Mataku terbuka ketika aku mendengar jengkangan dari pintu. Aku tidak berani berbalik atau membuka mataku lagi, karena aku sudah tahu siapa itu. Dan aku benar-benar tidak butuh obrolan macam apapun setelah kejadian semalam. Tapi kemudian dia berjalan persis menjauh dari ranjang dan membanting pintu kamar mandi sambil menyalakan lampu dengan kasar. Aku membuka mataku dan melihat jam terlebih dahulu.
Ini hanya sejam setelah aku menutup mataku dan matahari juga masih mengintip sedikit. Aku menoleh ke kamar mandi dimana setengah dari tubuh Sai kelihatan ketika dia mencuci tangan dan mengurai dasinya pada saat yang bersamaan. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku, melainkan noda darah yang munutupi pakaiannya.
Apa yang terjadi?!
Aku bangun dengan tergesa dan masuk ke kamar mandi. Dia tidak mendongak atau mengalihkan pandangan dari tangannya. Aku tahu dia sedang frustasi dari bagaimana cara dia menarik dasinya dan memukul wastafel.
Aku menyentuh lengan atasnya dan membuat dia mendongak padaku.
Aku tergugu pada tatapan kelam dan berbahayanya. Kutelan ludah sebelum mengambil langkah mendekat padanya dan mengambil alih dasinya. Kurasakan tatapannya ada di dahiku ketika aku dengan mudah selesai dengan simpul dan menarik dasinya lewat kepala.
Tinju Sai terkepal dan berdarah. Dia juga bernafas keras, membuat kemarahan yang sedang ia rasakan benar-benar terlihat. Aku meraih salah satu kepalan tangannya dan mempertemukan mata kami.
Atasannya kulepas dengan hati-hati layaknya dia adalah anak rapuh berusia 3 dan bukannya seorang pria yang jarinya sedang di leherku. Ketika aku selesai, aku meletakkan kemejanya ke atas mesin cuci. Pikiranku buyar kemana-mana ketika aku bergetar meraih sabuk Sai. Tangannya menangkap milikku dan aku mendongak.
"Aku bisa melakukan sisanya." Begitu kata Sai.
Aku mengangguk dan melihatnya berbalik ke mesin cuci dan mencuci pakaiannya. Bahu milik Sai sangatlah lebar dan tubuhnya terstruktur dengan sempurna. Six pack di perutnya itu bagus dan lengannya berotot namun tidak berlebihan, sempurna. Tatapannya membuat dia terlihat lebih tua dan dia diberkahi dengan wajah penuh masalah. Itu wajar jika mengatakan pria ini mempesona.
Aku terbatuk dengan canggung dan mengenyahkan segala pikiran ngelantur itu sebelum piranku tambah kemana-mana.
"Apa yang terjadi?"
Sai menghentikan segala yang sedang ia lakukan, yaitu menaruh pakaiannya dan menutup mesin cuci, lalu berbalik padaku. Aku menunggu jawabannya dengan sabar dan dengan bijaksana memutuskan mengambil langkah mundur. Aku takut kami akan mengulang apa yang terjadi.
Dia menyadari hal itu. "Kami disergap di lokasi transaksi." Kata Sai layaknya ini adalah hal yang sudah jelas.
"Oh jadi kau bertransaksi dengan orang-orang Indian?" Kataku mencoba mengembalikan moodnya, tapi dia tidak tertawa atau menyeringai atau bergerak.
"Tidak."
"Jadi apa yang sedang kalian transaksikan?" Matanya mulai menggelap dan aku menyesali pertanyaan terakhirku. Ayahku selalu berkata laki-laki punya urusannya sendiri.
"Narkoba dan wanita."
Rahangku membentur lantai. Dia bilang apa tadi?!
Oh Tuhan, please, katakan saja polisi berhasil meringkus mereka. Oh my, jantungku meloncat saat ini.
"Siapa yang menyergapmu?" Aku bertanya ketika dia menyugar rambutnya dan kembali menatapku dengan cepat.
"Orang yang kuajak bertransaksi. Dia membunuh sebagian besar orangku sebelum aku datang." Wow, kelihatannya aku masuk terlalu dalam. Aku sudah mendengarkan dengan baik dan mencoba untuk mundur ketika Sai bergerak mendekat, tapi aku malah jatuh di lantai.
"Oh. Aku minta maaf." Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan itu tapi aku pikir dia pasti sekarang sedang berduka, hanya saja ucapannya selanjutnya membuatku berubah fikiran.
