HAI!

Thanks buat yg udah komen dan ngembaliin mood update, chap ini khusus buat kalian!

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sehun, bisakah setelah kuliah nanti, aku main ke apartemenmu?" Aku bertanya pada Sehun ketika kami di dalam mobil, di jalan selepas dari rumah Sehun.

Sehun yang sedang menyetir dengan gaya keren luar biasa itu, menoleh sedikit padaku. "Kenapa?"

"Kupikir akhir-akhir ini aku terlalu judes padamu."

"Memang sih, tapi apa hubungannya dengan apartemenku?"

"Hubungannya banyak. Sebanyak aku kangen kau."

"Apa?" Sehun menoleh padaku dengan lebih perhatian. "Luhan, kau bilang apa tadi?"

Mungkin Sehun haus ungkapan manis, haha. Jadi aku mengulanginya dengan wajah yang kubuat semanis mungkin. "Aku kangen, makanya aku ingin menghabiskan banyak waktu lagi denganmu. Mumpung kita sudah selesai bertengkarnya. Bagimana menurutmu?"

"Hmm." Sehun menggumam dan aku tidak tahu apa itu maksudnya. Aku hanya bisa mengamati Sehun yang berrahang tegas itu menatap jalan dengan hati-hati.

Sehun kelihatannya tidak begitu terkesan dengan usahaku.

"Oke, pasti kau sedang mengejekku." Aku melipat tanganku di bawah dada.

"Soal?"

"Soalnya aku kekanakan. Padahal kau ada di dekatku sekarang, tapi aku rindu sekaliiiiiii. Ngaku saja, kau pasti sedang mengejekku di dalam hati. Yakan?"

Kupikir Sehun akan tertawa atau setidaknya tersenyum. Tapi Sehun malah merengut.

Oke, dia mungkin betulan tidak terkesan pada rengekanku.

"Kau tidak suka aku yang kekanakan ya?" Tanyaku penasaran.

Mampus aku jika Sehun beneran tidak suka aku yang kekanakan. Lagian susah sekali menghilangkan kebiasaan merengekku.

"Jika yang namanya rindu-rindu ini kau sebut kekanakan, berarti aku juga termasuk kekanakan."

"Bagaimana bisa?"

"Karena aku juga rindu padamu, gadis manis yang duduk di sebelahku."

O-ow!

Jantungku!

Rasanya jantungku melayang ke langit ke tujuh dan tidak mau balik lagi. Aku bisa mati saat ini juga.

Padahal receh, ini cuma celetukan kecil, tapi aku sudah mampu melayang-layang.

"Sehuuuun," Aku merengek, lagi.

Sumpah, Sehun si manusia yang berreputasi lurus ini kok bisa manis sekali.

"Jangan memanggilku begitu. Aku ini dosenmu." Ucap Sehun.

Aku tertawa. "Dan aku adalah pacarnya dosenku. Bagus, gelar yang bagus."

Kali ini Sehun tertawa menanggapi leluconku. "Eh Luhan?" Dia memanggilku tiba-tiba.

"Apa?"

"Bisakah kita tertawa seperti ini terus?"

Aku tertawa lagi. "Tentu saja. Kenapa tidak?"

"Kan kau sering marah-marah." Jawab Sehun simpel.

"Baiklah, akan kukurangi amarahku khusus untuk pacarku yang super tampan dan manis ini."

"Ya, ya." Sehun meraih tangangku dengan satu tangannya yang tidak memegang kemudi. Tangan Sehun besar dan super hangat. "Ini juga langkah menjadikanmu lebih dewasa lagi." Begitu katanya.

Aku merasa bangga tiba-tiba. Sedikit lagi aku jadi dewasa!

Dan perjalan kami kali ini penuh dengan tawa dan rona-rona bunga. Berbeda sekali dengan saat kami berangkat yang penuh konfrontasi sana-sini.

Sekali lagi aku berdoa diam-diam.

Tuhan, kumohon, biarkan aku menikmati kasih sayang Sehun selamanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jika ditanya kenapa aku suka Sehun, itu karena aku suka sekali pada pria pintar yang good looking. Dan Sehun adalah jackpot. Dia all in one.

