WARNING! Didalam fict ini anda akan menemukan bashing chara. Just blame me if you want. Atau jangan terusin baca kalo bener-bener gak tahan. Saya menerima apapun pikiran anda. SELAMAT MEMBACA ^^

.

.

"Santai, Dobe." Sasuke duduk bersandar pada sandaran kursi bersponge hijau yang didudukinya. Onixnya menatap jengah pada kepala kuning diseberang meja.

Naruto menyeruput mie ramennya dengan semangat. Wajah tan manisnya terlihat tidak peduli jika visualisasinya berantakan gara-gara cara makan yang badas. "Aphaan swih, Twemwe." Ucap Naruto dengan mulut penuh. Kuah ramen yang merah mulai muncrat-muncrat dari mulutnya dan terciprat ke meja.

"..." dengan telaten, Sasuke mengambil tissue disebelah jus tomatnya dan mengelap bagian-bagian meja yang basah oleh cairan merah kental.

Sasuke bersumpah dia sama sekali tidak jijik pada tingkah absurd Naruto. Sekalipun Naruto dengan keadaan makan mengenaskan itu, Sasuke tetap merasa jika dia tidak bisa berpaling. Dalam keadaan apapun, si Aphrodite selalu menebar pheromone berlebihnya. Siapa yang bisa mengabaikan saja gadis manis yang unik itu coba? Jadi Sasuke adalah 1 dari sekian banyak korban.

Mengangkat mangkuknya, Naruto mendekatkan pinggiran mangkuk ke mulutnya dan menegak sisa kuah ramen tanpa malu. "Ah~! Enak sekali ttebayo!" Naruto meletakkan mangkuk yang sudah kosong itu dan mengibaskan rambut blondenya yang terurai.

"Cara makanmu itu, Dobe." Sasuke mendecak.

"Kenapa? Tidak suka? Lagian mau apa sih kau, Teme? Dari tadi ngekor mulu. Pulang saja sana." Sedetik wajah cemberut Naruto berubah kembali berbinar sambil mengangkat tangan kanan tinggi. "Kak Ayame! Ramennya satu mangkuk lagi!" teriak Naruto pada seorang perempuan berambut coklat panjang yang ada di balik counter.

"Oke, Naruto" jawab Ayame.

"Maksudmu pulang dan meninggalkanmu makan berdua dengan si tukang makan temannya Shikamaru, huh? Tidak, Dobe." Sasuke masih mengelap meja yang basah. Kenapa tidak selesai-selesai?! Batin Sasuke murka.

"Si tukang makan temannya Shikamaru itu ada disini, Uchiha!" Akamichi Chouji sedang dalam acara makan ramen piring yang keempat saat Sasuke menyindirnya. Chouji duduk disebelah Sasuke dan menyebrangi kursi kosong disamping Naruto. Si pangeran es itu tidak rela Naruto duduk dekat-dekat dengan anak laki-laki lain.

"Hn."

Chouji memilih tidak menanggapi si ketua OSIS Konoha itu lagi.

Smartphone kuning Naruto yang ada di atas meja dekat lipatan tangannya itu bergetar panjang. Kemudian jemari tan lentik itu meraihnya. "This is Naruto speaking." Naruto berucap pada phonecell didekat telinganya itu.

"..."

"Oh kak Ku~ Aku sedang ditempat makan."

"..." Ayame datang membawa nampan yang ditumpangi mangkuk yang mengepulkan asap. Naruto tersenyum lima jari dan berucap terima kasih tanpa suara.

"Oke. Sebentar lagi pulang." Naruto menjawab tak acuh. Dirinya sibuk menghirupi aroma yang dikeluarkan mangkuk berasap itu. Sasuke tidak bohong saat melihat air liur Naruto hampir menetes. Uh.

"..."

"Ya ya. Sebentar lagi, oke. Aku sedang makan, kak." Naruto menegakkan badannya.

"..."

Melirik Sasuke, "Kak, kau tahu, dari tadi ada anak ayam yang membuntutiku. Menurutmu aku harus apa?" Naruto menyeringai.

"..." Sasuke melotot. Chouji yang sedikit banyak ikut mendengar, hanya berusaha menahan tawa.

"Hahaha. Aku tidak mungkin menyiramnya dattebayo~. Kasihan kan anak ayamnya. Nanti wajah tampan dan rambut pantat ayamnya jadi layu dan tidak laku lagi." Naruto berpuran-pura menatap selain Sasuke dan menahan tawa. Sasuke mendecak keras. Chouji tidak bisa lagi mengontrol diri. Tawa keras keluar dari mulutnya yang masih penuh dengan mie. Memang hanya ditangan Naruto, Sasuke si tak terbantahkan dan tak bercela itu bisa begitu mudah direndahkan.

"..."

"Oke oke. Sudah dulu, kak Ku. Aku akan makan dengan cepat dan segera pulang. Tidak usah jemput. Oke?" saphire Naruto masih menolak Sasuke sebagai objek. Tapi Naruto tahu Sasuke sedang memelototinya.

"..."

"Daah." Sambungan terputus. Naruto kembali meletakkan phonecell ditempat asal.

