First of all, terimakasih masukannya dan perhatian kalian.

Buat guest Teza, gue nggak ngartiin ini per kata, kak. Mohon maklumin kalo terjemahannya masih jelek.

Gue bakal berusaha make this softer. Makasih deh pokoknya karena sejauh ini gak ada yg ngebully percobaan gue ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku berdiri tanpa kata dan penuh penasaran. Ini terhitung dua tahun. Apa yang akan kau ucapkan pada seseorang yang tidak kau temui selama 2 tahun?

Apa kabar?

Apa yang harus kukatakan? Kenapa mereka disini?

Ini semua salah Sai. Dia membawa orang tuaku kemari hanya untuk mengintimidasiku. Aku merasakan diriku murka dan mencoba untuk kalem, tapi aku marah dan benar-benar sudah muak.

"Cam, pergi main sana." Kataku pada entah siapa, tapi Camerri pergi dan aku tahu itu ketika mendengar dia melangkah pergi, Aku melihat mulut Sai berkedut untuk sebuah seringaian. Dasar brengsek.

"Nar-" Ibuku mencoba berkata tapi aku menggerakkan tanganku untuk menghentikannya bicara.

"Tidak." Hanya itu yang bisa kulakukan sebelum aku berputar dengan heelsku dan berlari. Lari dan aku bahkan tidak berhenti ketika menabrak beberapa orang, sampai aku masuk ke kamarku. Aku membanting pintu dan mulai mencoba bernafas sambil menendang sepatuku. Oh Tuhan, oh tuhan, apa yang akan kulakukan? Dua tahun, dua tahun.

Aku merasakan panik ketika aku menjambak rambutku dan berteriak dengan keras. Aku pergi ke kamar pakaian dan meraih kanvas terdekat dan menyobek plastik pembungkusnya.

Aku menatap ke sekitar kamar, pasti ada semacam gantungan. Aku menyingkirkan segala barang mewah yang ada dan menggantungkan kanvasku sebelum mengeluarkan kuas dan cat. Bernafas. Tidak apa-apa, nafas saja. Aku bernafas, kemudian mulai menggambar segala hal yang kufikirkan dan segala rasa sakitku.

Setelah aku selesai, aku pergi ke cermin terdekat. Oh tidak.

Rambutku berantakan dan jepitanku sudah jatuh. Ada cat di rambut dan seluruh dressku, serta lenganku juga. Gaun yang malang. Aku mendengus dan lega pada lukisan frustasiku sebelum menyambar pakaian bekasku pagi tadi dan membersihkan beberapa cat dari lenganku.

"Jadi beginilah kau melampiaskan amarah dan rasa sakit… menarik." Bagus, si iblis sudah disini sejak tadi. Aku berbalik untuk menatapnya dan dia menyeringai. Aku merasa ingin menamparnya. Aku memindai penampilannya yang berambut berantakan, kemudian mengunci matanya yang berbahaya nan sempurna.. serta pahatan tubuhnya.

"Tinggalkan aku sendiri." Kataku frustasi. Dia tidak mengatakan apapun saat aku pergi ke lemari dan meraih pakaian hangat dan celana. Aku juga meraih pakaian dalam dan handuk, kemudian lari ke kamar mandi. Tapi sebelum aku bisa menutup pintu, kakinya menahan pintu itu. Aku mengeluarkan raungan frustasi dan dia tertawa terkekeh.

"Apa maumu?!" Seruku. Dia berjalan kearahku dan berdiri di belakangku. Aku berbalik dengan cepat dan melangkah mundur, tidak ingin terlalu dekat dengannya. Dia mengeluarkan senyum iblis dan mendekat lagi.

"Katakan padaku, Naruto, e arte la tuafugailmio amore?" [trans: bagaimana seni cintamu, sayang. \please bantuin gue ngoreksi terjemahan bahasa alien ini]

Bagus, si brengsek ini berbicara Italia dan ini membuat darah Marokoku tergiur untuk main.