Bahkan Kyungsoo juga kelihatannya mengapresiasi hubunganku dan Sehun. Seperti sekarang ini contohnya. Dia terus menempeliku sejak kami janjian ketemu di kampus setelah kuliah siang.

"Han, kau yakin hanya itu saja yang terjadi di kamar pacarmu semalam?"

Dan dia terus memancingku untuk menceritakan dengan detail apa saja yang terjadi ketika aku berkunjung ke rumah profesornya kemarin.

Aku hanya tersenyum pada heels ungu metalikku. Kami ada di taman kampus sekarang, tidak mungkin jika aku jingkrak-jingkrak excited mengobrolkan Sehun disini. Bisa-bisa aku dikira orang gila.

Dan aku cukup menghargai bagaimana cara Kyungsoo menahan diri untuk menyebut Sehun atau Professor Oh dalam obrolan kami.

Nama itu harus tersamarkan untuk saat ini. Sehun bilang hubungan kami belum boleh go publik sebelum aku benar-benar matang jadi dewasa.

Bukan hal buruk untukku. Aku tidak telalu suka public display affection.

"Soo-ya, percaya padaku. Dia tidak memperkosaku, jika itu yang kau takutkan." Aku menjawab pertanyaan Kyungsoo tadi.

Kyungsoo kelihatan tidak terkesan. "Malahan yang kutakutkan adalah kau yang menyerang pacarmu itu. Sungguh aku tidak kuat membayangkan tingkah agresifmu."

Aku mengerang seketika. "Yang benar sajaaa."

Aku sudah akan merengek, jika mataku tidak tiba-tiba saja menangkap Ms. Baekhyun berjalan kesusahan menenteng ransel dan tas laptop dan melewati kami dengan wajah payah.

Aku berdiri dari dudukku dan menghadang wanita yang kuanggap stylist namun sekarang sedang acak-acakan dengan segala barangnya yang merusak keindahan cara berdandannya itu. "Selamat pagi, miss. Biarkan aku membantumu."

Baekhyun berjengit kaget awalnya, namun dia tersenyum begitu saja. Tipikal ramah. "Ohh, aku senang ada kau, Luhaaan."

Aku ikut tersenyum dan mengambil alih tas laptopnya. Dia kelihatan kelewat lega dan aku hanya membatin dosenku yang satu ini hiperbolis juga.

"Bukan masalah, miss. Sementara aku membawakan tasmu, temanku Kyungsoo akan membawakan tasku. Ya 'kan, Soo?"

Kyungsoo mengangguk sopan. Walau aku tahu dalam kepalanya, Kyungsoo pasti sedang menusukku dengan boneka voodoo karena kusuruh-suruh.

Lalu kami berjalan menyeberangi taman yang ramai beriringan. Sebenarnya hanya aku dan Miss Bakehyun yang beriringan, sementara Kyungsoo mengekor di belakangku. Gadis itu pemalu, aku tidak heran. Tapi aku juga tidak berani beriringan dengan gadis yang sedang berjalan sambil menunduk itu, karena bisa saja Kyungsoo diam-diam mencubitku sekeras yang ia bisa sebagai bentuk balasan tasku yang sedang ia panggul itu.

Mungkin harusnya aku tidak memancing amarah si pendendam satu itu.

Terlalu lama, mencuri pandang was-was pada Kyungsoo, aku tidak sadar jika kami sudah masuk gedung dosen. Bahkan sudah masuk ke ruangan Baekhyun.

Aku meletakkan tas laptopnya ke atas meja ketika miss Baekhyun meletakkan ranselnya di kursi dan mendesah dramatis. "Leganyaaa."

Kyungsoo menunggu di luar, mungkin ingin mengutukku sepuasnya disana.

"Kalau begitu, kami permisi." Aku tersenyum dan membungkuk sedikit memberi hormat.

Tapi sebelum aku selesai membungkuk, Baekhyun menepuk pundakku dan berbisik. "Jadi kau berencana menikah dengan Professor Oh, Luhan-ah?"

Aku menjengit seketika.

Darimana wanita ini tahu soal hubunganku dan Sehun?!

Aku melemaskan leherku dan memilih memainkan permainan 'aku tidak tahu maksudmu'. Wajahku kubuat setenang mungkin dan aku mencoba berdiri tak tergoyahkan. "Kenapa aku berencana menikah dengan Professor Oh, miss Baekhyun?"