"..."

"..."

"..."

Tidak ada percakapan lagi di meja itu. Chouji masih tertawa gila. Sasuke bersidekap tangan dan menatap tajam Naruto. Sedangkan Naruto mulai fokus dengan ramen piring ketiganya.

"Berhenti ngakak, Chouji. Sasuke marah tuh." Naruto menyeruput mienya tak acuh.

Chouji langsung diam saat dilirik tajam oleh raven di sampingnya. "Sumpah. Sorry, Uchiha." Chouji sadar jika Sasuke bisa saja menghajarnya sekarang.

Sasuke masih dongkol. Ingat sedikit tentang tempo hari saat si Aphrodite yang dobe keterlaluan itu cemburu dan menyiramnya dengan air satu ember saat berjalan dikoridor sekolah bersama ketua OSIS permpuan dari Kirigakure.

Selanjutnya tidak ada lagi percakapan. Bahkan sampai ketiganya keluar dari kedai.

"Kapan-kapan makan bareng lagi ya, Chouji. Thanks udah ngajakin kesini. Walaupun ujungnya si Teme malah ikut."

Chouji tersenyum malu. Semburat merah menghiasi pipinya. "Maaf ya Naruto. padahal maksudnya aku ingin membayarimu makan."

"Sasuke tidak akan membiarkan itu, Chouji. Percaya saja."

"Kalau begitu yok kuantar pulang."

"Aku diantar Sasuke saja. Sorry." Naruto menyikut Sasuke pelan. "Teme, mau mengantarku pulang 'kan?"

"..." Naruto dan Chouji diam menunggu jawaban Sasuke yang sejak tadi bahu diam.

"Kau marah, Teme?"

"..."

"Mau nganter atau tidak sih? Apa aku pulang bareng Cho—"

Sasuke menyela. "Tadi ngebully sekarang minta dianter pulang? Urat malumu putus, Dobe?"

"Tadi cuma bercanda, Teme. Jangan ngrajuk, please."

"..."

"Teme~ maaf deh."

"..."

"Sasu-teme~"

"Cium!"

Chouji kehilangan kata-kata dan berakhir melongo.

Naruto mendecak. Chuu. Satu kecupan dari bibir Naruto mendarat di pipi kiri Sasuke.

"Kurang. Cium di bibir, idiot!" Semburat merah tercetak dipipi Sasuke.

Chouji tambah speechless.

"Ini tempat umum, Teme! Ngerti tempat dong!"

"Nolak?" dasarnya Sasuke itu memang diktator dan absolut. Tidak ingin dibantah.

"Bhuuu!" protes Naruto dan— chup! Bibir Naruto mendarat di sudut bibir kanan Sasuke.

Sasuke tersenyum lebar. Chouji yang sejak tadi menonton, hanya diam dan sekarang ditambah harus mengakui bahwa itu kali pertama melihat Sasuke si es yang tersenyum sejenis flower boy.

Jadi sejauh itu hubungan SasuNaru. Batin Chouji merana dan berjanji tidak ingin merasakan patah hati sendirian. Besok dia akan mengadakan kumpul fansclub si Aphrodite dan menceritakan peristiwa ini pada anggota yang lain. Biarkan saja besok mereka banjir air mata.

"ayo pulang, Dobe." Sasuke merengkuh pinggang Naruto dan menggiringnya pergi.

.

.

Kurang panjang? Bahasa berantakan? Maafkan saya! Typo mohon dimaklumi karena buatnya disela ngerjain tugas. Saya benar-benar minta maaf karena ini buatnya gak fokus banget. Bahasa penulisan kecampur aduk sama bahasa sehari-hari. Maaf ya T^T

Saya sudah membalas reviewmu. Coba cek deh di pm mu ^^. Tapi maaf yang besaaar jika ternyata saya kelewatan membalasmu.

Sama saya juga lagi stuck banget karena nilai saya mengalami penurunan. Saya merasa bahwa saya sudah paham dan bisa, tapi ternyata pemahaman saya itu salah. Ini yang membuat saya dongkol banget! Parahnya temen belajar saya yang saya anggep bisa malah semakin menjerumuskan ke konsep yang salah! /roar!/

Memang terkadang apa yang kita pikir 'cukup', itu gak selalu berbanding lurus dengan kenyataannya. Buat kamu yang juga lagi sobbing the destiny, cobalah berpikir bahwa menyesal itu memang perlu tapi kalo penyesalanmu gak kamu wujudin pake tindakan di masa depan yang lebih baik, stop do that, guys! Gak ada artinya penyesalanmu itu. Kita gak boleh nyerah gara-gara awalan kita yag salah. Kita bisa memeperbaikinya. Kita musti bangkit untuk berusaha keras jadi lebih baik!

The last I say, terima kasih banyak atas review dan segala bentuk dukungan kalian lewat PM. Itu berarti banget loh. Sumpah. Tertarik buat review? Atau udah bosen? Jangan dong nanti saya juga ikutan bosen loh. Lagi ya! /hug/

ULTIMATE. NARUTO. 520!