Pagi itu aku memutuskan untuk merampungkan tugas untuk mata kuliah Professor Kris. Aku duduk memangku laptop di balkon kamar Kyungsoo yang spotnya lebih bagus daripada milikku. Balkon kamar Kyungsoo lagian juga punya banyak tanaman pot kecil yang segar sekali dilihat pagi-pagi begini.

Semenatara aku mengetik beberapa kata untuk paperku, aku melirik Kyungsoo yang duduk di seberangku, juga memangku laptopnya. Tapi wajah gadis itu kelihatan tertekan luar biasa.

Aku menyesap teh hangatku sebentar, "Apa artinya wajah frustasimu?" Tanyaku pada Kyungsoo.

Dia tidak mendongak sama sekali dari layarnya. Pun dia juga tidak menjawabku. Malahan dia menghela nafas kasar, persis seperti yang ia lakukan sejak tadi.

"Kyungsoo, jujur saja, wajah dan helaan nafasmu sedari tadi itu merusak keharmonisan suasana damai ini."

Kali ini Kyungsoo mendongak dan memelototiku. Seolah 'pergi kau dari kamarku!'

Aku mengangkat bahu dan nyengir. "Jadi ada apa sebenarnya? Ada masalah dengan prmu?"

Kyungsoo mengehela nafas kelelahan kali ini dan menutup laptopnya. Mata bulatnya menunjukkan seberapa tertekannya ia saat ini. "Kau slengekan dan kelihatan cuma seperti gadis tukang main-"

"Hei!" Aku berseru.

Kyungsoo sedang tertekan dengan tugasnya, aku tahu itu. Tapi tidak perlu melampiaskan emosinya padaku, kan.

Tapi agaknya Kyungsoo tidak peduli pada protesanku, dia melanjutkan, "- tapi kau pintar. Jadi kau tidak tahu perasaanku yang berotak pas-pasan ini."

Wajahku yang awalanya bersungut, perlahan melunak. Aku terkekeh. Suka dipuji oleh Kyungsoo. Jarang sekali cewek ini memuji. "Well.. tidak juga.. kau kan juga pintar, rajin pula. Aku tentu saja tidak bisa serajin kau. Terlalu muluk buatku."

Memang kodratnya para perempuan, jika dipuji pasti akan sok-sokan merendah walau hatinya melambung tinggi.

Namun, Kyungsoo yang sebenarnya juga perempuan itu agak berbeda. Dia tidak terlihat terkesan sama sekali setelah kupuji balik. Dia memelototiku kesetanan malahan. "Kau mahasiswi top di angkatan kita, Luhan. Aku sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu. Ditambah kini kau punya pacar Professor."

Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi. "Kurasa sebaiknya kita mulai lagi program mencarikanmu pacar." Putusku.

Wajah Kyungsoo semakin memucat. Seperti trauma sekali dengan ideku yang satu itu. "Dan apa hubungannya itu?"

"Kau sedang stress dengan tugasmu, Soo. Kau butuh mood booster, layaknya Sehun buatku." Aku merona membayangkan Sehun. Si tampan yang pintar dan super hot itu.

"Tidak, tidak. Ini jelas tidak ada hubungannya. Bisa saja berhubungan jikalau aku memacari professor juga."

Aku mengernyit. "Tunggu, apa kau pikir aku dan Sehun itu punya hubungan yang seperti itu? Yang aku minta Sehun untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahku?"

"Memangnya tidak? Sehun tidak membantu pr-pr mu?"

Aku menggeleng. "Tentu saja tidak. Itu don'ts. Aku ingin membuktikan pada Sehun aku sudah dewasa. Dan aku akan mencoba menyelesaikan masalahku tanpa dia. Aku bisa mandiri, aku ingin membuktikan itu. Apalagi ini hanya soal tugas kuliah."

Kyungsoo menghela nafas, lagi. "Ya oke… hanya tugas kuliah. Bagimu itu 'hanya'."

"Nah nah… hentikan itu dan ayo sini kubantu mengerjakan tugasmu, jangan menggerutu terus. Atau kau mau aku mengantarkanmu pada Sehun agar dia mau memberimu konsultasi?"

Kyungsoo berjengit dan menatapku seolah aku gadis paling aneh yang pernah ia kenal. "Itu ide buruk, lebih baik aku kau suruh keliling cari buku besar di perpus saja! Lagian kau tidak cemburu Professor Oh mengajariku?"

Aku mengangkat bahu ringan. "Kau ingat cerita soal Sehun dan ms. Baekhyun?"

"Ya."

"Dari situ aku belajar satu hal, aku tidak perlu khawatir soal siapa dan berapa banyak cewek yang dekat dengan Sehun. Bayangkan saja seberapa banyak aku harus menguras rasa cemburuku jika 'konsultasi' saja kuhitung sebagai perselingkuhan."

