Wotaaa, lama tak jumpaaa. Gue harus bolak balik luar kota pluss ngurusi magang kampus yg serba mendadak. Sorry for being late. Biasa telat deng, eheh. Just enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
Ketukan yang kulakukan pada pintu ruangan Sehun adalah jenis ketukan menuntut. Itu adalah ketukan keras dan tidak teratur. Pokoknya aku kangen sekali dengan Sehun dan ingin segera bertemu dia.
Aku sepenuhnya mengabaikan fakta kecil bahwa kami baru saja berpisah beberapa jam lalu.
Rasanya seperti aku punya hasrat sendiri ingin terus menempel pada Sehun. Entah darimana perasaan itu datang.
Aku jadi kepikiran sedikit bagaimana nasibku nanti jika aku mengatakannya pada Sehun dan dia risih padaku. Hasil akhirnya Sehun menjauhiku. Dan aku mati karena ditinggal dia.
Oke, mungkin aku terlalu overthinking.
Lalu aku mendengar suara Sehun begitu saja, "Masuk!" dengan nada judes, kelewat judes malahan.
Aku menarik wajahku untuk tersenyum lebar dan melesat masuk.
Aku segera disambut bau pengharum ruangan Sehun dan wajah seksi pacarku yang sedang tidak bersahabat sama sekali. Kyungsoo benar, mungkin aku akan kena masalah setelah ini.
"Hai, selamat siang…" Aku menutup pintu rapat-rapat, menghindari pertemuan rahasia ini diketahui orang lain. Serta mengintip sedikit pada koridor dan meyakinkan diri bahwa tidak ada yang melihatku di ruangan professor yang bukan dosenku.
Segalanya kelihatan mulus sejauh ini.
Jadi aku berbalik lagi pada Sehun. Namun, yang aku dapatkan cukup mengejutkan.
Sehun tiba-tiba saja sudah ada di depanku. Aku mengutuk dengan keras karena kaget, tanpa sadar. Dan hal itu hanya membuat wajah Sehun yang mengerut dari awal, jadi semakin mengerut.
Dengan malu-malu, aku menatap mata coklat gelap Sehun dengan sebuah kekehan kecil. "Kau gerak cepat sekali."
"Ingin tahu sesuatu lain?" Sehun berkata dengan bibir yang bergerak minim.
Dia menekuk kakinya sehingga kini aku tidak perlu mendongak untuk menatap matanya. Dia juga mendekatkan wajahnya, kelewat dekat malahan. Seperti ingin menciumku, apalagi mata tajam itu kini bergulir naik turun antara mata dan bibirku. Oke, kurasa momen ini adalah momen yang cukup intim.
Otakku buntu seketika, tapi untung saja aku masih mampu sadar kembali pada pertanyaan Sehun tadi. "Ya, dan banyak hal yang ingin kutahu sekarang."
"Baiklah, kita mulai dengan aku ingin menciummu sekarang. Dengan keras."
Aku terkekeh lagi, "Jangan terlalu bersemangat, ini masih di kampus."
"Aku tidak bercanda, kepalaku sudah membayangkannya ketika kau masuk. Rasanya aku ingin memakan bibirmu yang tersenyum riang tanpa berdosa sudah membuatku sangat gila menginginkannya. Dan selanjutnya, aku bisa bergerak lebih cepat lagi dari sebelumnya."
"Darimana datangnya dirimu, Sehun? Sekarang kau kelihatan beda dari biasanya. Jadi lebih agresif. Omonganmu juga vulgar sekali."
Sehun tidak menjawab, kelihatan tidak ingin melepaskanku dari matanya, dan parahnya dia sekarang sudah menempelkan wajah kami. Bibirnya menginvasi bibirku. Bergerak dengan sangat pelan dan aku tidak yakin jika dia adalah pria yang barusan berkata ingin menciumku dengan keras. Nyatanya ciumannya sangat lembut. Dan aku suka. Membuat perutku kram dan tubuhku melayang ke langit ketujuh saking enaknya ciuman itu.
Dalam ciuman itu, bibir Sehun terbuka dan melumat bibir atasku, kadang dia juga melumat seluruh bibirku seperti ingin memasukkan seluruh bibirku ke mulutnya, mungkin juga dia berniat memasukkan seluruh wajahku. Tubuhku menggigil. Dan walau pengalaman ciumanku itu sangat terbatas, aku entah bagaimana merasa mampu mengimbangi kesempurnaan ciuman Sehun. Rasanya seperti instingku kuat sekali.
