Hai gess, jangan lupa kalo story ini terjemahan dari story aslinya kak daniel.
Gue masih belajar nerjemah, so yg alus sama projek ini, pls *
ENJOY!
.
.
.
.
.
.
.
Ketika aku bangun keesokan harinya, aku sepenuhnya berharap segalanya kembali normal, tapi segalanya jauh dari normal tentu saja. Aku bangun dan berpakaian dengan pakaian yang disiapkan di atas kasurku. Itu adalah sebuah gaun musim panas berwarna putih, serta sebuah heel pastel dan bracelet. Ini sedikit panas sebenarnya, tapi aku membiarkan rambutku tergerai lurus.
Aku membantu Cam bersiap sebelum kami pergi ke dapur.
Disana sudah duduk Tom, Juugo, Bella, Uchiha senior dan Sasuke. Uchiha Mikoto sedang memasak beberapa hidangan sarapan ketika Cam dan aku masuk, itu juga ketika segala pembicaraan yang sebelumnya berlangsung terhenti.
Cam menyelinap dari gandenganku dan menyisipkan dirinya di sebelah Mikoto, ibu Sasuke ketika wanita itu menyiapkan pancake.
Saat ini tidak ada tatapan yang teralih dariku, semuanya menatapku dengan mata melebar. Aku menaikkan alisku kebingungan.
Uchiha Fugaku akhirnya berdehem, begitu juga dengan Bella. Tapi tatapan Sasuke beralih ke Tom dan laki-laki itu tidak terlihat senang ketika Tom bangkit dari kursinya.
"Kenapa kau kelihatan kaku, Naruto? Kemarilah dan duduk." Tom mencium punggung tanganku, menyebabkan pipiku merona ketika dia menuntunku ke meja yang dikelilingi orang-orang. Sialnya dia mendudukkkanku ke kursi di sebelah Sasuke yang menggerutu.
Setelah semalam dan perpisahan canggung kami, rasanya sulit untuk melihat Sasuke tepat di matanya tanpa mengeritingkan kakiku. Dia sudah menunjukkan padaku sisi berbedanya yang tidak pernah kulihat dan aku cukup terkejut.
"Oh my dear, kau kelihatan cantik! Aku senang gaunnya cocok. Aku tidak tahu ukuranmu tapi aku cukup memaksa." Aku mengangguk pada ibu Sasuke dan menunduk pada sepatuku yang kudapat darinya. Seluruh wardrobe ini cantik dan menyatu dengan indah.
"Terimakasih, berapa semuanya?"
Dia berhenti memotong makanan Cam dan menatapku terkejut.
"Kenapa?" Itu adalah pertanyaan Sasuke.
"Karena aku ingin membayar segalanya jika saja Mikoto-san membeli pakaian ini, singkatnya aku harus mengembalikan uangnya." Ibu Sasuke menggeleng dan berdecak padaku. Aku tidak mengerti.
"Kau tidak perlu membayarku, nak. Segalanya baik, jadi makanlah. Setelah makan selesai, Bella dan Tom, kalian harus pergi ke suatu tempat, begitu juga aku dan Fugaku. Juugo kau selalu sibuk, jadi di rumah hanya tinggal kalian bertiga, Naruto, Sasuke dan Cam dan aku tidak ingin ada hal konyol yang terjadi." Mikoto berkata sambil menunjuk kami bertiga. Aku merona parah pada ucapannya.
"Yes maam." Camerri memberi hormat.
Bella dan Tom selesai. Mereka pergi lebih dulu, lalu Juugo berbisik sebentar pada Sasuke dan ayahnya sebelum semua orang pergi dan betulan meninggalkan kami bertiga di rumah memakan pancake kedua.
Aku memotongnya untuk Cam dan dia mencelupkan potongan kecil itu ke sirup.
Ketegangan yang diikuti tatapan Sasuke serasa melubangi sisi kepalaku. Dia manatapku dalam disetiap gerakan yang kubuat. Ini membuatku merasa buruk dan dia tahu itu. Jadi ketika Cam selesai makan lalu pamit untuk main di luar, aku melanjutkan memotong pancake yang entah siapa yang akan memakannya nanti. Hanya itu satu-satunya yang bisa kulakukan untuk menghindari segala percakapan dengan Sasuke.
