Sorry for being late.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tenang.
Aku kini duduk di sofa TV Sehun dengan ketenangan yang memang kubutuhkan sejak kejadian di kamar mandi. Sehun ada dibelakangku. Sedang mengeringkan rambutku dengan handuk. Dia diam dan tidak banyak menggangguku setelah aku berteriak padanya.
Segalanya kembali seperti semula untukku. Mataku sudah tidak perih, dan kuduga itu sudah tidak merah. Emosiku sudah stabil dan akalku sudah kembali sekarang. Aku merutuki diriku sendiri yang tadi bisa saja membentak Sehun. Aku tidak biasanya marah-marah, aku selalu mensugesti diriku bahwa aku harus ramah pada semua orang. Aku ingin diterima dengan baik dimanapun aku berada. Termasuk diterima oleh Sehun. Tapi kejadian barusan, tentu saja merupakan poin negatif.
"Hmm." Aku bergumam dan Sehun berhenti mengusap rambutku.
Aku memutar tubuhku yang masih berbalut bathrobe dan melesakkan punggungku ke sandaran, tapi aku masih ragu untuk berhadapan dengan Sehun.
Sehun memangku handuk basah di tangannya. Dia ikutan bersandar sepertiku. Mungkin dia sekarang lelah menghadapiku.
Dan kami tidak mengucapkan sepatah katapun.
Keheningan ini mencekikku. Aku tidak butuh ketenangan lagi! Jadi aku berucap, "Sorry untuk yang tadi." Aku akhirnya menemukan lagi kewarasanku.
Dari ekor mataku, aku mengetahui Sehun menatapku lekat. "Apa ini artinya aku sudah boleh bertanya soal apa yang terjadi tadi? Dan kau tidak perlu minta maaf soal apapun."
Sehun kedengaran hati-hati sekali mengatakannya. Oh, mulut tajamku tadi mungkin sudah membuat Sehun keki denganku.
"Tidak, jangan bahas yang tadi, Sehun, kumohon. Dan aku perlu minta maaf soal membentakmu, aku tahu aku berlebihan."
"Kalau begitu aku juga perlu minta maaf. Aku memaksamu untuk menjawab segala pertanyaanku tanpa memikirkan keadaanmu. Kau berteriak lalu muncul dengan keadaan buruk. Aku khawatir dan bingung apa yang terjadi pada-"
"Please, bisakah kita membicarakan hal lain? Aku baik-baik saja sekarang." Aku menatap Sehun pasrah. Aku tidak ingin mengingat hal buruk.
Sehun menatapku lama, "Aku tidak bisa, Luhan. Aku takut terjadi sesuatu padamu dan aku ingin tahu apa yang kulewatkan."
"Kau egois." Kataku cepat dan tanpa berpikir.
"Apa?"
Ya, apa?!
Aku tidak tahu darimana aku punya keberanian menyebut pria superior itu egois. Entahlah, emosiku mulai tidak stabil sekarang. Aku jadi mudah marah rasanya.
Aku mendesah. "Lupakan saja!"
"Tidak akan ada yang akan kulupakan dari hari ini, Luhan." Sehun menatapku dengan tajam dan atmosfer diantara kami memanas lagi. "Besok. Sepulang kelas kita, pulanglah ke rumahku. Rumah orang tuaku." Aku mendengar intonasi tidak menerima bantahan di suara Sehun, dan itu menyulutku dengan cepat.
Aku melotot pada Sehun. Apa pria ini bercanda?! "Apa maksudmu?!"
"Aku akan memberitahu mereka jika kau pacarku sekarang!" Sehun balas berteriak padaku.
Dan aku tidak bisa menahan diriku berdiri berkacak pinggang. "Tidak! Aku tidak mau. Gila kau! Kita baru saja pacaran kemarin, idiot!"
Sehun kelihatan juga tersulut sampai ikut berdiri menjulang di depanku. Aku mendongak menantang tubuh tingginya. "Makanya akan kubuktikan jika aku serius! Persetan dengan kemarin atau seabad yang lalu! Jadi jangan pernah sekalipun kau menganggapku rendah, Luhan, kuperingatkan kau!"
"Egois, egois! Lihat! Kau memang tidak pernah memikirkan perasaanku sekalipun! Bahkan sejak dulu! Kau sama sekali tidak pernah peduli jika kita terpisah dan aku pupus dengan harapan bisa ketemu kau lagi! Brengsek!" Dadaku naik turun. Aku terengah lagi. Dan aku melihat Sehun menatapku kecewa.
Di detik itu, aku baru menyadari akulah si brengsek. Aku baru saja minta maaf, tapi aku malah kembali mengatai Sehun.
Sehun merosot dan kembali duduk. Ahh, kenapa hari ini Sehun si jelmaan malaikat itu mudah sekali merosot dan mudah marah sepertiku juga, jika aku boleh menambahkan. "Aku minta maaf, Luhan. Sungguh. Kau benar, aku brengsek karena menyerah dengan mudah ketika kau meninggalkanku dulu. Aku juga brengsek karena terbawa emosi dan mengesampingkan perasaanmu." Aku melihat Sehun mengusap wajahnya kasar. "Sungguh! Aku tidak tahu sebegini buruknya akibat lamaranku tadi. Kau pasti tidak terpikir dan tidak akan pernah membayangkan akan menjadi istri dari brengsek macam aku. Aku tidak tahu aku bisa sebegini tidak dewasanya!"
Aku memalingkan muka. Mataku memanas, rasanya aku ingin menangis mendengar suara Sehun yang sendu. "Kau dewasa, kau mau merendahkan dirimu hanya untuk menghadapi emosi kekanakanku." Aku bergumam. Entah Sehun mendengarnya atau tidak, tapi sepertinya iya, karena dia menyentuh jemariku lembut. Lembut sekali sentuhannya itu.
"Ikutlah denganku besok. Jika kau tidak ingin pergi karena tidak ingin berkomitmen denganku, setidaknya kita bisa mengenang masa remajamu lagi. Kau kelihatan lelah, Luhan."
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Sehun sekarang. Tapi aku membiarkan Sehun mengusap punggung tanganku. "Entahlah." Dan hanya itu yang mampu kuucapkan.
Aku tidak tahu mengunjungi lingkungan yang pernah kutinggali dulu itu adalah ide baik atau buruk.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
