Keluarga Sehun memang betulan keluarga idaman. Aku memikirkan hal itu ketika melihat satu set keluarga itu duduk mengobrol santai di meja makan. Mereka tampan dan cantik dan aku ragu untuk mendekat.
Tapi kemudian aku menyisihkan hal itu dari otakku dan menarik kursi di sebelah Sehun dan berucap, "Selamat sore."
"Selamat sore, Luhan. Lama tidak bertemu denganmu." Yang menjawab adalah ayah Sehun yang duduk di sebelah ibu Sehun, berseberangan denganku.
Aku tersenyum dan berharap semoga itu cukup sopan karena aku sungguhan sungkan sekali dengan pria paruh baya bermata tajam itu. Jika aku akrab dengan ibu Sehun, makan ini lain cerita dengan ayah Sehun. Kami sama sekali tidak dekat, dan katakan saja obrolan kami hanya hitungan jari. Bahkan hitungannya dimulai sejak dulu, sejak usiaku 13. Poinnya, kami sama sekali tidak cukup akrab.
"Bagaimana kabar ayah?" Aku berucap hati-hati, namun masih mencoba santai.
"Segalanya baik."
"Syukurlah." Dan aku melempar senyum lagi di hadapan pria itu.
"Nahh.. mari makan." Ibu Sehun berucap dan tersenyum padaku. "Semoga kau suka, Luhan."
Tentu saja aku suka karena aku sudah biasa makan masakan ibu Sehun di apartemen anaknya. Inginnya sih kukatakan hal itu, tapi aku menahan diri dan melirik Sehun yang tidak tertarik melirikku sama sekali. Kemudian aku menatap ibu Sehun dan ayah Sehun yang menatapku dengan ramah dan penuh perhatian. "Aku yakin aku akan suka masakan ibu. Ibu sudah baik sekali padaku sejak dulu. Aku senang bisa main dan numpang makan disini lagi!" Kataku riang.
Jawaban itu memuaskan ibu Sehun, pun kelihatannya cukup menghibur ayah Sehun juga yang tersenyum diam-diam.
Hanya saja aku tidak bisa berhenti melirik Sehun ketika aku menggerakkan sumpitku.
Kami sedang duduk berdekatan semacam ini, namun aku merasakan ada dinding tinggi yang memisahkan kami. Sehun tak tersentuh dan aku rasanya juga ragu ingin menggapai Sehun. Hal ini tidak bagus. Aku tahu itu. Kami harus segera menuntaskan masalah kami jika tidak ingin sebuah alasan muncul memisahkan hubungan kami.
Tidak, aku tidak ingin putus dengan Sehun!
Sehun pacar pertamaku dan aku tidak ingin mengakhiri hubungan kami yang baru masuk hitungan tiga hari ini. Kami masih sangat hijau. Aku yakin pertengkaran adalah hal biasa. Tapi kami harus mampu bertahan. Pokoknya aku tidak ingin putus dengan Oh Sehun.
"Hmm, ibu tahu ada sesuatu diantara kalian." Tiba-tiba saja suara ibu Sehun mengalun.
Aku mendongak dari mangkukku dan menatapnya. Mungkin ibu Sehun menyadari aku terus-terusan melirik anaknya.
Aku meragu. Apa Sehun dan aku harus mengakui hubungan kami sekarang?
Aku meririk Sehun. Aku tidak yakin Sehun yang sedang marah padaku itu akan menjawab dengan mudah.
"Ibu melihat kau keluar dari kamar Luhan tadi." Wanita di seberang Sehun berucap dengan suara lembut.
Sehun membuka mulutnya, "Kami.."
Dan aku juga membuka mulutku tanpa bisa kutahan. "Sebenarnya kami pacaran sekarang."
Aku milirik Sehun ketika pria itu menatapku. Dia menatapku dengan sebuah tatapan yang bisa dengan mudah sekali kubaca apa itu. Dia lega, entah karena apa, aku tidak bisa membaca yang satu ini. Jadi, benarkah Sehun menatapku penuh kelegaan ketika aku mengatakan dengan gamblang tentang hubungan kami?
Kulihat, Sehun kini menatap orang tuanya. "Ya, kenalkan, ayah, ibu, ini Luhan. Kekasihku."
Aku ikutan menatap ayah dan ibu Sehun. Aku begitu penasaran dengan respon mereka. Apakah mereka akan tersenyum mengiyakan atau malah menggebrak meja dan mengatai Sehun gila karena memacari gadis yang umurnya terpaut jauh?
Aku ingin tahu.
Semoga saja bukan opsi yang terakhir karena aku akan meraih pisau buah di meja saat ini juga. Aku akan mengancam bunuh diri jika harus dipaksa putus dengan Sehun.