"Naruto."
Aku mengabaikan Sasuke. Aku tahu itu membuatnya marah karena dia meloloskan desahan frustasi.
"Naruto, aku bicara padamu. Tatap mataku ketika aku bicara padamu."
Seruannya malah membuatku marah dan pisau yang ada di genggamanku mengkeret mengiris keramik piring. Aku berhenti tepat sebelum aku menghancurkan piring itu.
Tapi aku masih tidak mengacuhkan Sasuke ketika membersihkan piring-piring di meja. Aku sudah mengajukan diri untuk membersihkan piring ketika semua pelayan diliburkan minggu ini.
Ketika aku mendengar bunyi ceklikan, saat itulah pertanyaan tentang pemantik muncul di kepalaku. Bagaimana bisa Sasuke merokok dan selalu punya gigi putih? Maksudku dia tidak sering merokok, mungkin hanya dua kali dalam sehari jika itu tidak buruk. Mental sok-sokan keibuanku mengambil alih dan sebelum aku betulan menyadarinya, aku sudah mencelupkan rokok Sasuke ke gelas jus jeruknya.
Raut wajahnya tak terbaca ketika dia menatapku. Aku hanya berdiri disana merasakan intensitas tatapan itu.
"Apa maksudnya ini?" Sasuke bertanya dengan suara kaget. Tapi dengan cepat dia menutupinya dan kembali bersikpan pasif.
"Merokok itu buruk! Dan… dan yaaah itu buruk, sungguhan buruk untukmu. Kau bisa kena kanker dan itu tentu saja buruk. Jadi, jangan merokok lagi, setuju?... setuju."
Tawa kecil yang menjawab gerutuanku membuat bibirku melengkung turun. Aku melanjutkan bersih-bersih.
Sasuke masih tertawa kecil dan itu berubah jadi sebuah tawa betulan. Aku tidak mengerti apa yang lucu.
Aku meletakkan beberapa piring kotor ke washtafel sebelum mendengar bunyi pemanitik lagi. Ini membuat darahku mendidih untuk beberapa alasan tak jelas. dan aku bergerak kearah Sasuke, kali ini aku tidak menahan emosiku. Ketika aku sampai di bangkunya yang dia gunakan untuk duduk miring itu, aku mendorong kakinya mengangkang dan membuat diriku berada diantaranya hanya untuk meraih stik kanker yang ada di tangannya.
"Kemarikan itu, bajingan!" Sasuke tertawa pada pilihan kataku dan malah membuatku semakin marah.
"Bajingan? Wow Naruto, aku tidak tahu kau bisa membuatku lebih terhibur, dobe."
Aku berusaha meraih rokok itu lagi dan ketika aku tidak bisa mendapatkannya, aku melakukan satu-satunya yang bisa kulakukan. Aku meraih air dan mengguyurkan itu pada Sasuke yang mana juga membuat rokoknya jadi bubur.
Sasuke marah sekarang, aku tahu itu ketika matanya menggelap dan ototnya kaku, jugaaaaa.. rahangnya mengeras. Dia berdiri dari bangkunya dan mengibaskan air dari rambut dan matanya. Sasuke jadi lepek, dan jika ini bukan sedang dalam situasi berbahaya, aku akan tertawa dengan keras untuk pria ini.
Aku menekan tawaku karena tahu tidak akan ada hal bagus yang akan muncul karenanya. Tapi ketika aku merasakan air menyemprot kearahku, aku memekik. Ini belum berakhir… dan aku baru menyadari itu berasal dari keran washtafel.
Ketika Sasuke selesai bermain dengan balas dendamnya, aku mengusap mataku dan mengerjap perlahan hanya untuk disambut wajah iblis tampan Sasuke.
Aku jauh lebih lepek darinya dan rasanya sepatuku sudah kebanjiran. "Teme, kenapa ka-" Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, dia menginterupsi.
"Aku suka warna hitammu. Lihatlah, kalian serasi."