"Je ne parle pas itaenvous grand grosmorceau de merde." [trans: aku tidak bicara Italia, brengsek. \bahasa-bahasa alien ini driving me crazy]

Ya betul, beginilah aksen orang French. Wajah Sai berubah dan kemurkaan ada di tatapan matanya yang dingin. Dia memerepetku sampai aku mundur dan terhalang washtafel.

Kedekatan kami yang intim membuat kepalaku pusing dan aku berharap dia bergeser sedikit saja. "Je parle francaisansimon amour." [trans: aku bicara Perancis]

Oh gosh, senjataku satu-satunya dicuri dan jika boleh kutambahi, aksennya sangaaaat sexy. Aku diputar dengan cepat sampai aku pusing. Kurasakan tangannya menurunkan resletingku dan aku mulai bernafas berat ketika dia memerepetku lagi sebisanya dan berbisik di telingaku.

"Aku pria Italia tapi aku bicara banyak bahasa, dobe. Sekarang mandi. Aku punya beberapa pertanyaan yang harus kau jawab." Aku tergugu saat dia beranjak dari telingaku dan perlahan menggerakkan hidungnya di punggungku.

Nafasku putus-putus dan aku tersentak ke depan berusaha membuat jarak tapi kepalaku berkabut dan mulutku terbuka ketika mencoba meraup udara untuk paru-paruku ketika Sai menyematkan sebuah kecupan lembut di bahuku. Aku menggigit bibirku dan tiba-tiba merasa susah untuk melihat ketika aku merasakan rembesan darah di bibir.

"P-p-please biarkan aku pergi." Aku tergagap dan menelan dengan sulit. Aku mendengar dia terkekeh dan beranjak perlahan melepaskanku, yang mana ini membuatku tiba-tiba merasakan dinginnya kamar mandi ini. Dia menjauh perlahan tanpa berbalik ketika menutup pintu di belakangnya.

Aku mendengus. Aku tidak tahu apa yang sedang jadi peganganku dan mendesah lalu melepaskan gaunku.

Aku menyentuh bagian yang tadi dia kecup dan tergugu pada temperature di jemariku. Aku masuk ke shower dan mencoba mengenyahkan warna merah di pipiku. Oh God apa yang baru saja terjadi? Dan sekarang dia ingin jawaban! Jawaban?! Akulah yang butuh jawaban!

Aku mencoba mandi selama mungkin, tapi kemudian aku memutuskan untuk hal lain atauuuuu aku bisa main 'aku tidak tahu apa maksudmu' game, yup aku akan main itu saja. Aku bagus dalam hal itu. Aku berpakaian dengan cepat dan menghanduki rambutku sebelum berjalan keluar kamar mandi.

Aku tidak mengalihkan pandanganku dari lantai tapi aku tahu dia disini menungguku.

"Ap-"

"Kenapa? Kenapa kau membawa mereka kemari?" Aku mengalihkan diriku sendiri dari kemarahan untuk sejenak.

"Karena…"

"Karena apa? Apa sebenarnya tempat ini? Kenapa semua orang punya senjata? Kenapa banyak orang tinggal dan bekerja disini?" Aku sebenarnya berteriak, tapi aku menghentikan diriku mengajukan pertanyaan dengan lambat, aku hanya ingin memastikan dia menjawab semua pertanyaan itu.

"Kau mungkin ingin duduk jika mendengar ini." Dia berkata sambil melepas jaket dan dasinya.

"Aku siap. Apapun itu, aku bisa mengatasinya." Kataku sambil menelan sebuah gumpalan di tenggorokanku. Aku pastinya tidak bisa menerima apapun itu. Sialan aku sangat idiot, harusnya aku menutup mulutku.

"Kami adalah sebuah kelompok pria dan wanita yang sangat kaya dan terlatih di pertempuran. Kami bertransaksi dengan kelompok lain dan menjatuhkan siapun yang menghalangi kami." Aku merasakan kakiku lembek pada ucapannya. Sebuah geng lebih baik daripada mereka yang seorang mafia dan aku serta Cam, dan aku, dan kami, kami disini sekarang. Aku merasakan kepanikan mengambil alih ketika aku meraih pegangangan pada sprei.

"Tap-tapi.. Oh Tuhan.." Aku meletakkan tanganku ke kepala dan mencoba berpikir bagaimana aku bisa tersangkut pada semua hal ini.