Aku melihat Kyungsoo menatapku terkesan kali ini. Mata bulat gadis itu berkilat. "Demi Tuhan, kau berubah, Luhan. Kau jadi dewasa. Hanya karena sekarang kau punya pacar." Kyungsoo menutup mulutnya sebentar, untuk berkata mengagetkanku. "Mungkin kau juga benar, aku harus cari pacar. Supaya bisa jadi dewasa." Simpulnya.

Setelah itu kami tertawa.

Menertawakan dan mebicarakan banyak hal lainnya.

Kyungsoo akhirnya mampu mengerjakan tugas lagi dengan lebih kalem setelahnya.

.

.

.

.

.

.

.

Siangnya aku punya jadwal kuliah dengan Professor Kris. Harusnya. Tapi dia membatalkan kelas tepat satu jam sebelum itu dimulai. Yang mana saat itu aku sudah di kampus dan minum kopi di kantin bersama Kim Suho. Laki-laki itu teman sekelasku, bukan teman main. Dia tipikal pemuda baik yang tidak pergi ke klub.

Tapi anehnya, dia menanyakan sesuatu yang membuat otakku tidak paham.

"Kau tidak ke klub akhir-akhir ini, Luhan?"

"Apa?" Aku bertanya, perpaduan antara tidak percaya pada pertanyaannya dengan tidak dengar suara Suho yang dasarnya memang halus sehalus wajah tampan cowok itu.

"Kau main kemana akhir-akhir ini?"

"Aku tidak main untuk sementara waktu." Karena sekarang aku punya Sehun si tampan yang minta diperhatikan setiap malam. "Tapi kenapa kau bertanya?"

Suho menggaruk dahinya yang aku baru sadar luar biasa menggiurkan. "Aku sudah lama tidak melihatmu menari. Kupikir kau pindah klub atau apa."

Aku terdiam. Kuperhatikan Suho dalam diam. Cowok ini selalu bawa buku atau paling tidak tablet di tangannya dimanapun ketika aku papasan dengannya. Dia anak yang cerdas di kelas, aku suka. Humornya juga selaras denganku, makanya aku tidak keberatan diajak ngopi saat kami ketemu di parkiran tadi.

Tapi aku baru menyadari satu hal, dia ini ternyata good looking sekali. Aku bersumpah, aku tidak pernah menyadari jika Suho itu sangat tampan dengan hair-upnya yang selalu rapi. Cowok ini kok baru eksis di mataku setelah aku punya pacar sih?

Eh!

Iya, aku sudah punya pacar. Tidak seharusnya aku memikirkan cowok lain.

Aku mengernyit melihat Suho yang kini tersenyum bak malaikat padaku. "Tunggu, jadi kau selama ini pergi ke klub?" Aku melotot. "Dan ada di klub yang sama denganku?" Mataku semakin melotot.

Aku melihat Suho nyengir. Serius? Kok rasanya tidak sesuai karakternya ya. "Begitulah."

"Kau serius?"

"Ya, kenapa tidak?"

"Oh Tuhaan.." Aku mengerang dan menyeruput Americanoku dalam-dalam. Bodo amat mau orang lain berpikir aku bar-bar. "Aku tidak percaya. Selama ini kupikir kau ini anak baik-baik tahu."

Suho terlihat tidak risih dengan meja kami yang kini basah kecipratan es kopiku yang tumpah-tumpah. Malahan dia seperti tidak jijik dengan mengelapi pipiku dengan lengan sweaternya.

Tunggu!

Rasanya aku pernah melihat sweater itu.

Bukankah itu sweater merk terkenal keluaran terbaru?

Kenapa aku baru sadar Suho selalu mengenakan pakaian bermerk? Darimana saja aku.

"Sadarlah kau sudah punya pacar, Luhaan." Aku menggeleng dan menggumam, merapal mantra.

"Apa?"

Aku menggeleng lagi. "Kubilang, kupikir kau anak baik, Suho-ya."

"Setahuku aku memang anak baik."

"Tidak ada anak baik yang pergi ke klub karena mau lihat cewek-cewek menari. Lagian dimana kau selama ini? Aku tidak pernah sekalipun melihatmu disana tapi tahu-tahu kau malah sadar aku jarang hadir sekarang."

"Aku di lantai 2."

Aku terkekeh tidak terkejut. "VIP?"

"Yap, kesanalah bersamaku. Akan kutunjukkan spot bagus."

Sepertinya Suho memang anak orang kaya. "Ya, lain kali aku akan menghubungimu."

"Bagaimana dengan malam ini? Kelas Professor Kris dibatalkan, kita bisa jalan-jalan dulu sebelum nanti malam pergi ke klub."

Bukankah akhir-akhir ini aku selalu bersama Sehun dan jarang main?

Ajakan Suho kok kedengaran menyenangkan ya.

Tapi...

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yahaa gue balik dengan bonus dan double up.

Terharu sama lo yang tetep sabar nungguin ini huhuuuu.

Recently, banyak author-author baru yg ngramein HUNHAN fict, walo sepenuhnya couple ini halu. Mantul batsss.

Udah liat postingan Luhan sama Sehun di ig yg baru? mereka kok kode mulu siiiii, atau ini cuma perasaan gue yg kurang asupan ini ya wkss.