"Mommy, bwangwun!" Aku terbangun dengan cepat dan aku melihat Cam di dekat kepalaku. Dia sudah berdandan dan rambutnya terangkat oleh sebuah cepolan, aku tertawa dan bangun. Lalu pergi ke kamar mandi.

Aku sebenarnya lelah dan tidak mood pergi ke manapun tapi jika Cam ingin melakukan sesuatu, aku tentu saja akan menurutinya. Percaya atau tidak tapi aku cinta mati pada gadis ini. Dia anakku dan tidak ada yang bisa mengambilnya dariku.

Aku berdandan dengan cepat dengan jeans biru pudar dan kaos hitam sebelum meraih mantelku. Hari ini cukup dingin di bulan November, jadi aku membungkus Cam dengan sarung tangan dan topi. Sebut apapun semaumu tapi aku pikir ini hanya insting seorang ibu untuk tahu anaknya bisa saja sakit.

"Jadi, kemana hari ini?" Aku bertanya padanya, tersenyum pada buntalan kebahagian yang tersenyum riang dan bertopi miring.

"Hmmmm kita bwisa pwergi ke kwarnaval!" Di New York, sebuah karnaval tidak akan sulit untuk ditemukan.

Aku mengeluarkan ponselku dan mencari karnaval terdekat sebelum melangkah ke mobilku dan memastikan Camerri aman di dalam, baru kemudian aku pergi ke jokku sendiri.

Ketika aku sampai, aku mencoba membuka pintunya tapi itu terkunci. Mencoba cara masuk akal, aku meraih kunci-kunciku tapi tidak ada dimana aku menaruhnya tadi.

Jantungku jatuh ke perut dan aku merasakan panik mengguyurku. Aku melihat ke dalam, lewat jendela dan menemukan seseorang di kursiku sedang melihat ke belakang dimana Cam sedang tersenyum seperti orang gila.

Mencoba untuk tetap tenang, aku berjalan ke sisi depan untuk melihat lebih jelas siapa di dalam.

Sai.

Kenapa si breng- kontrol, kontrol! Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan sebelum menggedor jendela.

Kacanya bergulir turun untuk menampilkan seorang iblis dengan senyuman jenaka palsu di wajahnya.

"Apa yang salah denganmu!" Aku berteriak merasakan amarah mengguyurku. Membuat tinjuku mengepal dan wajahku panas.

"Apa? Aku hanya main dengan temanku disini, apakah ada masalah?" Oh dia benar-benar cari masalah.

"BRENGSEK! KELUAR KAU DARI MOBILKU SEKARANG JUGA DAN TINGGALKAN KAMI!" Aku meneriakkan apa yang ada di kepalaku tepat sasaran. Dia menaikkan jendelanya dan aku menggedor liar sebelum dia melaju pergi meninggalkanku berteriak di belakang mobil.

Oh no.

Oh no.

Oh no.

Aku mulai panik dan jatuh di tanah, menangis sambil berteriak. Bayiku…aku harusnya melindunginya dan sekarang ada orang aneh yang mengambilnya dariku.

Aku mengeluarkan raungan sekali lagi sebelum bangkit dan menyeka air mataku kasar lalu mulai berlari. Aku cukup cepat karena aku melatih diriku sendiri, jadi kurang dari lima menit kemudian, aku sudah berdiri di depan art gala.

Aku menyerbu masuk dimana Chouji sedang berdiri melihat sebuha lukisan dengan penilaian.

"PLEASE PLEASE KAU HARUS MENGATAKAN PADAKU DIMANA DIA TINGGAL, SAI UCHIWA DIMANA DIA TINGGAL!" Aku meneriaki Chouji sebelum dia menyuruhku tenang dan menggiringku ke kantornya.

Aku mencoba untuk tetap tenang tapi aku tidak menahan diri menghentak-hentak ketika menceritakan padanya apa yang terjadi.

"Naruto, dengar. Tenang, oke, relax. Aku punya alamatnya disini, ini.." Aku meraih itu dan berlari keluar sambil 'terimakasih'.

Aku menatap alamatnya dan bersyukur bahwa aku hanya butuh lari setengah jam untuk mencapainya, tapi bahkan aku tidak peduli jikalau aku harus menyeberangi lautan untuk mendapatkan kembali anakku.

Ketika aku akhirnya sampai, aku harus mencubit diriku sendiri untuk meyakinkan jika aku tidak bermimpi. Rumahnya adalah mansion modern dengan air mancur di bagian depan. Aku berlari ke pintunya dan mengetuknya dengan berisik.

