Thanks for your nice respond, guys. Gue menghargai yg udah capek-capek ngetik reviewan. Sumpah it means a lot.
So far, banyak yg protes gasuka n kepo soal karakternya Luhan yg hipokrit alias muna disini, hooh gue juga gasukaaaaaa Luhan yg kek gelo sama Sehun, tapi sabr gesssss... ada saatnya buat kalian tahu ada apasih dengan Luhan yg kampret bat di story ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun menarikku menuju sebuah kamar berpintu putih gading. Kamar itu berwarna putih keseluruhannya dan rapi, serta minimalis. Hanya ada ranjang queen dan sebuah sofa baca di pojokan. Ada jendela besar yang menghadap ke pekarangan samping. Sekarang jendela itu membawa cahaya oren sore hari yang membuat suasana kamar jadi semakin homish. Lalu ada pintu gading lain disebelah lemari kecil. Mungkin itu kamar mandinya.
Sehun baru berhenti menarikku ketika kami sampai di sebelah ranjang dan aku meletakkan tas tanganku disana. "Luhan, soal yang tadi-"
"Sehun, aku ingin ke kamar mandi." Aku memotong ucapan Sehun dan menarik tanganku dari genggaman hangatnya.
"Tapi-"
Aku menunduk. "Kumohon."
Oh tidak, aku tidak butuh berkonfrontasi dengan Sehun sekarang. Ibu Sehun atau ayahnya yang entah di rumah atau tidak, bisa mendengar pertengkaran kami. Itu tentu saja tidak bagus mengingat ini kunjunganku yang pertama setelah sekian lama.
"Baik, mandilah, Luhan. Aku akan kesini setengah jam lagi." Dan akhirnya Sehun pergi.
.
.
.
Tepat setengah jam kemudian, seseorang mengetuk pintuku. Aku baru saja ke luar kamar mandi dengan pakaian yang sama namun dengan rambut basah. Sebuah dress hijau casual berlengan tiga per empat.
Sehun sepertinya tidak bercanda dengan segala ucapannya. Aku mulai merasa selama ini aku tidak cukup mengenal Sehun. Dia asing sekali. Terlalu mengekang dan berbeda dengan Sehun yang ramah.
"Masuklah."
Seseorang yang tadi mengetuk pintuku dan memang benar Sehun, masuk setelah kupersilahkan. Dia sudah tidak mengenakan kemeja abu yang ia pakai tadi. Sekarang tubuh atasnya terbalut kaos hitam. Sementara jeansnya kelihatan masih sama. "Kita perlu bicara." Sehun berucap sambil menutup rapat pintu.
Aku memilih duduk di ranjang dan membuka tasku ketika Sehun memilih duduk di sofa baca. Aku mengeluarkan pouch riasan dan sisir dari dalam tas, tanpa menoleh pada Sehun sama sekali.
Jujur saja aku tidak suka berdiam dan mendiami Sehun semacam ini. Tapi aku tidak mau menyulut hal buruk lainnya. Sudah cukup dengan Sehun yang mendadak jadi temperamental.
Aku membubuhkan krim di wajahku sambil melirik Sehun yang menatapku dalam diam. "Kau bilang ingin bicara?" Tanyaku, memecah keheningan.
"Ya, tapi kelihatannya kau yang tidak ingin bicara."
"Aku hanya tidak berpikir pembicaraan kita akan mulus tanpa teriakan."
Untuk sesaat Sehun terdiam. "Kenapa kau berpikir begitu?"
Aku mengangkat bahuku dan mulai menyisiri rambut basahku. "Karena kau tempramen akhir-akhir ini. Dan aku tidak suka kau bentak-bentak."
Dan tahu-tahu saja Sehun sudah berjongkok di pinggiran ranjang dan meraih tanganku. "Aku bersumpah itu bukan kemauanku, Luhan."
Tangan putih nan berurat Sehun menggenggam milikku. Sisirku sudah teronggok di pojokan ranjang entah sejak kapan dan bagaimana caranya. Segalanya cepat. Sehun bergerak dengan sangat tangkas dan kini berlutut di depanku.
Tanpa sadar, aku mundur menghindar. Aku bergerak ke tengah ranjang dan aku baru sadar hal itu ketika aku menatap mata Sehun. Sebuah tatapan sendu ada di sana. Aku ingin minta maaf pada Sehun karena mungkin dia kecewa padaku, tapi otakku buntu rasanya. "Lalu apa maksudmu?" Dan malah itu yang keluar.
Sehun menutup wajahnya dengan tangan.
Oh Tuhan, apa itu aku yang membuatnya sefrustasi itu?
"Sehun?"
Sehun akhirnya membuka tangannya dan kini aku bisa melihat wajah itu yang masih menatap sendu. Aku terserang rasa bersalah lagi. "Anggap saja aku sudah gila karena kau menolak lamaranku dengan tidak berperasaan seperti semalam. Bahkan bisakah aku bilang jika sekarang kau jijik padaku sampai tidak mau kudekati?"
Tidak. Mana mungkin aku jijik padamu! Aku malahan sangat suka kau sampai rasanya sakit sekali melihatmu kacau seperti ini, Sehun.
Itu yang ingin kuucapkan, tapi sebuah ketukan menghalangiku. "Luhan? Ini ibu."
Aku menatap pintu tertutupku dengan kaget. Semoga saja ibu Sehun tidak menerobos masuk dan memergoki anaknya sedang berlutut di samping ranjangku. Aku menatap Sehun. Dia kelihatan biasa saja dan masih setia menatapku dengan mata tajam yang sayu. "Ya, bu?!" Aku berteriak panik.
"Keluarlah, ayo makan malam dulu."
"Oke! Sebentar lagi aku keluar."
Lalu untung saja ibu Sehun berlalu begitu saja.
Dan hening merajai kamar ini. Aku menatap Sehun dan Sehun menatapku. Kami mungkin salah paham sekarang. Tapi ini bukan saatnya untuk egois dan membuat orang tua Sehun yang mengharapkan makan bersama dengan anaknya itu menunggu. Jadi, aku berucap, "Kita harus makan dulu."
Aku melihat Sehun menghela nafas dan berdiri. Matanya masih memaku mataku. "Kau menghindariku lagi, Luhan." Lalu Sehun berbalik dan tidak menoleh lagi ketika keluar melalui pintu.
Aku menggigil sendirian.
Mungkin setelah makan malan, kami memang benar-benar harus bicara dan menyelesaikan masalah ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
.
.
OKE, sumpahan anti klimaksnya bentar lagi. Bakal gue bongkar deh semuanyaaaa!
