Cerita ini adalah translation dari sebuah cerita karangan Daniel Janoskian yang berjudul ON MY DOOR STEP.

Let'sBurnThisGirl cuma sebagai translator -yang punya kekurangan disanasini.

.

.

.

Let'sBurnThisGirl 2018

.

.

.

.

.

.

.

Aku bangun dan menyadari bahwa pagiku tidak seperti yang dimiliki kebanyakan orang. Aku tahu apa yang terjadi kemarin bukanlah mimpi dan terbangun dari tidurku tidak akan membuatnya berubah.

Aku berbalik dan berhadap-hadapan dengan wajah tidur Sai. Yang pertama terpikir olehku adalah dimana Camerri? Aku berbalik lagi kemudian bangun dan menatap sekeliling kamar sebelum sebuah erangan membuat kepalaku menoleh pada Sai yang matanya terbuka sebelah.

"Aku mengirim dia pergi bermain dengan sepupuku." Dia berkata sebelum mengusap wajahnya dan kembali tidur. Aku merasakan sedikit kelegaan, tapi kemudian AKU BAHKAN TIDAK MENGENAL SEPUPUNYA!

"Kau membawanya pergi tanpa bertanya padaku! Aku tidak kenal sepupumu dan kau mengirim anak dua tahunku bermain dengan mereka! Apa yang salah denganmu, idio-" Oomph aku mengerang dari rasa sakit.

Segalanya terjadi sangat cepat, dia menjatuhkanku dari ranjang dan sekarang dia ada di atasku dengan tanganku diatas kepala. Aku tergugu pada dinginnya tatapan dari matanya.

"KAU BILANG AKU APA!" Dia berteriak, mengguncangku sehingga menyebabkan punggungku menyentak di lantai.

Aku menggeleng dengan air mata, ini pasti meninggalkan memar.

"Jawab aku!" Aku menatap matanya dan tergugu pada tatapan dinginnya.

"Kubilang kau idiot." Kataku dari barisan gigi, menggerakkan kepalaku sedikit.

Rahangnya mengetat dan dia mengangkat tangannya. Oh Tuhan dia akan memukulku…

"Mommy, apa yang kau lakwukan di lwantai?" Sai dengan cepat bangkit dari tubuhku dan aku mengusap air mataku sambil berjalan pada perawakan kecil Cam.

"Oh aku jatuh.." Aku berbohong dan tersenyum di akhir, "Apa yang kau lakukan? Kupikir kau bermain dengan anak lain?" Aku bertanya mengalihkan perhatiannya dari apa yang baru saja terjadi.

"Mwommy, kupwikir ini adalah hari cewek kita!" Dia berkata sambil memiringkan kepalanya ke satu sisi dengan tangan di pinggang. Aku tersenyum dan mencium pipinya sebelum membungkus Cam ke dalam sebuah pelukan. Oh anakku.

"Kita akan mulai main, oke?" Dia tersenyum dan berlari ke luar kamar, kemudian menutup pintu yang ia lewati. Aku bangun pelan-pelan dan menarik turun kaosku sebelum berbalik pada wajah Sai yang masih seperti semula.

"Kau tidak akan keluar dari kamar ini!" Dia berkata sebelum aku bisa mengucapkan apapun. Ini membuatku marah dan sangat marah. Aku mengepalkan tinjuku dan membuka mulut untuk berucap, tapi dia sudah meraih baju dari lemari dan benar-benar mengabaikan kehadiranku disini.

"Kau tidak mengontrolku!" Aku berteriak padanya ketika dia berjalan ke kamar mandi. "Kembali ke sini! Aku bahkan tidak punya baju, ataupun sikat gigi ataupuun barang-barang Cam!" Teriakku sambil memukulkan tinjuku ke pintu. Aku mundur dan duduk disana menunggu dia keluar dan berteriak padaku atau menodongku dengan pistol.

.

.

.

.