"Yaah, mereka sudah tahu resikonya ketika mereka bergabung dan mereka pada dasarnya mati ketika menandatangani nama mereka di buku kontrakku."
Aku tergugu pada betapa kejamnya dia.
Amarahku meluap sebelum aku bisa menghentikannya dan aku tergugu pada nada bicaraku yang kejam. "Bagaimana bisa kau berkata begitu? Mereka mati untukmu! Kau harusnya menghormati mereka atau –atau-atau menghubungi keluarga mereka." Aku merentangkan tanganku dan ini pasti membuatku terlihat seperti flamingo liar.
"Hm bagaimana bisa aku tahu itu yang akan kau katakan." Begitu jawab Sai ketika dia berjalan ke lemarinya dan mengambil pakaian.
"Kau pergi?" Aku bertanya penasaran, dia mengangguk sebelum meraih tas packing dan menyerahkannya padaku.
"Berkemas. Sekarang. Juga untuk Camerri. Kita akan menemui orang tuaku beberapa hari." Aku tidak punya waktu untuk protes ketika dia berjalan ke kamar mandi lagi dan menutup pintu. Aku menyelinap ke kamar Cam ketika dia tidur dan meraih pakaian untuk ia kenakan nanti.
Ketika aku kembali dengan perkakasnya, Sai keluar dari kamar mandi dan berpakaian rapi seperti tadi tidak mengalami kegagalan melepas dasi. Dia mengangguk padaku sebelum meninggalkan kamar. Dia tidak berbalik dan membuatku penasaran. Jadi aku mengikutinya.
Aku melihat dia bergerak ke kamar Camerri dan masuk dengan tenang sebelum membubuhkan sebuah kecupan di dahi Cam dan berbisik sesuatu. Mata Cam perlahan terbuka dan dia tersenyum pada Sai. Sai balas tersenyum, ini membuatku terkejut karena dia jarang tersenyum seperti itu. Dia mengatakan pada Cam untuk kembali tidur, lalu meninggalkan kamar. Aku berlari kembali ke kamar ketika dia berjalan turun ke tangga.
Penasaran, sangat penasaran.
Aku menepis dulu itu untuk sekarang dan berkemas pakaian untuk beberapa hari kedepan. Ketika aku selesai, aku duduk di ranjang dan menunggu Sai kembali. Kemudian aku pikir ini saatnya mandi… dan kemudian berpakaian dengan atasan putih gading dan jeans.
Lalu aku pergi ke kamar Cam dan membantunya bersiap.
Dia tidak berhenti berbicara tentang betapa menyenangkannya tinggal disini dan bagaimana dia suka menghabiskan hari dengan main bersama anak lainnya. Aku hanya mengangguk dan mengatakan padanya aku senang ketika dia senang.
Ketika Sai kembali dan menjungkalkan pintu, aku memegangi Cam, tapi anak itu malah berlari pada Sai dan bertanya apa ia bisa mengggandeng tangan Sai. Sai tersenyum dan mengangguk sebelum mengambil tangan kecil itu dengan tangannya. Aku tercekat dan merasakan sesuatu menamparku. Bagaimana jika dia mengambil Camerri dariku?
Tapi itu juga membuatku tersenyum sampai pippiku terbakar, bahkan sampai kami masuk ke mobil. Kami berkendara dengan tenang, sementara Cam bermain dengan bonekanya.
"Apakah kau dan mommy menikah?" Kepalaku berputar pada Camerri, begitu juga dengan Sai. Terimakasih Tuhan, karena kami sedang di lampu merah.
"Apa?" Sai bertanya. Cam tertawa dan menepuk pipinya dengan tangan kecil itu.
"Maksudku kau tidur di kasur yang sama dan kau sayang mommy, 'kan? Jadi kau akan menikah."
Aku menggelengkan kepalaku dan meraung pada bagaimana Cam menjelaskan.
"Tidak, sweety. Mainlah dengan bonekamu, oke?" Dia mengangguk dan kembali pada bonekanya. Aku memerah dan menoleh ke jendela, menghindari tatapan Sai.
Ketika kami mencapai mansion raksasa, mataku keluar dari rongganya. Rumahnya besar dengan air mancur di tengahnya dan berbeda dengan orang kaya lain, mobilnya berjejer di jalanan yang mana juga besar.
