Lalu disinilah aku berakhir. Duduk gelisah di jok samping Sehun yang sedang menyetir. Entah bagaimana Sehun bisa meluluhkan pendirianku untuk kesekian kalinya. Ini bukan yang pertama. Yang pertama adalah tekadku yang tidak ingin dekat-dekat lagi dengan pria itu, dan berhasil di patahkan. Dan yang ini jadi, yang kesekian kalinya karena Sehun selalu membawa sesuatu yang membingungkan dan aku tertarik sekali untuk menguraikannya. Inginnya kuuraikan saja isi kepala Sehun supaya aku tidak perlu repot dengan hatiku yang berdentum jatuh cinta. Mungkin aku dimantrai.

Tangan Sehun tiba-tiba saja menggenggam tanganku yang berkeringat di pangkuan. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Luhan. Aku sudah menghubungi orang tuaku kemarin dan mereka senang mendengar namamu lagi setelah sekian lama. Mereka sedang menunggu kita makan malam disana."

Aku menatap Sehun. Apakah Sehun benar-benar serius akan mengenalkanku pada orangtuanya sebagai seorang pacar? Aku tidak tahu. Dan rasarnya masih sulit percaya.

Yang aku tahu dan percayai adalah orang tua Sehun adalah orang tua yang tampan dan cantik. Dulu saat umurku 13, aku punya perserpsi jika keluarga Sehun adalah keluarga malaikat. Mereka indah. Sehun mewarisi ketampanan dan feromon menarik dari orang tuanya yang juga menawan. Aku tidak begitu mengenal ayah Sehun yang jarang di rumah itu, tapi aku kenal dekat dengan ibu Sehun yang wajahnya teramat cantik dan enak dilihat. Ibu Sehun juga baik dan sering membuatkanku kue ketika aku main ke rumah Sehun.

Hanya saja yang jadi pikiranku sekarang adalah, apakah segalanya yang kulakukan dengan memutuskan mengikuti Sehun ke rumahnya lagi adalah pilihan baik?

Entahlah.

Aku merasakan tanganku semakin berkeringat dan Sehun seperti tidak terganggu dengan tangan basahku itu. Tangan besarnya masih mengungkung milikku yang kecil. Aku memalingkan muka dan menghadap ke jendela. Kami sudah menempuh perjalanan sejam. Dan kira-kira masih butuh setengah jam lagi untuk sampai ke kediaman Sehun.

"Jangan berpikir untuk mundur, Luhan. Tidak ada jalan untuk kembali." Ucap Sehun dengan suara seraknya.

Memang aku mau mundur kemana lagi jika sekarang sudah duduk di mobilnya?Aku menghela nafas. "Aku tidak tahu kau sangat suka mengatur." Gumamku tanpa minat.

Sehun kelihatannya mendengar suara kecilku itu karena dia mengeratkan tangannya. "Aku tidak ingin melakukannya padamu, percayalah."

"Tapi kau sudah melakukannya. Apa kau tidak punya pembelaan atas hal itu?" Aku bertanya dan hanya melihat Sehun dari pantulan kaca jendelaku. Sehun masih fokus menyetir walau dia melirikku sesekali dengan penuh penilaian.

"Kau tidak suka jika aku mendominasimu?" Sehun balik bertanya dan aku menoleh padanya. Mendominasiku, katanya? "Jangan menatapku begitu, seolah aku baru saja berbuat tidak senonoh padamu." Apa katanya?!

"Aku tidak suka. Aku tidak suka kau terlalu mengaturku. Aku tidak suka kau mencampuri hal-hal pribadiku." Dan aku tidak suka pada Sehun yang kasar, posesif dan bersikap begini padaku. Jika diingat lagi, Sehun berubah sejak sore kemarin saat di meja makan.

"Aku pacarmu. Tidak salah kurasa jika aku mengontrolmu sedikit."

Aku menatapnya tidak percaya, apa pria ini benar Oh Sehun? Kenapa dia egois sekali. "Sehun, kau memaksaku!" Aku berteriak.

Sehun kelihatan kaget dan dia mengerem mobilnya mendadak. Aku hampir menyeruduk dasbor jika tidak ada sabuk pengaman yang menahanku. Dan aku menoleh ke kaca belakang. Siapa tahu akan ada kecelakaan karena mobil lain menyodok mobil Sehun yang tiba-tiba berhenti. Tapi yang kulihat adalah jalanan lenggang. Dan ketika aku menoleh ke jendelaku, ternyata kami sudah sampai di depan rumah Sehun yang sederhana namun mempesona itu. Sedikit banyak, aku teringat masa remajaku yang hampir setiap hari kuhabiskan di sana. Rumah Sehun tidak banyak berubah. Tapi sekarang bukan itu yang penting.

Sehun perlu dihadapi dan ketika aku kembali menatapnya, dia menatapku kecewa. Entah apa maksudnya. Dia yang memaksaku, memaksa datang kesini, tapi dia malah kecewa ketika aku mengatakan dia sudah memaksaku. Itu faktanya. Jadi bagian mana yang membuatnya kecewa?!