Aku menunggu seperti mungkin sejam ketika pintu itu akhirnya terbuka. Dia sudah rapi dan siap sebelum meraih pistolnya dan menjejalkannya ke sarung pinggang di jeansnya. Aku tergugu lalu bangun dan menahannya di pintu.

"Please, biarkan aku pergi!" Teriakku ketika dia malah menutup pintu di belakangnya. Aku nyaris bisa keluar, tapi masih kurang cepat sampai dia selesai mengunci pintu. Ugghhhhh pria ini menjengkelkan.

Aku menggedor pintu sekeras yang kubisa, berharap Cam akan kemari tapi tidak ada seorangpun yang datang. Bagus, sekarang aku terkunci dengan hanya sebuah kaos di dalam kamar sendirian tanpa apapun yang bisa kulakukan dan bayiku ada di luar sana, mungkin menunggu ibunya. Aku ibu yang buruk. Kenapa aku tidak menyakinkan bahwa tidak ada yang mengikuti kami ketika kamu masuk ke mobil. Ya, ini kesalahanku. Kebodohanku, idiot idiot, aku menyalahkan diriku lagi dan lagi.

.

.

.

.

Aku tidak tahu berapa lama sejak aku memulai game menyalahkanku, tapi cukup lama ketika lampu dari jendela menyala dari kegelapan dan perutku meraungkan kelaparan dan lidahku mati rasa karena tidak minum. Aku minum dari wastafel kamar mandi beberapa kali, tapi sulit memasukkan apapun ke mulutku.

Tidak ada yang datang mengecekku dan aku mulai berpikir ini sudah lebih dari sehari ketika aku terkunci disini. Aku seperti biasa, duduk di lantai sebelah ranjang, merasakan perasasaan ambruk dan gugup disaat yang sama.

Siapa yang akan mengantar Camerri tidur? Siapa yang akan memastikan dia menggosok giginya? Siapa yang akan menyanyi untuknya? Siapa siapa? Siapa? Aku bangun dan mondar-mandir dengan cepat. Berada disini sendirian tanpa bayiku membuatku gila.

Bagaimana jika mereka menyakitinya? Bagaimana jika mereka-? Tidak, tidak mungkin. Dia masih bayi dan itu tidak mungkin jika seseorang seperti tak berperasaan dan kaku semacam itu. Tapi jika itu Sai, aku tidak akan pernah tahu apakah bayiku benar-benar aman. Aku berhenti mondar-mandir ketika aku mendengar pintunya terbuka dan si iblis muncul.

Aku menatapnya dengan mukut terbuka dan merasakan amarahku mendidih. Bagaimana bisa dia mengurungku disini seharian! Tanpa makan dan koneksi!

"Pergi ke ranjang!" Aku tergugu pada nada bicara dari suara Sai ketika sebuah blushing merambati pipiku.

"Tidak." Kataku dengan kasar sebelum membersihkan tenggorokanku dan berkata lagi, "Tidak."

"Apa?!" Tanyanya dengan tatapan menyeramkan yang membuatku merasa ngeri.

"Kau sudah dengar. Kubilang tidak." Kataku, berdiri lebih tinggi dan berpura-pura percaya diri sebisaku ketika dia berjalan mendekat. Aku mundur tidak ingin dekat dengannya.

"Kubilang pergi ke ranjang!" Dia mengerang.

Aku cemberut dan itu ketika aku sudah tidak kehilangan akal. Menekan dadanya, aku meloloskan sebuah teriakan frustasi.

"Tidak!" Aku mendorongnya lagi. "AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN APAPUN YANG KAUSURUH!" Aku mendorongnya lagi. "Kau sombong dan pemalas dan tak punya hati, breng-" Aku merengek pada balasannya yang menghempas punggungku ke tembok.

"Kau cukup berani untuk mengatakan hal semacam itu. Sekarang. Pergi. Ke. Ranjang." Dia melepaskanku dan aku jatuh ke lantai sebelum dia dengan paksa mengangkatku dan membawaku ke ranjang. Dia mendorongku dan menindihku sedikit sambil mengusap paha tereksposku dengan tangannya. Yang mana membuat gelenyar-gelenyar merambatiku.

