Lima tahun.

Dengan angka itu, Sehun mampu mendapatkan gelar Magister dan Professornya, serta pekerjaan tetap yang bayarannya menjanjikan untuk menopang hidupnya mandiri.

Namun lima tahun itu abu. Dengan segala keabuan yang tidak menarik itu, Sehun menemukan sebuah harapan ketika dia melihat Luhan duduk di cafeteria kampusnya.

Oh Tuhan itu betulan Luhan!

Sehun dengan mudah mengenali gadisnya hanya dengan sekali lihat walau mereka sudah lama tidak bertemu. Luhan masih secantik dan semanis dulu, bahkan Sehun nyaris meledak hanya karena Luhan berubah jadi gadis panas.

Kelihatannya Luhan jadi anak baru di kampusnya. Ini kabar bagus, bagus sekali!

Sehun ingin mendekat dan menyapa, tapi Luhan keburu pergi di tarik teman perempuannya. Sehun tanpa pikir panjang segera mengejar. Dia tidak peduli ditatapi aneh oleh mahasiswanya, dia hanya butuh Luhan.

Sehun terbawa perasaan dan ingin sekali memeluk Luhan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu nyata Luhannya. Akhirnya dia nekat menubruk Luhan yang sedang terburu. Dia berharap mereka akan dekat lagi seperti dulu, tapi Luhan saat itu tidak menyadari dirinya. Luhan kembali di tarik temannya.

Sehun terpaku sesaat.

Luhan beraroma memabukkan, Sehun tidak ingin berpikiran kotor, tapi ini murni tanpa ia sadari. Sehun tidak tahu itu cologne atau apa, tapi baunya sangat khas dan membuatnya terpikir mengendus lagi baju depannya nanti. Yang mana, sebenarnya, itu hanya keringat tubuh Luhan, gadis yang ia rindukan setengah mati itu.

Sayangnya Sehun masih belum bisa bertatap dengan gadis itu lagi. Tapi tidak masalah, Sehun mengekori Luhan lagi yang berlari bergandengan bersama temannya.

Sehun tidak suka dipersulit sebenarnya, namun dia tetap membuntuti gadis manisnya, berharap dapat kesempatan untuk mendekat lagi.

Namun sekali lagi, dia menemukan dirinya tidak suka. Dia cemburu ketika Luhan tersenyum pada pria lain. Berbicara dengan riang bersama lelaki lain ketika gadis itu berkumpul dengan ribuan mahasiswa baru lain di gedung auditorium.

Sehun yang tadinya bersembunyi di balik pintu auditorium, akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia marah dan ingin mendekat pada Luhan, tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat. Jadi, Sehun memilih bersabar dan menunggu Luhan duduk di kelasnya karena kabar bagusnya, Sehun ingat bahwa tahun ini dia punya kelas untuk anak semester pertama.

Sehun akhirnya mundur dan berbalik, meninggalkan auditorium. Dan melewatkan kepala Luhan yang menoleh pada tempat persembunyiannya tadi.

.

.

.

.

.

.

.

Sayangnya yang diharap dan dinantikan Sehun tidak terjadi. Luhan tidak berada di daftar kelasnya. Dia mengintip bagian administrasi dan ternyata Luhan mengambil kelas Byun Baekhyun untuk mata kuliahnya.

Ini mengecewakan, tapi Sehun tidak menyerah. Beberapa kali dia datang ke kampus lebih awal dan pulang lebih lambat hanya demi membuntuti Luhan. Ini sedikit menurunkan harga dirinya, tapi Sehun tidak keberatan. Dia menunggu saat yang tepat untuk kembali mendapatkan Luhan. Bayarannya akan setimpal.

Luhan akan menempel padanya seperti dulu dan hidupnya akan kembali. Sehun tidak sabar menantikan itu.

Tapi kesabaran Sehun harus diuji untuk kesekian kalinya karena gadis incarannya sangat lah populer. Dia sangat bersinar di angkatannya sehingga banyak lelaki mendekatinya secara terang-terangan.

Menjengkelkan bagi Sehun ketika harus menyaksikan Luhan selalu beriringan dengan lelaki berbeda. Ini menimbulkan semacam kontraksi di rahangnya yang membuat kelasnya lebih ditakuti. Segalanya berimbas. Sehun menjadi sangat sangat amat tidak ramah, baik ketika di dalam maupun di luar kelas.

Pun ketika akhirnya Sehun mampu menangkap mata Luhan dengan matanya di suatu momen, Sehun tertahan dengan tatapan tajamnya, yang mana hal itu Sehun yakini sangat asing untuk Luhan. Dahulu kala, mereka terbiasa beramah tamah dengan baik. Luhan pasti kaget, dan iya, dia memang kaget ketika mereka bertatapan untuk pertama kalinya setelah lima tahun tidak bertemu. Sehun tidak bisa mencegah hal itu.

"Selamat pagi, Professor Sehun."

Begitu sapaan Luhan. Suara Luhan masih seramah dan seriang dulu, membuat Sehun ingin membalas dengan ramah juga. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Tidak, ketika dia menyadari Luhan digandeng seorang lelaki. Setelah ditelusur, lelaki tinggi nan bugar itu namanya Johny, kakak tingkat Luhan. Sedikit kurang pantas untuk Luhan, menurut Sehun.

Sehun setiap hari mengikuti Luhan, tapi dia masih bertanya-tanya yang mana sebenarnya pacar gadis itu. Luhan kelihatan dekat dengan banyak pria, tapi hanya itu. Luhan hanya beramah tamah, Sehun cukup yakin dengan hal itu. Hanya saja Sehun kesulitan menerima kenyataan bahwa Luhan memang seramah itu pada semua orang.

Dulunya Sehun memang sering dengar jika Luhan punya banyak teman, tapi ketika sekarang melihat dengan mata kepalanya sendiri, Sehun benar kesulitan menerima hal itu. Bahwa Luhan juga dekat dengan banyak pria juga.

Momen yang sangat ditunggu Sehun itu berakhir mengecewakan.

Sehun kecewa untuk kesekian kalinya. Sehun melewatkan interaksi berharga dengan Luhan. Luhan digeret masuk kelas oleh teman prianya dan Sehun hanya menatapnya dalam diam.

Yang mampu menghibur Sehun hari itu adalah ketika dia berada di perpus, dia menemukan Luhan sedang berjalan sendirian memeluk laptop dan beberapa barang. Sehun tersenyum dan segera meninggalkan buku yang awalnya ia baca.

Dia mengikuti Luhan yang duduk di pojokan, mengerjakan tugasnya dengan wajah imut.

Sehun tidak bisa menahan diri untuk tersenyum bahagia. Bahagia dengan hal remeh namun sangat ia rindukan setelah sekian lama. Rasanya seperti penantian, kesabaran dan kekecewaanya selama ini terbayar sudah ketika melihat Luhan si cantik sangat rajin dan tekun, sangat tipenya. Persis seperti dahulu kala.

Sehun bahkan masih tersenyum di dua jam setelahnya.

Jangan tanya bagaimana bibir dan ototnya bertahan selama itu, Sehun juga bertanya-tanya. Mungkin itulah kekuatam supernya jika menyangkut Luhan.

Dia juga terlalu bahagia.

Sehun masih berdiri dan bersembunyi di balik rak tergelap layaknya penguntit sambil menatap gadis manisnya ketika Luhan mengeluarkan sebuah coklat dari jaketnya. Itu barang terlarang di perpus, dan Sehun adalah seorang dosen yang taat peraturan, namun bukannya menegur Luhan, Sehun malah melebarkan senyumnya. Di detik itu, Sehun baru merasakan wajahnya kaku karena terus tersenyum dan kakinya juga kaku karena terlalu lama berdiri.

Akhirnya dia membulatkan tekad dan keluar dari sisi gelap itu. Dia menghampiri kursi Luhan dan mengangagetkan gadis itu dengan keberadaannya.

Luhan kaget dengan sikap manis dan lucu. Dia menganga dengan mulut penuh coklat. Itu membangkitkan sesuatu dalam diri Sehun mengenai mulut penuh coklat Luhan yang pastinya tambah manis, sebenarnya.

Tapi Sehun menahan diri.

Lagian otot wajahnya juga masih kaku untuk menyunggingkan seringai, jadi Sehun tidak punya pilihan lain selain menyapa Luhan dengan wajah merengut.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebenarnya Sehun ingin mengenang lagi bagaimana perjalanannya dengan Luhan, tapi ada yang harus ia lakukan sekarang.

Sehun buru-buru meraih ponselnya dan mengenakan kaos kaki.

Luhan, gadisnya, yang sekarang syukurnya sudah jadi pacarnya itu baru saja mengirim pesan bahwa ia baru pulang setelah ditahan Rena, kakak si gadis, selepas dari salon dan sesi curhat.

Ini jam 10 malam sebenarnya, tapi Sehun tidak peduli, dia ingin melihat Luhan dulu. Pun Sehun juga tidak peduli bahwa dia baru saja ngebut mengoreksi paper mahasiswanya. Matanya pedas. Tapi tidak mengapa, dia butuh gadis manisnya, rasanya sangat butuh sampai jika dia tidak melihat Luhan malam ini juga, ia yakin ia tidak akan bisa tidur.

Jika dipikirkan lagi, mood Sehun yang semacam ini cukup menggelikan.

Hanya saja otak Sehun tidak cukup ruang untuk memikirkan hal remeh itu. Luhan sudah mengambil alih setiap bagian Sehun. Sehun sudah tidak mampu mengontrol dirinya lagi.

Bahkan, tanpa disadari, Sehun sudah berada di depan pintu Luhan.

Dia mengeluarkan ponselnya dan mendial Luhan. Tidak memungkinkan jika dia menekan bel karena bisa mengganggu Kyungsoo teman Luhan.

Sehun mendesah lega ketika Luhan mengangkat panggilannya di dering kedua.

"Hai, gadis manis, aku ada di depan pintumu." Dia tidak basa-basi saking berdebarnya ingin segera melihat si manis.

Sehun mendengar suara bedebuk jatuh, tapi tidak yakin apa itu. Dia hanya terkekeh ketika Luhan mengumpatinya, "Sialan, ini sudah malam tahu!"

Sehun melupakan dirinya yang biasa membenci ketika Luhan mengumpat. Sepenuhnya cuma ingin segera ketemu.

"Kau pikir aku peduli? Keluarlah, aku kangen." Ucap Sehun tidak sabar lagi.

.

.

.

.

END OF BONUS

Well, gue betulan ngarep ini cukup buat disebut bonus.