WARNING! Naruto cewek ya disini^^. Didalam fict ini anda akan menemukan bashing chara. Just blame me if you want. Atau jangan terusin baca kalo bener-bener gak tahan. Saya menerima apapun pikiran anda. Yo!
.
.
"Sasuke, apa kau punya pacar?" anak perempuan berambut merah darah dengan kacamata di wajah putihnya itu menggandeng lengan Sasuke yang berjalan di kanannya.
Sasuke diam saja. Menatap lurus seolah di ujung koridor sepi ini ada malaikat pencabut nyawa yang menantinya.
"Tidak? Oh kenapa? Kurasa kau harusnya punya beberapa."
Sasuke tetap diam. Apa jika dia mati dia akan bisa melihat bagaimana wujud malaikat maut?
"Mau berkencan denganku?"
"..." bagaimanapun juga, Sasuke belum ingin mati sekarang.
"Bagaimana kalau hari minggu kita ke mall?"
"..." bagaimana nasib Aphroditenya yang ia tinggal nanti? Jika malaikat maut ada di ujung koridor, dia akan meminta agar diijinkan hidup lebih lama.
"Ok aku akan menunggumu dirumahku. Kau tau rumahku kan?" anak perempuan itu berkata seolah Sasuke memang meresponnya dengan positif. Tanpa sungkan, si perempuan mendekap erat lengan berbalut almamater seragam Sasuke.
"..." ya dan malaikat maut harus mau mengabulkan permintaan Uchiha. Harus. Uchiha Sasuke kan absolut. Eh.
"Yeay senangnya Sasuke mau kencan denganku." Anak perempuan itu memekik senang.
"..." oh tapi ngomong-ngomong bagaimana rupa malaikat ma—, "Ya Tuhan, ya Tuhan." Sasuke menghentikan langkahnya tiba-tiba dan mulutnya komat-kamit. Manik onyx-nya melihat didepan —ujung koridor ada sosok pendek dengan seluruh tubuh tertutup jubah hitam lengkap dengan tudung kepala yang runcing di puncak. Sasuke berani bersumpah jika ia tadi hanya sedang iseng membayangkan malaikat maut, tanpa maksud memberi tahu Tuhan bahwa dia ingin jadwal bertemu malaikat maut dipercepat.
Anak perempuan disamping Sasuke menatap bingung Sasuke yang mencebikkan mulutnya. Wajahnya terlihat lebih pucat dari beberapa detik lalu. "Ada apa, sayang?" dengan sayang dia menyentuh dan mengusap pipi putih si bungsu Uchiha.
Sasuke melotot saat menangkap siluet di ujung koridor itu mendekat. Seharusnya dia tadi tidak usah ikut rapat bersama dengan OSIS Kirigakure. Dia yakin 100% OSIS Konoha mampu menyelesaikan project walikota untuk sekolah bersih nasional. SMA Konoha sudah cukup memenuhi persyaratan yang diajukan. Tidak perlu harus bekerja sama pembagian tugas dengan SMA tetangga itu. Dengan begitu dia tidak akan terjebak bersama ketua OSIS berambut merah dari Kirigakure ini juga 2 waka Kesiswaan yang sudah hampir uzur dan tidak berhenti mengoceh tentang visi misi sekolah yang perlu dirubah. Dan utamanya adalah dia tidak perlu bertemu dengan malaikat mautnya sekarang.
Sasuke menatap sosok yang semakin dekat itu dari atas ke bawah. Dan matanya harus kembali menggelinding melihat sosok itu membawa ember ditangan kirinya. Ember? Dan bagaimana bisa si malaikat maut itu punya wajah mirip Namikaze Naruto?
Sasuke merasakan lengan kirinya direngkuh kuat oleh Uzumaki Karin—anak perempuan yang baru disadarinya terus menempel. Baru detik yang lalu dia meninggalkan perhatiannya dari si malaikat maut, di detik ini dia melihat malaikat maut yang punya wajah Naruto-Aphrodite itu berlari kearahnya.
Sasuke menemukan dirinya melihat cairan yang keluar dari ember yang dipegang oleh si pelari malaikat maut. Darah? "Ya Tuhan, ya Tuhan." Sekali lagi Sasuke merasa dia ingin dekat dengan Tuhan. Hormon adrenalinnya mengucur deras. Oh dia harus mengajukan permintaannya sekarang.