Tunggu, aku tidak memakai baju hitam- oh sialan. Aku baru saja menyadari gaunku putih dan tepat di detik ini, aku bisa melihat tembusan dari gaunku. Aku merona dengan cepat dan berlari kebelakang counter ketika dia berjalan mendekatiku. Sebelum aku bisa berlari, dia sudah menangkapku dan mendorongku dengan keras ke dinding.
Itu tidak sakit, tapi kenyatannya itu menyulut api dalam diriku ketika aku menatap mata gelap berbadai Sasuke. Mereka menakjubkan dan menghipnotisku dengan cepat.
Tatapannya turun dan aku menarik pipinya untuk kembali sejajar denganku. "Jangan berani-beraninya kau melihat."
Dia hanya menyeringai, membuat kakiku gemetar. Jika dia tidak menahanku, mungkin aku akan jatuh sekarang.
"Sekarang biarkan aku pergi dan berganti pakaian.. please." Aku berkata. Dia menggelengkan kepalanya dan membuatkan kecipratan sisa air di rambutnya.
"Hn." Sasuke berbisik dengan suara huskynya, mengirimkan getaran ke kaki-kakiku. Aku tidak bergerak ketika dia menggerakkan bibirnya di rahangku. Putaran-putaran emosi memenuhiku ketika dia mencapai bibirku. Ini dia. Ini akan terjadi dan aku tidak mengendalikannya. Giginya menarik bibir bawahku dan membawanya masuk ke mulutnya.
Aku mengeluarkan geraman frustasi ketika dia melepaskan bibirku dan melangkah mundur. Aku menarik dasinya, tapi dia menolak dengan keras kepala, menyingkirkan tanganku dari bajunya.
"Hn." Hanya itu yang dia ucapkan dan itu membuatku marah. Bagaimana bisa hanya 'hn yang ia tahu ketika aku sangat jengkel. Dia tidak bicara seperti manusia normal!
"Mommy mwommy.. wow, apa yang twerjadi?" Aku melepaskan diriku dari tembok ketika Camerri menatap kami dengan mata besarnya.
"Nothing, oh kami baru saja.. main perang air." Dustaku.
Cam tertawa dan berlari kearahku sebelum membisikiku sesuatu. "Mwommy, kau harus ganti pwakaian. Kita bisa melihat dadamu." Aku berjengit tapi aku juga tertawa padanya dan mengangguk sebelum menoleh pada Sasuke.
"Okay, kau akan tetap di dalam rumah sampai mommy kembali. Kupikir Sasuke juga ingin ganti." Mataku tidak lepas dari Sasuke ketika aku bicara. Cam mengangguk, memberiku ciuman dan pergi bersantai di sofa.
Aku mengabaikan Sasuke ketika mulai beranjak sampai dia memecah keheningan. "Aku punya pekerjaan. Aku akan kembali untuk makan malam. Kau bisa memesan atau masak. Terserah."
Aku berbalik untuk mengamatinya tapi wajahnya biasa saja dan disana tidak ada yang bisa untuk diamati.
Aku mencoba matanya, tapi tidak banyak juga yang kutemukan disana. Itu menggangguku, bagaimana bisa dia menyembunyikan segalanya dariku hanya dalam kedipan mata ketika segala emosiku menari-nari tepat di depan mataku. Tanganku mengepal dan aku mengumpat ketika menampar wajahnya. Dia lebih dari terkejut pada tingkah tiba-tibaku.
"Listen! Kau tidak bisa mempermainkanku seperti ini. Aku tidak akan mentoleransi ini! Aku berusaha keras dekat denganmu, tapi kau mendorongku. Aku benci itu, sialan! Dan jika kau belum menyadarinya, aku tidak menghargai orang-orang bermuka dua!" Kata-kata kasarku keluar begitu saja dan wajah Sasuke berubah marah. Aku mengambil langkah mundur untuk mempelajari ekspresinya dan sungguhan dia kelihatan lebih dari murka.
"Apa yang kau pikirkan, huh! Aku tidak butuh kau! Aku tidak punya perasaan padamu! Aku disini hanya untuk uang!" Sasuke berteriak lebih keras dari seharusnya dan membuatku terjengkang sedikit. Sengatan rasa sakit ini… aku tidak tahu dari mana asalnya dan aku tidak butuh itu sekarang.