Orang-orangnya membuat halaman indah dan memotong tanaman dengan sangat bagus, membuat segalanya sempurna. Ketika kami keluar dari mobil, aku meraih Cam dan menggelitikinya ketika dia berontak, berkata dia bisa menjatuhkan bonekanya. Aku tertawa. Beberapa pria dalam balutan setelan datang dan menjabat tangan Sai sebelum meraih tas packing dari bagasi dan membawanya masuk ke rumah.
Kami berjalan masuk ke rumah dan mulutku jatuh karena ini sangat indah, sangat amatlah indah. Ketika kami masuk lebih dalam, ada salah satu pelayan lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Leonardo. Dia menggiring kami ke ruang tamu.
Aku menyadari satu atau dua dari lukisanku ada di dekorasi rumah ini.
"Itu…"
"Ya, itu milikmu." Hanya itu yang dikatakan Sai ketika dia duduk di sofa berwarna krem dan Camerri duduk bermain dengan bonekanya dan mempesona semua orang. Dia menggunakan dress cantik berwarna pink dan sebuah tiara di kepalanya. Itu adalah pakaian dari bibiku dan kakakku mendapatkan tiara yang cocok. Aku merindukan kakakku. Aku tidak pernah bicara dengannya lagi sejak Sai 'menculik' kami.
"Kenapa, dear? Oh senang sekali bertemu denganmu lagi." Kami berdiri, baik Sai dan aku, ketika orang tuanya masuk ruangan. Mereka melihatku dan senyum mereka melebar. Tapi ibu Sai berjalan menuju Sai dan terpaku sesaat sebelum bertanya lirih dengan bahasa Italia.
"Checosahaifatto? Laprego di dirmiche non ha ancorarapiscono la ragazza e suafiglia ne sa lei del nostrobuisnessfa a sapere I nostrinomi?" [trans: apa yang kau lakukan? sudah kubilang kan dia itu tidak bersalah. Bagaimana kalau dia tahu banyak tentang markas kita?]
Dia punya aksen Italia yang belum pernah kudengar sebelumnya. Aku berdiri disana seperti idiot ketika Sai hanya menggeleng.
Lalu ibu Sai kedengaran seperti menceramahi Sai.
Dia menghela nafas dan mempersilahkan kami untuk datang ke ruang makan dan mendapatkan beberapa kukis serta teh. Aku memberitahu Cam jika dia bisa tinggal dan bermain jika dia ingin. Camerri mengatakan okay sebelum kami pergi ke ruang makan. Mereka punya meja yang indah dan begitu juga yang memiliki meja itu. Ibu Sai punya rambut hitam panjang dengan pin cantik dan dress koktail yang juga cantik ketika ayah Sai mengenakan setelan.
"Bu, berikan aku kukis."
Ibu Sasuke kelihatan kecewa dan dia menggerutu. "Jangan panggil aku ibu! Apakah benar kau menculik wanita ini!" Mataku melebar. Sai menggelengkan kepalanya dan mengabaikan ibunya.
"Uchiha Sasuke!"
Sai mendongak dan memukul meja ketika ibunya memanggilnya seperti itu.
Mataku melebar dan mulutku terbuka. Oh Tuhan, namanya. Nama itu ada di semua selebaran dan majalah. Bagaimana bisa aku tidak tahu dia adalah salah satu dari pria paling kaya dan… sekarang dia jadi mafia.
"Apa?" Hanya itu yang bisa aku ucapkan ketika semua orang menoleh padaku. Oh no oh my.
"Oh dear, please. Mengertilah jika kami tidak bisa mengatakan padamu tentang nama asli kami karena well… kupikir kau tahu kenapa. Dan darling, maaf semua orang sudah bohong padamu."
Aku mulai berpikir pada bagaimana orang lain memanggil Sai dengan tidak nyaman. Kenapa aku sangat bodoh? Semua terasa masuk akal sekarang.
"Oh Tuhan, please, katakan padaku ini hanya mimpi." Aku meletakkan tanganku ke kepala dan mulai merasa sakit, membuat ruangan ini serasa berputar.
"Honey, bernafaslah. Tenang!"
Aku mencoba, tapi aku hanya tidak bisa menerima segalanya.
"Biar kutebak, nama kalian bukan Fuku dan Mito, 'kan?"
Mereka menggeleng.
Aku sudah menjual lukisanku pada penculikku!
"Namaku adalah Mikoto dan suamiku, Fugaku." Aku mencoba menerimanya dan berpura-pura tidak terpengaruh terhadap hal itu, tapi kepalaku malah semakin cenat-cenut. Aku melesakkan diriku di kursi dan membuat Sai… maksudku Sasuke meloncat mendekatiku dengan mata onyxnya.
