Im in a Kuta Bali right now. Nungguin sunset rencananya, eh keinget update.
.
.
.
.
.
.
.
.
Krik. Krik.Aku terbangun ketika mendengar suara itu.
Kepalaku berdenyut sakit dan mataku terbuka perlahan. Yang pertama kulihat adalah kamera ponsel hitam Sehun mengacung mengarah pada wajahku. "Yang benar sajaa.." Aku bergumam dan mataku mencari mata Sehun di balik ponsel.
"Maafkan aku mengganggu tidurmu." Sehun berucap tanpa penyesalan. Malahan aku mendengar dia mengikik.
Oh, kepalaku jadi semakin pusing, tapi anehnya aku malah tersenyum pada tingkah Sehun yang manis. "Kupikir ini bahkan belum pagi. Dan bisakah kau turunkan ponselmu?"
"Aku sekarang sedang merekammu, Luhan. Berikan padaku video yang bagus. Dan ya, sebenarnya kau baru saja tidur setengah jam yang lalu."
Pantas saja kepalaku pusing!
Sehun masih tetap terpaku pada layar ponselnya dengan sebuah senyuman hangat. Oh Tuhan, aku jadi teringat sesuatu. Aku menunduk pada tubuhku yang terbalut selimut. Tapi bukan itu saja. Di dalam selimut itu juga ada tubuh setengah telanjang Sehun.
Oke, aku nyaris hilang akal…
Sehun ada di ranjang yang sama denganku. Dan sekarang dia sedang tersenyum bak malaikat dengan tubuh setengah telanjang.
Bagus, aku mulai berpikir bagaimana tadi aku bisa mengesampingkan fakta itu dan tidur begitu saja.
"Ya, bagus, wajah malu-malu ini bagus sekali, Luhan." Sehun berucap antusias.
Seketika itu juga aku mendongak dan merasakan pipiku memanas. Mati-matian aku berusaha menahan diri. "Berhenti main-main. Katakan padaku kenapa kau mengganggu tidurku yang masih sebentar ini? Apa kau tidak mengantuk?"
Sehun yang wajahnya masih berada di depan layar itu menggeleng. "Tidak mungkin aku tidur. Ini langka ketika kau berbaring di sebelahku."
Aku merasakan jantungku bertalu. "Dasar cabul." Kataku simpel.
"Apa?"
"Kau manusia cabul."
"Bagaimana bisa?"
"Mengacalah, kau akan tahu jawabannya. Kau sedang merekam seorang gadis tidur, ayolah!"
"Ehehe." Sehun terkekeh sebagai balasan.
Mungkin Sehun memang betulan cabul. "Ayo, tidur. Atau aku akan kembali ke kamarku."
Sehun tidak menjawab, tapi dia menurunkan ponselnya dengan cepat dan memelukku segera.
Tubuhku kembali masuk ke dalam pelukan Sehun yang hangat dan serasa kokoh ini.
Sungguh, aku merasa berada di tempat yang tepat. Seolah aku memang di ciptakan untuk berada di pelukan Sehun.
Aku mengangkat tanganku dan menepuk-nepuk punggung Sehun. Diam-diam, aku berdoa.
Tuhan, kumohon, biarkqn aku menikmati kasih sayang Sehun selamanya.
.
.
.
.
.
Paginya, aku bangun terlebih dahulu dan menemukan Sehun masih terlelap. Dia tidur telentang dengan tangan kirinya yang jadi bantalan kepalaku. Wajahnya damai dan aku kepikiran memfoto Sehun seperti yang ia lakukan padaku semalam, tapi sayangnya ponselku ada di kamarku.
Jadi aku merangkak diam-diam dan menyelinap keluar dari kamar pria itu di pagi buta tanpa membangunkan siapapun. Setelah sampai di kamar, aku mandi dan saat aku keluar kamar mandi dengan pakaian yang masih sama seperti kemarin, aku menemukan lipatan gaun santai di atas ranjang. Kupikir itu milik ibu Sehun yang dipinjamkan untukku, jadi kupakai saja.
Gaunnya berwarna putih dan sedikit kekecilan untuk tubuhku yang bantet kebanyakan makan kue coklat.
Aku baru keluar kamar setengah jam kemudian setelah memoles krim, bedak dan lipstick. Hari ini aku ada kuliah jam 9, jadi kupikir aku masih sempat kembali ke apartemen dan berdandan lebih pantas.