"Tadi sudah kukatakan, kau harusnya duduk. Keras kepala seperti biasa." Dia berkata tanpa emosi di matanya.

"Please, kau harus melepaskan kami. Aku tidak bisa membiarkan dia besar dengan segal hal ini." Putusku dengan putus asa. Aku bahkan tidak yakin apa Sai mendengarku.

"Tidak. Kau tahu terlalu banyak dan aku tidak bisa membiarkanmu pergi." Katanya.

Aku merasakan amarahku muncul lagi. Kenapa dia membawa kami pada omong kosong ini. Kami tidak punya masalah apapun padanya dan apa alasannya membawa orang tuaku.

"Lalu apa alasannya orang tuaku disini?" Tanyaku. Dia membuang muka sebelum melemaskan lehernya.

"Sudah jelas untuk membuatmu tidak nyaman." Dia berkata sambil menyeringai. Bajingan.

"Kau pria jahat." Kataku yang membuat mata Sai jadi kaku dan rahangnya mengeras. Uh oh kutarik kembali ucapanku.

"Kau yakin tentang itu?" Dia berkata sambil mendekatiku. Aku mundur darinya. Please, jangan mendekat. Aku tidak bisa berpikir lurus dengan dia di dekatku. "Lepaskan celanamu." Katanya. Aku berubah kaku dan cemberut.

"Maaf?" Aku menatap matanya dan merasakan kepercayaan diriku kembali.

Dia mendengus dan berjalan padaku, meletakkan tangannya di ujung celanaku.

"Apa yang kau laku-" Aku tercekat pada celanaku yang jatuh ke lantai. "APA MASALAHMU!" Aku berteriak, berdoa semoga dia tidak melihat ke bawah. Dan dia memang tidak melihat ke bawah. Matanya tetap pada milikku dengan kejengkelan disana.

"Itu celanaku." Aku merasakan pipiku memerah dan menunduk, menyadari bahwa dia benar. Bagaimana bisa aku menyambar itu.

"Tunggu ak- tapi aku tidak mengambil celanamu. Mereka ada di lemariku." Ucapku. Dia menhela nafas dan berjalan ke lemari yang tadi kebuka.

"Ini milikku." Kata Sai sambil menepuk itu. "Dan ini milikmu." Dia menyentuh yang disebelah miliknya. Aku merona lagi dan mencoba menutup bagian bawahku tapi aku menyadari bahwa kaos putih yang hanya menutupi setengah pahaku ini juga miliknya. Aku menampar diriku sendiri.

"Melihat kau suka memakai pakaianku, kubiarkan kau tetap memakai kaos itu, tapi aku butuh celananya." Katanya sebelum berjalan kembali padaku dan pipiku memerah karena tatapannya pada milikku. Kekita dia mencoba mengintimidasiku, perlahan dia mengambil celananya dari lantai tanpa melepaskan matanya dari mataku.

"Tidurlah." Katanya dengan sebuah sinyal akan sesuatu di suaranya yang tidak bisa kumengerti.

Dia berjalan ke kamar mandi, tapi tidak, sebelum itu dia menampar bokongku dan membuatku terlonjak, lalu meremas pantatku. Aku mendengar dia terkekeh dari kamar mandi dan aku merasakan pipiku terbakar ketika aku mencoba melupakan yang baru saja terjadi dan pergi ke ranjang. Mencoba memproses segalanya yang sudah terjadi.

Tapi kemudian aku ingat Camerri. Oh God, aku melupakan anakku sendiri. Bodohnya aku?! Aku bangun dengan cepat dan lari keluar kamar dengan tenang sebisaku sebelum menemukan masuk ke kamar Cam. Dia sedang duduk di lantai dan bermain dengan bonekanya.

"Mwommy!" Dia memekik ketika aku masuk ke kamarnya. Bagaimana bisa aku lupa tentang Cam. Dia tidak harusnya masih bangun selarut ini.

"Hey honey. Ayo ganti pakaian." Kataku sambil menggandeng tangannya dan menuntunnya ke kamar mandi dengan sebuah piyama.

