Kenyataan bahwa Sehun itu adalah manusia tampan dan aku menolak lamarannya adalah sebuah beban tersendiri untukku. Sehun sangat sempurna dan aku tau aku adalah idiot karena menyakiti hati pria itu.
Dan karma mendatangiku dalam bentuk mimpi buruk yang membuatku terengah sekarang. Aku merasakan kepalaku pusing dan dadaku sesak lagi seperti saat di kamar mandi tempo hari. Aku meremat sprei putih yang jadi alas ranjangku. Ini nyaris tengah malam ketika aku melihat jam dinding. Dan aku buru-buru melompat dari ranjangku ketika nafasku mulai berulah lagi. Aku butuh udara segar.
Membuka pintu dan disambut oleh kegelapan rumah Sehun, aku jadi ragu ingin menyeberangi ruangan-ruangan gelap yang tidak kukenali ini. Ya, ini masih di rumah Sehun. Ibu Sehun memaksa kami untuk menginap, aku ingin menolak karena berada di tengah-tengah keluarga Sehun adalah hal terakhir yang ingin kudapatkan hari ini. Namun ibu Sehun mengatakan jika dia merindukan Sehun, anaknya, jadi aku tentu saja aku tidak kuasa menolak. Permintaan itu terlalu tulus.
Ngomong-ngomong, entah bagaimana, aku malah mampu berlari menyelinap ke depan pintu coklat yang kutahu kamar milik siapa itu. Padahal tadi aku takut melangkah keluar kamar.
Aku mengetuk pintu itu. Tapi tidak ada jawaban. Kini aku mulai gemetaran. Lorong ini terlalu gelap dan nafasku kembali susah untuk dihela. Aku mengangkat tanganku untuk mengetuk lagi. Itu ketukan yang panjang dan aku akan kembali ke kamarku ketika pintu itu mengayun terbuka.
Sehun dengan mata sayu berdiri dengan tangan menahan pintu. Yang membuatku salah fokus adalah dia kini sedang bertelanjang dada. Mati-matian aku mencoba untuk tidak menatap selain wajah Sehun. Dia kelihatan terkejut ketika melihatku. Mungkin dia berpikir, untuk apa lagi aku mencari gara-gara dengannya tengah malam begini.
Jadi sebelum dia mengutarakan kejengkelannya, aku membuka mulutku lebih dahulu. "Aku sulit bernafas di kamarku."
Mata sayu Sehun kini terbuka dan dia membuka pintunya lebih lebar. "Yeah jadi itu alasanmu tengah malam begini mengetuk pintuku. Apa kau mau 'bernafas' di kamarku?"
Apa tadi dia bilang?
Otakku bermasalah seketika. Aku tidak bisa menahan diriku mengintip kamar Sehun yang gelap gulita. Tidak bisa melihat apapun disana karena sama sekali tidak ada cahaya, sebenarnya. Luhan sadarlah! Aku malu sendiri mengakui bahwa aku kepikiran masuk ke dalam kamar Sehun.
Dan sebenarnya aku masih berusaha keras menahan mataku bergulir menyusuri tubuh atas Sehun yang tidak tertutup apapun.
"Umm, sebenarnya kupikir kau bisa menemaniku menghirup udara segar di halaman." Aku mengucapkan kata demi kata sambil menatap mata Sehun yang agak merah. Tadinya pasti Sehun sedang tidur sebelum aku datang.
Aku melihat Sehun menggeleng. "Tidak. Di luar dingin. Kau bisa sakit."
Kini giliran aku yang menggeleng. Teringat masalah kami lagi. Sehun sangat perhatian padaku dan aku malah menolak lamarannya dengan tidak tahu diri.
"Ada apa?" Sehun bertanya dan aku menatap mata tajamnya yang berubah dingin. "Kau kelihatan pucat, Luhan."
Aku merutuki diriku yang keluar kamar tanpa peduli tampang. Wajahku pasti kuyu dan tidak menarik untuk di lihat. Bahkan aku tidak yakin jika rambutku masih lurus dan tidak ada yang mencuat memalukan. Tanpa sadar, aku menyugar rambutku. "Aku mimpi buruk, Sehun." Ucapku.
"Aku tahu, gadis manis. Kau pikir aku percaya ketika kau bilang kesulitan bernafas di kamarmu? Kau hanya terlalu malu mengakui kau masihlah seorang gadis manis yang takut pada mimpi buruk."
Tatapan dingin Sehun menghilang dan aku merasakan pipiku memanas ketika dia menatapku kalem.
