BONUS PART OF "NO, PROFESSOR!"

It's been a while, enjoy!

Ini postingan dulu. Gue repost dengan tujuan kalian inget lagi dan tetep dapet feelnya pas baca bonus part 2 yang abis ini gue post.

Luv u.

.

.

.

.

.

Di otak Oh Sehun, hidup adalah serangkaian protokol yang pasti berujung. Di dalam protokol tersebut terdapat beberapa variable yang dinamakan kebahagiaan dan kesedihan. Namun sejak dia berumur dua puluh, kebahagiaan dan kesedihannya dikendalikan oleh sebuah variable dominan. Variabel dominan itu bernama Luhan. Dia tidak pernah menyangka jika jadi teman kelompok cewek paling popular di jurusannya yang bernama Rena itu akan mengantarkan Sehun pada sebuah titik balik zona nyamannya. Dia biasa tidak peduli pada sekitar karena sekitarnya juga sering tidak peduli padanya. Tapi kemudian dengan titik balik itu, dia berubah jadi peduli pada Luhan.

Pertama kali melihat Luhan masuk dari pintu rumah Rena dengan dress pink serta ransel dan buku-buku di pelukan, Sehun langsung terpaku. Gadis itu sangat lah putih dan bersinar. Polos dan riang. Menatapnya dengan mata rusa lucu dan mengenalkan dirinya dengan ramah sebagai Luhan, adik Rena.

Maka tidak ada yang bisa Sehun lakukan selain balas tersenyum ramah pada gadis cantik itu. Padahal Sehun tidak biasanya tersenyum ramah.

Saat itulah variable dominan Luhan mempengaruhi protokol hidup Oh Sehun.

Sehun yang awalnya sangat apatis, menjadi sangat peduli pada Luhan yang merengekinya. Sehun yang awalnya tidak pernah membawa teman ke rumah, menjadi sangat sering tersenyum ketika ibunya berkata ada gadis manis mencarinya di depan rumah.

Sehun senang ketika Luhan datang padanya dengan buku dan PR untuk ia bantu, pun ia juga senang ketika Luhan datang dengan tangan kosong namun dengan ocehan panjang yang anehnya ia dengarkan dengan suka cita.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hidup Sehun memang mulai menyenangkan sejak usia 20. Entitas manis dan pintar bernama Luhan sangatlah indah untuknya. Namun segalanya jadi sangat mengerikan di tahun kedua pertemanan mereka, saat itu usianya 22 dan dia sedang menempuh bangku pascasarjana, serta magang di sebuah sekolah. Dia sibuk dan sangat sibuk sampai sering kali melewatkan panggilan gadis manisnya. Akhir pekan yang sering ia lewati dengan main dan makan bersama Luhan terkikis. Dia menyesal dan sedih akan hal itu. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain bertahan sedikit lagi. Ia yakin Luhan yang riang itu pasti mampu mengatasi perasaan kesepiannya tanpa Sehun dengan main bersama teman-temannya yang lain, tapi berbeda dengan Sehun. Sehun sangat tersiksa tidak bisa melihat wajah ayu dan senyum bling-bling Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan kejadian mengerikan itu terjadi.

Ketika Luhan menelfonnya dan dia berhasil untuk tidak melewatkan panggilan itu. Bagian buruknya adalah Luhan sedang menangis di seberang sana. Luhan tidak mengatakan apapun dan hanya menangis di telinga Sehun. Sehun panik dan menanyakan dimana si manis, tapi hal itu hanya memperparah tangisan Luhan. Seolah hal itu mengisyaratkan pada Sehun untuk mendengarkan saja dan merekamnya baik-baik.

Sehun meremat ponselnya dan diam mendengarkan raungan yang tidak ingin ia dengar, lalu beberapa menit setelahnya, tangisan Luhan berangsur reda. Suara gadis manis itu masih sesenggukan ketika mengatakan sesuatu dengan terbata.

"Sehunh, aku tah-tahu kau sibuk kuliah dan kerja hiks," Sehun ingin mengucapkan seribu kata maaf, tapi Luhan kembali melanjutkan ucapannya. "T-tapi kau jahat sekali tidak hiks! tidak pernah menelfonku. Aku ada di Ch-China hiks sekarang. Mungkin kita tidak akan ketemu lagi hiks! Hiks." Lalu Luhan menangis lagi, kali ini Sehun tidak sempat mendengar lama tangisan menyedihkan itu karena sambungannya di putus Luhan.