Aku membuka mulutku untuk bicara tapi dia mendahuluiku.
"Wanita sangatlah naïf. Mereka pikir mereka bisa mendapatkan segalanya! Tapi kau tidak mengenalku dan tidak akan pernah! Kau bukan Cinderella spesial yang hidup di fantasi dongeng Disney. Ini kenyataan, Naruto, bangunlah sialan!"
Aku serasa tertampar. Aku tidak pernah hidup dalam dongeng dan aku sama sekali tidak naïf.
Aku mengepalkan tinjuku dan berpikir sesuatu yang bisa kukatakan. Tenggorokanku tersumpal rasa sakit dan jantungku berdegup kencang. "Berhenti pura-pura seolah tidak ada yang bisa menyakitimu! Kau juga manusia sepertiku!" Dibagian terakhir, aku tak begitu yakin, tapi Sasuke tidak terlihat terkesan dengan ucapanku.
"Tidak ada yang bisa menyakitiku. Kupikir kau dari sekian banyak orang sudah menyadari hal itu. Sialan, Naruto! Kau pikir kau siapa, sialan? Aku bisa membunuhmu dalam dua detik tapi kau pikir kau spesial bagiku! Kau tidak berarti apapun bagiku! Satu-satunya alasan aku membiarkanmu hidup adalah gadis kecil yang sedang menunggumu di bawah sana!"
Aku tidak tahu kenapa ini sangat mempengaruhiku. Ucapan Sasuke serasa menusuk-nusukku.
"Jangan sangkutkan anakku dalam hal ini. Dia tidak ada hubungannya." Suaraku lirih, tapi aku yakin Sasuke mendengarnya.
"Oh, percayalah dia punya andil dalam hal ini. Disinilah kau menjadi naïf lagi. Satu-satunya yang harus kau khawatirkan adalah kebohonganmu!" Dengan ucapan ini, Sasuke pergi, membanting pintu kamarnya.
Aku memekik frustasi dan pergi ke kamarku. Ketika aku membanting pintu, aku merasakan emosiku membuatku jatuh. Aku terjerambab ke lantai dan punggungku menekan pintu. Dan itulah ketika air mataku meleleh. Emosiku mengambil alih.
Ketika sebuah ketukan datang di pintuku, aku tidak bangun untuk membukanya. Aku hanya duduk disana sambil menangis.
"Naruto." Suara Sasuke menembus pintu. Aku meloloskan isakan dan cegukan yang mana kuhitung sebagai jawaban untuk panggilannya. "Aku berangkat, Cam ada di bawah, aku akan kembali." Setelah itu aku mendengar suara langkah kaki dan aku tahu ia sudah pergi.
Sasuke benar, anakku ada di bawah dan dia butuh aku. Untuk menyuapinya dan memandikannya.
Dengan perlahan, aku bangun dan pergi ke tas packing. Aku berganti dengan sebuah kaos dan celana pendek sebelum mengusap mataku sedikit dan beranjak ke pintu. Ketika aku membukanya, aku separuh berharap akan menemukan Sasuke, tapi dia tidak ada disana. Aku menggerakkan langkahku dan berlari turun.
Cam tertidur di sofa.
Kebohonganku soal Camerri perlahan menggerogotiku dan sebenarnya itu dulu sama sekali tidak pernah mengusikku. Jadi aku berbaring di sebelah Cam, si kebahagian dan cintaku. Aku menangis lagi. Air mata menuruni pipiku dan aku meletakkan kepalaku lebih dekat pada Cam. Aku merasakan energiku mulai meredup.
Aku menghela nafas sebelum kantuk membawaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke's POV;
.
.
Dia membuatku lebih marah lebih parah dari aku yang pemarah biasanya. Dia sangat naïf dan mengganggu. Setelah aku merusak moodnya semalam, dia memiliki keberanian untuk tidak mengacuhkanku. Dia pikir dia siapa? Dengan pakaian itu!