Sehun, jangan menatapku begitu ketika kau sedang setengah telanjang semacam ini. Kumohon.
"Jadi, lupakan soal halaman rumah dan masuklah ke kamarku. Aku akan menemanimu mengobrol tanpa membangunkan orang tuaku."
Itu ide bagus sebenarnya. Aku punya teman mengobrol. Tapi di dalam kamar Sehun? Tengah malam begini? Au tidak yakin.
"Aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kau inginkan, Luhan. Jika itu yang kau khawatirkan dengan masuk ke kamarku. Aku janji, aku tidak akan menyerangmu atau apapun itu."
Begitu mendengar itu, aku mengangguk. Setidaknya aku kenal seorang Sehun yang selalu menepati ucapannya. "Tapi, Sehun," Aku menatap Sehun yang juga menatapku. "Aku tidak suka gelap, bisakah kau menyalakan lampunya? Dan pakailah bajumu?"
Sehun terkekeh dan mengulurkan tangannya ke tembok dekat pintu untuk membunyikan sebuah klik dari lampu yang kini menyala. Kamar Sehun kini layaknya sebuah surga penuh kilauan yang mengundang. Dia juga meraih kaos hitamnya dari gantungan di belakang pintu. Dia memakai kaos itu pelan-pelan, seakan sedang menggodaku. Oh Sialan! "Sudah…" Begitu katanya setelah kaosnya terpasang.
Aku tidak menjawab dan memilih masuk ke kamar Sehun dengan tenang. Kamar Sehun tidak jauh berbeda dengan apartemen milik pria itu. Segalanya berwarna keabuan. Hanya saja kamar ini juga menunjukkan bagaimana perjalanan masa kecil dan remaja Sehun. Ada poster game dan juga action figure di beberapa sudut. Selebihnya hanya kamar luas yang punya lemari sedang dan meja belajar besar. Kamar ini tidak begitu besar, tapi nyaman sekali karena Sehun bukanlah tipe laki-laki yang berantakan. Segalanya tertata rapi dan bersih.
Ketika aku berada di tengah ruangan, aku bingung harus duduk dimana. Aku menoleh pada Sehun. Sehun si pemilik kamar sudah duduk bersila di tengah ranjang. "Duduklah disini." Dia menepuk ranjangnya dengan alis naik-turun.
Sehun, kenapa kau menggoda sekali!
Aku menggeleng menyingkirkan pikiran jorokku dan menurut untuk duduk di ranjang Sehun yang empuk. Tepatnya di ujung ranjang Sehun. Pantatku separuh menapak dan separuhnya melayang saking minggirnya posisiku.
"Jadi, Luhan. Katakan padaku bagaimana perasaanmu setelah makan malam dengan keluargaku?"
Itu membuatku rindu rumah, yapi sekaligus kau dan keluargamu sangat berhasil memojokanku, kau tahu. Aku ingin mengatakan itu. Tentang betapa campur aduknya perasaanku sekarang. Tapi aku malah berkata, "Kau dan orang tuamu adalah kesempurnaan, Sehun."
Sehun kelihatan cukup perhatian pada caraku menghormati keluarganya. Dan dia tampaknya juga cukup perhatian pada posisi dudukku yang tidak nyaman. Dia terkekeh dan kelihatan seperti berusaha membuatku nyaman. "Ya, mungkin saja kami sempurna."
Lalu, tiba-tiba saja perasaan melankolis menyergapku. "Sehun, mungkin kau harus tahu ini." Aku meremas gaun hijauku yang sudah kupakai sepanjang hari. "Kau harus tahu bahwa aku punya alasan kenapa aku bersikap sebegini idiotnya padamu. Aku menyakiti hatimu dengan menolakmu. Aku minta maaf soal itu sungguh aku ingin bersujud karena menyakitimu. Kau dan keluargamu yang sempurna ini sudah sangat baik padaku… bahkan sejak dulu, tapi aku sangat tidak tahu diri."
Sehun kelihatan cukup kaget dengan perubahan sikapku yang menjadi lebih terbuka. Tapi aku tidak berfikir aku cukup terbuka untuk membeberkan semua jalan pikiranku. "Sebenarnya apa yang terjadi, Luhan? Aku tahu aku melewatkan banyak hal dengan kepergianmu ke China dulu. Tapi sebanyak itukah?" Tanya Sehun dengan guratan wajah yang mulai khawatir.
