Petangnya, aku jalan dengan Rena setelah ia pulang kerja. Dia masih memakai pakaian kantornya. Tidak masalah sih buatku. Aku juga baru pulang dari kampus selepas merecoki Sehun di ruang kerjanya.
Aku mengajak Rena ke salon untuk perawatan. Dan dia kelihatan suka sekali dengan agenda itu. Mungkin dia sudah lama tidak merasakan dimanjakan.
Kami pergi ke salon langganan dan aku jadi ingat soal kali terakhir aku kesini diantar Sehun dan bertingkah konyol. Lupa membayar. Itu asli memalukan, tapi yasudahlah.
Sepanjang pijat memijat di private room, Rena dan aku cerita banyak hal. Tapi aku tidak yakin apa aku harus cerita padanya soal Sehun.
Tadi, Sehun bilang dia tidak keberatan jika Rena tahu. Sehun bilang, Rena adalah guardianku setelah orangtuaku. Jika aku belum memiliki rencana cerita pada orang tuaku, dia oke. Katanya Rena cukup punya hak untuk tahu. Hanya saja… timingnya kurasa belum tepat.
Bahkan ketika kami duduk di ruang lain dengan Jeonghan berdiri di belakangku, kupikir ini masih belum waktunya Rena tahu. Entah aku juga tidak tahu apa yang menghalangiku.
Tiba-tiba saja ponselku bergetar singkat. Ada pesan dari Sehun.
[How are you?]
Aku mengulum senyum, [Kita baru bertemu beberapa jam lalu. Kau serius bertanya?]
Balasannya datang dengan cepat. [Tentu saja serius… Kapan kau selesai? Apa aku perlu menjemputmu?]
[Aku bawa si mobil cantikku sendiri dan palingan pulang setelah ini, kami hampir selesai. Dan aku baik, jika kau memaksa ingin tahu kabarku. How r u then?]
"Luhan, kau ingin rambutmu ditata bagaimana? Dulu kau pernah bilang akan datang lagi mengecat rambut 'kan?" Aku mendongak dari ponselku dan menatap bayangan pria berambut pirang panjang lewat cermin.
Aku mengangkat tanganku. "Ya, ya ide bagus! Tapi sebentar,"
Jeonghan terkekeh dan melanjutkan mencuci rambutku.
Menatap ponselku lagi, aku mengetik pesan lagi untuk Sehun. [Hey, aku mengecat rambutku. Bagaimana menurutmu, Sehun?"]
[Bisakah kita ketemu setelah ini?
Boleh saja, apa warna rambutmu? Serius, bisakah kita ketemu setelah ini? Kita bisa keluar atau cuddling saja di apartemenku. Terserahmu.]
Bermesraan di tempat Sehun! Bagus, aku jadi ingin cepat pulang.
Tanpa sadar aku terkekeh lirih.
Dan kelihatannya Rena menyadari itu. Dia menoleh padaku cepat dan aku menoleh padanya. "Apa?!" Semburku gelagapan.
Rena menatapku menyelidik. "Apa?"
Aku cemberut, "Kau tiba-tiba menoleh. Aku kaget tahu."
"Kenapa kau harus kaget?" Rena bertanya tidak mengerti. Oke, Rena mungkin termasuk orang yang peka biasanya, tapi kakakku ini tidak begitu pintar. Dia mungkin sekarang tidak begitu menyadari aku menyembunyikan sesuatu darinya.
"Entah sih hehe."
Aku melihat Rena kembali membolak-balik majalah sedangkan aku menemukan diriku meliriknya hati-hati. Apa ini saatnya aku memberitahu Rena soal Sehun?
[Luhannie, gadis manis, kau masih disana?] Sehun mengirimiku pesan lagi dan aku hanya melirik. Tapi aku urung mengeti balasan.
Ya, mungkin Rena memang harus tahu soal aku dan Sehun.
Sehun sudah sebegitu terbukanya dengan mengenalkanku pada keluarganya. Paling tidak, aku perlu membuka jalan untuk Sehun agar bisa dekat dengan keluargaku.