Sai membukanya dengan seringai di wajahnya yang membuatku pusing. Aku merasakan amarah membumbung di dalamku dan merasakan diriku terdorong ke belakang dan pintunya dibanting di depan wajahku. Aku berlari ke bagian samping rumah dan melihat jendela paling bagus serta paling mahal sebelum meraih sebuah batu dan memecahkannya.

Aku tersenyum bangga pada pecahan itu sebelum berjalan mendekat pada jendela. Aku mengayunkan diriku ke dalam dan jatuh dengan bokongku, menyebabkan sebuah memar.

"Well, well, well. Bukan cara paling seksi untuk mengyeberangi jendela, tapi aku patut berkata aku pikir kau bisa dapat A untuk usaha," Aku merasa pipiku memanas dan aku buru-buru berdiri.

Aku mendongak untuk menemuka mata gelap Sai sangatlah dingin dan tak berperasaan ketika bibirnya mengulas seringai. Aku menunjuk dadanya dan mendorongnya sedikit tapi dia terlihat tidak terpengaruh, sama sekali.

"Aku ingin anakku!" Kataku dari gigiku yang bergemeretak.

"Oh tapi dia bukan anakmu, kan?" Aku merasakan hatiku jatuh dan tanganku terun tanpa daya.

"Menyedihkan kau, beruntungnya, aku tidak memberitahunya… belum."

Aku ingin menangis. Dia tidak bisa mengatakannya pada Cam, tidak bisa. Apa hal buruk yang pernah kulakukan padanya sampai Sai sekejam ini padaku, aku baru saja kenal dia.

Kepalaku pusing dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika Cam mengetahui dia bukan anakku. Ya, dia masih sangatlah muda dan mungkin saja tidak mengerti, tapi tetap saja dia akan membenciku atau bisa saja dia tidak akan memanggilku mommy lagi.

Hatiku sakit pada pemikiran-pemikiran itu. "Apa yang kau inginkan dariku?" Tanyaku.

Aku mendengar dia tertawa kecil tapi aku tidak mendongak dari sepatuku.

"Oh tidak ada, aku hanya suka melihat rasa sakit." Dia berkata dan tertawa lagi.

Aku tidak tahu apa yang mendorongku tapi aku merasakan tanganku terangkat dan memukul Sai dan kemudian aku berlari ke tangga dan tetap berlari melewati koridor yang tidak ada ujungnya.

"AKU AKAN MENANGKAPMU, KAU AKAN MEMBAYAR UNTUK ITU!"

Aku menemukan sebuah ruangan terdekat dan aku masuk ke dalamnya sebelum mengunci pintu kamar mandi yang baru saja kumasuki dalam ruangan itu. Aku menekan dadaku dan menenangkan diriku sendiri sebelum aku bergetar. Aku jatuh di lantai dan mendengarkan langkah kaki Sai.

Aku masih begetar dan menunggu langkah kakinya mendekat.

"Kau akan mati."

.

.

.

Mengatakan jika aku ketakukan sangatlah bisa diterima, aku tidak tahu aku bisa setakut ini, malahan rasanya aku bisa ngompol di celana. Ironi karena aku ada di kamar mandi. Aku melihat sekeliling siapa tahu ada jendela ketika Sai menggedor pintu.

"BUKA PINTUNYA."

Aku mengabaikan perintahnya dan melanjutkan mencoba menemukan jalan keluar, tapi tidak ada jendela disamping jendela kecil sebelah shower yang tentu saja tidak muat untukku. Aku menghela nafas dan menyerah. Hidupku jungkil balik karena keidiotanku, sekarang anakku…bayiku, cinta dalam hidupku akan menemukan fakta bahwa aku bukan ibunya.

Apa yang akan dia lakukan ketika mengetahui itu? Dia tidak akan mengerti tapi aku yakin Sai akan menjelaskan, yang mana dia akan membuatku terlihat seperti monster.

"Keluar atau aku akan menghancurkan pintu ini." Ini membuatku keluar dari pikiranku dan aku berpikir tentang apa yang akan terjadi jika aku tidak membuka pintu. Dia akan menyakiti Cam dan aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, jadi aku melakukan hal yang kupikir terbaik dan menguatkan diriku sendiri dengan memutar kunci pintu.

Tapi itu benar-benar ide yang buruk.