Aku melewatkan pemikiran ini saat dia mematikan lampu. "Tidurlah. Kau butuh istirahat untuk besok." Perintah di suaranya membuatku berbaring dengan segara dan membiarkan kantuk membawaku.

.

.

.

.

Aku mendengar perutku bergemuruh malam itu.

Aku butuh makan dan rasanya sudah lama sejak makan terakhirku dan aku sekarang aku benar-benar butuh makan. Aku bangun pelan-pelan tapi kemudian aku menyadari jika Sai tidak ada disini malam ini. Aku berjalan ke pintu sambil beruasaha menghindari segala kebisingan dari langkah kaki di lantai sebelum menyelinap keluar dan berjalan dengan tenang ketika aku bisa mencapai tangga raksasa rumah ini.

Aku mencari dapur dan ketika aku melihatnya, mataku terbuka dengan gembira dan perutku bergemuruh semakin cepat. Aku lari ke lemari dan mencari apapun yang tidak butuh dimasak dengan api. Aku menemukan bungkusan snack dan menyeringai sebelum sebuah suara dari depan dapur membuatku kaku saat itu juga. Bergerak Naruto, bergerak. Aku mencoba, tapi tidak bisa.

"Apa yang kau lakukan disini?" Suaranya dingin dan memerintah dan aku yakin inilah saatnya aku berbalik. Perlahan aku berbalik dan tergugu pada mata Sai yang kelelahan dan sedang merendahkanku. Dia menatapku atas bawah dan aku merasakan pipiku memerah saat aku menyadari aku hanya memakai kaosnya.

"Apa? Tertangkap basah." Dia berkata sambil menyingkirkan jasnya dan meletakkan itu di kursi. Aku mencoba untuk bicara ketika dia melepaskan dasinya, hasilnya aku hanya berakhir menatap gerakannya yang pelan itu.

"Ak-Aku umm." Aku tergagap dan menatap matanya yang menyiratkan kejengkelan untukku. "Aku uh aku lapar." Aku berkata sambil menatap lantai. Dia menghela nafas sebelum melangkah ke kulkas dan membukanya perlahan. Aku hanya melihat ketika dia merunduk dan mengeluarkan piring yang terbungkus aluminium foil.

Sai membukanya dan membawanya ke counter. Aku melihat dia meraih pemanggang dan meletakkan daging dan sayur di sana dengan garpu, lalu dia menyiapkan piring dan garpu dan menyalakan kompor. Dia meletakkan pemanggangnya di kompor dan menggerakkan makanan itu dengan garpu, kemudian meninggalkannya dan beralih padaku. Aku bergerak dengan teratur ke arah sebaliknya. Dia menyadari itu dan berhenti.

"Jadi…" Aku menggumam kecil, dia mendongak dan matanya menangkap mataku. Aku tergugu dan membuang muka. Pecundang. Aku tidak pernah sebegini takutnya pada seseorang sebelumnya, mungkin itu karena dia menculikku dan anakku dengan banyak rahasia yang mengancam untuk dibeberkan. Ya, mungkin karena itu.

Aku mendengar dentingan dan ketika aku mendongak, dia sedang duduk berlawanan arah denganku dengan tangannya di kepala dan dalam posisi mengamatiku. Aku bergerak gelisah di bawah tatapannya dan mencoba mengalihkan pikiran pada hal lain.

"Kenapa kau membawanya masuk?" Aku mendongak dengan mata melebar pada pertanyaannya. Aku melempar tatapan bingung atau mungkin tidak paham. "Camerri, dobe." Dia mengatakan seolah aku lebih bebal dari batu dan aku merasakan amarah lagi. Kenapa dia harus selalu melakukan ini? Ini seperti dia tidak bisa punya obrolan normal dengan seseorang tanpa menodongkan senjata atau tanpa jadi orang jahat.

"Karena dia masih bayi." Jawabku sambil membuang muka sebelum aku lebih marah lagi.

"Dan?"