"Mwommy, apakah kau dan Sai menikah?" Aku berhenti di tempat dan dia menatapku dengan tertarik.

"Umm tidak, darling." Kataku ketika dia melepaskan pakaiannya dengan bantuanku dan masuk ke dalam bak mandi. Aku memandikannya ketika dia menggumamkan lagu pernikahan.

"Kalian berdua hwarusnya seperti Anna dan Cwistoph. Hehe." Kikiknya dan aku menatapnya dengan mata terbuka. Aku tahu hal-hal Frozen sudah mengambil alih pikiran Cam. Aku dan Sai menikah psshhhht itu adalah lelucon. Aku bahkan tidak bisa mengobrol dengan pria macam dia, please.

.

.

.

.

Camerri bermain di bak mandi dan aku membasuh rambutnya ketika dia mencipratkan air kemana-mana. Ketika pintu tiba-tiba terbuka dan air dingin mengenai bokongku yang hampir telanjang, aku tahu siapa pendobrak itu.

"Oh haiiii." Camerri memekik dan melambai. Mencipratiku dengan air.

"Kenapa kau meninggalkan kamar?" Katanya sambil melangkah masuk ke kamar mandi. Aku tidak memberinya perhatian dan menyamponi rambut bayiku. "Kutanya kau!" Dia tidak berteriak tapi suaranya membuatku terjengkang sedikit. Cam menatapku, lalu Sai. Menatapku lagi, lalu Sai.

Aku selesai membasuh rambut dan tubuhnya, lalu meraih handuk. Membantu Camerri keluar dari bak mandi dan menggendongnya di lenganku. Dia kecil dan banyak orang mengira dia baru mau usia 2. Tapi dia bayi pintarku, jadi aku tidak peduli.

"Mwommy, berhenti." Pekiknya dibawah handuk ketika aku mengeringkan rambutnya dengan handuk. Aku tertawa padanya dan dia juga tertawa. Aku memakaikannya pakaian dengan cepat sehingga dia tidak akan sakit dan membaringkannya ke kasur.

Aku tahu Sai masih berdiri disana, tapi aku tidak peduli. Aku menidurkan Cam dan mencium dahinya sebelum meninggalkan kamarnya dengan Sai mengekoriku.

Ketika aku akan membuka pintu kamar kami, Sai meletakkan tangannya dan memereperku. Nafasku putus-putus di tenggorokan dan aku merasakan diriku di sudutkan di pintu.

"Aku akan membunuhmu ketika kita sudah masuk." Hatiku mencelus dan aku merasakan kepanikan merambatiku.

Dia pasti bohong.

.

.

.

.

.

.

Aku berdiri di depan pintu tanpa bergerak sedikitpun, nafasku pelan dan setiap saat aku bernafas, aku merasakan tubuh Sai semakin mendorongku.

Dia pasti bercanda, yang barusan kulakukan hanya meninggalkan kamarnya lima menit untuk bertemu anakku atau mungkin ini adalah fakta dimana dia memberitahuku siapa kelompoknya dan sekarang dia harus membunuhku hanya untuk memastikan "geng"nya aman. Oh Tuhan, tidak. Kebenarannya adalah aku tahu dia bisa melakukan hal ini. Aku hanya tidak berpikir dia akan melakukannya sekarang. Aku tidak berpikir. Idiotidiotidiotidiot.

Kau tidak pernah berpikir lebih dulu idiot idiot idiot. Aku mengutuk diriku sendiri dalam mental nyaris ribuan kali sebelum berputar perlahan. Tangan Sai masih di pintu, menahanku dan aku takut pada tatapannya, tapi aku masih menemukan semangat untuk berdiri. Aku tidak akan menyerah sebelum melawan. Tatapannya yang gelap dan dinginnya orb itu membuatku tiba-tiba kehilangan kepercayaan diri.

"Kau tidak akan membunuhku." Kataku dengan kemurkaan mengambil alih tubuhku.

"Oh, tapi aku akan melakukannya." Katanya dengan senyum iblis yang membuatnya benar-benar sangat hot. Lihat, aku malah terkesima, tapi aku punya hal lain untuk di khawatirkan.