Disana, berdirilah Sai dengan pistol di depan jeansnya. Hatiku mencelus dan aku menelan ludah dengan cepat.

"Please, jangan sakiti dia. Bawa saja aku, kumohon." Aku memohon, merasakan air mata meluncur dari mataku ketika aku berlutut. Aku menundukkan kepalaku dengan rendahan dan mengeluarkan tangisan.

"Ikut aku." Katanya.

Aku berdiri dari lututku dan mengusap air mataku dengan kasar ketika aku berjalan dibelakangnya. Aku melihat sekeliling ketika kami jalan memutari tempat yang besar namun membosankan, aku mengamati segala yang kami lewati. Aku terlalu larut sampai aku menubruknya ketika dia berhenti, menyebabkanku sempoyongan.

Aku mengangkat tanganku untuk berpegangan padanya sebelum aku jatuh dan aku mendapatkan pegangan dari kaosnya. Dengan gugup, aku tertawa ketika aku berusaha menyeimbangkan diri lagi dan meraba singkat kaosnya. Aku merasakan kencangnya otot Sai dibawah sentuhanku.

"Apa yang kau lakukan?" Suara dinginnya menginterupsi sentuhanku pada kaosnya.

"Aku-um-well." Aku tergagap untuk menemukan pembelaan ketika dia menggelengkan kepalanya dan membuka sebuah pintu coklat di depan kami. Aku melihat ke dalamnya ragu-ragu ketika aku menemukan kamar berukuran master dengan sebuah ranjang king sized yang pas dengan dekorasi abunya.

Dia mendorongku masuk dan aku bisa mencium bau dari ruangan ini seperti pohon dan kayu pinus. Kemudian aku mendengar suara klik pintu dan aku dengan lincah mmenoleh pada pintu yang dibanting. "HEY BUKA! HEY, KUMOHON BUKA, KAU TIDAK BISA MENINGGALKANKU DISINI!" Aku menggedor dengan kuat sampai tangaku merah dan kotor

"Ya, aku bisa meninggalkanmu. Sekarang, tinggallah disana sampai aku datang dengan makanan." Katanya dari balik pintu. Aku berteriak penuh frustasi dan menggedor pintunya sekali lagi sebelum menjambak akar rambutku dengan pelan tapi juga kasar, sementara mataku mengeluarkan air mata dengan deras.

.

.

.

Aku tidak tahu berapa lama aku disini, tapi aku tidak bergerak dari tempat mulaku di lantai memunggungi ranjang. Menatap dinding dengan pikiran kosong dan tanpa emosi.

Aku mencoba menyadarkan diriku tapi aku tidak bisa menemukan caranya. Perutku baru saja bergemuruh ketika aku mendengar ketukan pintu yang membuatku berdiri dengan waspada.

"Ini." Sai datang dengan nampan berisi ayam dan beberapa hotdog. Dia meletakkannya di meja samping ranjang dan itu ketika aku mencoba berlari, tapi dia menangkapku seperti ahli, melingkari pinggangku ketika aku memukul dan berusaha keras. Dia mendorong dan menahanku ke dinding… dan aku terengah-engah, berteriak dan menendang mencoba meloloskan diri.

"STOP." Teriakannya menghentikanku tiba-tiba ketika aku menatap langsung pada matanya yang membawa kemarahan dan dominasi. Kamu berdua terengah ketika aku menatap lantai. "Aku akan membiarkanmu beb-"

"Aku tidak akan lari." Aku tidak tahu apa yang mendorongku untuk mengatakan hal yang semacam itu, tapi rasanya itu seperti keluar begitu saja. Dia mengangguk dan menyingkirkan tangannya yang menekanku.

"Dimana dia?" Tanyaku yang lebih mirip bisikan, aku menatapnya dan dia kelihatan lebih tenang.

"Dia sedang makan chicken nugget dan kentang goreng. Aku mengatakan padanya jika dia akan tinggal denganku mulai sekarang dan aku sudah mengambil barang-barangnya dari rumahmu." Aku tercekat pada bagaimna dia masuk ke rumahku.

"Bagaimana-"

"Aku punya cara dan aku juga punya pelayan untuk mengambil barangmu tentu saja. Dan maksudku adalah semuanya." Katanya.

Aku menatap lantai dan berpikir Camerriku, bayiku.

"Please, bisakah aku bertemu dia?" Aku mendongak padanya untuk melihat jika dia nantinya akan berkata ya.