"Dan aku bukanlah orang yang tak berperasaan." Aku menatap langsung padanya dan dia mengangkat bahu sambil bangkit dan berpindah ke kompor. Dia melihat ke pemanggang dan mematikan kompornya. Aku melihat dia memindahkan makanan itu ke piring dan perutku bergemuruh. Kepalanya menoleh padaku dan aku memerah dengan cepat.

Perut sialan! Aku duduk dengan cepat dan berpura-pura biasa saja. Aku mengambil garpu dan makan dengan tenang, merasakan setiap gigitan. Aku mendesah pada kelezatan rasa dari daging dan sayur di perutku. Ahhh makan, rasanya sudah sangat lama tidak kurasakan. Dari sudut mataku, aku melihat Sai menatapku dan aku memerah.

Setelah aku selesai makan, aku meletakkan garpuku dan bangkit dengan canggung. Tatapanku menangkap Sai ketika dia menatapku, ini membuatku kembali duduk ke kursiku. Dia berjalan ke seberangku dan duduk perlahan dengan matanya yang tidak beralih dari milikku, yang mana ini membuatku tergugu. Matanya benar-benar dingin dan berkabut abu yang membuat kilatan sehingga membuat kepalaku berputar.

"Apakah kau berpikir kau bisa membawa Cam seolah dia anak yang butuh didikan dan mendapatkan uang darinya? Apakah kau menggunakannya untuk pergi dari keluargamu? Bagimu dia itu apa? Apakah kau ingin uang?"

Aku menatap Sai tidak percaya. Bagaimana bisa dia bertanya padaku pertanyaan semacam ini? Aku ibunya. Aku mengasuhnya. Aku menyuapinya. Aku memandikannya. Tinjuku mengepal ketika rahangnya masih kaku dan aku berdehem.

"Tidak semuanya. Aku kurang merasa baik, aku akan kembali tidur." Kataku sambil berusaha membuat suaraku stabil tapi sebelum aku bisa benar-benar berdiri, aku ditarik duduk dengan cepat oleh tangan yang teramat dingin. Aku menggigil pada sentuhannya dan mencoba mengontrol panas di pipiku ketika tangannya menahanku untuk duduk dan membuat pahaku terekspos.

Jantungku mulai berpacu dan aku bergerak gelisah dibawah pegangannya. Aku menatap Sai dan matanya jadi lebih gelap dari sebelumnya. Membuatku ketakukanku padanya kembali.

Tangannya menahan pahaku lebih erat dan aku merengek. Aku merona dengan cepat pada reaksi tubuhku dibawah sentuhannya. "Le-lep-" Aku menelan dengan susah payah dan mencoba berpikir lurus ketika dia menatapku dengan dingin.

"Biakan ak-aku pergi." Kataku, berusaha bersuara seperti aku tidak terpengaruh ketika dia bergerak lebih dekat padaku, mejanya adalah satu-satunya yang membuat kami tidak benar-benar bersentuhan dan aku bersyukur pada meja di tengah momen panas ini.

"Tidak." Jawaban singkat dan padatnya membuatku meraung marah dan frustasi. Aku memikirkan apapun yang bisa kuucapkan untuk membuat alasan tapi tidak ada yang kutemukan untuk membuat kata-kata itu keluar. Tangannya naik ke celana dalamku dan kembali lagi pahaku, meremasnya. Aku menggigit bibirku sebelum meraih tangannya dengan tanganku, ini hanya membuat dia mencengkeramku lebih erat.

Tatapannya tidak pernah meninggalkan milikku ketika jantungku berdetak melalui pergelangan tanganku. Aku mencoba menyingkirkan tangannya, tapi itu malah membuat gelenyar-gelenyar merambati tubuhku, ditambah dia masih tidak bergerak.

"T-tidak, aku tidak menginginkan uang." Aku tercekat pada pegangannya yang mengerat. Aku menutup mataku untuk menghentikan diriku sendiri berteriak pada keidiotanku yang bisa membangunkan seluruh rumah.

"Oke." Hanya itu?