Bibir Sehun bergerak banyak, begitu juga dengan tangannya. Tangannya merengkuhku dengan lembut dan tidak berhenti mengusap punggungku. Sementara tanganku memeluk leher jenjang Sehun. Posisi kami begitu intim dan aku ingin sekali ini berlangsung selamanya. Aku seperti merasa Sehun adalah milikku dan hanya milikku.
Tapi kemudian, aku mendorong Sehun begitu saja saat segalanya semakin bergerak tidak keruan. Sehun menatapku penuh tanya. Aku hanya nyengir. "Aku butuh kamar mandimu. Pipisku sudah diujung."
Mata Sehun melebar entah karena apa, mungkin kaget sekekanakan inilah aku. Kebelet pipis pas sedang ciuman.
Dan aku lumayan malu dengan ini, jadi aku segera menyingkir dan berlari ke kamar mandi Sehun dengan cepat.
Bagus, Luhan. Kau baru saja merusak momen bermesraan dengan Sehun.
Tapi, siapa peduli soal itu kalau kau tidak bisa konsentrasi dengan ciuman pacarmu yang nyaris masuk ke fase lebih jauh saat urinmu memaksa keluar.
Sehun sudah dewasa. Dia pasti mengerti.
Aku mengangkat rokku dengan cepat begitu sudah mengunci pintu kamar mandi ruangan kerja Sehun. Ketika aku memelorotkan celana dan duduk di kloset, suara gemerincing urinku kedengaran nyaring sekali membentur keramik kloset. Itu betulan nyaring dan kuharap Sehun yang ada di balik sekat dinding dan pintu itu tidak mendengarnya. Ini memalukan.
Begitu selesai dengan segala cuci-cuci, cuci tangan selepas cebok, aku membenarkan pakaianku sambil membatin mungkin hari ini aku tidak jadi main ke apartemen Sehun. Aku baru ingat hari ini adalah hari dimana Rena biasanya mengajakku ketemuan dalam seminggu.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Sehun duduk tanpa melakukan apapun di meja kerjanya. Jadi aku bertanya, "Apa aku mengganggu kau bekerja?"
Sehun menatapku dalam diam, untuk kemudian mendesah pasrah. Dia menggeleng sambil meraih kacamatanya dan mulai membaca beberapa kertas.
"Sehun, aku tidak jadi main ke apartemenmu."
Kulihat Sehun mendongak dari kertasnya dan menatapku langsung di mata. Mata coklat yang tajam itu membekukan jantungnya sampai rasanya jantungku siap mati membeku karena ditatap si malaikat bermata iblis ini.
"Kau sama sekali tidak mengganggu kerjaanku, Luhan. Datanglah ke tempatku. Bukankah kau bilang kau ingin menebus kangenmu setelah kemarin bertengkar?"
Aku mengendikkan bahu. "Aku baru ingat, aku harusnya bertemu Rena hari ini. Dia bisa curiga kalau aku tidak datang."
"Kau tidak ingin memberitahu kakakmu soal kita?"
"Kau yang ingin merahasiakan hubungan kita, ingat? Tidak masalah untukku jika Rena tidak tahu hal ini. Cewek itu cerewet, aku benci jika dia menceramahiku soal pria."
"Kau memang harus dijaga, Luhan. Kau punya kakak yang perhatian padamu, kau akan aman jika kau menurutinya."
"Tidak, Rena sendiri saja tidak punya banyak pengalaman dengan pria. Dia cuma berteman dengan banyak pria. Kalau soal hubungan serius, dia nol besar, minus mungkin."
Aku tertawa.
Sehun juga tertawa. "Baiklah, hari ini kulepaskan kau. Sekarang kemarilah…" Dia melepaskan kertas di tangannya dan melepas kacamatanya dengan gaya paling keren sejagat raya.
"Untuk apa?"
"Mau melanjutkan yang tadi tidak?"
"Gila ya?" Aku tertawa pada Sehun yang merengut.
"Iya, aku gila. Apalagi suara pipismu kencang sekali, kau tidak tahu saja apa yang ada di kepalaku ketika mendengarnya dan menyadari kita hanya terpisah tembok. Kupikir tadi aku sempat punya niatan menghancurkan tembok jika pintunya tidak bisa kudobrak."
Aku merona parah mendengarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