Aku menyiapkan diriku sekarang untuk pergi ke bawah tanah yang merupakan salah satu dari kantor terbaikku yang ada di dunia bawah. Keamanan yang kusediakan sangat mahal dan terjamin. Kami punya paling tidak 3 laki-laki yang tersebar di setiap ruangan, menunggu pengadilanku. Ya, aku sudah membunuh 3 pengacau di gangku tapi masih ada lagi. Dan aku sudah mengatur rencana untuk mengetahui siapa itu. Tidak boleh ada yang berani menyabotaseku dan harusnya mereka menyingkir. Darahku mendidih merasakan keinginan balas dendam ketika aku menyimpulkan dasiku.
Ketika aku selesai, aku berjalan ke koridor dan berhenti di pintu Naruto. Isakan datang dari sisi seberang dan aku tahu dia sedang menangis. Sebuah sengatan menerpa dadaku tapi aku menyisihkannya. Aku senang dia menangis, yang mana mengartikan dia mengerti ucapanku tadi. Aku mengetuk ringan pintunya. Tidak ada jawaban.
"Naruto." Yang jadi jawaban hanyalah sebuah cegukan. Siala. Aku merunduk mencoba untuk mengabaikan perasaan sakit yang membuat kepalaku pening. "Naruto, aku berangkat, Cam ada di bawah, aku akan kembali." Aku tidak mendengar apapun, jadi aku berbalik dan munuruni tangga tanpa berbalik lagi.
.
.
.
.
.
"Kumohoooon ku-mohon, pleaseee." Pria ini memohon ketika aku memotong jarinya yang lain. Ini pekerjaan yang kotor, tapi aku ingin jawaban dan dia tidak memberikan apapun padaku. Jadi aku melakukan hal cerdik dengan menembaknya.
"Sasuke, kenapa kau melakukan itu?" Juugo bertanya. Aku mengeluarkan serentetan makian dan berbalik pada korbanku selanjutnya. Aku tidak dalam mood untuk mentoleransi penghianatan terlebih pada siapapun yang berpikir dia sangat heroik dengan menyimpan rahasianya.
"Yo, kau kehilangan dia." Tambah Tom. Aku melempar tatapan padanya dan dia mengangkat bahu. Kemarahan berkobar dariku ketika dia bicara lagi. "Ada seorang gadis yang membuatmu bertekuk lutut." Ucapnya seperti hal ini adalah kenyataan dan aku merasakan tanganku gatal ingin mencekiknya. Dia terlalu banyak bicara untuk keselamatannya.
"Shut up, Tom. Atau kau akan kehilangan lututmu."
Tom menggaruk hidungnya tapi tidak kelihatan takut. Aku tidak terkejut, Tom dan Juggo sudah mengenalku sejak dulu, jauh sebelum aku menggeluti dunia ini. Sejak kami berpopok. Itulah kenapa dia tidak takut padaku seperti kebanyakan 'anggota keluarga' yang lain.
"Se non sapevo megkio lo sarei d'accordo con Tom. allora cosa e succeso?" [trans: jika aku tahu, kupikir aku juga akan setuju dengan Tom. Jadi apa yang terjadi?] Tanya Juugo ketika aku mengelap pisau yang tadi kugunakan. Darah yang ada bersinar diterpa lampu. Sesuatu tentang itu membuatku ingat sesuatu.
"Tidak ada, oke! Kenapa kalian para sialan berpikir ada yang terjadi?" Juugo mengangkat alis dan Tom tertawa kecil seperti remaja. Aku menyingkirkan mereka dari hadapanku dan berlanjut ke kamar selanjutnya dimana seorang lak-laki menunggu memohon untuk kehidupannya. Aku bertanya sekali dan dia tidak menjawab. Aku kehilangan kesabaranku dan menembaknya ditempat dimana dia tidak akan pernah bisa sembuh.
"OH TUHAN." Dia berteriak ketika darah meresap di celananya. Juugo meringis dan Tom menutupi selangkangannya sebagai bentuk proteksi. Itu membuatku tertawa kecil ketika pria yang kutembak menangis meminta bantuan.
"Kutanya sekali lagi. Siapa penghianat itu?"
"Bunuh saja aku."