Bagaimana bisa dia tidak melepaskanku? Aku membuka mataku lagi tapi tatapannya terlalu intens, jadi aku menutup mata lagi. Aku merasakan tangannya menyelinap pergi dari pahaku dan aku mengeluarkan nafas berat. Aku tidak yakin apa yang sedang kupegang. Aku membuka mataku perlahan, mengira akan melihat mata dingin Sai, tapi tidak. Yang kulihat hanya kegelapan. Oh tidak.

Aku bangun sambil meraba sekitar sebelum berusaha mencari tombol lampu. Sialan, secepat apa pria itu? Dia pasti seorang ninja. Aku akhirnya berhasil menyalakan lampu, tapi sebuah klik membuatku kaku.

"Jangan." Aku mendengar suara husky rendahnya mengguncang ruangan. Menyalakan lampu dan mati atau mematikan lampu dan mati ummmmm, pilihan yang sulit.

"Please, aku bersumpah aku sayang Cam dengan seluruh hidupku. Aku ingin melindungi dia. Kau mungkin tidak percaya, oh God dia segalanya yang kupunya dan aku bersumpah aku tidak mengharapkan apapun, hanya sebuah feeling. Kau tahu, perasaan yang meletup-letup,"

Aku merasakan air mata menggenangi matakau. "Setiap saat dia tersenyum aku bahagia dan setiap saat dia sakit, aku ingin mengorbankan diriku untuk membuat sakitnya pergi…." Ini cukup bekerja. "Dan, dan aku rela mati demi dia karena dia anakku. Yang menyuapi dan merawatnya adalah aku. Yang mengajarinya salah dan benar. Jadi, aku bersumpah, please, kumohon." Aku memohon bukan untuk hidupku, tapi untukku yang bisa ada untuk Cam.

Aku dibalik dengan cepat. Kupikir aku mendapat beberapa kilatan ketika lampunya akhirnya kembali menyala. Aku didorong ke kulkas, tidak begitu kencang. Sebuah pistol di kepalaku dan air mata menggulung di mataku.

Aku menatap pada mata gelapnya yang dingin dan sebuah kilatan ada disana. Sai benar-benar punya mata yang indah dengan bulu mata yang panjang.

"Tidurlah." Katanya sambil melepaskanku. Aku bernafas kembali dan menggosok air mataku sebelum berlari ke luar dapur secepat yang aku bisa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Mwommy, bangwuun!!" Aku berbalik dan mencoba mengenyahkan suara itu dari kepalaku. Yang kubutuhkan hanya lima menit lagi. Aku sangat lelah plus aku tidak ingin melihat Sai setelah apa yang terjadi semalam. Apa yang sebenarnya terjadi? Adalah pertanyaanku.

"Mwommy ini jwam 3. Kau sudah twidur lama sekali! Dan mwommy kita harus swiap untuk pwesta." Aku berguling dan mengabaikan apa yang Cam katakan padaku sebelum aku mendengar langkah kaki kecil dan yang lebih besar kemudian. Itu punya satu-satunya orang yang ingin kuhindari.

"Bangun." Aku berbalik dan menghadap ke arah lain sebelum diangkat dan dijatuhkan ke lantai. Mataku terbuka dan aku melempar tatapan tajam pada pria yang berdiri menatapku, yah meskipun pria itu sekarang benar-benar kelihatan tampan. Aku melihat seorang berambut coklat tinggi di belakangnya sedang menatapku. Aku bangun dan menatap ke bawah, ke kaos yang sedang kupakai.

"Ini pacarnya Parker, Heather, dan kau sudah bertemu Callie." Itu ketika aku melihat cewek pendek blonde ketika aku pernah pergi ke lantai bawah. "Aku sudah membawa semua pakaianmu dan mereka ada di ruang pakaian. Dan semua karyamu ada disana ditambah sekarang kau sudah resmi tidak bekerja lagi di stasiun radio. Sekarang kau adalah seniman." Aku menatapnya dengan mata melebar. Dia pikir dia siapa mengatur hidupku.