"Kenapa?" Kataku. Dia menggeleng dan merendahkan kepalanya sedikit, menyebabkan dia menggelitiki dahi. Itulah sedekat apa kami. Aku merutuk diriku sendiri.

"Karena aku suka melihatmu menggeliat." Kikiknya. Aku cemberut dan hampir jatuh ketika pintu di belakangku terbuka. "Masuk." Dia tidak mau berargumen lagi dan mengunci pintu dari dalam kali ini.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku. Nafasku putus-putus ketika dia mematikan lampu, meninggalkanku sepenuhnya dalam kegelapan dengan seorang psikopat. Aku merasakan tangan dinginnya menyisir rambutku dan aku terayun ke belakang mencoba berpegangan padanya.

"Apa kau suka game, nona Namikaze?" Aku berjingkat pada bagaimana dia menyebut nama belakangku, menyebabkan lututku lemas. Aku menyemangati diriku untuk menatap sekitar, tapi aku tidak melihat apapun.

"Tidak, tapi kelihatannya kau suka main Marco Polo dalam gelap. Kau tahu Uchiwa, aku tidak menganggapmu sebagai anak umur 2." Aku tertawa pada komentarku dan menyeringai sedikit pada bagaimana aku mencoba mengucap nama belakangnya.

"Ya, aku suka itu. Ilmio caro you igio care con me?" [trans: sayangku, kau peduli padaku, sayang?]

Aku tergugu ketika nafas mint Sai menggelitiki telingaku. Aku merasakan tangan dinginnya meremat pinggangku dan membuatku tercekat.

"Biarkan aku pergi, bodoh! Fucktard! Aku benci kau dan wajah bodohmu, juga permainan bodohmu, serta bahasa Italiamu. Ingin dengar apa yang kupikirkan tentangmu, teme? Je pense quevo retrou du cul avec un pas de cerveu manger ma merde." [trans: kupikir kau lahir dengan stupidity. Eat that shit. \sumpah ini rancu dan otak gue absolutely rancu]

Aku menyeringai pada provokasiku, tapi aku hanya mendengar keheningan. Tangan Sai masih di pinggangku, membuatku menggeliat.

"Kau tahu, sayang, kau benar-benar mencoba merendahkanku." Katanya dengan amarah yang mulai mendidih.

"Benar!" Kataku, tapi dengan cepat aku menyesalinya ketika aku dihempaskan ke seberang ruangan. Punggungku membentur tembok dengan keras dan aku merasakan udara yang kubutuhkan menghilang dan aku berusaha keras sadar. Aku merasakan air mataku melelehi pipiku ketika aku merengek. Aku bahkan tidak peduli jika Sai mendengar tangisanku.

"Naruto." Bisiknya sebelum berjongkok di sampingku dan warna putih mulai menguasai mataku. Dia meraih rambutku, tapi aku menghempas tangannya.

"Tinggalkan aku." Kataku diantara cegukan. Bagus, pria ini jahat dan pemarah. Dan sekarang dia jadi pria berkepribadian ganda dan, mempertimbangkan hal itu, sejujurnya aku tidak percaya dia.

"Tidak. Aku butuh kau mengatakan padaku beberapa hal tentangmu."

Apa dia bilang?!

"Dimana kau lahir?" Aku menatapnya dengan tatapan rapuh dan tergugu pada kemarahan yang sudah hilang dari matanya.

"Morocco." Kataku. Ya, aku adalah orang Afrika berkulit putih. Mereka ada, kau tahu.

Aku merasakan tubuhku sakit semua ketika dia mengangkatku.

"Turunkan aku!" Teriakku, mencoba melepaskan diri dari cengkramannya, tapi dia malah menjatuhkanku di ranjang.

"Siapa namamu?"

"Naruto Namikaze. Dan aku berdarah separuh Spanyol karena ayahku yang kemudian pindah ke Africa untuk menikahi ibuku. Itulah mengapa nama belakangku Namikaze dan aku tidak tahu darimana Naruto berasal, jadi jangan tanya aku. Kami pindah ke Amerika karena ayahku dan pekerjaan bodohnya. Aku benci strawberry dan aku tidak pernah suka ikan, kecuali buatan ibuku.."