Tentu saja aku tidak melakukannya. Dia akan membayar karena tidak menjawabku. Aku akan mengirim pria itu ke penderitaan sampai dia berbicara. Jika aku mengambil pelajaran dari segala yang sudah kulakukan, aku tahu ada hal yang lebih buruk dari kematian. Di kasus pria ini, aku akan membiarkannya tetap hidup dan terus menyiksanya. Tapi sayang ketika aku melihat ke jamku, aku jadi kaget sendiri. Ini sudah jam 12 dan aku tidak pergi makan malam. Ah fuck. Ibu akan memotong kepalaku.
Aku mengeluarkan diriku dari ruangan ini dan berlari. Sepatuku menapak trotoar dan bajuku ternoda darah tentu saja, begitu juga tanganku. Tapi aku mengabaikan segalanya dengan masuk ke mobil.
"Come on." Aku tidak butuh mensugesti diriku lagi ketika mesin mobilku menyala.
Ketika aku sampai di rumah, aku melihat ruang tamu masih menyala. Jantungku berdegup ketika aku mendorong otakku untuk berpikir apa yang akan kukatakan pada Naruto.
Bagaimana bisa aku bicara pada Naruto setelah aku menakutinya dengan kebenaran seperti tadi.
Aku bergerak membuka pintu dengan ragu. Oh jantanlah! Aku menyelinap keluar dari mobilku. Jaketku tersampir di tangan ketika aku menghentak ke depan.
Ketika aku membuka pintu rumah, aku mendengar suara berisik yang sepertinya berasal dari tv. Aku pergi ke dapur lebih dulu dan melihat sticky note di kulkas.
"Makanan ada di kulkas." Itu yang tertulis disana dengan tulisan tangan cantik.
Tentu saja aku tidak makan. Aku tidak akan membuang waktu membuka kulkas juga. Aku pergi ke ruang tamu dimana tvnya menyala. Ketika aku berada di ambang pintu, aku melihat creditnya sedang berputar di layar, kelihatan seperti film tinker bell. Tapi tatapanku tertuju pada sesosok yang berbaring di sofa. Selimut kecil menyelimuti tubuhnya dengan satu tangannya tergeletak malas di atas kepala.
Aku berkutut di lantai dan memposisikan diri sedikit lebih tinggi dari sofa.
Mata Naruto basah dan bibir merahnya cemberut. Dia tidak kelihatan damai dan bahagia. Dia kelihatan stress dan kecewa dan aku tahu betul kenapa. Aku menyisir rambutnya dan menatap matanya. Mereka tertutup rapat dan bulu mata pirangnya yang panjang menampilkan bayangan di pipinya.
Kau tidak bisa menatapnya tanpa melihat emosi yang ia punya.
Hanya saja.. itu tidak membuatku takut ketika mereka perlahan terbuka.
Naruto melihat jam dan mulai melihatku yang menatapnya. Aku tidak bergerak.
"Makanan ada di kul-"
"Aku tahu."
Alisnya naik ketika dia melihatku penasaran. Naruto tidak bicara, begitu juga denganku karena tidak banyak yang bisa kita ucapkan. Aku hanya menatap dalam-dalam matanya yang seperti mengakui keberadaanku.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto's POV
.
.
Aku tidak menyadari ketika dia masuk dan sekarang kami terjebak dalam sebuah kontes tatap-menatap ketika tubuhku terbaring di sofa yang tadi kutiduri. Aku sudah memasak dan menciba terjaga tapi rasanya mustahil terlebih ketika film Tinker Bell yang kutonton adalah film paling sedih sejagat raya. Aku tadi menangis dan tidak yakin pada rasa kecewa yang tiba-tiba merambatiku.
Bibirku terbelah ketika aku menjilatnya. Aku lelah, tapi aku tidak bisa bergerak dan aku penasaran kenapa aku tidak bicara. Aku tahu jauh di lubuk hatiku aku berharap dia minta maaf dan menjadi manusia pada umumnya seolah dia hanya akan jadi normal saat bulan purnama.
Mataku bergulir ke setelannya yang penuh darah dan alisku terangkat. Darimana saja dia?
"Kenapa ada darah di bajumu?" Itu yang pertama keluar dari pikiranku dan aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Kau tahu pepatah bilang, curiosity kills the cat.
Sasuke hanya menarik nafas dalam sebelum bicara dengan suara seraknya. "Bukan apa-apa. Aku punya beberapa masalah yang harus diurus dan jika kau ingin detilnya, kau pasti akan kecewa."
Dia benar, seperti biasanya. Tapi rasa marahku mengambil alih ketika dia menatapku dengan tatapannya sekarang.
"Kau berjanji kau akan kembali." Dia terlihat seperti tertangkap basah dan aku tidak terkejut. Sangat masuk akal dia lupa.
"Aku tahu, aku tahu, aku minta maaf."
Wait what?? Apa Sasuke baru saja minta maaf???
Aku tidak percaya dia mengatakan 'maaf'. Tapi malahan aku mengambil keuntungan dari permohonan maafnya yang mungkin jadi yang pertama dan terakhir ini.
"Kau berantakan." Aku menarik anak rambutnya yang menjuntai di dahi. Dia tidak bergerak. Dia hanya menonton pergerakanku dengan mata intensnya. Aku meraih poni lainnya tapi dia menarik tanganku… dan mencium punggung tangan milikku.
Jantungku berdebar-debar dan mataku menutup ketika aku merasakan gemuruh perasaan yang melanda. Sebuah kecupan baru saja kuterima.
"Aku tahu, kuharap aku bisa mandi dan mengenyahkan ketidak rapihan ini."
Mataku terbuka pada ucapan lembutnya dan mataku kini bergulir pada tanganku yang masih digenggam Sasuke. Ini adalah sejenis perasaan hangat ketika dia mengaitkan jemari kami pelan-pelan. Badanku menggigil dan pipiku menghangat oleh cipratan tinta merah. Aku kebingungan pada bagaimana cara Sasuke menunjukkan kasih sayang. Namun aku tidak mempertanyakannya secara gamblang ketika aku menghianati pikiranku dan meleleh pada kenyamanan sentuhannya.
"Kau membuatku bingung." Itu meluncur begitu saja, sumpah. Aku menunggu tingkahnya yang biasanya berubah tiba-tiba, tapi dia tidak bergerak. Wajahnya pasif dan matanya tidak menunjukkan satu emosipun. Jika ada satu yang dia mahiri, aku yakin ini.
"Sudah kubilang, aku orangnya begini." Ini membuat senyuman kecil menyentuh bibirku ketika aku merasakan kelegaan dan kenyamanan jatuh di mataku.
"Begini? Please itu bukan sebuah analogi kan." Cemoohanku membuatnya bergeleng kepala diikuti kekehan. Ketika matanya menemukan mataku lagi, aku menemukan jantungku berdebar lebih cepat dari sebelumnya.
"Naruto, i tuoi occhi sono belli moi amore." [trans: matamu indah, my love] Bahasa Italianya yang serasa omong kosong bagiku itu membuat kupu-kupu berterbangan di perutku.
"Apa artinya itu?" Hanya itu yang keluar dari pikiranku.
Dia bergerak dan melayang diatasku. Aku mendongak menatapnya.
"Itu artinya kau punya mata yang cantik, my love."
Hatiku berbunga dan aku merasakan perasaan manis mengerubungi perutku dari gombalan Sasuke.
Aku tidak tahu apa yang harus kuucakan ketika udara di sekitar kami memberat. Jadi aku menggerakkan kepalaku dan menyematkan sebuah kecupan mengambang di pipi Sasuke. Dia menggelitiki bibirku ketika aku berlama-lama di pipinya. Aku tidak bisa bergerak ketika bibirku menyapu pipinya dan turun ke rahangnya.
"Aku akan pergi tidur." Bisikku.
Sasuke mengangguk ketika aku menyingkirkan tanganku, seketika itu juga aku menyesal. Dia berguling ke samping sehingga aku bisa lewat, meninggalkan diriku dengan selimut berantakan. Aku beranjak dari sofa.
Kubisikkan goodnight dan mulai bergerak, merasakan sebuah perasaan baru memenuhiku.
Ketika aku berjalan ke kamarku, aku merasakan pipiku menghangat saat mengingat apa yang baru saja terjadi. Tapi jantungku membeku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada perasaan kaget yang tiba-tiba merasuki. Segalanya tertuju pada sebuah teriakan yang menembus dinding-dinding. Satu-satunya teriakan yang kuatahu milik siapa itu.
Camerri!
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