Sasuke baru akan membuka mulut saat si Aphrodite malaikat maut sudah tepat didepannya dan tersenyum miring. Si bungsu Uchiha mengakui dia sangat terobsesi pada si bungsu Namikaze. Dia benar-benar menyadari bahwa dia amat menyukai si blonde bodoh itu sampai-sampai terpesona pada senyuman miring si malaikat maut yang mirip Aphrodite. Sasuke tidak lagi memikirkan permohonannya. Dia bahagia bisa tetap mengenang gadis yang disukainya sampai akhir hayat. Sasuke sadar dia brengsek karena dari dulu sampai sekarang suka menyakiti hati gadis yang menyukainya. Fans-fansnya terlalu membisingkan. Tapi sampai detik ini, dia bangga pada dirinya sendiri yang mampu mengabadikan wajah gadis yang dari dulu sampai sekarang menggantung perasaan sukanya. Si Dobe Namikaze memang spesial di mata si Teme Uchiha. Sasuke tersenyum tipis.
"Kau kotor, Teme." Dan si malikat maut dengan kecepatan kedipan mata, berjinjit dan menumpahkan isi embernya keatas kepala si raven Uchiha. "kau ditempeli gadis tidak tahu diri," Naruto melirik tajam Karin yang melotot sambil gemelatuk gigi. "Dan sebagai orang yang kau anggap tunangan, aku sedang berbaik hati membersihkanmu."
Sasuke kelihatannya mengalami delusi parah. Pertama, isi ember itu bukan darah. Hanya air. Kedua, itu bukan malaikat maut. Hanya si Dobe. Entah ada apa sampai blonde itu berjubah. Ketiga, bagaimana si diktator Uchiha ini bisa dengan mudah dibully dengan air yang sekarang sudah membasahi pakaiannya? Keempat, bukankah Uzumaki Karin disebelahnya ini masih sepupu dari Kushina Uzumaki Namikaze, ibu Naruto?
Dengan kasar, dia mengusap wajahnya yang masih meneteskan air. Hell, dia merasa dingin sekarang. Sasuke melangkah terburu saat menemukan Naruto sudah berjalan menjauh.
Naruto berbalik kasar sampai tudung jubahnya terbuka. Menampakan rambut blondenya yang terurai. Lengannya dicekal oleh Sasuke yang basah.
"Ada apa, sayang?" dengan lirikan tajam, Naruto meniru suara Karin saat memanggil Sasuke.
Bukannya marah, Sasuke malah memeluk Naruto. "Aku tahu kau akhirnya tidak akan mampu menolakku. Kau memang tunanganku. Aku menyukaimu, Naruto. Kau juga menyukaiku, 'kan?"
Naruto yang merasakan jubahnya mulai meresap air dari baju Sasuke, mulai meronta. "Hanya dalam mimpi indahmu, brengsek! Lepas! Jubahku jadi basah nanti. Ini jubah klub drama tahu. Aku bisa dipenggal Anko-sensei!"
Sasuke tidak menghiraukan Naruto yang mengamuk dalam pelukannya, malahan Sasuke semakin ingin menekan kepala kuning itu ke dadanya. "You're jealous, sweety."
Naruto mencubit pinggang Sasuke sampai dia bebas. "You're sick, bastard!" tanpa koordinasi lagi, dia berlari menjauh. Bajunya sudah terlanjur basah—walaupun tidak sepenuhnya.
"I swear I'll hold you 'til I die. Naruto!" layaknya drama, Sasuke berlari mengejar sang pujaan hati sambil menyeru nama Aphroditenya.
Karin berdiri tegak sambil menggigit pipi dalamnya. Sudah dia tunggu saat-saat dimana ia mendapatkan laki-laki yang disukainya dan dihancurkan begitu saja oleh salah satu dari sekian banyak orang yang dibencinya. Karin dengan tidak malu, meludah di lantai koridor sepi SMA Konoha itu.
.
.
Pertama; Saya mohon maaf atas segala bentuk typo di chap 2. Waktu itu saya buru-buru dan gak sempet cek ulang.
Kedua; Mohon maaf lagi kalau di chap ini masih ada typo. Saya sudah membaca ulang dan saya cukup puas dengan ini tapi saya hanya manusia yang kadang khilaf \/ dan sorry juga yang kelewatan saya bales reviewnya. Saya ngebales kalian lewat pm ya. Silahkan di cek.
Ketiga; Big thanks buat kalian yang review /hug/ dan fav dan follow! Paramater mood saya bener-bener naik ke puncak pas baca satu per satu review kalian kak. Really glad ^^
Keempat; SiDers? Mana suara kalian kak?! Ayok pada mucul biar saya ada semangat update kilat ._.
Kelima; Saya rasa note ini terlalu panjang, so—
ULTIMATE. NARUTO. 520!