Aku tidak yakin apakah Sehun sekhawatir itu padaku. Kenapa dia berlebihan ketika aku malah merasa biasa saja. "Sehun, dengarkan aku. Kau memang melewatkan banyak hal. Tapi sebelum aku menceritakan segalanya padamu, yakinlah ini bukan karena otakku yang rumit, hidupkulah yang rumit. Jadi jika setelah ini kau ingin mundur pada perasaanmu padaku, aku tidak akan menahanmu." Ucapku tenang.
Untuk sesaat Sehun diam. "Tidak akan ada yang berubah tentang perasaanku padamu, aku janji." Sahut Sehun serius.
"Jangan menjanjikan apapun padaku." Aku menghela nafas. "Jadi, seperti yang kau tahu, lima tahun lalu, aku pindah ke China."
Inilah dia, aku akan membuat Sehun tahu dan mengerti jika aku sama sekali tidak menginginkan pertengkaran kami yang sekarang.
Akan kukatakan segalanya.
Sehun mengangguk mantap seolah yakin jika dia juga benar-benar siap mendengar segalanya. "Aku ingat memori itu. Itu sangat mendadak dan aku kaget sekali ketika mendengarnya dari ibuku dan suaramu di telfon."
"Itu tidak mendadak. Aku sudah mencoba datang kesini dan menelfonmu beribu-ribu kali, tapi kau susah sekali dijangkau dengan segala hal kuliah dan pekerjaanmu saat itu."
Sehun kelihatan terdiam dan wajahnya menyendu. "Ya, itu kesalahanku. Kumohon lanjutkan ceritamu dan biarkan saja aku meratapi kesalahanku."
Aku tidak bermaksud menyalahkan Sehun, tapi ya mau bagaimana lagi jika suaraku mengatakan hal yang demikian.
"Kita akan membicarakan itu lagi nanti. Baiklah, jadi aku menetap di China. Segalanya baik, aku bisa beradaptasi setelah setengah tahun. Tapi segalanya buruk di tahun ke empat."
Aku tidak percaya aku akhirnya menceritakan hal yang selama ini kupendam pada orang lain. Terlebih, aku tidak percaya aku bisa menceritakan hal ini dengan ketenangan yang mengalir. Padahal biasanya aku sering menangis sendirian jika teringat segala kenangan buruk itu.
"Apa yang terjadi?" Sehun bertanya dengan hati-hati. Mungkin menyadari jika aku diam terlalu lama.
"Jika kau sampai sekarang masih bertanya-tanya soal kejadian di kamar mandi saat aku berteriak itu, Sehun, maka inilah jawabannya."
Aku menatap Sehun yang duduknya mulai tidak tenang. Dia menutup mulutnya rapat seolah mengisyaratku untuk segera bercerita dan menuntaskan rasa penasarannya.
Jadi aku memulai bercerita tentang segala hal rumit yang terjadi dalam kehidupanku dengan sebuah kalimat pendek. "Ayahku berhianat."
Ya, ayahku berselingkuh dan menghianati ibuku. Itulah aib yang tidak mungkin kuceritakan pada orang lain. Termasuk teman yang paling kuanggap dekat. Pun juga Kyungsoo. Tapi sekarang, di tengah malam dan di kamar Sehun, aku membuka kenangan buruk itu padanya.
Aku menatap Sehun, berusaha mengartikan raut wajah Sehun yang berubah kaku.
"Dia bertemu seorang wanita dan entah dimana akal sehatnya, dia memalingkan diri dari keluarganya. Itu terjadi di tahun pertama kami pindahan. Dan kebusukan ayahku baru terbongkar di tahun ke empat. Ayah benar-benar brengsek, menyakiti ibuku dengan cara rendahannya. Dulu aku takut dengan kemungkinan kulargaku akan terpisah. Tapi segalanya membaik. Ayahku mengakui kesalahannya, dan aku tidak tahu harus bersyukur atau bagaimana pada sifat ibuku yang penyabar dan pemaaf. Ibuku memberikan kesempatan kedua dan ayahku memanfaatkannya dengan baik sejauh ini. Ayahku lebih perhatian dan lebih berhati-hati setelahnya. Kami memutuskan kembali ke sini dan meninggalkan hal buruk di China. Inilah hidupku yang rumit, Sehun.."
Aku kaget ketika tubuhku melayang dan aku kini bisa merasakan pantatku menduduki sesuatu yang tidak rata. Aku duduk di pangkuan Sehun yang bersila. Dia melingkari tubuhku dengan lengan kokohnya dan kepala Sehun berada di leherku yang tertutup rambut. "Aku menyesal aku tidak ada disampingmu saat itu, Luhan." Sehun berusara dengan suara tercekat.
Sedangkan aku tidak bereaksi banyak pada pelukan Sehun yang sangat hangat dan menenangkan hatiku yang hancur dengan segala kenangan buruk. "Memangnya bisa apa kau jika ada disana?"
Sehun mengeratkan pelukannya sampai aku nyaris tidak bisa bernafas dengan lengan kokoh yang semakin melilit dan kepala Sehun yang mengusak di leherku. Hidungnya yang bangir itu luar biasa menggoda syaraf leherku. "Aku bisa membawamu pergi dari hal buruk itu. Itu hampir dua tahun yang lalu, dan aku sudah punya pekerjaan tetap saat itu."
"Ya, dan aku akan membiarkan ibuku dan Rena berjuang sendirian."
"Kita bisa membawa mereka. Keluargamu juga akan jadi keluargaku, Luhan. Sama seperti kau yang jadi bagian keluargaku sekarang."
"Oh jadi sekarang aku adalah keluargamu. Maka kau tidak sepatutnya mengajukan lamaran pada anggota keluargamu sendiri." Aku tertawa pada lelucon kami yang mengalir. Sehun ajaib sekali mampu membuatku santai melewati bagian cerita buruk di kehidupanku.
Tapi anehnya Sehun malah mengurai pelukannya dan mendongak menatapku yang kini berposisi lebih tinggi. "Sekarang aku paham kenapa kau menolakku. Kau takut aku melakukan hal yang sama seperti ayahmu."
Aku menatap Sehun dan menangkup wajah berpahatan malaikat itu. "Siapapun pasti takut dihianati dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku akan menikahi pria yang cinta mati padaku. Entah itu aku mencintainya juga atau tidak."
"Aku mencintaimu, Luhan. Sangat. Harusnya aku masuk dalam daftarmu dan juga kau harusnya mengiyakan lamaranku tempo hari."
"Mana kutahu kau serius. Yang kubutkan adalah pria yang akan setia sampai mati."
"Aku adalah pria setia." Sehun mentapku dengan lebih serius. "Percayalah, aku sudah setia padamu sejak umurmu 13. Sejak aku pulang dari rumahmu sehabis kerja kelompok dengan Rena hari itu. Aku sudah memutuskan untuk setia. Lihatlah aku yang sekarang."
"Apa kau bilang?" Aku kaget dan tanpa sadar mencengkeram wajah Sehun yang sejak tadi masih dalam tangkupanku.
"Aku sudah menyukaimu sejak dulu. Dan beruntungnya aku, gadis manisku ini juga suka padaku."
Aku melotot. "Tunggu, kau serius?!"
"Ya, aku serius. Aku sangat serius, dan harusnya kau tahu itu ketika aku melamarmu kemarin. Itu adalah hal serius, Luhan. Aku sama sekali tidak main-main. Terlepas dari persiapanku yang kurang, aku sudah yakin jika aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Tunggu dulu!
Bukankah seharusnya ini adalah saat-saat krisis dimana aku baru saja mengungkapkan aib keluargaku, harusnya susasanya menegangkan. Tapi kenapa tiba-tiba saja segalanya jungkir balik. Aku malahan sekarang merasa perutku mencelus dengan segala fakta yang baru kuketahui dari Sehun.
Aku tidak percaya, sumpah aku tidak percaya ternyata Sehun sudah menyukaiku sejak dulu. Ini berarti sejak dulu, 7 tahun lalu, perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan!
"Baiklah, kini aku sudah menyelesaikan segala pertanyaan yang ada di otakku tentangmu, Luhan. Aku menyesal atas segala yang terjadi. Kau gadis yang kuat dan kau patut tahu… jika aku bangga padamu." Sehun mengusap punggungku dan aku nyaris saja mengerang jika tidak sadar kami sedang dalam suasana romantis. "Dan kelihatannya obrolan kita sudah cukup, sekarang ayo tidur. Kau butuh tidur, kita masih punya jadwal di kampus besok."
Sehun tidak bertanya pendapatku soal tidur, dia malah langsung saja mengangkatku dengan mudah dan membaringkanku di ranjangnya.
Tunggu, tunggu! Ada yang salah. "Sehun, aku tidak tidur di ranjangmu." Kataku separuh ragu ketika Sehun bergeser dan melepas kaosnya.
Tuhan! Tuhan!
Aku sedang telentang di ranjang Sehun dan pria itu sedang telanjang dada dengan dada bidang yang membentuk. Otot perutnya kencang dan absnya sempurna. Tidak samar dan tidak berlebihan.
Oh! Apa aku baru saja terang-terangan menatapi tubuh atas Sehun?!
"Luhan, jangan melihatku begitu. Kau membuatku kepanasan atas bawah. Dan aku sudah berjanji tidak akan melakukan apapun yang tidak kau inginkan."
Aku mendelik pada kenyataan bahwa aku baru saja kepergok mengagumi otot perut Sehun. "Tidak, tidak. Kau sudah melanggar janjimu, Sehun! Kau membuatku berbaring sekarang, padahal kubilang aku tidak tidur di ranjangmu."
Sehun memalingkan mukanya sebentar. "Aku hanya tidak ingin kau mimpi buruk lagi. Aku hanya menemanimu."
Aku melotot pada Sehun. "Apa maksudmu menemaniku jika kau bahkan sekarang melepas kaosmu! Demi Tuhan! Apa sih yang ada di otakmu?"
"Luhan, tenanglah. Orang tuaku bisa bangun dan memergoki kita jika kau terus berteriak."
"Ya, betul! Makanya aku tidak tidur denganmu! Aku akan kembali ke kamarku. Terimakasih obrolan tengah malammu. Selamat malam, Sehun!" Aku dengan cepat bangkit. Tapi Sehun bergerak lebih cepat dariku. Dia membaringkanku lagi, kali ini malahan dia ikut berbaring di sebelahku dan menahanku dengan kaki kanannya menindih pahaku. Tangan Sehun merengkuhku yang sedang telentang.
"Aku sudah berjanji dan aku akan menepatinya. Ini hanya akan jadi tidur. Aku bersumpah aku akan menahan diriku untuk menyerangmu dan juga melakukan hal aneh-aneh padamu yang sedang tidur. Kau bisa memegang ucapanku."
"Baiklah! Awas saja jika kau melanggar janjimu. Aku akan memutuskanmu saat itu juga." Aku berhenti berontak dan membiarkan Sehun memelukku.
"Ya, Luhan. Tidurlah."
Oh Tuhan, ini nyata! Sungguhan sekarang aku sedang tidur di pelukan Sehun. Di atas ranjang Sehun. Di detik ini aku baru benar-benar menyadari bahwa kami hanya berduaan. Perutku melilit kegirangan seketika.
"Sehun?" Aku memanggil Sehun yang sedang memejamkan mata.
"Kenapa? Kau masih tidak bisa tidur?"
"Darimana kau tahu jika aku juga suka kau? Maksudku tadi kau bilang sebelumnya kau sudah tahu jika aku suka kau."
Sehun membuka matanya dan kini aku mampu menatap mata tajam itu dari dekat. Gila, ini dekat sekali! "Tentu saja aku tahu dari awal. Kau waktu kecil itu layaknya buku terbuka. Kau mengatakan segalanya bukan dengan mulut manismu, tapi dengan tingkah lucumu. Selalu main kerumahku dengan berbagai alasan, aku cukup peka akan perasaanmu, gadis manis. Kau suka aku."
Aku memperbaiki posisiku untuk menghadap Sehun. Kini aku memeluknya. Aku melingkarkan lenganku di punggung lebar telanjang Sehun yang padat akan otot. "Oke, terserah." …biarkan saja aku menelusuri otot punggungmu yang luar biasa ini.
"Tapi kau jadi beda sekarang. Kau jadi lebih tertutup dan sejujurnya aku tidak suka. Aku suka Luhan yang juga suka aku."
Aku masih menelusuri punggung Sehun dengan jemariku sambil menenggelamkan wajahku di leher Sehun yang hangat. "Hmm.. banyak hal yang terjadi."
Sehun mengangguk dan aku merasakan dia mengecup puncak kepalaku. "Ya, kau benar. Dan aku sekarang cukup bersyukur kau mau membuka dirimu lagi. Aku lebih bersyukur karena aku akhirnya bisa memelukmu ketika tidur."
Ucapan Sehun mengantarkanku untuk terpejam. Aku bergumam entah apa.
Sehun menarik selimut sampai bahuku. Ini hangat sekali. Selimutnya dan pelukan Sehun. Eh ini juga nyaman, bahkan ketika Sehun menepuk punggungku pelan. Luar biasa perasaanku sekarang.
"Aku serius, aku mencintaimu, sayang."
Dan itu adalah hal terakhir yang kudengar sebelum kesadaranku mengucap selamat tinggal.
Aku tertidur dengan perasaan lega.
.
.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
.
.
Yeahpuas gak lo baca dua chap sekaligus?
Plus, ini bagian anti klimaks yg gue omongin kemaren.
Jan benci Luhan lagi yak, dia udah suck the bad things in the past, kasihan diaaaa.