Itu adalah mata yang kulihat sebelum aku beranjak pergi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rasa sakit yang mendera kepalaku membuatku gila. Apakah aku sedang datang bulan? Hey, setiap gadis pasti bertanya hal yang sama ketika mereka bangun dengan mata tidak mau terbuka dan kepala atau perutnya sakit.
Ini pasti masih dini hari karena aku tidak menemukan Cam berusaha membangunkanku dan aku tentu saja tidak terlambat kerja. Atau mungkin saja! Aku bangun di ranjang asing dan menemukan mata onyx yang tidak ingin kulihat, bahkan dalam mimpi sekalipun.
"Bangun~ bangun~" Katanya tanpa emosi. Dia duduk di sebelahku. Aku berbaring ke bantalku lagi dan menutup mataku dengan erat. Tidurlah, Naruto. Tidurlah dan dia tidak akan mengganggu ketika kau tidur. Tapi aku tahu aku tidak bisa membodohi Sai.. Sasuke- terserahlah panggilannya siapa. Jadi aku melakukan yang kuanggap bijaksana dengan memegang erat celanaku dan duduk menatap Sasuke. Dia tidak bergerak, bahkan ekspresinya tidak berubah.
"Dimana Cam? Aku harus pulang, begitu juga dengan anakku." Dalam mental, aku bertepuk tangan pada keberanianku yang entah darimana munculnya.
"Kau dan aku tahu betul kau akan terus tinggal disini, begitu juga dengannya. Dia sedang bermain dengan adikku."
Ini tidak akan mudah seperti menjentikkan jari. Dan ini yang membuatku jengkel. Sasuke pikir dia sangat mampu mendominasi semua orang! Yaahh tidak hari ini!
"Dengarkan ini, pengacau. Aku tidak peduli siapa kau! Sudah cukup dengan segala omong kosongmu Sa-Sasuke! Bodo amat dengan namamu! Jadi jangan urusi kami!"
Kekehan Sasuke adalah yang paling menakutiku. Itu tidak seperti 'Oh wo lucunya' kekehan, tapi itu adalah kekehan rendah yang menakutkan. Bibirnya bahkan tidak bergerak banyak ketika dia melakukan itu.
Aku menggerakkan pantatku mundur ketika Sasuke mendekatiku. Aku tidak butuh dia menguliahiku tentang hal lain. Mata onyxnya membuatku tergugu dan aku dibuat tidak bisa berkata ketika dia mengusap anak rambutku. Aku tidak berani bergerak ketika dia menanggalkan jaket dan mengurai dasinya. Secara otomatis, aku melihat pistol yang ada diantara sabuk dan pingganggnya. Itu tidak mudah untuk di lewatkan ketika dia kembali padaku dengan wajah menakutkan.
Aku tidak bergerak dari posisiku sampai Sasuke meraih pahaku dan menarikku merapat padanya. Sekarang wajahnya sangat dekat dengan wajahku.
Aku kehilangan oksigen. Kepalaku pusing ketika dia menatapku rendah dengan tatapan panasnya.
"Jangan meremehkanku, Ms. Namikaze. Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya." Suaranya rendah dan serak, membuatku pusing. Aku tidak memproses apa yang dia katakan dan udara sekarang jadi tebal ketika tangannya menyusup di pahaku.
Seperti sebuah insting, aku meletakkan tanganku pada Sasuke untuk berpegangan sebelum dia meraih ujung jeansku. Itulah ketika sebuah ide muncul di kepalaku. Oh yeah, itu tidak berhasil dulu, tapi kupikir aku patut mencoba lagi. Aku mengambil langkah pasti dan menggapai dasinya sebelum mundur dan menarik Sasuke kerahku. Dia melayang di atasku. Tatapan matanya yang panas tidak sekalipun pergi dari milikku.
Aku menggigit bibirku dan merambatkannya, mengusapkan bibirku ke garis rahang Sasuke. Dia mengeraskan rahang dan seketika kaku. Aku memindahkan bibir bawahku turun sepanjang rahang dan lehernya.
Aku menggeram ketika jari Sasuke mengais pahaku. Tangannya meninggalkan sensasi panas di kulitnya. Lalu aku memindahkan tanganku ke depan, ke lengannya dan perlahan berpindah ke tulang belakangnya serta menekankan jariku di kulitnya. Peganganku lalu kembali ketika aku meninggalkan sebuah kecupan di sisi mulutnya dan satu lagi di rahangnya.