Ketika aku pergi ke dapur dan berpikir akan membantu menyiapkan sarapan, ternyata segalanya sudah siap. Ibu Sehun yang pandai memasak itu sedang menata meja. Jadi, mau tidak mau, aku mendekatinya dengan malu-malu.
"Bu, maafkan aku tidak membantumu." Aku mengambil alih tumpukan piring yang di bawa wanita berambut panjang itu dari rak.
Ibu Sehun hanya tersenyum dan bergerak mengambil botol besar air putih. "Tidak ada yang perlu dibantu, Luhan. Ibu hanya membuat nasi dan sayur."
Aku meletakkan piring-piring yang kubawa dan menatanya di meja. "Tetap sajaaa, harusnya aku membantu ibu. Ngomong-ngomong, gaunnya cantik."
Ibu Sehun menatap gaun yang kukenakan dan tersenyum dengan mata bulan sabit. Itu mirip sekali dengan milik Sehun. "Kenapa jika kau yang memakainya jadi terlihat sexy ya."
"Ibuuuuuu.. Jangan bilang begitu, katakan saja aku bantet."
Aku mendengar ibu Sehun terkekeh dan aku mulai berpikir tubuhku mana mungkin seksi. Yang ada hanya lemak di sana-sini.
"Selamat pagi.." Sebuah suara menginterupsi tawa ibu, tapi wanita itu hanya tersenyum ketika melihat lorong.
Aku menoleh pada lorong dan menemukan Sehun yang berambut basah. Mata pria tampan itu menelusuri gaun yang kupakai dan mungkin aku berhalusinasi ketika menangkap sebuah kilatan. Dan juga otakku saja yang terlalu ngeres karena berasumsi Sehun sedang mengamati tubuhku yang sexy dengan gaun ketat ini.
Luhan, sadarlah. Kau tidak seksi, kau berlemak.
"Pagi, Sehun." Aku melempar kerlingan pada Sehun yang matanya baru menemukan mataku.
Sehun kelihatan tidak bisa menahan senyumnya, dan aku suka melihat itu.
"Semuanya sudah siap, anak-anak. Kalian duduklah dulu, sementara ibu memanggil suami ibu yang lamban mandinya."
Baik aku dan Sehun segera mengambil kursi.
Ketika ibu Sehun sudah menghilang dari dapur, Sehun menatapku. "Kenapa kau tidak membangunkanku?"
"Karena kau lebih tampan jika sedang tidur."
Sehun terkekeh, kelihatan cukup terkesan dengan jawabanku. "Oke kalau begitu."
Aku menikmati sekali suasana semacam ini. "Bisakah setelah ini kita kembali, Hun-ah? Aku ada kelas jam-"
"Jam 9, ya aku tahu dan rencanaku memang kita akan langsung pergi setelah makan. Kau sudah berkemas? Ngomong-ngomong, aku suka ketika kau memanggilku begitu."
Aku berjengit, tapi tetap mampu tersenyum membalas ucapan Sehun soal panggilan yang akan kuingat terus dalam kepalaku. "Dari mana kau tahu jadwalku? Dan ya, aku siap karena memang tidak ada yang perlu di kemas. Aku tidak bawa banyak barang, ingat."
Sehun mengangguk kalem. "Aku tahu segalanya, Luhan."
"Seperti aku percaya saja. Ayo, katakan padaku darimana kau tahu jadwal-"
"Sepertinya kalian sudah tidak bertengkar lagi." Ibu Sehun masuk ke dapur dan tiba-tiba berkata mengagetkan. Sedangkan ayah Sehun yang berpakaian klimis itu mengekor di belakangnya.
Sehun dan aku berjengit dan aku hanya bisa nyengir pada kedua orang tua Sehun yang kini sudah duduk di depanku.
Oke, ternyata orang tua Sehun tahu jika kemarin hubungan kami tidak baik. Tapi mungkin aku patut bersyukur karena Sehun tidak begitu ingat soal ucapanku kemarin soal 'pura-pura jadi pacar' pas di mobil. Yah, bukan maksudku ingin bersikap ingin putus dengannya begitu. Aku hanya terbawa emosi.
Atau mungkin aku terlalu kekanakan dan tidak dewasa.
"Kami sudah baikan semalam." Kata Sehun.
Saat ibu Sehun tertawa padaku yang menggenggam tangan Sehun di atas meja malu-malu, Ayah Sehun menatapku dengan sebuah senyuman yang tampan sekali. Seakan setuju jika aku pacaran dengan anak laki-lakinya. Dia berucap pelan, "Baguslah."
Ya, baguslah.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