Sial, Sehun membingungkan sekali!

"Kau memaksaku datang kesini, sekarang apa lagi maumu?" Aku memutuskan menghadapi Sehun yang membingungkan ini.

Sehun tidak bereaksi banyak. Dia hanya mencengkeram kemudi dengan erat dan melirikku dari ekor matanya dengan tajam. "Sialan, Luhan, jangan memancing emosiku."

Aku memalingkan mukaku seketika. "Kau baru saja mengumpatiku, Sehun! Dan baiklah, jika maumu aku tidak memancing emosimu, baik. Sesuai apa yang kau inginkan. Sekarang aku akan turun dan pura-pura jadi pacarmu di depan orang tuamu." Aku tidak tahu apa yang kuucapkan. Segalanya mengalir begitu saja. Bahkan ketika aku melepas sabuk pengamanku dengan cepat dan melompat ke luar dari mobil Sehun, aku masih kesulitan mengatur sistem otakku.

Aku membuka pagar kayu dan menghambur masuk ke halaman yang di tumbuhi rumput kecil, tanpa menunggu Sehun. Aku bahkan mengetuk pintu rumah itu dengan cepat. Bisa dikatakan menggedor juga. Untungnya aku tidak perlu menunggu lama. Di ketukan ketiga, pintu itu mengayun terbuka. Seorang wanita cantik berwajah keibuan nan lembut menyambutku. Luapan emosi segera mengambil alih diriku. Aku ingin menangis karena Sehun sangat jahat, tapi aku tidak mungkin menangis di momen ini, jadi aku tanpa permisi segera masuk ke dalam pelukan ibu Sehun. Mata separuh basahku kutenggelamkan di bahu wanita itu.

"Luhan.. lama tidak berjumpa." Suara wanita itu mengalun kalem dan aku mendapatkan semangatku lagi.

Aku melepas pelukanku dan mataku sudah kembali normal. Sehun entah sejak kapan berdiri di sebelahku dan menatapku. Aku menghindari menatap mata pria jahat itu.

"Bagaimana kabarmu, Luhan?" Ibu Sehun menangkup pipiku dan aku tersenyum lebar.

"Tidak baik! Aku kangen ibu sampai mau mati rasanya!"

"Baguslah, karena ibu juga rindu padamu. Kau tumbuh menjadi gadis cantik. Ayo masuk, kau pasti lelah dengan perjalanannya." Ibu Sehun melepasku dan giliran memeluk Sehun. "Ibu senang kau akhirnya membawa Luhan kemari lagi, Sehun. Bagaimana kabarmu? Segalanya lancar?"

Aku menekuri wajah ibu Sehun yang cantik dan awet muda. Wanita ini tidak berubah. Tetap baik dan ramah. Untuk ukuran ibu yang sudah punya anak laki-laki berumur, ibu Sehun amatlah terlihat muda.

"Segalanya baik, dan ini… Luhan membawa ginseng merah." Sehun menjawab dan aku baru ingat pada bungkusan ginseng yang baru kubeli pagi buta tadi di pasar. Kelihatannya Sehun mengambil bungkusan itu dari bagasi dan bersedia membawakan itu untuk ibunya.

Ibu Sehun meraih bungkusan itu dan berbalik padaku. "Kau tidak perlu repot, sayang. Kau hanya perlu datang mengunjungi rumah ini lebih sering. Tidak perlu membawa apapun lagi mulai sekarang, oke?"

Aku mengangguk ringan pada ibu Sehun yang tersenyum cantik.

"Ayo masuk. Apa kau mau mandi dulu, Luhan? Ini masih sore dan kau bisa istirahat dulu sebelum makan malam."

Aku mengangguk degan ringan lagi dan tersenyum. "Ide bagus, bu. Badanku agak pegal sebenarnya."

"Sehun, antarkan Luhan mandi di kamar tamu."

Aku menegang saat Sehun tiba-tiba menggenggam jemariku. "Tentu. Ayo," Dan ketika dia menarikku, aku hanya menunduk. Ibu Sehun melempar senyum padaku dan aku menyadari jika mungkin ibu Sehun kini sudah menangkap ada sesuatu antara aku dan anak prianya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

.

.

Iya, bersambung.

Maafin ye, gak muncul berapa hari nih gue?

Real life lagi riweuh parah. Beberapa hari ini gue ngurusi pendaftaran buat jadi delegasi ke Thailand, tapi pas di detik-detik terakhir, gue malah mengundurkan diri karena diharuskan berangkat bulan depan sementara gue belum ada duit jeti-jetian buat beli makan disananya.

Lhah malah curhat soal isi dompet nih gue wkwk. Ya pokonya gitu lah.

Gue seneng Sehun n Chanyeol ganteng parah di WeYoung.

HBD buat Jongdae.

Congrats juga buat si caem Luhan yg mau second konser. Jaga kesehatanmu, babe*