WARNING! Ini cuma drables yang saya buat dengan tujuan merefresh otak yang lagi danger karena udah kelas 3. Banyak typo/s/ yang akan anda temukan disini. Ini fict yang didalamnya terdapat bashing chara. Saya menerima apapun pikiran anda. Just blame me if you want. Silent readers? Review kalian lah yang paling saya tunggu, sebenernya. Yo!
.
.
"Dobe, ayo kencan." Sasuke meletakkan penanya dan mendorong buku tulisnya sendiri ke arah Naruto yang sibuk mengangkat tempat pensil kuningnya sambil bergumam 'nguung nguuuung, terbaaang'.
Naruto meletakkan kotak pensilnya ke meja kemudian mengambil buku Sasuke. "Jangan berisik, teme. Ini perpustakaan." Tangan kanannya sekarang mengapit pena dan saphire langit musim panasnya menjelajah angka-angka yang diberi lambang Integral yang ditulis rapi dibuku tulis milik Sasuke itu.
Sasuke mendecak. "Hn." Onyx Sasuke mengamati semua gerakan yang dibuat Naruto yang sekarang sudah mulai menyalin pekerjaannya. "Pulang sekolah nanti kita kencan. Ada tempat yang ingin aku datangi bersamamu." penyakit tidak mau dibantah Sasuke kumat.
"Hari ini ada jam sore, teme. Masa mau pergi pas pulang les?" fokus Naruto tetap pada barisan jawaban pr matematika yang baru diberi tadi pagi dan harus dikumpulkan besok milik Sasuke. Beruntung Naruto memilik si jenius pelit Sasuke yang rela membagi jawabannya pada si oon manis Naruto. Apa sih yang tidak akan diberikan Sasuke Uchiha pada Namikaze Uzumaki Naruto? Uh.
"Sepulang les juga tidak buruk."
"Tidak mau ah. Akhir-akhir ini aku terlalu rajin. Aku ingin bolos les. Aku juga tidak mau kencan denganmu. Aku sudah punya janji." Lidah Naruto terjulur untuk mengolok Sasuke.
Otot dibawah mata Sasuke berkedut. "Dasar bodoh. Mau kemana kau? Tidak mungkin jika pulang."
Naruto nyengir kuda. "Aku mau ke Kirigakure."
Sasuke melotot. "Kau mau kemana?! Kirigakure?! Mau cari Nagato?! Yahiko?! Atau jangan-jangan kau punya kecengan baru?!" suara Sasuke yang meninggi membuat beberapa murid menoleh pada pasangan paling hot se-Konoha yang duduk di bangku pojok dekat rak paling ujung itu.
"Heheh. Aku janjian ketemu Pain." Naruto mode liar kumat.
"Cih, dobe. Sekarang kau bahkan mendekati anak itu? Apa bagusnya wajah penuh tindik itu, heh!" rahang tegas Sasuke mengeras.
"Pierching Pain keren kok. Lagipula dia kan wakil ketua OSIS. Lumayan lah~" Wajah Naruto berbinar.
"Ya Tuhan." Sasuke ingin sekali menjambak rambut blonde Naruto yang sekarang digelung tinggi dengan asal dan memperlihatkan tengkuk mulus yang membuat Sasuke beberapa kali salah fokus. "Aku malahan ketua OSIS, dobe. Dilihat dari manapun, aku jauh lebih keren dan tampan." Mengetuk-ketuk meja dengan telunjuk kanannya.
Tangan Naruto berhenti menulis. Bibir pinknya mengerucut. "No. Chicken butt mu itu loh, teme! Alay." Percaya saja, bahwa hanya Naruto yang dengan lantang mengatai Sasuke. Oh, hitung juga sulung Namikaze Uzumaki. Kalian harus bertemu dengan si raja satan itu.
"Ini sensasional, dobe." Sasuke berkata nista sambil mengelus sayang rambutnya.
"Alay." Bola mata Naruto memutar jengah.
"Hn." Bibir Sasuke mengatup marah.
Naruto ingin melanjutkan menconteknya, tapi dengan mood swing Sasuke, Naruto memilih bungkam dan iseng mengusapi garis tekstur kayu mahoni mejanya.
"Apa jika aku mengubah gaya rambut, kau mau menikah denganku?" mata tajam Sasuke fokus pada Naruto.
Tersedak ludahnya sendiri, Naruto berpikir dirinya akan mati duduk. "Gila. Apaan sih maumu, teme?!"
"Aku sedang melamarmu, bodoh. Dasar idiot."
"Oh! Aku tidak idiot, brengsek! Dasar tidak romantis."
"Dobe. Sekarang jawab. Mau menikah atau kencan?"
Tanpa bisa ditahan, pipi Naruto bersemu. Naruto mengutuk pikirannya yang sempat berpikir meng'iya'kan. "Teme dungu! Aku tidak mau keduanya ttebayo! Aku masih 17!"
Sasuke tidak berkata apapun. Hanya membereskan bukunya yang akan disalin Naruto dan menunjukkan tanda-tanda ingin beranjak.
"O-oh teme~" Naruto mengais tangan Sasuke.
Si raven diam menuntut jawaban yang diinginkannya dari si blonde.
Bahu Naruto turun dan senyum lima jari andalannya yang dipaksakan menghiasi wajahnya. "Oke. Sepulang sekolah ayo kencan."
Sasuke duduk anteng kembali dan berkata, "Kuberi waktu 10 menit untuk menulis. Setelahnya ayo berangkat."
"Apah? Kau tidak les dulu, aku akan bolos dan menunggumu di kantin. Aku oke kok. Yang jelas aku tidak ingin otakku dipaksa rodi." Wajah jijik Naruto muncul dan tangannya kembali bekerja sambil matanya sesekali melirik Sasuke.
"Aku tidak akan membiarkanmu menunggu, dobe. Kencan denganmu terdengar lebih menyenangkan daripada cari ilmu." Sasuke nyengir yang membuat wajahnya makin tampan.
"Hii. Wajahmu mengerikan, teme." Naruto menundukkan tubuhnya agar tidak melihat wajah tampan aneh milik bungsu Uchiha.
"Hn." Tangan putih porselen Sasuke menyelip kebelakang tengkuk Naruto. "Bagaimana kau pulang kencan nanti aku bicara pada orang tuamu kalau kita akan menikah?"
"Teme gilaaa!"
.
.
Oh tuhan! Jadi anak kelas 3 itu belibet. Bimbel lah. Ngurusin data lah. Cari info universitas lah. Beuh buat gue yang notabene wakil ketua kelas, tambah banyak banget pr nya. Udah ah, Cuma pengen bilang; buat siapa aja yang lagi panas otaknya, keep calm. Gausah memvorsir diri. Apa aja yang terlalu berlebihan itu pasti gak baik. Thanks banget buat kalian yang review, fav dan follow ^^. Dukungan kalian itu loh, bikin gemes pengen posting lagi. Hahah!
ULTIMATE. NARUTO. 520!