Aku menyentuh lengan Rena hati-hati. "Rena…"
Rena tidak menoleh.
"Rena, aku tahu kau mendengarku." Kali ini aku menusuk lengannya yang berbalut kemeja putih. Sudah tidak sabar mau buka-bukaan rahasia.
"Aku kakakmu. Panggil kakak dulu."
"Oke, kak! Puas kau?! Sekarang dengarkan aku, ada hot news yang harus kau tahu."
Rena menoleh padaku dengan seringaian rubah. Dasar rubah betina haus perhatian! "Ya, adikku.." Ucapnya dengan nada sing a song. Tapi dia mengernyit ketika menatap wajahku.
Ada apa dengan wajahku?
"Persetan!" Aku mendongak pada Jeonghan sebentar, "Aku ingin rambut pirang, pirang platina. Apa kau punya catnya?"
"Ya, Luhan. Akan kusiapkan sebentar sementara kau curhat dengan kakakmu."
Aku memberinya acungan jempol ketika dia mengajak temannya yang mengurusi rambut Rena pergi ke luar ruanganan sepi ini.
"Oke, Rena."
"Jadi, Luhan? Ada apa? Kau mulai membuatku khawatir? Apa kau hamil?"
"No!" Aku meraung.
Rena mengernyit dalam, wajah cantiknya mengkerut-kerut tidak biasa. "Sekarang aku jadi tambah khawatir. Kau pengguna narkoba sekarang?"
Aku menatap Rena tidak percaya. "Tidak!! Bagaimana bisa kau berkata begitu!"
"Pergaulan bebas jaman sekarang yang kau masuki semenjak pisah rumah dari kami membuatku cukup parno. Well, aku percaya padamu, tapi aku hanya takut jika semakin kesini kau semakin tidak bisa mengontrol diri. Tidak biasanya juga kau membuat ekspresi ragu seperti sekarang. Aku takut ketakutanku jadi nyata."
Aku menghela nafas dalam-dalam. "Segalanya baik. Aku sedah mengurangi keluyuran malam dan memilih berada di tempat aman sebenarnya. Kalian tidak perlu khawatir. Kuliahku baik dan lingkaran pertemananku juga baik."
Rena melesakkan punggungnya dan kelihatan lega setengah mati. "Syukurlahh."
"Jadi bisakah aku cerita sekarang?"
"Ya, ya, tentu. Kau bersikeras segalanya baik dan pasti ini bukan hal buruk."
"Malahan kuyakin kau akan suka sekali dengan ceritaku."
Wajah Rena melunak dan tertarik. "Mari kita lihat."
Dan aku mencertikan segalanya soal aku dan Sehun. Mulai dari awal pertemuan kami ketika dulu umurku 13 sampai hal-hal yang kulakukan dengan Sehun siang tadi. Rena mendengar segalanya. Termasuk bagian keraguanku pada Sehun di awal dulu. Aku tidak melewatkan satu bagianpun.
Rena sungguhan mendengar semuanya.
Hanya saja… kupikir Rena akan senang dengan ceritaku. Tapi sebaliknya. Wajahnya yang tadi sempat bersinar, kini meredup lagi. Malahan rasanya seperti berita aku pacaran dan berencana menikah dengan Sehun itu lebih buruk dari aku hamil atau jadi pecandu untuk Rena.
Rena menahanku setelah ceritaku.
Jeonghan dan temannya kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya.
TapI Rena masih bergumam banyak hal soal tidak percaya pada ceritaku. Bahkan sampai kami keluar dari salon.
Dia menahanku. Rena memaksa pergi ke tempat makan private. Dan aku berhalangan ketemu Sehun.
Parahnya, Rena menahanku dengan sangat ketat sampai aku tidak sempat mengecek ponselku malam itu. Aku hanya tahu Sehun mengirimiku pesan dan berulang kali menelfonku.
Aku bertanya dalam hati, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Rena tidak merestuiku pacaran dengan Sehun?
Ahh gawat!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
Hokya ada apaan dengan si rena?
