Wsap!

Gue gangerti kenapa gue selalu telat. Kek gblk banget urusan disiplin gitu. Minta maaf karena telatnya gue pun rasanya jadi udah basi ya kan, but still, gue tetep ngerasa salah. Bersoda gue ini, eh berdosa maksudnyah.

Ini chap 32 loh btw, kok udah banyak yaa.

Yang merasa lupa sama alurnya, pls pls pls baca chap 31 dulu.

Btw gue up bonus part 2 juga loh.

Dicek hayu.

Sooo, selamat bacah.

Aku mendesah ketika meletakkan tasku ke meja belajar. Sialan Rena, dia benar-benar tidak main-main ingin menguras pendapatku soal Sehun. Mulutku rasanya berbusa karena dipaksa cerita banyak hal. Namun kelihatannya Rena masih belum puas. Seperti sekarang, dia masih sempat-sempatnya mengirimiku pesan dan bertanya ini itu.

Padahal kami barusaja berpisah beberapa menit lalu!

Aku penasaran apa wanita ini sudah sampai rumah atau malah mengetik pesan sambil menyetir.

Aku mengirim sebuah stiker jari tengah padanya sebelum berjalan ke kamar mandi. Aku butuh mandi sebelum tidur.

Memikirkan soal tidur, aku yakin Kyungsoo sekarang sudah tidur pulas. Ini nyaris tengah malam dan aku mengerang dalam diam, merutuki Rena dan keinginan ikut campurnya dalam hubunganku dengan Sehun.

Ngomong-ngomong, aku baru sempat mengirim pesan pada Sehun saat aku masuk kamar tadi. Separuh merasa bersalah juga sih, kan awalnya aku janjian ingin berduaan dengan dia, tapi digagalkan oleh Rena. Dan sekarang ponselku belum mendapat balasan dari pria tampan itu. Mungkin ia sudah tidur, mungkin juga ngambek.

Uh, sepertinya ngambek jelas hanya imajinasiku saja. Sehun yang dewasa mana mungkin ngambek.

Anehnya, karena mungkin aku memang aneh, aku tetap menanti balasan Sehun. Aku membawa ponselku ke kamar mandi. Bahkan ketika aku duduk di pinggiran bathub dan menyiapkan air hangat, aku menyempatkan diri melirik pada ponsel di tangan.

Lalu balasan itu datang.

Balasan dari Sehun, berupa panggilan mendebarkan yang inginnya kujawab dengan girang.

Hanya saja, belum sempat aku membuka mulut ingin merengek seberapa kangennya aku padanya di ujung sambungan, Sehun keburu mendahului. "Hai, gadis manis, aku ada di depan pintumu."

Dan saat itulah bokongku tergelincir dari pinggiran bathub saking kagetnya dengan ucapan si makhluk tampan di tengah malam begini.

Oh Sehun ini stalker atau bagaimana sih sampai ada di depan pintuku malam-malam begini? Bisa-bisa dia disangka orang mesum oleh tetanggaku kan.

"Sialan, ini sudah malam tahu!" Aku mengumpatinya, masih selonjoran di lantai dingin kamar mandi.

Tapi Sehun kedengaran tidak peduli. "Kau pikir aku peduli? Keluarlah, aku kangen."

Benar 'kan. Sehun memang tidak peduli. Dan aku ikutan tidak peduli… karena mungkin aku terbius dengan ucapan Sehun yang kangen aku.

Oh Tuhan, aku berdebar-debar dan mengangkat bokong bantetku hati-hati. Tubuhku bergetar tipis merasakan bajuku yang lembab kecipratan air dan hotpantsku yang barusan kupakai menggantikan rokku juga serasa basah.

"Luhan, kau mendengarku?" Sehun bertanya. Mungkin penasaran kenapa aku tidak kunjung menjawab.

Tapi aku urung menjawab. Aku memutuskan untuk berjalan ke luar kamar dengan ponsel tetap di telinga. Mendengarkan deru nafas Sehun yang entah kenapa terdengar tidak tenang.

"Tunggu." Ucapku seadanya berusaha menenangkan.

Dan hal itu sepertinya cukup berhasil karena Sehun menghela nafas lega. "Ya, kutunggu."

Tunggu, ya tunggu. Aku menunduk dan mengernyit pada pakaianku yang serius sangat tidak pantas kupakai malam-malam menemui pacarku yang menunggu di depan pintu. Terlebih, Sehun adalah tipikal yang perfeksionis.

Tapi, anehnya aku malah terbakar semangat ingin melihat bagaimana reaksi Sehun ketika melihatku dengan kemeja basah dan hotpant pendek ini.

Gairah kemesumanmu, Luhan!

Kupikir ketika aku membuka pintu apartement, aku akan menemukan wajah tampan Sehun. Tapi aku malah menemukan wajah super awut-awutan.

Dimana Sehun si perfeksionis?