Matanya menangkap milikku dan aku berdiri dengan terpikat ketika dia menganggukkan kepalanya. Detak jantungku meningkat dan aku merasakan sebauh senyum sedih mencapai bibirku.

"Terimakasih." Bisikku ketika kami keluar dari kamar dan berada di lorong dan pergi ke kanan dan berputar.. Sialan, rumah ini membuatku pusing.

Ketika kami akhirnya mencapai tangga, aku mendengar suara tawa dan dering-dering lain. Dan entah dimanapun itu, disitulah si kecil Camku yang dipisahkan dariku.

"Dan mommyku jadi wikenwo, aku mwenolak dwan aku jadi anak wikeywougo." Oh cerita tentang pengemudi bus ugal-ugalan. Aku tersenyum pada pemikiran memeluk Cam dan meneriaki rambutnya yang berantakan.

Perjalanan menuruni tangga akhirnya selesai dan aku masuk ke ruang makan seperti ribuan tahun lamanya... tapi ketika aku akhirnya sampai dengan Sai di depanku, ruangan itu jadi hening. Disana banyak laki-laki dengan setelan, laki-laki tanpa setelan, wanita modis, dan remaja-remaja normal. Itu kelihatan seperti sebuah pesta.

"Sir," banyak yang menunduk pada Sai ketika aku membuka lenganku untuk Camerri. Dia berlari ke arahku dan aku memeluknya dengan erat.

"Mwommytwerlalukwencang." Aku tertawa kecil dan membiarkan dia bebas.

Aku bangun dan mencari Sai, kemudian tatapannya bertemu dengan milikku dengan tatapan intens yang membuat perutku terjungkal. Camerri bergelantung di kakiku dan aku tersenyum padanya.

"Mwommy, kita sekarang tinggal diswini. Ini kweren." Aku mengangguk ketika mataku tidak sekalipun meinggalkan mata Sai.

Dia berjalan ke arahku dan meletakkan tangannya di punggungku. Menuntunku bertemu semua orang. Ngomong-ngomong, siapa orang-orang ini?

"Naruto, kenalkan Karin, dia menikah dengan Suigetsu dan punya dua anak; Shiro dan Hiro. Sementara ini Carlos, Silver, Jessie, dan Brad. Jessie dan Silver kembar." Oke, sejauh ini tidak buruk.

"Ini adalah Pain." Aku menjabat seorang laki-laki berambut terang yang tangannya punya ribuan tato dan wajahnya tidak ada yang tidak tertutupi tindik. Aku tidak yakin apa ada bagian kulitnya yang bersih.

"Ini Jean dan suaminya Howard. Ini Callie dan pacarnya Wesley. Dan ini sahabatku, Juggo." Juggo menjabat tanganku dan aku melempar sebuah senyum hangat. Dia pria hot tapi tidak setampan Sai. Maksudku ha hahaha. Mereka semua good looking, anyway.

Aku dikenalkan pada banyak dan lebih banyak lagi orang yang aku sudah lupa namanya. Aku merasa sedikit tersisihkan di ruangan itu sampai Sai menggiringku lagi.

"Tunggu! Please, setidaknya biarkan aku mengantar Camerri tidur dulu." Dia berputar haluan dan memberiku tatapan yang menyiratkan terganggu.

"Baiklah aku akan mengantarmu asal kau tidak mencoba melakukan hal konyol." Katanya. Aku mengangguk dan meraih Camerri untuk naik.

Aku memandikan Camerri dan memastikan dia menggosok gigi sebelum memakaikannya piyama dan menggendongnya ke ranjang. Semua itu selesai dilakukan dengan Sai dibelakang kami seperti pemburu berdarah dingin.

"Dan dia tidak bisa meyakinkankan matanya pada apa yang sudah ia lihat. Besar. Menakutkan. Monsterrrr." Seruku sambil menggelitikinya ketika dia mencoba melarikan diri dariku. Aku tertawa dan akhirnya aku mendendangkan melodi singkat yang mengantarkan mata kecilnya menutup.

Aku memastikan lampunya mati dan memberinya kecupan sebelum berjalan keluar hanya untuk berhadapan dengan Sai.

"Kau." Kataku.

"Ya, aku."

Aku mencoba menatapnya rendah tapi dia melawanku balik.

"Ikut aku." Katanya dan itu ketika aku kehilangan akal.

"No!"

