sudah dua kali mendengar bahwa aku tidak dewasa."

"Apa maksudmu?"

"Pagi tadi aku marah pada Sehun yang memberi tumpangan pada Ms. Baekhyun, dia bilang aku harus jadi dewasa dulu baru dia mau terbuka pada hubungan kami. Dan sekarang kau bilang aku juga tidak dewasa. Bagus, mentalku mulai terkikis!" Gerutuku dengan suara yang semoga saja tidak pecah.

"Aku barusan tidak menyebutmu tidak dewasa, Luhan. Telingamu tuli ya? Dan sebentar, apa kau barusan berkata jika Professor Sehun selingkuh dengan Ms. Baekhyun?"

"Telingamu yang tuli, Kyungsoo. Sudah kukatakan dengan jelas."

"Kau serius?!"

Aku mengangkat bahu, sebenarnya sudah cukup lupa juga pada kejadian pagi tadi. Kan Sehun tadi sudah menjelaskan situasinya. Ms. Baekhyun memang sedang butuh tumpangan dan kebetulan saja mereka searah. Sehun juga sudah minta maaf, jadi gumpalan kecemburuan yang sempat membakarku tadi sudah terkikis, sebenarnya. "Aku serius. Tapi sudahlah, itu bukan hal besar. Aku sudah dewasa sekarang, aku bisa mengerti jika itu cuma kebetulan."

Aku melihat Kyungsoo menatapku seolah aku berkepala dua. Dia melepas kacamata bacanya dengan kasar. "Kau yakin aku bisa mengerti? Jika itu aku, mungkin aku sudah menusuknya dengan jepit rambutku." Begitu katanya.

Sudut bibirku tertarik. Benar, seharusnya memang itu yang kulakukan karena Sehun sudah membuatku serangan jantung. Kan kami baru kemarin resmi pacaran, tapi sehari setelahnya dia sudah bareng perempuan lain. Tapi sayangnya, aku terlalu sayang untuk menyakiti pria tampan jelmaan malaikat itu.

"Hey gadis-gadis, sorry kami telat." Aku mendongak mendengar suara berat ini dan menemukan Chanyeol dengan rambut keritingnya. Chanyeol tersenyum lebar seperti biasa dan aku tertular senyumnya dengan cepat.

"Chanyeol! Dan hai Jongin!" Aku melambai pada pria berjaket kulit coklat dan juga yang punya kulit kecoklatan seksi yang cuma berdiri di samping Chanyeol. Itu Kim Jongin. Dia juga biasanya main bersamaku ke club.

"Hai Luhan." Jongin menggeret kursi yang berseberangan denganku, sementara Chanyeol mengikuti dengan duduk di seberang Kyungsoo. Ngomong-ngomong, ketika aku melirik Kyungsoo, dia sedang menatap Jongin dengan mata menyipit. Itu sedikit tidak bagus, walau sebenarnya aku mengerti itu. Ada penjelasan dibalik mata Kyungsoo yang selalu menyipit menyeramkan. Itu hanya karena begitulah adanya mata bulat Kyungsoo tanpa kacamata minusnya.

Aku menyikut Kyungsoo supaya ia lebih ramah. Tapi gadis itu masih menatap Jongin penuh teliti sebelum gentian menatap Chanyeol yang kelihatannya memang sudah masuk black listnya sejak awal dengan waspada. Aku berucap santai, "Kalian seharusnya datang sejak setengah jam yang lalu."

"Dosen kami terlalu menyebalkan sampai tidak ada yang berani mengingatkan jamnya sudah habis." Chanyeol membalasku juga dengan santai. Tidak terlalu menganggap pusing pada Kyungsoo yang mencoba menusuknya lewat mata.

"Kau bilang ingin mengenalkanku pada seseorang, Han." Namun berbeda dengan Chanyeol, Jongin sepertinya cukup sensitive. Aku melihatnya duduk tidak nyaman setelah melirikku dan Kyungsoo bergantian.

Aku mengangkat alisku tinggi dan tersenyum secerah mungkin sambil mengulurkan kacamata Kyungsoo. "Kyungsoo, pakai dulu kacamatamu, jangan menakuti dua pria hot ini dengan mata minusmu. Dan karena kau sudah kenal dengan Chanyeol, kenalkan, ini Jongin. Dia pria paling macho dan kecoklatan yang pernah kukenal." Aku mengerling pada Jongin yang mulai rileks. "Dan Jongin, ini Kyungsoo, dia roommateku yang paling manis sejagad raya."

Jongin mengulurkan tangan kokohnya yang berbalut kulit kecoklatan itu pada Kyungsoo. Dia kelihatan cukup mengerti dan nyaman dengan Kyungsoo. Dan untungnya, Kyungsoo yang sudah berkacamata itu, menyambut tangan Jongin. "Hai."

Ketika jabat tangan itu selesai, aku tersenyum lagi. Kyungsoo dan Jongin pasti akan cocok. Jika Kyungsoo dan Chanyeol sangatlah kontras, kupikir Jongin yang lumayan tenang itu adalah pilihan yang bagus.

Dan senyumku semakin lebar saat ekor mataku menemukan Sehun memasuki pintu perpustakaan. Dia mengenakan kemeja kelabu yang pas sekali membungkus bahu lebarnya. Rambutnya klimis dan aku ingin sekali menyusurkan tanganku diatasnya, serta membuatnya berantakan. Aku bertekad melakukan hal itu nanti.

Kyungsoo sepertinya juga melihat apa yang kulihat. Dia menyikut lenganku dan aku ingin sekali meloncat pada Sehun yang sekarang matanya sudah menangkap mataku.

"Soo-ya," Aku memanggil Kyungsoo dan menatapnya penuh sendu. "Aku harus pergi ke 'kamar mandi' sebentar."

"Luhan, tidak." Kyungsoo menggeleng tidak mau ditinggal.

Aku merengek dan melirik Sehun yang masuk ke salah satu deretan rak pojok. "Please, sebentar saja. Sebentaaaar, aku janji!"

"Pergilah." Yang menjawab malah Chanyeol, dengan senyum tanpa dosa. Kudoakan semoga dia tidak akan mati di tangan Kyungsoo. Jelas dia tidak benar-benar mengerti pada apa yang sudang kubicarakan dengan Kyungsoo. Plus dia pasti juga tidak tahu perihal melintasnya Professor Sehun karena dia sekarang sedang memunggungi pintu masuk.

"Kyungsoo, aku bersumpah, aku cuma sebentar." Aku menoleh pada Jongin kemudian, "Jongin-ah, aku titip gadisku. Jangan biarkan dia membunuh Chanyeol, dan jangan biarkan mereka berdua bicara, mereka tidak akur." Aku mendengar Chanyeol berseru tapi aku malah segera meloncat dari kursiku ketika Jongin mengangguk dengan sebuah senyuman singkat.

Oke, Jongin pasti cocok dengan Kyungsoo.

Dan aku segera melangkah terbirit masuk ke deretan rak yang tadi dimasuki Sehun tanpa menoleh lagi. Amarah Kyungsoo bisa menunggu. Yang tidak bisa menunggu adalah keinginanku bertemu Sehun.

Deret itu kosong. Aku tidak melihat Sehun di sepanjang lorongnya. Jadi kau memutuskan untuk menyusurinya sampai sebuah tangan menarikku masuk lebih dalam ke sebuah deret lain.

"Hai, babe!" Seruku. Ini Sehun yang sedang memelukku. Cologne ini sudah kuhafal tanpa sadar. Dan aku merona ketika merasakan betapa eratnya pelukan Sehun. Rasanya sudah kangen sekali padanya, padahal kami hanya berpisah beberapa jam lalu.

Sehun mengusakkan wajahnya ke rambutku dan aku mendengar dia menderu. Oh Tuhan, aku tidak pernah membayangkan bisa sedemikian dekat dengan Oh Sehun. Ini anugrah! Dia sekarang pacarku, bahkan sekarang sedang memelukku!

Aku membalas pelukannya dengan melingkarkan tanganku disekeling pinggangnya. Tubuh Sehun hangat sekali dan aku suka merasakan bagaimana cara tangan Sehun yang melingkariku seolah aku harus ada dalam jangkauannya.