Sehun diam, berusaha mencerna apa yang baru saja di katakan Luhan. Sepenuhnya dia tidak mengerti. Kenapa Luhan menangis sampai seperti itu? Dan kenapa gadis manis itu di China?

Dia berusaha menelfon Luhan lagi, tapi Luhan tidak menjawab. Lalu Sehun mendengarnya.

Ibunya berkata padanya ketika mereka makan malam bersama, dia bilang kemarin Luhan mencarinya. Tapi Sehun sedang ada tugas tambahan di sekolah. Luhan berpamitan pada ibunya jika dia dan keluarganya akan pindah ke China. Luhan bilang ayahnya dipindah tugaskan kesana dan kakaknya dapat pekerjaan disana juga.

Dan hal itu menghancurkan Sehun seketika.

Sehun tidak baik dan dia buru-buru bangkit dari meja makan. Dia mengunci diri di dalam kamar. Merenungi apa yang dilakukan Luhan sekarang di China dan juga merenungi bagaimana protokolnya tanpa Luhan. Kepalanya kemudian sakit dan dia memutuskan untuk bolos kuliah dan kerja keesokan harinya. Dia masih mengunci diri di dalam kamar dan tidak mengatakan pada siapapun bahwa hari itu ia demam

...karena kehilangan Luhan.

Sehun mencoba menelfon Luhan seharian. Tapi ponsel Luhan tidak aktif. Ini memperparah demam Sehun, apalagi dia tidak makan seharian. Sehun kepikiran Luhan, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.

Ibu Sehun mengetuk pintu Sehun hampir setiap saat, dan pria itu memutuskan untuk keluar keesokan harinya. Demamnya masih bersarang di tubuh, tapi dia menutupinya dengan pakaian kerja dan menyempatkan diri melewati rumah Luhan di jalan berangkat dan pulang kerja serta kuliah sorenya. Tapi tidak ada yang ia dapatkan, malahan rasa rindunya pada Luhan semakin menyiksa dan membuatnya terpikir menyusul Luhan ke China.

Sehun tercekik perasaannya sendiri. Ini kesalahannya, seandainya ia tidak sibuk dan meluangkan waktu untuk Luhan, segalanya pasti berbeda.

Luhan masih tidak bisa di hubungi, mungkin nomornya ganti dengan nomor China, tapi Sehun tidak percaya Luhan tidak mengabarinya. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Pikiran menyusul Luhan muncul lagi, hanya saja otak Sehun akhirnya mau diajak berpikir rasional. Dia butuh uang untuk menyusul Luhan, dan untuk mendapatkan uang itu, ia harus bekerja dengan giat.

Lalu setelah rentetan magang di sekolah dan kerja paruh waktu gila-gilaan serta kuliah, Sehun akhirnya mendapatkan pekerjaan yang bagus. Menjadi dosen di universitas terkemuka. Uangnya sudah lebih dari cukup untuk menyusul Luhan. Tapi kemudian dia menyadari sebuah ketidakmungkinan.

Luhan dan alamatnya.

Sehun tidak tahu alamat Luhan. Sekalipun ia bisa membayar tiket pesawat dan tempat tinggal disana, ia tidak yakin bisa menemukan Luhan. Telfon terakhir mereka sama sekali tidak memberitahukannya keberadaan Luhan secara spesifik. Malahan Sehun teringat ucapan si cantik tentang kemungkinan mereka tidak akan bertemu lagi.

"...Aku ada di Ch-China hiks sekarang. Mungkin kita tidak akan ketemu lagi hiks! Hiks"

Itu benar-benar buruk dan menghancurkan Sehun lebih buruk dari sebelumnya.

Sehun kehilangan harapan dan hidupnya yang beberapa tahun terakhir ia anggap menyenangkan bersama Luhan mulai memudar. Sehun mulai kembali ke awal dua puluhan. Kembali menjadi pribadi yang tidak peduli, bahkan lebih parah. Kembali menjadi tidak ramah, bahkan lebih parah.

Segalanya serasa tidak menyenangkan dan kelabu tanpa Luhan.