"No?" Dia menolehkan wajahnya padaku dengan tatapan bertanya di wajahnya. Aku menyeringai tapi kemudian aku menyesali itu ketika dia berjalan mendekatiku dan mengangkatku di bahunya, sehingga aku menghadap pada punggunggnya.

"TURUNKAN AKU, IDIOT. BRENGSEK, KAU JAHAT, BRENG-" Oomph aku jatuh di lantai di tengah kamar abu. Pintunya dengan cepat tertutup dan makanan yang sebelumnya ada disana sudah hilang. Aku menatap Sai yang mengeluarkan helaan nafas, lalu dia melepaskan sepatunya.

"Piyamamu ada di lemari." Ungkapnya tanpa berbalik.

"Oh aku tidak akan pernah mungkin tidur disini bersamaMU." Kataku sambil tertawa maniak.

"Well, kau tidak punya hak suara. Jadi, kusarankan, ganti piyamamu sebelum aku mamaksamu berganti di depanku." Aku tercekat dan melompat padanya, meninju dadanya dengan segala kekuatan yang kupunya, tapi dia meraih pinggangku dan mendorongku membentur dinding.

Punggungku menabrak itu dan aku mengerang kesakitan. "Kau iblis mesum." Semburku melalui gemeretak gigi.

"Hanya untumu." Dia menyeringai sebelum membebaskanku dan berjalan ke kamar mandi. "Ngomong-ngomong, kau harus berganti disana." Aku menggerutu dan berjalan ke lemari, membukanya sebelum menatapnya dengan bingung.

Aku mengambil bahan berenda berwana hitam dan menggerutu, yang benar saja?

"Well, pakai itu." Aku terlonjak pada suara dari Sai dan mengacungkan pakaian dalam itu ke wajahnya sebelum membuang sembarang benda ke padanya.

Dan itu adalah ketika aku melewati batas.

Dan dia meletakkan pistolnya ke…

Kepalaku.

.

.

.

.

.

.

.

Aku menelan ludah dengan cepat ketika besi dingin itu menyentuh dahiku. Oh gosh ini akhir, ini akhir, ini akhir dari perjalan. Aku tidak bisa bertingkah layaknya anjing baik di pangkuan. Idiot, idiot, idiot. Aku menggulirkan tatapanku pada mata sedingin esnya yang berkilat.

"Sekarang. Pakai itu." Aku menggerutu tapi mengangguk sementara mencoba mempertahankan diri, aku meraih bahan renda tipis itu dari lantai dengan pistol itu yang mengikutiku kemanapun. Aku merasakan tatapannya mengarah pada punggungku ketika aku berjalan ke kamar mandi, tapi sebelum aku bisa membuka pintunya, sebuah tangan menahan pintu itu, membuatnya tidak mungkin untuk bergerak.

"Minggir." Kataku dari barisan gigi ketika pistolnya menyentuh punggungku.

"Ganti. Disini."

Tunggu apa?!...

….Aha!

Aku berbalik dan menghadapnya sebelum memberinya seringai palsuku. Aku tahu yang kulakukan pada dasarnya adalah misi bunuh diri, tapi aku pikir inilah satu-satunya jalan keluar.

Aku meletakkan tanganku pada perutnya, merasakan abs melalui kaosnya. Kakiku mengeriting tapi aku tidak menunjukkan itu ketika aku meletakkan tanganku semakin ke bawah dengan lambat. Tidak mengalihkan mataku dari lantai dan menggigit bibirku. Rencananya berjalan dengan lancar sampai aku merasakan rambutku ditarik kebelakang dan mataku berubah blur ketika menatap langit-langit.

"Langkah bagus, tapi kusarankan kau mencoba metode lain untuk melarikan diri." Dia berbisik di telingaku, menyebabkan dengung dan membuatku pusing. Rasa sakit dari tarikannya di rambutku membuatku kembali. Sialan dia punya cengkeraman yang kuat. Mataku menggelap ketika dia membisikkan kata-kata rancu.

Aku meloloskan sebuah tangisan dan itulah ketika aku tidak mampu lagi. Aku menoleh kesana kemari dan berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya, tapi dia tidak membiarkanku bergerak. Aku mencakar tangannya sampai sebuah darah keluar dan kata 'shit' keluar dari bibirnya. Dia menjatuhkanku dan dan aku memijat dadaku untuk bernafas pelan sebelum bangkit dan melangkah padanya.

Yang aku butuhkan adalah pistolnya. Aku meloncat untuk mendapatkannya, tapi aku dibanting membentur tembok dengan tanganku di atas kepala dan kakiku menggantung.