"Rasanya aku bisa bertahan berpelukan denganmu selamanya, tapi Kyungsoo akan literally membunuhku jika aku tidak segera kembali." Kataku dengan mulut tertutup kerah Sehun. Semoga saja lipstikku tidak membekas disana.

Aku mendengar Sehun tertawa dan dia melepaskanku setelahnya. "Kau sedang apa memangnya? Kulihat kalian sedang mengobrol, bukan belajar disana."

Aku mendongak pada Sehun yang memang punya tubuh tinggi dan menatap mata coklatnya yang sekarang kelihatan sparkling walau diantara pencahayaan gelap dalam rak ini. "Aku mengenalkan Kyungsoo pada Jongin. Ini saatnya dia punya pacar, tapi selama ini dia terlalu idiot dengan menutup diri pakai buku. Jadi, aku harus jadi mak comblang, 'kan."

Aku merasakan tangan Sehun mengusap pipiku. "Kau terlalu baik, gadis manis."

Aku tersenyum bangga, tapi kemudian aku berseru. "Ya Tuhan! Lihat, Sehun. Lipstikku menempel di kerahmu!"

Sehun memperhatikan kerahnya dan aku merengut pada warna pink dari bibirku yang membekas disana. Sehun tidak berkata apapun. Sehun mungkin marah. Hal ini tentu saja bisa merusak kredibilitasnya jika ada seseorang yang melihat bekas itu.

"Harusnya kau tidak memelukku tadi!"

Sehun menggeleng pada wajah bersungutku, "Bagaimana bisa aku tahan untuk tidak memelukmu, Luhan. Aku kangen sekali padamu!"

Dan aku melipat bibirku ke dalam untuk menahan senyumanku. Ternyata bukan aku saja yang rindu. Aku melipat tanganku di bawah dada. "Aku jadi teringat sesuatu, Kyungsoo tadi bilang kau adalah orang dewasa sementara aku adalah anak kecil. Tapi setelah ucapanmu barusan, segalanya sudah pasti terbalik! Akulah si dewasa dan kau si anak kecil yang merengek."

Sehun menarik bibirnya untuk melengkung dengan indah dan memelukku lagi. Namun kali ini lipatan tanganku memberi kami sedikit jarak.

"Sehun, aku bisa meninggalkan jejak lipstick lainnya jika seperti ini!"

Sehun kelihatannya tidak mendengarku karena aku malah merasakan pelukannya mengerat. "Luhan, Luhan, kau manis sekali! Jika kau benar-benar khawatir soal kemejaku, maukah setelah ini kau ke tempatku? Aku ingin memelukmu sepuasnya disana, dan aku tidak perlu mendengarmu mengomel lagi soal pakaianku. Bagaimana?"

Baiklah, ini kedengaran menggiurkan! Dan juga sejalan sekali dengan rencana awalku untuk pulang apartemen Sehun!

Mungkin kami memang jodoh.

Aku mengangguk antusias. "Aku tidak sabar untuk segera datang!"

Sehun menjauhkan tubuhnya, tapi masih meraih bahuku. "Sekarang pamitanlah pada Kyungsoo dan segera pergi. Jangan terlalu lama ngobrol dengan teman-teman priamu, mengerti?"

Aku mengernyit pada keprotektifannya, tapi akhirnya aku mengangguk dan mengulas senyum. "Oke! Sampai ketemu nanti, Sehun!"

.

.

.

-TBC-

OYE GUYS, SEBISA MUNGKIN GUE STAY ON OUR SCHED. Tapi gak menutup kemungkinan kalo gue gak up dalam kurun waktu 3 hari kek biasanya ya, dan ketika saat itu terjadi, gue memohon pengertian kalian tentang dunia ini berat.

Dan gue mutusin bahwa karena HunHan udah pacaran sekarang dan beberapa dari kalian pasti udah mulai bertanya-tanya tentang dimana letak RATE Mnya story ini, nahh...

...tungguin aja apa yg kalian tungguin, if u know what i mean!