"Callie dan Heather akan membantumu bersiap untuk pameran malam ini. Aku sudah mengirim Karin untuk membantu Camerri bersiap dan ketika kalian berdua sudah siap, kalian akan bertemu semua orang di lantai bawah." Aku merasakan rasa lelah dari pertengkaran dengan Sai, jadi aku hanya mengangguk ketika dia meninggalkan ruangan.

Callie pergi ke ruang pakaian dan meraih sebuah tas yang kelihatan seperti alat make up sebelum meraih apa yang aku asumsikan sebagai dressku. Aku mengamatinya dan tercekat pada gaun merah indah itu yang pasti sangatlah mahal. Heather mendorongku masuk ke kamar mandi, dan tidak basi-basi sama sekali.

"Mandi dan kita akan bersiap." Katanya dan aku mengangguk. Aku melepaskan pakaianku dengan cepat dan masuk ke dalam bak. Airnya menyentuh kulitku, membuat otot-ototku relax ketika aku menggosok dan membuat diriku sendiri bersih sebersih mungkin.

Ketika aku selesai, aku meraih handuk dan membungkus tubuhku lalu keluar dari kamar mandi.

Ini seperti mereka sudah selesai bersiap. Aku melihat Callie duduk di kasur sementara Heather memeriksa semua pengeriting dan peralatan rambut lain. Oh tidak.

"Ummm kau tidak akan mengeriting rambutku." Kataku langsung menunjuk rambutku yang benar-benar tidak butuh besi pengerting rambut.

"Tapi aku suka mengeriting rambut!" Heather berkata sambil cemberut. Aku menggeleng sebelum duduk.

Mereka akhirnya selesai mendandaniku dan aku mulai lelah dengan cermin. Callie baru saja selesai membubuhkan lipstick merah ruby yang cocok dengan dress dan juga eyeliner tapi katakan saja mataku jadi sangat gelap. Pada akhirnya Heather membiarkan rambutku lurus terurai dan menyematkan jepit merah yang indah di salah satu sisi.

Aku tersenyum pada rambutku. Aku kelihatan cantik dan jangan salah, aku memang cantik. Hanya saja aku tidak punya waktu untuk itu. Aku bangun dan membiarkan mereka membantuku berpakaian. Ini benar-benar indah dan cocok dengan sempurna. Hanya satu masalahnya. Di area dada, karena gaun ini untuk orang berdada rata buka seorang berukuran 38 C.

Ketika kami sudah selesai dengan resleting, Callie memuji "big ass breast" milikku dan Heather menggerutu soal dada kecilnya. Aku berdiri dan tidak bisa menemukan sebuah kata untuk gadis-gadis lucu ini. Ketika aku selesai dengan heels merahku dan mengangkat dressku memastikan tidak akan tersandung dengan singletan (Aku memberi sedikit potongan kaki pada gaun ini).

Ketika kami keluar dari kamar, Heather berseru pada Callie karena lupa dan kemudian meraih clutch merah dan menjejalkan itu ke tanganku. Aku tertawa dan kemudian kami berjalan dengan tenang ke kamar Camerri. Saat aku melihatnya, aku menahan nafas pada imutnya dia di gaun manis merahnya.

"Oh mwommy wow kau cwanttik." Aku tersenyum dan memeluknya sebelum mencium dahinya.

"Kau jauh lebih cantik sayang. Kau siap gadis manis?" Dia mengangguk dan kami turun dari tangga hanya untuk melihat banyak pria dan wanita berpakaian glamor dan sedang minum champagne. Ini bukan zona nyamanku.

Kami berjalan perlahan di tangga raksasa berputar dan masuk ke kerumunan. Sai menemukan kami dengan cepat dan ketika kami berjalan mendekat dibawah perintahnya, aku melihat dengan siapa ia sebelumnya bicara dan hatiku copot saat itu juga.

Oh God, tidak. Bagaimana bisa?

Aku merasakan telapakku berkeringat ketika aku menatap mata ayahku.

.

.

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...

.

.

SORRY, gue ngaret yaa.