Sedikit lagi, Naruto, sedikit lagi.
Kepalaku pusing dan jantungku menggelepar di dada. Tekanan dan suasana panas diantara kami sangat terasa, tapi rasa dingin yang kurasakan dari pistol membuatku kembali tersadar. Sebelum dia bisa bereaksi, aku menerjangnya dan menodongkan pistol itu ke kepala Sai. Dia tidak berkedip, tidak bergerak dan tidak menampakkan satu emosi pun ketika dia mengarahkan senjatanya ke pelipisnya sendiri.
"Kuakui, Naruto. Si giocabene." [trans: kau main dengan baik]
Bahasa Italia milik Sasuke membuat lututku menegang dan nafsu menguasaiku, tapi aku tidak membiarkannya. Aku tahu apa yang harus kulakukan.
"Bicaralah dengan bahasa yang kumengerti, sialan!" Aku tercekat.
Bagus, Sasuke mengalahkanku sekarang. Dia mendekatiku seperti dia tidak takut akan nyawanya. Dia pasif layaknya batu.
"Aku lupa jika daya tangkapmu lebih rendah dari level manusia manapun."
Dia hanya memprovokasimu, Naruto, kau akan baik-baik saja.
Sasuke bergerak lebih dekat ketika aku mundur. Sekarang segalanya sudah tidak seperti rencana. Sasukelah yang seharusnya mundur dan ketakutan. Hal yang kutahu selanjutnya adalah aku mendengar suara klik dan punggungku menyentuh dinding di belakangku. Sialan, berapa banyak senjata yang dimiliki pria ini.
"Kau mungkin ingin memikirkan lagi langkah selanjutnya yang mau kau ambil dengan bijaksana, miss Namikaze." Aku tergugu dan semakin pusing pada bagaimana dia mengucapkan namaku. Itu bukan apa-apa, Naruto, bertahanlah.
Pikirkan, pikirkan! Oh aku mengarahkan pistol ku ke juniornya –atau mungkin itu senior, oh my aku penasaran seb- jorok, Naruto, jorok!
Sasuke terkekeh. Kekehan yang dalam dan menurunkan keberanianku dan menodongkan pistol miliknya ke payudara kiriku. Aku tergugu pada sentuhan itu dan menurunkan pistolku kearah bolanya. Aku berjengit pada kekehan setan Sasuke ketika dia semakin memerepetku dan menghapus jarak kami, lalu dia berguling ke samping. Peganganku pada pistol terlepas dan aku mendengar senjata itu jatuh ke lantai ketika senjata Sasuke masih di tempat.
Dia membawa pistolnya ke sisi kepalaku dan menjilat bibirnya sampai basah. Aku melihat itu seperti itu adalah tayangan slow motion dan mencoba merilekskan jantungku. Tapi nyatanya aku tidak bisa tenang dan udara di sekitarku mulai susah dihirup. Dan ketika tangan Sasuke bergerak menyusuri pinggangku dan turun ke pinggul, aku mengeluarkan dengusan.
Naruto, kuasai dirimu, jangan lakukan hal bodoh!
Tapi aku adalah idiot. Jadi aku menggerakkan jariku ke bibir Sai dan mengusapnya. Sangat lembut dan pink. Aku menyusuri bibir atasnya dan bergerak ke bawah ketika tatapan Sasuke melubangi kepalaku. Aku berpindah lagi ke rahangnya. Sangat tajam. Ini bahkan lebih tajam dari kaca.
Ketika aku menggerakkan jariku turun ke dadanya, Sasuke menangkap tanganku dan memutar matanya seolah itu tanda jika dia mencoba memberitahuku sesuatu, sesuatu yang sudah jelas.
Aku menikmati perasaan hangat dari tangan Sasuke dan juga merasakan gelombang elektrik menggelitik dadaku.
"Naruto." Namaku terlontar dari suara serak Sasuke. Dia hanya berbisik, tapi itu mampu membuat jantungku berpacu sepuluh kali lebih cepat. Sangat dekat, Sasuke sangat dekat. Dia merendahkan tubuhnya sampai mata kami sejajar, tapi yang kudapat hanya sebuah sapuan di bibir dan dia bangkit dari tubuhku. Kulihat dia menyalakan sakelar menggunakan moncong pistolnya.
Aku tidak berani bergerak, punggungku masuk terplester di tembok dan yang bisa kulakukan hanya menatap Sasuke ketika pria itu menyugar rambutnya. Aku tidak pernah melihat dia seperti ini. Dia kelihatan marah, yang ini aku tidak ragu mengatakannya, tapi kali ini dia seperti kehilangan kontrolnya.