"Hei, ada yang salah dengan wajahmu sepertinya." Tegurku sambil meraih wajah yang biasanya garang dan segar itu.

Sehun mendekat perlahan dan ikutan meraih wajahku. "Aku kepikiran soal kakakmu. Apa dia menunjukkan segala sesuatu hal negatif setelah kau memberitahu hubungan kita?"

Ini yang ia ucapkan pertama kali?

Jangan bilang Sehun juga khawatir soal reaksi Rena?

Sehun kelihatan seperti punya cara tersendiri untuk mengungkapkan kekhawatirannya. Ucapannya begitu hati-hati. Tapi wajahnya kelihatan sangat terpuruk dan tegang.

Hal itu membuatku tersenyum menenangkan tanpa sadar. Aku tidak tahu bagaimana bisa aku mempelajari cara tersenyum yang semacam itu, tapi aku hanya berpikir bagaimana caraku membuat Sehun yang sekarang berantakan ini jadi Sehun yang selalu membuatku terpesona.

Bukan berarti Sehun yang sekarang tidak menarik, dia masih menarik. Aku bersumpah mulai berpikir Sehun adalah titisan malaikat karena masih mampu menawan meski matanya merah dan rambutnya berantakan. Tapi sesuatu dalam diriku merasa aku cukup bersalah karena merubah makhluk tampan ini jadi berantakan.

Aku berkata, "Rena kelihatan terganggu dengan hubungan kita." Aku mengingat reaksi kelabakan cewek itu tadi.

Alis tebal Sehun bertaut seketika. Tapi dengan cepat, dia berusaha untuk terlihat kalem. "Seburuk itu?" Tanyanya dengan tenang.

"Entahlah."

Aku mengendik bahu dan menatap langsung ke manik coklat gelap yang lebih tinggi dariku itu. Aku ingin menyampaikan pada Sehun jika Rena terlihat tidak setuju dengan hubungan kami yang baru mulai ini.

"Luhan," Sehun memanggil namaku lamat-lamat. Aku suka hal itu. Jadi aku tidak mengalihkan wajahku yang menghadap wajah super keren Sehun. "Jangan bercanda, aku serius sekarang."

Dia pikir aku tidak serius? "Aku juga serius."

"Tidak dengan senyum main-mainmu itu, gadis manis. Ayo, katakan padaku yang sebenarnya."

Saat itulah aku menyadari mungkin sedari tadi senyum kekanakanku sedang terpatri di wajah dan usahaku untuk mempermainkan Sehun gagal total. "Ehee tidak perlu tegang seperti itu, Hun-ah. Kau tidak serius sedang khawatir pada Rena kan?" Tanyaku.

Alis mengerut Sehun perlahan mengendur. Wajah tampan itu perlahan juga rileks. "Rena kakakmu. Tentu saja aku khawatir jika dia tidak menyukaiku."

"Dia memang tidak menyukaimu, asal kau tahu."

"Bukan, bukan menyukaiku seperti itu, tapi menerimaku sebagai pria yang mencintai adiknya."

Aku meloloskan sebuah kekehan. "Kau mencintaiku?" Ledekku.

"Ya, aku mencintaimu, Luhan."

Eh.

Aku merasa ada yang salah. "Hey hey apa yang sebenarnya terjadi?" Kulepaskan wajah Sehun, tapi kuraih rambut hitamnya yang belakang dan kuremat perlahan. "Kenapa kau jadi blak-blakkan begini?"

Sehun tidak menjawab, malahan dia memelukku. Meliukkan tubuhnya mengikuti lekuk tubuhku. Uh wow, aku meremang merasakan keintiman yang pria tampan ini berikan. "Aku khawatir, aku sungguhan takut keluargamu tidak menyukaiku. Kita baru memulai ini dan aku tidak suka membayangkan hal buruk yang menghalangi kita."

Kuakui perasaan Sehun tidak salah. Aku pun sejujurnya ketakutan memikirkan masa depan.

Namun… Daripada ketakutan akan Sehun yang meninggalkanku, aku lebih takut pada diriku sendiri. Bagaimana jika nanti aku bosan pada Sehun. Sehun itu menarik, sungguhan menawan, pintar, tampan, keren, sangat sempurna.

Tapi aku juga ingin mengaku. Aku terlalu labil.

Awalnya aku suka Sehun. Lalu aku menampiknya, dan pada akhirnya kembali lagi menginginkan pria sempurna ini.

Segala hal bisa mempengaruhiku dengan mudah. Aku takut aku tidak mampu bertahan suka.

Untuk Sehun, aku hanya mampu menjajijakan satu hal. Orangtuaku mengajarkan pelajaran berharga yang akan kubawa sampai mati.

Aku akan tetap berusaha setia.

"Kalaupun keluargaku tidak suka kau, jangan mundur, Sehun. Aku akan mempertahankanmu. Aku janji."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

... dengan maksa.

Lanjut baca yuk, abis ini gue up chap 33.