Aku masih merona berkat perlakuan manis Sehun, bahkan ketika Sehun sudah selesai mandi dan sedang duduk di depanku dengan dandanan lebih segar. Rambut hitamnya sepenuhnya masih basah, dan aku bisa mencium bau segar sabunnya tanpa harus mempermalukan diri dengan mengendus-endus udara sekitar.

Aku membuang muka.

"Ada apa?" Aku mendengar Sehun bertanya, tapi aku menolak untuk menatapnya. Panci kosong yang tadi kupakai memasak dan sekarang masih ada di atas kompor itu sebenarnya tidak jauh lebih menarik daripada manusia tampan diseberangku, tapi apalah daya.

"Aku melewatkan sesuatu, Luhan?" Suara Sehun kedengaran lebih serius dari sebelumnya.

Aku menoleh dan menatap langsung mata tajam itu. "Ya, kau melewatkan sesuatu dengan mandi." Itu sedikit ketus. Dan aku tidak percaya suaraku bisa setajam barusan.

Sehun mengernyit. "Dan apakah itu?"

Aku membuka tanganku lebar dan menunjukkan padanya masakanku yang sudah tertata dan siap makan di atas meja. "Kau lihat semua ini?"

Aku melihat mata Sehun menjelajah meja. Mungkin kini ia menyadari jika meja makannya kini sudah terisi semangkuk nasi, sepiring besar ayam fillet dan semangkuk besar kari yang asapnya mengepul, plus 2 gelas jus mangga. Makan malam buatanku yang sebenarnya sedikit tidak pantas dikatakan makan malam. Tapi saat mata Sehun kembali bersirobok dengan mataku, dia kelihatan masih kebingugan. "Ya, aku melihat masakan lezat dan berbau enakmu, tapi aku masih belum paham kemana arah pembicaraan kita. Bisa berikan aku clue lagi?"

Aku menurunkan tanganku yang mengudara dan cemberut menatap Sehun yang masih beralis mengerut. "Sekarang lihat aku!" Gerutuku.

"Oke."

Dan sebenarnya dia belum oke. Dari mata Sehun yang masih belum berkilat, aku yakin dia masih belum paham maksudku. "Sehun! Kau yakin kau adalah dosen hot yang diagung-agungkan cerdas di kampus?!"

"Kupikir itu memang aku. Hot dan cerdas seperti yang kau bilang."

Aku menyipit. "Jadi?"

Sehun balas menatapku dengan sipitan matanya yang sudah asli sipit. "Jadi?"

Aku meraung frustasi. "Jadi ini adalah kedua kalinya aku makan bersamamu dengan lusuh!"

Dan akhirnya mata Sehun berkilat. "Oh, apa kau berusaha mengatakan bahwa ini tidak adil jika aku sudah mandi sedangkan kau belum, gadis manis?"

Ah, sepertinya Sehun tidak secerdas yang dikenal orang.

Aku melipat tanganku di bawah dada dan mencibir. "Daya tangkapmu benar-benar luar biasa, Sehun."

Sehun tertawa mendengarku. Tawanya mengalun dan membuat suasana dapur sangatlah hidup. Aku suka tawa Sehun! Sangat suka!

Aku mengendik bahu dan mulai menyendok kari di mangkuk besar. "Aku menemukan bumbu kari ibumu di kulkas." Kataku berusaha mengalihkan obrolan kami.

Sehun meredakan tawanya dan menatap kari yang ada di sendokku dan sekarang masuk ke mulutku. Untuk sejenak, Sehun masih menatap itu dengan tawanya sudah menyingkir. Tapi kemudian mata tajamnya kembali ke mataku. "Oh- ya, ibuku mungkin meninggalkannya disana. Apa yang ingin kau lakukan setelah makan, Luhan?"

Aku melihat Sehun menyendok masakanku dan aku merasakan perasaan bangga menyusupi dadaku. "Bagaimana rasanya? Aku menambahkan wortel dan beberapa rempah lagi disana. Dan setelah ini aku ingin numpang mandi."

Sehun mengunyah makannya dan aku menyendok nasi dan kari lain. Mata Sehun membentuk sabit dan bibirnya yang tipis itu melengkung. "Ini luar biasa enak dan patut kuakui, aku berharap menikah denganmu."

Saat itulah aku tersedak. Makananku masuk ke tenggorokan alih-alih ke kerongkongan. Efeknya luar biasa. Hidungku kesulitan menarik udara dan aku kelabakan. Sehun kelihatan cukup panik ketika mengulurkan jusku dengan tangan bergetar.

Entah atas dasar apa dia sampai tremor semacam itu. Bisa saja karena baru saja membuatku nyaris mati, atau bisa juga karena dia baru saja berucap hal aneh. Aku tidak tahu.

Aku menegak jusku dan untung saja nafasku kembali lancar perlahan.

Melirik Sehun, aku menemukan dia mengusapkan tangannya kebelakang leher. "Well, Luhan, kau bisa menganggap ini lamaran. Tapi kau tidak perlu menjawab apapun. Aku tahu segalanya terlalu cepat buatmu, walau sebenarnya tanpa kau tahu, itu tidak benar." Aku lupa caranya bernafas lagi ketika Sehun melirikku malu-malu, apa-apaan tatapan a la cowok abg malu-malu itu! "…Mungkin lebih baik jangan dijawab sekarang! Ini sangat tidak romantis. Akan kuulang lagi dengan persiapan yang lebih matang." Begitu katanya.

Aku menegak jusku lagi dan mengernyit. Kenapa suasananya jadi sangat serius seperti ini!

Dan serius nih, Sehun barusan melamarku? Bukankah kami baru resmi pacaran kemarin? Tentu saja segalanya terlalu cepat!

Akhirnya aku menggeleng. "Akan kuanggap barusan tidak ada yang terjadi." Itulah satu-satunya yang terpikir olehku.

Tidak mungkin kan jika aku mengiyakan saja lamaran Sehun, meskipun sebenarnya aku juga tergiur sekali dengan bayangan hidup selamanya bersama pria hot itu. Tapi, tentu saja aku harus menyadarkan akalku.

Sehun mengangguk, "Ya," Katanya dan mungkin aku berhalunasi jika bahu Sehun melorot kecewa.

Aku membuang muka, untuk kedua kalinya. Dan aku berdiri dari kursiku. Sehun mendongak padaku. Tidak yakin dengan apakah yang kulakukan benar, aku meliriknya sedikit sebelum beranjak pergi. "Aku akan mandi sekarang. Lanjutkan makanmu!"

Mungkin sebaiknya aku tidak melihat kekecewaan Sehun karena itu hanya akan membuat mulutku gatal ingin menyenangkan Sehun dan membuat aku menyesal kemudian karena menjadi gadis gampangan.

.

.

.

.

.

.

.

Begitu sampai di kamar mandi tamu, aku segera melepas pakaianku dan masuk ke dalam shower box. Air dinginnya kunyalakan dan tubuhku seketika basah mulai dari rambut sampai ke kuku kaki.

Bayangan Sehun yang duduk merosot itu kembali mengiyang. Dia kelihatan kecewa dengan ketidak-acuhanku. Aku tidak tahu siapa yang bisa disalahkan. Mungkin itu diriku sendiri yang menjadi penyebab kecewaanya. Tapi Sehun juga salah. Dia membuatku tidak nyaman dengan sikap kakunya. Dia begitu blak-blakkan dan tanpa persiapan.

Jujur saja aku senang ketika mengetahui Sehun ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamaku. Tapi aku juga merasa buruk ketika dia mengatakan hal itu dengan entengnya dan tanpa persiapan, seolah aku tidak begitu berarti untuknya sampai dia harus repot-repot memikirkan perasaanku setelahnya.

Aku menggeleng dan mencoba merilekskan tubuhku. Ketika pikiranku penuh seperti ini, yang perlu kulakukan adalah berhenti berpikir dan tidak mengambil keputusan apapun. Aku bisa menyesal dengan sangat buruk jika membiarkan diriku membiarkan mengambil keputusan disaat kepanasan seperti sekarang.

Aku mengambil puff sabun dan menggosok kulitku sedikit kasar. Sekali lagi, aku perlu bernafas! Rasanya bukan hanya otakku yang penuh, paru-paruku juga penuh oleh entah apa sehingga membuat dadaku sesak. Pikiran dan emosi buruk dari masa lalu mulai terputar di depan mataku.

Tuhan, bukan ini yang kubutuhkan sekarang!

"Aaaarghht!!" Aku menjatuhkan puffku dan menutup mataku dengan kepalan tangan.

Kumohon, tinggalkan aku sendiri!

Aku menutup mataku erat ketika bayang-bayang itu tidak berhenti. Mataku sudah tertutup dan yang kulihat hanyalah gelap. Tapi anehnya aku masih bisa melihat hal-hal buruk itu dengan jelas. Sialan! Sialan!

Tuhan, kumohon, selamatkan aku!!

"LUHAN! Apa yang terjadi?" Aku mendengar Sehun berteriak dari luar kamar mandi. Dia kedengaran tidak sabar dengan gedoran pintunya. Aku ingat mengunci pintunya, jadi tentu saja Sehun tidak bisa menerobos masuk dan menemukanku telanjang sambil meraung seperti ini. "Luhan!! Aku mendengar teriakan! Kau baik-baik saja? Jawab aku!!"

Dan saat itulah aku mampu menarik nafas lagi, meski lewat mulut. Tidak mengapa. Rasanya lega sekali!

Aku terengah dan mencoba memikirkan segala hal baik untuk menyingkirkan gambaran-gambaran buruk yang masih memutari kepalaku.

"Luhan!! Please! Kau harus menjawabku jika tidak ingin aku menghancurkan pintu sialan ini dan menyelinap masuk ke dalam! Luhan!"

Aku membuka mataku dan merasakan mataku panas, nyaris tidak mampu mempertahankan kelopakku agar tetap terbuka. Namun aku bersyukur. Bayangan itu sudah pergi. Kali ini aku mampu meluruskan otakku lagi dan aku melangkah keluar dari shower box dengan ketelanjanganku. Sehun masih setia menggedor dengan keras. "Diamlah, Sehun!" Aku menerikinya dan dia seketika diam.

"Apa yang terjadi di dalam?!" Lalu dia mulai berisik lagi ketika aku meraih bathrobe tebal.

Aku menatap cermin besar dan tidak menjawab pertanyaan Sehun. Aku melihat ada seorang gadis dengan rambut dan wajah basah kuyup. Bahunya naik turun tidak teratur dan dia kelihatan seperti baru saja kontipasi parah diatas WC. Parah, tapi itu aku. Aku menyugar rambutku dan memutuskan untuk melangkah ke pintu yang tidak henti-henti ditinju Sehun.

Setelah aku memutar kunci dan mengayunkan pintu untuk terbuka, Sehun menghambur masuk. Dia melewatiku dan memeriksa segalanya. Bathtube, lantai, washtafel, shower box, dan lain-lain.

Aku tidak peduli. Yang kulakukan adalah keluar dari kamar mandi pengap itu dan terhenti ketika Sehun menarikku membentur dada bidangnya.

"Kau baik-baik saja?" Dia bertanya padaku dan mengelus rambut basahku yang sekarang membuat baju depannya basah.

"Tidak." Jawabku singkat.

Sehun melepaskanku dan mengusap mataku. "Karena matamu sakit? Mereka merah sekali. Apa yang terjadi? Kumohon, Luhan. Aku kehilangan akal ketika kau pergi begitu saja setelah menolakku, dan lalu kau berteriak kesetanan dari kamar mandi yang terkunci."

Mataku merah? Pantas saja rasanya aku kesulitan melek. Mungkin tadi kena tanganku yang bekas memegang sabun.

Aku menutup mataku dan menikmati usapan Sehun di wajahku.

"Luhan, gadis manis, katakan sesuatu!" Sehun menyentakku, walau tangannya masih mengusap dengan kelembutan yang membuatku terlena.

"Cerewet! Jangan pernah melamarku atau apapun lagi! Kau dengar?!"

Dan amarahku yang biasanya kutahan itu tersulut dengan mudah ketika mendengar Sehun berkata keras… terlebih padaku.

Aku bersumpah, aku tidak butuh amarah Sehun sekarang! Aku butuh menenangkan diri setelah trans sialan itu!

.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

.

.

.

.

ALASAN KENAPA GUE UPDATE CEPET:

Satu, karena gue minta maaf kemarin telat.

Dua, gue gak sabar nungguin colabnya Sehun Chanyeol.

Tiga, sekarang hari libur -walau tugas kuliah gak ada liburnya.

Empat, gue lagi happy, kemaren abis nonton Iko Uwais yg macho parah di Mile22.

Wkwk random banget gue orangnya.