"..Aku suka musik, tapi lebih suka lagi pada seni. Jadi aku memutuskan pergi ke Julliard dan kemudian sebuah bayi muncul di hidupku. Aku kehilangan kontak dengan ayah dan ibuku karena ayahku tidak percaya jika Cam bukanlah anakku dan kemudian aku dan Cam hidup bahagia. Aku bahagia karena tidak harus membuktikan lagi jika aku lebih baik dari saudara-saudaraku. Lalu seorang brengsek mencoba membuat hidupku berantakan dan aku menyerahkan akhir hidupku padanya setelah kupikir dia mematahkan rusukku." Aku tercekat pada rasa sakit di rusukku dan menatap langsung mata Sai.

"Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya butuh hal remeh untuk meyakinkanku jika kau tidak gegar otak." Katanya tanpa emosi.

Wow betapa baiknya dia! Tidak! Yang benar saja!

"Aku ingin tidur." Hanya itu yang mampu kuucapkan.

"Tidak."

Beri aku alasan kenapa dia tidak membiarkanku melupakan rasa sakit dan membiarkanku tidur.

"Maaf?" Racauku ketika dia bangun dan mulai melucuti celananya. Pipiku memerah bahkan pada orang sepertinya yang dengan kejam dan buruknya memberiku rasa sakit secara fisik. Selanjutnya dia melepas kaosnya dan merangkak naik ke bawah selimut, tepat di sampingku.

"Karena kau mungkin saja gegar atau apapun atau sesuatu yang patah dan aku tidak butuh kau mati dalam tidurmu, terlebih tidak di ranjangku." Aku cemberut pada ucapannya dan bangun sekalem sebisaku, mencoba tidak membuatku sakit lagi.

Aku berjalan ke kamar mandi dan menyalakan lampu. Merasakan pusing pada cerahnya lampu itu sebelum menutup pintu, aku melangkah ke cermin raksasa di atas washtafel modis, yang mana itu pasti mahal.

Aku membungkuk dan rasa sakit membuatku mundur sedikit. Kepalaku pusing dan aku mencoba berpikir. Pria itu berbahaya. Aku harus berusaha melarikan diri dari Sai sebelum dia membunuhku atau…anakku.

Tapi sekarang bukan saatnya untuk rencana melarikan diri. Aku meraih ujung kaos yang sudah pasti milik Sai dan melepaskannya, meninggalkanku hanya dengan bra dan celana dalam. Aku cemberut pada beberapa memar yang menghiasi tubuh atasku dan tersemat di atas rusukku.

Owowowowowwowowowow. Hanya itu yang kupikirkan sambil berusaha mengenakan kembali kaosku. Aku menghela nafas ketika gagal dan mencoba lagi, namun hanya rasa sakit yang semakin menjadi yang kudapat.

"Apakah kau butuh bantuan?" Aku berputar dengan cepat. Rasa sakitku semakin menjadi. Aku mulai merasakan pusing lagi namun aku tidak akan kalah kali ini. Aku akan mempertahankan harga diriku.

"Tidak, aku baik." Kataku ketika aku bangun perlahan.

"Kau tidak baik." Serunya sebelum berjalan padaku dan meraih kaosnya di lantai. Aku tersentak ketika tangan dingin Sai mengenai kulit telanjangku saat dia menarik turun kaosku perlahan. Aku menghela nafas dan mulai berjalan ke pintu. Untungnya dia tidak menghentikanku dan hanya mengekoriku tanpa suara.

Aku menyelimuti diriku dan menggigil pada rasa sakit, tapi aku menutup mataku. Aku tidak mungkin bisa tidur, tapi aku benar-benar tidak ingin bicara dengan Sai sepanjang malam, jadi aku berpura-pura tidur.

Aku merasakan ranjangnya bergoyang dan aku tahu dia ada di sebelahku.

"Kau tidak seharusnya merendahkanku, Naruto." Aku menggigil pada cara Sai memanggil namaku. Aku tidak berucap apapun, karena kuyakin ini bijkasana menjaga mulutku tetap bungkam. "Aku punya kau dan anakmu di kepalan tangangan dan dengan satu kedipan mata, aku bisa mengambil segalanya darimu." Aku merasakan sebuah tangan menyusup ke kakiku dan membuatku menggigil pada sengatan-sengatan itu. Aku menatap mataku rapat dan menggigit bibirku.