"Sasu-"
"Jangan memanggilku dengan nama itu!" Yep dia mungkin tak terkontrol sekarang.
Aku berjengit pada seruannya dan dia bahkan kelihatan tidak peduli pada itu. Yang dia lakukan malah meninju dingding di dekatnya, menendang pojokan ranjang dan pergi menghentak-hentak seperti anak kecil. Aku kaget melihatnya, dan kupikir itu wajar. Sasuke mungkin sudah gila, atau semacamnya.
Sesuatu di dalam diriku merasakan sebuah perasaan hangat dan juga bingung sebenarnya, atas beberapa alasan tidak jelas. Jadi aku mencoba mengabaikannya dan berjalan keluar kamar dan menuju ke tangga putar yang seperti memutari seluruh rumah dan diatasnya ada lampu Kristal raksasa.
Aku baru saja sampai di bawah tangga ketika lampunya tiba-tiba mati dan sebuah suara klik terdengar di belakangku. Itu suara pistol. Sebuah suara yang menggema di seluruh penjuru rumah mengatakan sebuah 'peringatan penyusup'. Sialan ada orang yang tau sistem keamanan rumah ini.
Aku merasakan sebuah besi dingin, tapi aku tidak melihat pistol itu. Aku hanya merasakan itu di menekan tenggorakku.
Kemudian gelap.
.
.
.
.
.
.
Aku memaksa mataku terbuka dan menutup kembali mataku ketika cahaya memburamkan penglihatanku. Kenapa ini terjadi padaku? Aku berjengit ketika aku mendengar suara Sasuke menggelegar di ruangan ini.
"Kau ini dungu atau apa! Kau sudah tau dia disini dan kau sialan sekali mengabaikan perkataanku." Aku mendengar Sasuke berteriak, sangat jelas pada orang lain yang juga ada di ruangan ini.
Ketika aku membuka mataku lagi dan berkedip ribuan kali untuk mendapatkan pandangan yang jelas, aku melihat berapa banyak orang yang benar-benar ada di ruangan ini.
Ada tiga laki-laki dan satu wanita yang sedang memutar matanya pada Sasuke yang sedang berapi-api.
"Well maafkan aku kare-"
"Dia siuman." Salah satu dari laki-laki yang berpakaian kasual dengan kaos dan jeans berceletuk.
Sasuke berbalik padaku dengan cepat dan aku menyadari pada bagaimana kurang pakaiannya si wanita dan salah satu lelaki dibanding Sasuke dan dua pria lainnya yang ada di ruangan.
"Kepala..ku." Aku bergumam tapi mereka kelihatan tidak begitu mendengarku. Namun salah satu dari laki-laki yang mengenakan setelan hitam mengulurkan segelas air padaku dan sebutir Advil. Aku kemudian menyadari bahwa laki-laki lain yang juga mngenakan setelan itu adalah Juugo dari rumah Sasuke, salah satu yang menjaga kamarku. Aku mengirimkan sebuah senyuman kecil yang dibalas juga olehnya.
Ruangannya tiba-tiba saja jadi hening dan aku menunggu orang lain yang suka rela memecah keheningan ini.
"Tomasso yang biasa disebut Tom, tapi kau bebas memanggilku apapun." Kata si lelaki yang berpakaian kasual sambil mencium punggung tanganku. Aku merona ketika mata dalam nan hijau itu bertemu dengan milikku. Dia tampan dengan rambut coklat terang dan mata hijaunya. Kenyataannya semua orang yang ada di ruangan ini itu berwajah atraktif, hanya saja tidak ada yang mampu dibandingkan dengan Sasuke yang sedang berdiri di pojokan ruangan.
"Naruto." Aku memperkenalkan diriku dengan suara lirih ketika Tom melemparkan senyuman.
"Nama yang indah untuk wanita cantik." Katanya.
Pipiku merona pada pujian itu.
"Non si ottongono per Tom accoglienete. Bene persentaryi." [trans:bukan sebuah ajang penyambuta, Tom. Usaha yang bagus] Itu kata Sasuke.
Tom memaksakan sebuah senyum dan membebaskan tanganku sebelum seorang wanita mendekatiku. Menyelidikku dengan mata skeptis.
"Aku Bella, sepupu Sasuke." Kata wanita itu.
Aku menaikkan alisku dan dia tertawa sebelum menggerakkan kepalanya pada si kepala panas berwajah menyeramkan di pojokan yang beberapa menit lalu meneriakinya.
Dia tersenyum dan menyingkir ketika laki-laki yang tadi memberiku Advil mendekat. Dia tersenyum, mata hazelnya bertemu dengan milikku dan aku tersenyum balik. Dia mengambil tanganku dan mencium punggung tangan itu sebelum mengucapkan namaku dengan aksen Italianya yang sungguhan dalam. "Angelo."
Aku mengangguk dan mengamati ketika mereka semua berlalu keluar ruangan. Kecuali Juugo yang berbisik beberapa mombojumbo bahasa Italia pada telinga bosnya dan keluar mengikuti yang lain.
Aku duduk disana dengan canggung sebelum memecah keheningan. "Dimana anakku?" Tanyaku.
Wajah Sasuke tetap impasif ketika dia berjalan ke pintu dan keluar kamar sebelum kembali lagi bersama Cam serta Dollynya di tangan kecil itu.
Dia mendongak dan matanya bersinar ketika melihatku.
"Mwommy!" Camerri berlari ke arahku dan aku membuka lengaku lebar-lebar supaya dia bebas menerjangku. Bonekanya menubruk wajahku, tapi aku tidak peduli. Aku hanya tertawa dan tersenyum pada bayi kecilku.
"Mwommy mwommy, rumah ini swangaaat bwesaaar dan mereka punya kwolam renang dan tvnya bwesaaar di ruangan yang juga bwesaar. Mereka juga punya barang kweren dan Pwarker dan Tommy membiarkan aku bwermain game dengan Mario cart….Mereka juga punya dapur bwesaaar untuk- untuk-"
Aku tertawa dan itu memotong celotehannya. Dia tersenyum tulus padaku dan aku memberinya pelukan erat disertai ciuman.
"Aku senang kau bersenang-senang, baby, hanya saja ingat kau harus meminta ijin sebelum melakukan sesuatu karena ini bukan rumah kita dan jangan lupa untuk mengatakan tolong dan terima kasih."
Camerri nyengir ketika aku menggelitiki perutnya dan melemparkan senyuman penuh sebelum memberi hormat padaku. "Yes, mwommy!" Dia melonjak sebelum meloncat turun dari pangkuanku dan berlari ke arah Sasuke. Dia berdiri sambil mengayunkan tangannya di depan pria itu. Sasuke menunduk padanya. "Bisakah aku pergi main?" Tanya Cam.
Sasuke menganggu mengiyakan dan gadisku nyengir lalu berlari keluar kamar.
Sebuah senyum masih terplester di wajahku ketika boneka pink Cam menghilang di balik pintu.
"Sepupuku pikir kau adalah penyusup. Dia benar-benar minta maaf dan aku punya meeting yang betulan penting untuk dihadiri. Diadakan di ruang tamu, jadi aku sudah memastikan Camerri tidak ada disana dan sebetulnya kau bisa bergabung, tapi aku tidak tahu apakah kau akan suka dengan hal itu, mengingat kau tumbang pada isu baru-baru ini."
Aku cemberut pada hinaan gamblangnya dan memilih untuk menganggapnya sebagai tantangan. Aku berdiri lurus dan mengangguk. "Baiklah, tunjukkan jalannya."
Sebuah kilatan kegembiraan jahat bermain di mata onyx ituketika kami berjalan ke pintu. Dia mempin jalan kami ke lorong yang penuh dengan lukisan, lukisanku. Mereka adalah barang-barang yang kujual pada keluarga ini dan mereka menggantungnya tanpa cacat di dinding seolah mereka adalah barang sakral.
"Kulihat keluargamu mengagumi seni." Aku berkata memecah kesunyian saat kami berbelok do koridor lain. Sialan, ini pasti labirin.
"Jangan bertingkah seolah kau kaget, miss Namekaze. Kau dan aku, kita berdua tahu kau menjual lukisanku pada orang tuaku ribuan kali." Dia mengatakan itu seolah menyalahkan dan menyuruhku diam atas obrolan kecil ini.
"Kau tahu, itulah yang disebut basa-basi penghormatan. Dan aku yakin kata itu tidak ada dalam kamusmu." Aku menyemburkan kalimat itu untuk menyulutnya, tapi dia hanya tetap berjalan tak terpengaruh.
"Aku memberikan respekku pada siapapun yang berhak dan pada yang pantas dan juga pada yang berharga dalam kehidupan ini."
Ouch.
"Yahh siapapun yang ingin respek harusnya membuat batas ketika menjahati dan membahayakan orang lain secara fisik."
Dia hanya terkekeh dan kekehan kelam itu membuat kakiku mengeriting.
Dia berbalik dam melangkah pada gelembung jarak personalku. Matanya jadi berbadai dan gelap dan aku merasakan jantungku berdetak kencang.
"Miss Namikaze, kusarankan kau memilih ucapanmu dengan bijak ketika berbicara pada seseorang yang punya dan akan selalu punya kuasa. Sekarang aku mempersilahkanmu duduk di salah satu meetingku dengan syarat kau menjaga mulut super cerewetmu, dobe."
Aku mengerjap dengan cepat pada hinaannya dan menelan ludah kasar. "Aku tidak takut padamu." Gumamku.
Sasuke hanya menggelengkan kepalanya dan berbalik lagi.
Sebelum kami melanjutkan langkah, aku mendengar dia berbicara lirih, "Kau harusnya takut,"
Tapi aku mengabaikan itu, meski aku tahu ia benar. Aku membiarkan emosiku menutupi akalku dan aku hanya membatin yang mana sebenarnya hal itu jika kuloloskan akan mampu mendatangakan segudang masalah.
Ketika kami sampai di tangga, aku meloloskan nafasku yang sejak tadi tidak sadar kutahan. Akhirnya aku mampu turun dengan langkah cantik di rumah yang punya lampu berlian super besar ini.
Saat kami berpindah ke ruang tamu yang dipenuhi lelaki bersetelan serta tentu saja Bella, sepupu Sasuke. Aku mengingatkan diriku untuk menutup mulutku dan mendengarkan suara kecil di kepalaku yang menyuruhku untuk jadi anak baik.
Sasuke menggiringku untuk duduk di sofa santai jauh di sudut ruang tamu. Aku mengingatkan diriku jika ini sudah benar-benar kelonggaran untukku diijinkan ikut serta dalam meeting ini, jadi aku patuh dan duduk dengan kalem.
Aku melihat pria-pria bersetelan tak terhitung jumlahnya memenuhi ruangan. Mereka semua memperlakukan Sasuke atau mister Fugaku sebagai tuan. Aku mengamati ruangan ini dan melihat Tom duduk disebelah laki-laki blonde yang tidak menyimak apa yang Tom katakan. Juugo berdiri di sisi kanan Sasuke dan tidak bergerak duduk sebelum semua orang memenuhi ruang di ruang tamu ini.
Juugo akhirnya duduk, tapi tidak dengan Sasuke. Dia menyisir ruangan dan memastikan semua yang diundang sudah datang. Tatapannya berlabuh padaku dan aku mulai menggeliat. Mata panas itu tidak meninggalkan mataku samapi Juugo berdehem.
"Hari ini aku punya beberapa hal untuk didiskusikan dengan kalian. Aku mengundang beberapa dari kalian yang tidak sibuk unuk bergabung denganku di rumah orang tuaku yang akan kutinggali beberapa hari kedepan. Aku sudah memutuskan beberapa hal ini untuk kita diskusikan sebagai keluarga, untuk meyakinkan semua orang benar-benar mengerti cara main dan aturan-aturanku." Matanya kembali menyusur ruangan yang penuh pria yang menatapnya penuh kekaguman dan respek.
"Kisame!" Dia menyebut sebuah nama dari mulut panasnya.
Tatapan semua orang jatuh pada seorang pria di pojokan yang punya wajah hiu. Dia duduk disana penuh kecanggungan, tertekan dan menggeliat seakan ada banyak semut di celananya.
Aku duduk di ujung kursiku untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pria berumur 30 atau lebih tua itu berdiri diantara manusia-manusia yang sedang duduk dan berjalan ke depan. Keringat muncul di atas bibirnya bawah hidungnya.
"Kemarin aku dibangunkan dari nyamannya ranjangku-" Sasuke berhenti dan tatapannya bergerak padaku sebelum menajam pada Kisame. Aku merona dengan parah ketika dia lanjut bicara. "Karena seseorang main-main dengan anggota Akatsukiku di tempat dimana aku bertransaksi dengan sekutu baru kita. Aku terpaksa mengambil alih keadaan untuk menangani masalah ini dan kau tahu apa yang temukan?" Dia menanyakan pertanyaan retoris, tapi dia mendesak Kisame untuk mencoba bicara dan bertanya 'apa'.
Si jahat ini.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