Oke, mungkin aku kekanakan dan berlebihan.
Tapi yahh, aku tidak akan melepaskan Sehun dari cengkramanku dengan mudah.
Dan aku mendengar ibu Sehun tertawa. "Tentu, tentu. Kami sudah tahu dia Luhan. Lucu sekali kau, nak."
Oke… apa ini artinya…
"Kenapa kau ragu dan malu mengenalkan kekasihmu sendiri, Sehun?" Ayah Sehun kini yang berucap. Menatap Sehun geli.
Jadi?
Ini artinya mereka merestuiku yang jadi pacar Sehun!
Assa!
Aku menatap Sehun. Sehun menatapku dalam. "Kami memang pacaran. Aku tidak ragu dan malu, ayah. Aku bahkan sudah melamar Luhan kemarin."
Oh tidak...
Aku menatap Sehun kaget. Oh Sehun! Kau yakin ingin membahas ini sekarang?!
"Sehun!" Aku memekik.
Ayah dan ibu Sehun menatap kami bergantian, aku tahu itu.
Sehun memalingkan muka dariku. "Tapi Luhan menolakku."
Aku tidak tahu harus bagaimana. Sepertinya Sehun berniat memojokkanku di depan orang tuanya. Aku tidak berpikir itu karena Sehun ingin aku terlihat jelek di depan orang tuanya. Tentu saja tidak. Walau kadang cara berpikirku gegabah dan kekanakan, tapi aku tahu Sehun sekarang hanya sama-sama suntuknya sepertiku karena masalah kami. Dia pasti hanya ingin menyelesaikan masalah ini.
Tapi… aku harus menjawab apa?!
Aku menghela nafas dan meletakkan sumpitku diam-diam. "Aku minta maaf. Tanpa mengurangi rasa hormatku, aku menolak Sehun karena kurasa hubungan kami terlalu terburu-buru. Segalanya terlalu cepat untukku. Kami sedang makan malam saat itu, tepatnya makan kari yang ibu buat. Lalu tiba-tiba saja Sehun bilang ingin aku jadi istrinya. Terlebih kami baru mulai beberapa hari lalu. Yah begitulaah. Kuharap aku tidak menyinggung." Aku menunduk, tidak berani menatap orang tua Sehun dan juga Sehun yang kelihatannya enggan membela diri.
Ayah Sehun tiba-tiba berdehem. "Yang seharusnya minta maaf adalah aku, nak Luhan, aku belum mendidik Sehun dengan benar."
Aku mendongak. Apa ucapanku tadi salah? Apa aku baru saja menyinggung ayah Sehun? Oh, mati aku!
"Maaf?" Aku menatap ayah Sehun yang menatapku tajam. Sumpah, orang ini betulan ayah Sehun. Mereka bagai pinang dibelah dua. Mirip sekali tatapannya.
"Setiap anak gadis sangat berharga. Terlebih kau, Luhan. Kami sudah menganggapmu keluarga sejak kau kecil." Apa?! Aku tidak percaya dengan pendengaranku. Apa ayah Sehun diam-diam sudah peduli padaku sejak dulu?! Aku hampir membuka mulut ingin mengucap syukur, saat ayah Sehun membuka mulutnya lagi. "Dan maafkan aku, aku belum mendidik Sehun soal bagaimana cara melamar dengan benar. Kau patut mendapatkan perlakuan seorang gentleman, bukannya ucapan sembrono tanpa persiapan matang anakku."
Ibu Sehun di lain sisi, mengangguk. "Sayang, kau benar. Sehun seharusnya melamar Luhan dengan sebuah makan malam di tempat romantis yang penuh bunga atau semacamnya. Luhan pasti tidak akan mampu menolak. Bahkan meskipun hubungan mereka masih baru, Luhan pasti luluh jika saja Sehun melakukannya dengan benar."
"Ibu yakin?" Sehun bertanya dan aku mampu menangkap suara bersemangatnya.
Baiklah bagus, sekarang aku benar-benar tidak bisa lari lagi.
Kelihatannya keluarga ini kompak sekali memutuskan segalanya sendiri. Mungkin Sehun tidak egois seperti yang akhir-akhir ini kupikirkan. Mungkin itu hanya tipikal.
Aku hanya berharap semoga saja Sehun tidak berusaha melamarku lagi. Aku tidak siap melihatnya kecewa lagi ketika aku menolaknya.
Ya, aku memang akan menolak Sehun.
Tapi siapa yg tahu jika kedepannya nanti? Sehun kan selalu bisa mengacaukanku.
.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
.
.
Gue up dobelh!