Tubuh Sai memancarkan kehangatan ketika dia mendekatiku. Punggungku membentur tubuh depannya karena aku tidak bisa menghadap padanya. Aku mencoba menenangkan jantungku, tapi itu bahkan berdetak lebih keras dari rongrongan seekor gajah. Aku ketakutan dan tergugah pada saat yang sama. Ini membuatku pusing.

"Kau tidak mengerti ini, Naruto." Aku tidak berani untuk menggerakkan tubuhku, bahkan ototku. Kuharap dia akan berpikir aku sudah tidur dan meninggalkanku sendiri.

"Kau mengerti? Jawab aku, aku tahu kau tidak tidur." Aku tidak menjawab dan memastikan tidak menggerakkan satupun ototku.

"Oke, jangan bicara. Aku menikmati keheninganmu. Kau itu satu-satunya yang sangat menjengkelkan dan sebenarnya aku sudah bertemu banyak orang menjengkelkan. Kau yang paling parah." Dia berhenti berbicara setelah itu dan aku merasakan nafasnya di bahuku ketika dia merengkuhku lewat paha.

Aku membayangkan dia sudah tidur dan aku sangat amat kesakitan dengan posisi ini. Jadi aku berbalik menghadap Sai, membuat tangannya kini menyelip dan membungkus pinggangku. Aku menghela nafas. Aku tidak tahu apa yang harus kupegang sampai dia menarikku ke dadanya yang sekeras batu. Jantungku berdentum ketika dia mengusakkan hidungnya ke leherku. Aku mendongak dan dengan ragu meletakkan tanganku untuk jatuh ke rambut Sai. Aku bermain dengan anak rambutnya dan merasakan kelembutannya. Bagaimana bisa ada seseorang yang sangat damai ketika tidur, tapi sekonyong-konyong jadi monster ketika bangun.

Sai begerak lagi, kali ini membuat wajahku melesak di perpotongan lehernya dan pipi Sai ada di pucuk kepalaku. Aku meletakkan tanganku di dadanya dan mencoba membuat jarak diantara kami. Tapi tidak bisa, apalagi ketika tangan Sai merengkuhku dengan erat, yang mana hal ini juga membuat rasa sakitku semakin menjadi setiap ada gerakan.

Aku menyusuri otot di dada Sai dan menuju ke lengannya. Dia menggeram sedikit. Aku mendongak dan menemukan dia terbangun.

"Apa yang kau lakukan?" Ini dia si tuan pemarah.

Aku mencari jawaban, tapi nanti pasti dia bakal membalikkan ucapanku.

"Aku –umm"

"Jangan berhenti." Itu adalah yang dia ucapkan sebelum kembali menutup matanya lagi. Dengan ragu aku menggerakkan jariku sepanjang dada Sai. Apa yang kulakukan? Aku mencoba membersihkan otakku, tapi jantung berdentum di telangaku dan aku merasa aku tidak bisa bernafas dengan baik karena kedekatan kami yang intim.

"Sai, kau masih bangun?" Aku mengela nafas ketika tidak ada jawaban dan hanya deru nafas di keheningan.

"Tidak, tidurlah." Suara Sai yang husky membuat pikiranku kembali.

"Bisakah aku bertanya sesuatu?" Jangan menanyakannya, jangan menanyakannya, jangan menanyakannya. Kau hanya akan jadi bodoh, jangan menanyakan hal yang sudah kau ketahui jawabannya.

"Apa? Aku tidak punya waktu semalaman." Sai menuntut dan mengeluarkan sebuah geraman.

"Pernahkan kau membunuh seseorang?" Aku membiarkan pertanyaan itu keluar dari lidahku dan aku merasakan tubuh Sai berubah kaku.

"Kita berdua sudah tahu jawabannya." Jawab Sai. Aku menggerakkan tanganku di sepanjang dadanya, mencoba untuk berfikir.