Kulihat wanita ini menatapku menyelidik. "Karena kau pernah bilang kau tidak pacaran, tapi ingin langsung menikah."

"Dan bagaimana bisa nama Professor Sehun dikaitkan dengan hal ini?"

"Karena aku melihat sesuatu, sesuatu yang terjadi saat kau dan teman tampanmu itu mengantarku ke perpustakaan sungai beberapa hari lalu. Si tampan itu akhir-akhir ini kulihat juga beda sekali dengan ia biasanya. Aku jadi curiga kalian sedang menyiapkan pernikahan."

Dan inilah momen ketika permainan tidak pahamku berakhir. Aku merona seketika. Dan juga cemberut disaat yang sama.

Oke, membayangkan menikah dengan Sehun itu menyenangkan. Tapi mungkin Sehun akan membunuhku ketika tahu hubungan kami sudah ketahuan sekarang. Ini tidak bagus. Aku harus memikirkan cara untuk mengelak dari miss Baekhyun dan mata penuh selidiknya.

Hanya saja… masalahnya, adrenalinku malah melonjak. Aku malah ingin miss Baekhyun tahu tentang hubunganku. Aku ingin dia menjauhi pacarku yang terus ia sebut tampan. Sehun memang tampan, aku bangga ketika orang lain menganggap pacarku worth it. Tapi tidak untuk miss Baekhyun. Aku kan pernah cemburu pada wanita ini.

Jadi, aku membalas miss Baekhyun dengan sebuah cengiran. "Entahlah, bisa saja, miss. Ngomong-ngomong, aku harus pergi. Selamat siang."

"Kenapa kau cengengesan? Puas menjadikanku babumu?" Kyungsoo bertanya ketika melihatku melenggang keluar dari ruangan Ms. Baekhyun.

Aku nyengir. Bodo amat soal miss Baekhyun yang mungkin sekarang sedang campur aduk kaget atau apapun itu. Yang penting aku sudah mampu menyingkirkan satu wanita yang berpotensi mengacaukan hubunganku dengan Sehun.

"Kau melewatkan pemandangan aku membungkam dosenku."

"Kau apa?!" Kyungsoo si gadis yang pemalu nan peduli sopan santun itu tentu saja shock. Kalau aku sih tidak shock.

Mataku menyusuri koridor gedung dosen yang lenggang. Ruangan Sehun juga tertutup rapat. Mungkin dia sedang mengisi kelas.

"Hei, soo. Bagaimana kalau kita menyelinap ke ruangan professormu dan membuat semacam jebakan disana?"

"Luhan!" Kyungsoo menyentak lenganku dengan heboh seolah aku sudah melecehkan otak polosnya. "Kau dan keagresifanmu bisa membuatmu menyesal seumur hidup, tahu! Kau pikir kau anak SMA atau apa!"

Sekali lagi, aku nyengir. "Kau dan mental sok polosmu." Aku menarik tangan Kyungsoo untuk menyeberangi koridor dan mendekat ke ruangan Sehun.

Saat sampai di tengah jalan, Kyungsoo menarik balikku dengan kuat sampai aku berhenti. "Kau tidak serius kan?"

"Kenapa tidak?"

"Kau betulan bisa menyesal seumur hidup. Dia ada di ruangannya, kijang bodoh!"

"Apa?!" Jadi Sehun ada di ruangannya?

"Ya, dia ada di dalam. Aku melihatnya masuk tidak lama tadi. Wajahnya bersungut dan ini jelas bukan ide yang bagus untuk menjahilinya sekarang! Jadi katakan padaku jika kau tidak serius dan kita akan kembali ke taman. Mengobrol obrolan cewek. Kau dengar aku?"

"Ya, aku mendengarmu."

"Lalu kenapa kau malah membawa tasmu dan mempertebal lipstick?"

Aku tidak langsung menjawab, malah menyelesaikan lipstick merahku sebelum berlari terbirit ke ruangan Sehun. "Saatnya kembali membungkam dosen. Pergi sana."

Aku mengibaskan tanganku pada Kyungsoo yang melongo, untuk kemudian dengan kalap mengetuk pintu ruangan si tampan Sehun.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-