"Please, lepaskan aku." Bisikku dengan harga diri yang sudah hilang. Aku tahu aku kelewatan tapi aku ketakukan dan aku oke jika harus mengakui itu.

"Tidak." Aku menggigil pada dinginnya suara itu. Bagus, Naruto, kau baru saja membuatnya lebih marah dari yang tadi.

Aku mendongak pada matanya dan hilang arah di obsidian gelap itu yang membawa perasaan dingin.

"Aku akan melepaskanmu dan kau akan berganti pakaian. Kau bahkan bisa mengenakan pakaianku jika kau suka." Aku merasakan diriku bersyukur ketika dia membebaskanku dari cengkraman di tanganku dan aku jatuh ke lantai.

"Bisakah ak-aku ganti d-di kamar mandi?" Guguku, konyol sekali.

"Ya." Aku melempar senyum sayu dan meraih kaos yang dia ulurkan padaku sebelum pergi ke kamar mandi untuk berganti.

Aku berganti dengan cepat sebelum membuka pintu sementara menarik turun kaosku. Ini kaosnya yang hanya sampai di pertengahan paha, jadi pada dasarnya ini tidak cukup tertutup.

Aku mendongak pada suara seseorang yang membersihkan tenggorokan, dan disanalah dia, di singgasana kemewahannya, setengah telanjang. Aku membuang muka merasakan sebuah rona menyebar di pipiku.

"Well umm kutebak kau tidak akan membiarkanku berada di sofa." Kataku sambil mentap ke depan padanya untuk sebuah tanda, tapi tidak ada.

"Tidak, kau akan tidur bersamaku." Dia berkata sebelum berjalan ke ranjangnya dan merebahkan diri. Tidak apa, tarik nafas, buang, tarik nafas, buang. Nafas saja yang benar.

"Kemarilah." Aku menatapnya dan mengumpat padanya dalam mental atas segala kesalahan yang sudah ia lakukan padaku. Aku berjalan ke ranjang dan menarik selimut halusnya sebelum berbaring, jadi kaosku tidak akan naik. Aku menurunkannya sedikit dan berbalik menghadap night stand dan lampu bodohnya.

Segala yang terjadi hari ini sangatlah bodoh. Aku ingin pulang. Aku merasakan air mata menggenangi mataku dan mengutuk diriku sendiri yang bersuara seperti woss.

"Apa yang kau pikirkan?" Aku berbalik dengan kaget dan tergugu pada kedekatan kami (itu bukan guguan yang buruk, tapi juga bukan sesuatu yang baik).

"Tidak ada." Aku berucap dan kembali berbalik.

Ini tidak berkerja karena dia malah semakin mendekatkan diri padaku. Oi seseorang selamatkan aku, please!

"Mwommy, mwommy, aku mimpi buruk." Omg terimakasih Tuhan, maksudku bukan bagus jika anakku bermimpi buruk, tapi tetap saja.

Aku bangkit dan berlari ke si kecil yang sedang berdiri di ambang pintu. Aku menggendongnya di lenganku dan lupa tentang celana dalamku yang kelihatan. Aku menahannya di dadaku dan mendengar nafasnya tenang ketika aku menimangnya dan mendendangkan lullaby yang pernah dinyanyikan ibuku. Itu membuat hatiku sakit dan aku memeluknya lebih erat.

Aku berpindah ke ranjang dan merebahkan tubuh berharganya di tengah.

"Apa yang kau lakuka-"

"Shhhhh." Aku menyelimuti Cam dengan selimut halus dan berbaring di sebelahnya, merangkulnya agar merpat pada dadaku.

"Kenapa dia di ranjangku!" Sai berteriak dalam bisikan.

"Pertanyaan bagus. Kenapa aku ada di ranjangmu?!" Aku ikutan berbisik. Anakku tidur denganku, suka atau tidak.

"Baiklah, hanya malam ini." Dia berkata sebelum melipat bantalnya sambil berbalik dan itulah ketika tanganku terulur meraih lengannya.

Kepalanya menoleh padaku dan aku mengenyahkan tanganku, apa yang salah denganku?

"Terimakasih." Kataku sebelum berbaring lebih nyaman dan menutup mataku.

Ini akan jadi malam yang panjang.

.

.

.

.

.

.

Bersambung...

.

.

.

.

Chapter ini memuat chapter ORI yg ke 5 sampai 7.