"Berapa banyak?" Aku menelan dengan berat. "Berapa banyak yang kau bunuh?" Aku mendongak pada mata Sai yang terbentengi dari emosi. Dia menunduk padaku dan cemberut. Aku melipat bibirku ke dalam dan menunggu jawabannya.

"Naruto, jika kau ingin aku jujur, aku sudah lupa pada hitungannya." Jantungku mencelus akan hal ini dan itu karena aku mengharapkan jawaban berbeda darinya. Padahal aku sudah tahu apa yang ingin dia sampaikan.

"Apa kau suka seni, Mr. Uchiwa?" Aku mengalihkan subjeknya dengan cepat kearah sesuatu yang lain.

"Tergantung, aku bukan seseorang yang suka menggambar." Sai bergerak, mengubah posisi menjadi aku persis di atasnya. Aku tercekat pada perubahan posisis yang tiba-tiba, yang mana hal ini membuat dia menyeringai. Dia merubahnya lagi menjadi berbaring di atasku dan lengannya mengungkungku.

"Oh?" Aku merasakan pipiku merona. Dia mengangguk dan aku bisa melihat itu dengan mudah di kegelapan.

"Jadi katakan padaku, Naruto. Apa kau suka seni?" Aku tersenyum pada hal ini dan jika aku menjawab 'ya' dengan simple, itu tidak akan mengakhiri percakapan ini. Ini adalah obrolan paling baik dan mungkin satu-satunya obrolan baik yang pernah kupunya dengan Sai dan aku tidak ingin mengakhirinya sekarang.

"Ya, ya. Itu adalah sebuah bentuk pengekspresian.. dan itulah bagaimana aku mengekspresikan diriku. Aku cinta seni dan kupikir semua orang harusnya juga suka atau mungkin paling tidak tertarik pada itu." Aku mendongak di kegelapan dan ketika dia hanya menatapku, aku menggeliat sambil menggigit bibirku.

Jemari Sai mengeluarkan bibirku dengan sebuah gerakan lambat. "Hentikan itu." Katanya. Aku ragu-ragu menggigit bibirku lagi, tapi tidak. aku membeku ketika ibu jarinya menyusuri bibirku. Nafasku tercekat dan aku merasakan jantungku berdentum cepat.

"Avete belle labbrailmio amore non dovresterovinare." [trans: kau punya bibir berbetuk hati yang indah, aku tidak bisa menghentikan ini]

Aku nyaris merengek pada darah Italia Sai dan mengutuk diriku sendiri karena menyerah pada pelajaran Italia saat di SMA dulu.

Sai sangat dekat sekarang dan bibirnya menyapu milikku, bergerak melingkar. Aku menutup mataku dan menggeram, tidak bisa bernafas, tidak bisa berpikir, tidak bisa bergerak, tidak bisa berhenti. Apa yang terjadi padaku?

"Apa artinya itu?" Aku berbisik dengan bibir yang masih bersentuhan dan segala sengatan-sengatan ini membuatku pusing.

"Sshh."

Aku mematuhi perintah diamnya dan dengan cepat menutup mataku. Kurasakan aku kehilangan nafas.

"Sir, sir! Ikutlah denganku, ada kecelakaan!" Sai sekonyong-konyong bangkit dariku dan meninggalkanku di ranjang dengan posisi canggung. Dia meraih pakaiannya dan berlari ke kamar mandi. Itu tadi Juugo yang datang mengabari Sai dan sekarang ketika melihat dia lebih malu-malu ketimbang diriku sendiri, itu wajar. Lampunya sekarang menyala dan pipinya terciprat noda pink lucu. Oh tidak! pasti itulah yang ada di fikirannya.

Sai kembali setelah 5 menit dengan pakaian yang sudah terpasang dan siap untuk pergi. Dia tidak melirikku sama sekali ketika pergi. Setan kecil brengsek. Aku mencoba menenangkan diriku dan kembali tidur, tapi tidak bisa. Aku hanya terjaga disana sampai matahari terbit dan aku tahu aku ini sekitar jam 5 pagi.

Aku menutup mataku dan membiarkan rasa lelah mengambil alihku menuju kegelapan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung...