Telat sehari oi, sorry kalo SIAPA TAHU kemarin ada yg nungguin sampe malem.
.
.
.
.
.
.
.
Aku kembali ke mejaku dan menemukan Chanyeol sedang mengganggu Kyungsoo yang membaca buku. Jongin mencoba melerai, tapi sepertinya tidak berhasil. "Seriously, guys?" Aku menggerutu.
Chanyeol nyengir, "Kyungsoo sangat lucu, Luhan."
Aku memelototinya dan menoleh pada Jongin. "Dan kau tidak berhasil mencegah mereka bertengkar," Rasanya aku seperti seorang ibu yang mengomeli anak-anak bandelnya.
"Sebenarnya Kyungsoo memang lucu saat marah." Jongin ikutan nyengir bersama Chanyeol.
Dasar pria!
"Dan Kyungsoo, really? Membaca?" Aku bertanya pada Kyungsoo. Harusnya dia memanfaatkan waktunya untuk berkenalan dengan Jongin.
Kyungsoo tidak bereaksi banyak. Dia kelihatan benar-benar dalam mood buruk.
"Oke, baiklah, kelihatannya ini tidak berhasil." Aku memijat pelipisku dramatis. "Kupikir kita pulang saja, aku ada janji dengan 'dosenku'."
Kyungsoo menyipit menatapku, mengerti dengan 'dosen' yang sedang kumaksud. Dia tidak memberi tanggapan, tapi membereskan bukunya.
"Kalian akan pulang sekarang? Tidak pergi ke club dulu?" Jongin bertanya.
Kyungsoo menggeleng dan mengernyit dalam diam. Dan aku berucap sambil membereskan bukuku juga. "Tidak, kalian berdua mengacaukan mood dengan buruk."
Chanyeol mencolek bahu Kyungsoo. "Aku tidak akan mengganggumu lagi, ayo minum dulu!"
Aku melihat Kyungsoo menepis tangan itu dengan kasar dan menatap pria Yoda itu dengan tatapan 'kubunuh kau'.
Aku menggeleng dan Jongin berbisik padaku. "Jika mood kalian sudah baik, kutunggu di club, Luhan. Kyungsoo juga bisa ikut bergabung."
Oke, kelihatannya Jongin tertarik dengan Kyungsoo!
.
.
.
.
Selepas keluar dari perpustakaan, Kyungsoo mengemudikan mobilku pulang. Sepanjang jalan, aku menanyainya tentang Jongin. Karena Jongin kelihatannya terkesan dengan Kyungsoo, akan jadi benar-benar baik jika Kyungsoo juga tertarik.
"Kau benar-benar harus berhenti mencomblangkanku dengan teman mainmu! Jongin sama menjengkelkannya seperti Chanyeol, Luhan." Kyungsoo berkata ketika kami keluar dari mobil dan menuju lift basement. "Tapi dia sedikit lebih pengertian dari Chanyeol sih." Tambahnya.
Aku tertawa. "Bagus! Jongin juga kelihatannya tertarik padamu. Tapi karena perbandinganmu sempit, hanya seputar Jongin dan Chanyeol, kita perlu memperbaikinya. Akan kupikirkan soal pilihan lain untukmu."
Kyungsoo memukul lenganku. "Jangan bilang kau ingin mengenalkanku dengan temanmu yang lain?"
Aku mengusap lenganku, "Kenapa tidak? Ini kan supaya pengalamanmu dengan lelaki banyak."
"Tentu saja tidak, aku tidak butuh pengalaman yang semacam itu."
"Kyungsoo, kau harus realistis! Begitu cara kerja dunia ini jika kau tidak ingin diperalat oleh lelaki. Kau harus hati-hati pada mereka." Kami masuk ke dalam lempengan lift kosong dan aku menekan tombol 7 dan 9.
"Lihat siapa yang sekarang sedang kasmaran dengan lelaki." Kyungsoo mencibirku dan aku tertawa.
"Masa iya aku mau jatuh cinta dengan perempuan sejenisku!"
Lalu liftnya terbuka di lantai 7, lantai Sehun!
"Kau tidak pulang mandi dulu?" Kyungsoo bertanya.
Aku menggeleng dan melangkah ke luar. "Aku kan bisa mandi di rumah pacarku! Aku sudah kangen sekali pada Sehun."
"Dasar pasangan baru." Kyungsoo menggeleng-geleng dan aku menyempatkan melambai padanya sebelum lift yang membawa Kyungsoo menutup.
Setelah itu, aku melangkah ke apartemen Sehun yang bernomor 7-3. Letaknya ada di depan pintu darurat, dan itu berarti aku harus menyeberangi lorong yang beralas karpet coklat yang sedang sepi ini.
Aku menekan bel milik Sehun ketika aku sudah ada di depan pintu. Tapi setelah beberapa kali, aku belum mendapat respon. Jadi aku menunduk untuk menekan passcode. Semalam Sehun sudah memberitahuku tentang passcodenya. Itu membuatku terharu. Ini seperti menandakan bahwa Sehun ingin berhubungan serius denganku, yah walau aku ragu untuk mengutarakan pikiranku secara gamblang padanya. Dan hal itu juga membuatku urung memberikan passcode milikku padanya. Plus aku tidak tinggal sendirian. Ada Kyungsoo, dan tentu saja hal ini akan menjadikan alasan lain kenapa aku tidak mempersilahkan Sehun masuk ke apartemenku sesukanya.
Ngomong-ngomong, kodenya adalah 041220. 2 digitnya awal mengartikan bulan April dan sisa digitnya adalah kombinasi dari tanggal ulang tahun kami. Sehun manis sekali sampai mengatur passcodenya seperti itu. Sekali lagi ini membuatku terharu.
Ketika pintunya mengayun terbuka dan aku tidak melihat sepatu Sehun, aku berasumsi jika dia mungkin sekarang masih ada di kampus, atau di jalan.
Aku melepas heels dan mulai memikirkan untuk membuat makan malam. Jadi aku berlari kecil ke dapur keabuan milik Sehun dan meletakkan tasku di konter. Dan kegiatan mengobrak-abrik dapur Sehun kumulai dengan senandung riang.
Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai memasak nasi dan menggoreng ayam.
Aku sedang berjongkok di kulkas untuk mengambil wortel ketika aku mendengar suara pintu terbuka.
"Luhan?" Aku mendengar Sehun berteriak.
Aku menahan diri untuk memekik dan menjemput Sehun, makanya aku setia berjongkok sambil senyum-senyum dan berseru, "Di dapur!" Dan telingaku menangkap suaraku sendiri yang penuh dengan kegirangan.
Kedengarannya Sehun baru melangkah masuk ke dapur, "Dimana? Apa kau sedang main petak umpet?" Begitu tanyanya. Ini karena pandangan Sehun padaku terhalang pantry.
Aku tertawa dan menegakkan tubuhku dengan wortel besar di genggaman. "Kau keberatan jika aku masuk dan mengacau di dapurmu?" Tanyaku dengan sebuah seringaian.
Wajah Sehun awalnya serius, mulai melunak. Dia bahkan tersenyum dengan mata bulan sabit. "Kacaukan dapurku setiap saat, aku akan sangat menyukai ide itu."
"Kau yakin?"
"Ya, dapurku kan jarang kupakai."
"Baiklah, jika kau memaksa." Seringaiku semakin lebar. Luhan, tenanglah. Tapi aku tidak bisa tenang. Ini seperti Sehun sedang mengundangku untuk tinggal bersamanya dengan lebih intens. "Sekarang bersihkan tubuhmu sementara aku melanjutkan mengotori dapurmu."
Sehun kelihatan tidak mendengarku. Dia malah memutari pantry dengan cepat dan berdiri di sampingku yang sedang mencuci wortel. "Aku pernah membayangkan akan mendapatkan momen semacam ini. Dan aku tidak percaya gadis cantik sepertimu mau merealisasikannya. Aku harus mengatakan jika aku amat sangat senang kau disini, gadis manis."
Hatiku dimekari bunga ketika mendengarnya. Ini nyaris membuatku terlena, tapi aku menahan diriku menjadi seorang gadis agresif yang menuntut ciuman setelah rayuan. Aku memberi Sehun sebuah senyum kecil dan melanjutkan menggosok wortel. "Mandilah."
Dan sekali lagi, Sehun tidak mendengarku. Dia mengangkat tangannya untuk memegangi kepalaku supaya mendongak menatapnya. Lalu dia murunduk, mencium keningku. "Aku mencintaimu, Luhan." Kata Sehun dengan bibir menempel pada kulitku.
Dan aku meleleh.
.
.
.
.
.
-TBC-
